Tampilkan postingan dengan label Jelajah Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jelajah Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Agustus 2017

Explore Propinsi Terbarat Indonesia!

Tulisan berikut bisa dibilang merupakan "kelanjutan" dari Jalan-jalan saya di Tanah Kelahiran Bapak saya, yakni Banda Aceh. Setelah sebelumnya gagal ke Sabang dikarenakan cuaca yang buruk, Alhamdulillah untuk kali ini, bahkan bersama keluarga besar, kami bisa berkunjung kesana. Seperti apa perjalanannya? Cuuuus!


2 Januari 2017

Hari itu tiba!
Setelah sebelumnya berburu tiket di event GATF yang diadakan di JCC,Senayan, dapatlah harga untuk Tiket promo Garuda PP CGK-BTJ (Direct) dengan harga sekitar 2,2 Juta/seorang. Alhamdulillah memang sedang diskon, karena umumnya untuk ke Banda Aceh diperlukan kisaran 1,5-1,6 Juta untuk sekali jalan. -,-

Berhubung jadwal penerbangan pukul 06.30 WIB, pagi itu kami sudah pergi dari rumah sekitar pukul 04.30 WIB. Berhubung sudah early check in , jadilah kami hanya tinggal memasukkan bagasi saja ketika sampai di bandara dan langsung bergerak ke ruang tunggu.

Mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh
Alhamdulillah pagi itu semuanya sesuai jadwal. Setelah melewati perjalanan sekitar 2 Jam 20 Menit, kami sudah tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh dan langsung disambut oleh segenap sanak saudara yang sudah menunggu di pintu keluar.

Berhubung saat itu kapasitas penumpangnya berlebih, jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah memesan sebuah mobil sewaan untuk menemani kami selama disana.

Fyi, untuk sewa mobil selama di Banda Aceh, bisa hubungi Bang Yan 0852 7759 7759 dengan driver-nya saat itu Pak Rahmat 0852 62500 808 . Beliau ini sangat ramah dan siap mengantar kalian kemana saja. Untuk tarifnya dikenakan sebesar Rp 500.000,-/dalam kota, termasuk Sewa mobil, sopir dan jasa sopir. Tidak termasuk parkir aneka wisata dan makan sopir. Jika ingin ke luar kota, tarifnya Rp 750.000,-/ termasuk Sewa Mobil, Bensin, dan jasa sopir. Waktu pemakaian normal dari pukul 08.00 - 23.00 WIB.


A. Kopi Sanger & Nasi Gurih  (Warung Kopi Zakir)

Di Banda Aceh, salah satu yang sangat menjamur adalah banyaknya warung kopi yang beredar di pinggir jalan. Dari yang berukuran sederhana, bahkan yang besar. Jujur saja, Di kota Banda Aceh warung Kopi sangatlah laris dan sering dijadikan sebagai ajang untuk temu kangen atau sekedar berkumpul dengan kawan-kawan. Warung kopi Zakir menjadi tujuan awal kami saat itu sebelum memulai menjelajah kota Banda Aceh. Menu yang khas dan sedang populer di warung kopi Aceh adalah Kopi Sanger, terdiri dari gabungan telur ayam yang diracik dengan bubuk kopi. Harganya juga sangat merakyat, saya lupa berapa (karena ditraktir tuan rumah siang itu..heheheh), tapi yang pasti dibawah Rp 7.000,-/gelasnya.


B. Perahu di atas Rumah, Gampong Lampulo

Perahu di atas Rumah, Gampong Lampulo
Berikutnya kami mengunjungi salah 1 objek wisata yang menjadi saksi bisu dahsyatnya gelombang Tsunami yang menerjang Aceh 26 Desember 2004 silam. Tidak dikenakan biaya masuk khusus peroang untuk masuk ke dalam, selain disediakan kotak sumbangan yang bersifat sukarela. Untuk parkir mobil dikenakan Rp 5.000,-/mobil.

Menurut beberapa info yang saya dapat (selengkapnya di http://news.liputan6.com/read/313618/kisah-quotperahu-nabi-nuhquot-di-lampulo) , Kapal yang nyangkut di atas rumah ini sempat dijadikan sebagai "Kapal Penyelamat" saat Tsunami menerjang. Ibarat kapal Nabi Nuh, banyak orang yang selamat karena sempat berlindung di dalamnya. Kapal ini terbawa dari perairan nelayan disekitar Lampulo dan "nyangkut" di atas rumah karena memang tingginya gelombang Tsunami saat itu. Cobalah juga untuk masuk ke dalam kemudian naik ke atas, tersedia berbagai macam foto yang menggambarkan suasana musibah Tsunami saat itu, terutama yang berkaitan dengan Kapal ini.

Jika dilihat dalam jarak lebih dekat
Dari Gampong Lampulo, kami sempat mampir ke Pasar disekitar jalan Spordek. Yaaa sebenarnya ini diluar dari rencana, karena Bapak saya ingin napak tilas ke tempat dia dilahirkan dulu. :)


Check in Lading Hotel
Lading Hotel (Sumber : Google.com)
Siang menjelang sore, tidak banyak wisata yang kami kunjungi di Banda Aceh, karena memang kami berencana untuk ke Sigli mengunjungi rumah sepupu saya yang lain. Sebelum berangkat kami sempat Check in di Lading Hotel yang berjarak tidak jauh dari Masjid Baiturrahman. Dikenakan biaya Rp 350.000,-/kamar/malam sudah termasuk sarapan pagi. Alamat di Jl. Cut Meutia No.19, Kp. Baru, Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh 23242. Pemesanan di (0651) 635 123


Berkunjung ke Sigli
Sekitar 13.30 WIB, kami bertolak ke arah Sigli dengan melewati beberapa kecamatan, daerah dan kabupaten tentunya. Disini juga saya melewati daerah Saree, dimana sekilas terlihat seperti Puncak yang ada di Cisarua, Bogor, dengan kanan kirinya terdapat bebagai aneka warung yang menjajakkan jagung bakar dan aneka kopi, sangat cocok untuk duduk bersantai.

Rumah Aceh tempat dimana sepupu saya tinggal
Jalanan berlanjut ke Bukit Seulawah, berkelok-kelok dan naik turun, sehingga sekilas cukup bisa membuat orang mual ketika melewatinya (siapkan antimo yaa.. ahaha). Lanjut ke Padang Tiji, Grong-Grong, dan akhirnya masuk ke Sigli, Kabupaten Pidie. Tapi ternyata, rumah sepupu saya ini masih tembus hingga ke Caleue. Di Caleue yang masih didominasi dengan nuansa alam pedesaaan, akan bisa kita temui hewan-hewan seperti sapi dan bebek yang sedang mengantri menyeberang. Unik juga, karena mereka menyeberang dengan rapi tanpa ada yang menghalau (Sayang seribu sayang beberapa perjalanann saat ke Sigli terekam di SD Card saya yang corrupt.. T-T)

Alhamdulillah setelah menempuh jarak sekitar 2,5 jam. Kami tiba di rumah kak Mina dan Bang Kurnia. Sekilas tampak bentuk rumahnya seperti Rumah adat Aceh. Dikelilingi dengan halaman, dan udaranya pun sejuk, karena memang cukup jauh dari perkotaan. Andaikata waktu kami lebih panjang, sebenarnya ingin juga menyempatkan menginap semalam disini . Berhubung besok akan melanjutkan perjalanan ke Sabang, setelah menunaikan sholat Maghrib, kami tidak berlama-lama segera pamit untuk kembali bertolak ke Banda Aceh.


3 Januari 2017

Menuju Pelabuhan Ulee Lheue , Nyebrang ke Sabang

Di depan pintu masuk Pelabuhan
Pagi itu, setelah menyelesaikan sarapan dan Check out hotel, kami bertolak menuju Pelabuhan Ulee Lheue yang berjarak sekitar 5 Km dari penginapan. Suasana Pelabuhan sudah sangat rapi dan Alhamdulillah tidak terlalu ramai dikarenakan memang musim liburan sudah selesai. Setelah menurunkan barang-barang, kami langsung membeli tiket Kapal Express seharga Rp 80.000,-/orang dengan lama perjalanan sekitar 50 menit hingga 1 jam.

Untuk jadwal keberangkatan, ada beberapa jadwal yang bisa dipilih, yakni pukul 08.00, pukul 10.00 dan 14.30,  begitu pula dari arah sebaliknya. (Maaf tidak bisa menampilkan foto dikarenakan datanya ada di SD saya yang corrupt. T-T). Bagi yang ingin bersantai atau mungkin membawa kendaraan nyebrang, ada pula Kapal Fery yang berukuran besar, lama perjalanan sekitar 2,5 jam, dengan biaya sekitar Rp 20.000,-/orang dan jadwalnya jauh lebih sedikit (saya lupa, namun salah satunya pukul 14.30 WIB)

Saran saya, jika kalian ingin menghemat waktu, lebih baik ambil yang express saja, selain lebih nyaman, lebih cepat sampai juga. Pagi itu kami berangkat pukul 10.00 WIB dari Pelabuhan Ulee Lheue menuju Pelabuhan Balohon (Pelabuhan bebas Sabang) karena tertinggal sedikit untuk mengejar jam 08.00 WIB. (T-T)


Tiba di Pelabuhan Balohon, Sabang
Meskipun awal berangkat cuaca sempat mendung, Alhamdulillah begitu mendekati Pulau Weh, dengan kotanya yang bernama Sabang, cuaca kembali cerah. Disini kami sudah ditunggu oleh Sanak saudara dari Sabang. Fyi saja, saat kalian turun dari kapal, akan banyak calo yang masuk dan menawarkan aneka macam kendaraan untuk disewa. Jika ingin sewa ditanya dulu baik-baik harganya, terutama sudah mencakup apa saja? Kisaran jika ingin sewa mobil adalah Rp 300.000,- hingga Rp 400.000,-/mobil/hari. 


C. Monumen "I Love Sabang"

Monumen "I Love Sabang"
Monumen ini menjadi tempat pertama yang kami kunjungi ketika menginjakkan kaki di Sabang. Bisa dibilang hukumnya wajib berfoto disini ketika kalian berkunjung ke Sabang. ^^. Tidak dikenai biaya masuk atau pun parkir untuk bisa berfoto . Tidak jauh dari monumen, kalian juga bisa naik ke atas menara dan melihat indahnya laut di seberang.

View dari atas menara

Leha-leha Sebentar
Sebelum melanjutkan untuk menjelajah Sabang, kami menyempatkan diri sejenak untuk menaruh barang-barang sekaligus saya berganti dengan celana pendek. Enaknya jika kita bepergian ke daerah dimana banyak saudara tinggal, Disini saya dan keluarga tidak perlu membayar uang sewa losmen, yang mana masih merupakan rumah tante saya juga. Paling hanya bayar uang listrik dan uang laundry untuk kasur saja.. Alhamdulillah rejeki anak Sholeh.. ehehehhee :P


D. Masjid Raya Babussalam

Masjid Raya Babussalam
Tempat berikutnya yang kami kunnjungi adalah melihat indahnya Masjid Raya yang ada di Sabang, Masjid Babussalam namanya. Oiya, perlu diingat, jangan sesekali coba memasuki kawasan Masjid dengan menggunakan celana pendek bagi pria, karena pasti akan ditegur! jika mau mengenakan sarung pun, baiknya sedari luar gerbang, tidak boleh saat di dalam Masjid. Kenapa? yah, memang sudah menjadi budayanya disana. Ikuti saja.. :)

Masjid ini sangat bagus, baik oranamen dalam dan luarnya. Sayang saya tidak sempat foto-foto di dalam karena ngerti ditegur (lagi).. -,-"


E. Titik 0 KM Indonesia

Titik 0 Km Indonesia
Titik 0 KM berjarak sekitar 19 Km dari Pelabuhan Balohon, dan bisa dicapai dengan menggunakan mobil dengan melewati jalan mendaki, menurun, berbukit dan pastinya berkelok-kelok. Saran saya, bagi yang mudah mual baiknya segera minum Antimo deh! ahahaha. Destinasi yang satu ini merupakan destinasi WAJIB yang harus kalian datangi ketika berkunjung ke Sabang. Ya, karena disinilah merupakan Titik 0 KM dari Indonesia.

Tidak dipungut bayaran perorang ketika tiba di lokasi, hanya bayar Rp 10.000,-/mobil saja. Bagi yang ingin membuat sertifikat, silahkan hanya dengan Rp 25.000,- saja.

Saat kami kesana, ada tugu yang sedang dibangun dan tidak kalah bagus juga untuk difoto, sedangkan diseberangnya bisa kalian saksikan samudera terbarat yang ada di Indonesia.

Samudera Hindia dilihat dari Titik 0 KM
Orang tua saya dengan tugu yang sedang dibangun

Selain Tugu 0 KM, dikawasan ini juga dijajakkan aneka dagangan berupa Souvenir yang pastinya sangat cocok dijadikan kenang-kenangan saat kembali ke daerah masing-masing nanti. Jika lapar, ada juga aneka pedagang yang menjual makanan. Okey... next!


F. Pantai Iboih
Dermaga pantai Iboih
Pantai Iboih berjarak tidak jauh dari Titik 0 KM, dengan harga masuk Rp 10.000,-/per mobil, inilah pantai paling ramai yang dikunjungi oleh wisatawan di Sabang. Disini kita bisa melihat banyaknya wisatawan asing yang sedang berkunjung. Kita bisa Snorkling dengan biaya sewa alat sebesar Rp 40.000,-/orang, yakni dengan menyeberang terlebih dahulu ke Pulau Rubiah yang berjarak sekitar 5 menit dari pelabuhan di Pantai Iboih. Biaya kapal sekitar Rp 200.000/Boat/PP. Dimana Pulau Rubiah ini merupakan sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan Pantai Iboih. Airnya sangat jernih, berwarna hijau tozca jika cuaca sedang bersahabat karena matahari bisa masuk hingga ke dalam.

Bagi yang tidak suka nyebur, kalian bisa naik Perahu Kaca untuk melihat aneka terumbu karang batik dengan tarif Rp 350.000,- untuk kapasitas 8 orang sembari mengelilingi Pulau Rubiah. Tapi sebelumnya pastikan cuaca sedang bagus ya, karena saat saya kesana cuaca sedang kurang bersahabat, ditambah saya tidak bisa nyebur dulu pasca operasi Lasik... T-T

Ini View yang bisa didapat jika cuaca lagi bagus.. (Sumber : http://www.yukpiknik.com/aceh/pantai-iboih-aceh/)

G. Pantai Gapang

Sore-sore syahdu di Pantai Gapang
Hanya butuh waktu sekitar 5 menit dengan kendaraan untuk mencapai Pantai Gapang. Dibandingkan Pantai Iboih, suasana di Gapang jauh lebih sepi, lebih cocok digunakan untuk bersantai dan menginap, apalagi sore-sore sembari ditemani angin sepoi-sepoi di pinggir pantai. Sedaaap! :D

Saat saya kesana, hujan sudah mulai turun, sehingga tidak ada lagi yang berjaga di gerbang masuk. Saya rasa HTM nya mungkin sama dengan Pantai Iboih yakni Rp 10.000,-/mobil.


Saking sepinya hanya ada saya dan Iron Man. :p

Tadinya, ada beberapa lokasi lain yang ingin saya kunjungi seperti salah satunya Benteng Jepang, namun apa daya karena haris sudah semakin gelap ditambah hujan, saya pun memilih untuk segera kembali ke penginapan.


H. Pantai Paradiso
Pantai Paradiso berada tidak jauh dari tempat kami menginap, sehingga kami memilih untuk mengunjunginya untuk makan malam sekaligus sebagai penutup liburan kami di Sabang yang sangat singkat ini. Bisa dibilang, konsep pantai ini seperti mini Food court, hanya saja di alam terbuka. Berbagai menu dihidangkan mulai dari ikan bakar, ayam, sate, dll. Malam itu saya memesan Sate Gurita isi 5 dan Sate Daging isi 5 seharga masing-masing porsi Rp 15.000,-. Rasanya? mantap!


4 Januari 2017

Bye Sabang! Kembali ke Banda Aceh..
Esoknya, pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan segera diantar oleh Sepupu saya menuju Pelabuhan Balohon untuk mengejar Kapal pukul 08.00 menuju Pelabuhan Ulee Lheue. Harga tiket masih sama, Rp 80.000,-/ orang. Tidak sampai 1 jam, tepatnya pukul 08.50 WIB kami sudah tiba di pelabuhan Ulee Lheue dan segera bertolak ke destinasi selanjutnya (PLTD Apung) setelah dijemput oleh pak Rahmat.


I. PLTD Apung

Kapal PLTD Apung dilihat dari samping
PLTD Apung merupakan kapal tanker berukuran sangat besar yang terseret dari pelabuhan Ulee Lheue sejauh 5 Km ke jantung kota Banda Aceh. Saat ini terletak di Gampong Punge Blang Cut. Tidak dikenakan HTM untuk masuk kesini, hanya sumbangan seikhlasnya yang diletakkan dalam kotak amal dan biaya parkir sebesar Rp 5.000,-/mobil.

Sekarang kondisinya sudah jauh lebih rapi, bahkan terdapat pula tugu yang menggambarkan betapa dahsyatnya bencana Tsunami yang menerjang Aceh 2004 silam. Bagi yang ingin mencoba naik ke atas kapal, bisa juga. Kalian pun bisa masuk ke bagian dalam kapal dan melihat berbagai macam dokumentasi tentang PLTD Apung dan kejadian Tsunami.
Tugu Situs Tsunami PLTD Apung
Bagian dalam PLTD Apung (Sumber : http://www.tabloidimaji.com/2016/03/20/ke-banda-aceh-wajib-ke-pltd-apung/)
Bagi yang ingin membeli aneka macam souvenir, di dekat parkiran terdapat beberapa toko yang menjual aneka pernak pernik. Sayang sekali rasanya jika kemari tapi tidak beli sesuatu kan? :D


J. Rumah Cut Nyak Dien
Siang itu kembali hujan turun dengan derasnya, tadinya saya ingin langsung menuju Pantai Lampu'uk, namun saya rasa tak ada yang bisa dilihat juga jika sedang hujan deras. Alhasil saya mencari di "mbah Gugel" dan menemukan bahwa Rumah Cut Nyak Dien masih searah dengan Pantai Lampu'uk dan Lamno (jika waktu masih terkejar). Sembari menunggu hujan reda, jadilah kami mampir kesana.

Bagian depan rumah Cut Nyak Dien
Suasana saat itu sangat sepi, bahkan saya sempat mengira sedang tutup. Setelah bertanya dengan seorang Bapak yang ternyata sekaligus sebagai pemandu disana, maka dibukalah siang itu khusus untuk kami. Alhamdulillah !

Menurut si Bapak, rumah ini dibakar pada tahun 1896, kemudian dibangun kembali tahun 1981. Jadi memang yang ada saat ini sudah merupakan replika dari rumah yang dulu. Pertama kali masuk ke dalam, kami langsung disambut dengan berbagai macam foto dan lukisan yang mengisahkan tentang Cut Nyak Dien dan perjuangannya dalam ruangan seperti teras yang gelap remang-remang.

Pintu masuknya dari sini, kemudian bergerak ke kanan
Pigura berisi foto Cut Nyak Dien
Sembari mendengar penjelasan dari si Bapak, kami bergerak ke ruang tengah yang mana seperti ruang makan, dimana terdapat aneka pajangan senjata yang digunakan oleh Cut Nyak Dien dkk dalam masa perang melawan penjajah. Di sudut ruangan, bisa ditemukan sebuah sumur yang ternyata masih asli dan agak tinggi. Rupanya ada alasan tersendiri kenapa Sumur dibuat tinggi, yakni agar tidak mudah diracuni.

Ruang tengah seperti ruang makan
Sumur yang masih asli

Setelah dari ruang tengah, kami bergerak ke kiri yang mana melewati Kamar dari Cut Nyak Dien, dan brrrrrrrr entah mengapa bulu kuduk saya merinding hebat ketika melewati kamar tersebut, dan ketika saya masuk untuk memfoto aneka perabot yang ada disitu malah tambah berasa auranya. Kamar tersebut didominasi warna kuning, dengan tempat tidur berkelambu dan terdapat bantal duduk. Maaf banget, saya ga bisa upload foto kamarnya, ini aja merinding banget sembari nulis.. -,-".

Berikutnya kami tiba di ruang rapat, dan merupakan akhir dari penjelajahan kami bertiga (saya, adik saya dan Ibu saya) di rumah Cut Nyak Dien. Oh iya, tidak dipungut HTM untuk masuk kemari, tapi hanya tips seikhlasnya saja untuk Bapak Pemandu. Tapi saya mohon bagi kalian yang kemari jangan pelit-pelit yaaa.. asli Bapak ini sangat profesional dan baik banget!


K. Pantai Lampu'uk

Pantai Lampu'uk
Untuk masuk ke Pantai Lampu'uk dikenakan tarif Rp 3.000,-/orang, dan tidak lagi dikenakan biaya parkir ketika saya tiba di dekat bibir pantai. Pantai Lampu'uk sangat cocok digunakan sebagai tempat bersantai sembari makan ikan bakar di tepi pantai. Bentuk pantainya juga unik karena berbentuk seperti sabit dengan karang besar diujungnya.Untuk sekedar basah-basahan juga seru lho, tapi jangan terlalu main ke tengah karena berbahaya. Namun sayang, berhubung saat itu sedang agak mendung dan cenderung hutan rintik-rintik, tidak terlalu bagus foto yang bisa saya ambil.

Sebenarnya siang itu saya berencana untuk mengunjungi Museum Tsunami untuk kedua kalinya setelah kunjungan pertama saya di tahun 2010, namun apa daya dikarenakan dekat dengan waktu Zhuhur, Museum tersebut tutup sementara dan akan dibuka kembali pukul 14.00. Alhasil saya melanjutkan ke.......


L. Pusaka Souvenir di Jalan Sri Ratu Safiatuddin
Bagian depan Pusaka Souvenir (sumber : http://hepymoments.blogspot.co.id/2015/07/discovered-sumatra-banda-aceh-bakso.html)
Menurut pak Rahmat, Toko Souvenir ini termasuk yang recommended, harganya juga sangat terjangkau dan beliau pun sering mengantar tamu untuk mencari oleh-oleh disini. Ketika saya kesana, puas sekali rasanya. Disini dijual berbagai macam souvenir mulai dari Gelang, Gantungan kunci, Bros berbentuk Pintu Aceh, aneka macam tas, dompet, Kopi Aceh, Dll. Pramuniaganya juga sangat ramah dalam melayani pembeli. Cantk-cantik pula.. #eh :P
Oiya, di sebelah Pusaka Souvenir ini terdapat kuliner Sate Gebrak (secara masaknya berisik banget pake digebrak gitu.. -,-")  yang rasanya enak banget. Seporsi hanya Rp 20.000,-.


Check In Hip Hop Hotel + Makan Malam Bersama Keluarga Besar + Cane Mamah
Sebelum melanjutkan untuk memenuhi undangan Makan malam bersama keluarga besar di Rumah Om Edy (Gampong Lamdingin), kami menyempatkan diri untuk Check in sejenak di Hip Hop Hotel yang terletak tidak jauh dari Masjid Baiturahman. Karena memang di hotel inilah kami akan bermalam sebelum keesokan harinya kembali ke Jakarta. Saya lupa berapa tarifnya karena adik saya memesan via Traveloka/Pegi-pegi atau apa gitu. Kalau tidak salah sekitar Rp 550.000,-/semalam, lengkap dengan kamar yang sangat nyaman, dan pastinya sarapan untuk keesokan harinya. Asiiiik.

Saat kami tiba di Lamdingin, makanan sudah siap, dan  sungguh senang sekali rasanya bisa berkumpul dengan sebagian keluarga besar di Aceh. Karena memang karena faktor jarak, sehingga sulit untuk bisa mendapatkan moment seperti ini. Pastinya, kami langsung menyusun formasi untuk berfoto sebagai kenang-kenangan kunjungan saya dan keluarga kesana.

Alhamdulillah! Makasi buat jamuan makan malamnya! :D

Malam semakin larut, dan sebelum petualangan saya di Aceh benar-benar berakhir, Sepupu saya bang Yunal mengajak untuk ngopi-ngopi sejenak di Cane Mamah. Menurut Bang Yunal, ini salah 1 tempat nongkrong favorit di Aceh. Menunya berkisar dari aneka macam Kopi, utamanya Kopi Sareng dengan harga yang murmer pastinya. Dan juga aneka macam Roti Cane. Kenyal-kenyal lembut gitu rasanya. Nikmat!

Selepas nongkong, sebelum kembali ke Hotel,  Bang Yunal mengajak kami (saya dan adik) berkeliling Kota Banda Aceh di Malam hari. Wah, kalau disana sekitar jam 21.00 ke atas saja sudah sepi sekali rasanya, beda jauh lah sama Jakarta. Tak lupa kami sempat mampir ke Masjid Baiturrahman yang saat itu masih dalam renovasi. Kalau sekarang sepertinya sudah bagus pake banget ya... :D


5 Januari 2017

Tragedi Memory Card Corrupt! Aaaaaargh!!!
Tidak bermaksud lebay, tapi memang ini kejadian apes yang menimpa saya sesaat sebelum Check out dari Hotel Hip Hop. Entah kenapa saat saya buka Gallery, foto-foto yang ada disitu seperti pecah dan sekejab kemudian hilang semua yang ada di MC. Asli pengen teriak rasanya, karena rekaman dan foto-foto saya selama beberapa hari ini menjelajah Aceh ada disana.. T-T.

Saat itu mood langsung berubah drastis dan harapan saya semoga data-data yang ada masih bisa diselamatkan dengan saya mencoba berkunjung ke toko hape terdekat. Sayang seribu sayang, tetap tidak bisa dan saya harus merelakan data-data yang ada disitu dan data-data sebelumnya hilang semua.. T-T

Sebelum bergerak ke Bandara, saya berencana untuk menenangkan diri sejenak dengan ngopi-ngopi plus ngemil di Taufik Kopi yang memang sembari mengarah ke Bandara.


Tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda

Sebagian keluarga yang mengantar kepulangan kami
Jadwal keberangkatan kami adalah Pukul 16.00 WIB, dan untuk berjaga-jaga kami sudah tiba Pukul 14.30 WIB dengan diantar oleh sebagian keluarga. Setelah bersalam-salaman, berfoto sejenak, dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada Pak Rahmat yang sudah setia menyupiri kami selama di Banda Aceh dan sekitarnya, kami pun pamit dan bersiap kembali ke Ibu Kota.


Bye bye Aceh! Suatu saat saya akan kembali lagi kesana......


Makasi lho, buat kawan-kawan yang masih setia membaca cerita ini hingga tuntas. Moga-moga ada manfaatnya ketika kalian akan berkunjung ke Banda Aceh dan sekitarnya nanti. Berbeda dengan postingan sebelumnya, saya tidak bisa mencatumkan total pengeluaran seperti biasa, dikarenakan trip ini bersifat keluarga. Jadi silahkan dihitung sendiri yaa berdasar info-info yang saya berikan.


Salam,
RPR
(Silahkan difollow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)

Jumat, 02 September 2016

"Get Lost" di Sulawesi Selatan

Tulisan berikut merupakan kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya yakni "Menginjakkan kaki di atap Sulawesi". Situasinya masih bermula dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, hanya saja jumlah kami tinggal 10 orang setelah 3 orang kawan (Choky, Rudy, Kak Gemi) pulang duluan serta Bang Ryan selaku Guide pamit.


18 Agustus 2016
Rumah Kawan

Pagi itu kami berencana untuk mengunjungi Taman Wisata Alam Bantimurung yang berada di Maros. Alhamdulillahnya, ada seorang kawan yang berbaik hati untuk "menampung kami" sehingga kami tidak perlu jalan sembari menenteng para "kulkas" (You know what i mean lah yaaa..).

Rumahnya tidak begitu jauh dari Bandara, sekitar 10-15 menit . Dan baru pagi itu pula kami mencoba taksi bandara yang berbentuk mobil pribadi. Unik juga, selain taksi yang bentuknya mirip-mirip seperti di Jakarta,  di bandara tersedia berbagai macam taksi dalam bentuk kendaraan pribadi. System pemesanannya pun tinggal memencet tombol di counter pemesanan. Tapi ya harap maklum , suasananya akan ramai seperti di pasar karena Bapak-Bapak ini pastinya berebut mengambil hati penumpang. ^^

Berhubung kami 10 orang dengan tambahan barang, dipesanlah 2 mobil dengan tarif Rp 100.000,-/mobilnya. Bapak Sopirnya sangat ramah, beliau langsung membantu kami memasukkan barang dan mengemudikan kendaraan sembari mencari alamat yang kami tuju.

Tiba di rumah kawan, kami langsung membagi "kavling" dan langsung bersih-bersih, ada pula yang langsung mencuci pakaian, sebut saja Jawir.hahhaha. Sembari menunggu giliran mandi, saya pun sempat tidur-tiduran (dan nyaris ketiduran). Aaaah enak sekali sudah lama tidak merasakan kasur empuk.

Setelah semua siap, kami bergegas menuju Taman Wisata Alam Bantimurung. Jujur di depan rumah kawan ini agak sulit mencari angkot sehingga akhirnya kami memesan "mobil aplikasi" untuk menuju Taman Wisata Alam Bantimurung.


E. Taman Wisata Alam Bantimurung

Pintu Masuk Taman Nasional Bantimurung
Sekitar pukul 12.30 WITA, kami tiba di depan pintu masuk TWA Bantimurung. Dari luar, sekilas suasana mirip-mirip seperti Kebun Binatang Ragunan yang ada di Jakarta. ^^.

Saat baca-baca info di dekat pintu masuk, dan melihat keadaan sekeliling. TWA Bantimurung ini rupanya merupakan tempat penangkaran bagi berbagai jenis kupu-kupu. Hanya saja dikombinasi dengan berbagai wisata alam seperti Curug, Kolam renang,bahkan aneka macam Goa yang bisa dikunjungi. Wow! Saya pikir andaikan punya waktu lebih panjang, seru juga jika bisa menjelajah semua wahana yang ada disini.

Museum Kupu-Kupu (doc by Riska Icha)
HTM untuk masuk kemari dikenakan Rp 25.000,-/orang. Ketika berjalan beberapa meter ke dalam, di sebelah kanan dapat dilihat ada museum Kupu-Kupu. Dijual juga berbagai macam souvenir Kupu-Kupu langka yang telat diawetkan didalamnya. HTM Rp 5.000,-/orang jika ingin masuk.

Lanjut! Bergerak ke depan, disebelah kiri dapat dilihat kolam berwarna biru terang. Kolam Jamala namanya. Menurut plangnya, kolam ini dipercaya bisa membuat enteng jodoh bagi siapa pun yang membasuh muka atau sekedar mencuci tangan didalamnya. Bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya?

Kolam Jamala dengan modelnya.. #eh
Berjalan lebih ke depan bisa ditemui adanya kolam renang (mirip-mirip Taman Impian Jaya Ancol), Lorong yang cukup teduh dan sepertinya asik buat tempat pacaran (cieeeee) dan diujungnya bisa kita lihat ada Curug yang sangat segar untuk bermain air.
Landmark TWA Bantimurung (Doc by Lia)

Kolam renang
Lorong teduh

Curug di TWA  Bantimurung
Pintu masuk Goa Mimpi
Sebenarnya ada dua goa yang terdapat di dalam TWA Bantimurung, yakni Goa Batu dan Goa Mimpi. Namun sayang karena keterbatasan waktu dan harus mengejar ke Rammang-Rammang sebelum hari gelap, jadilah saya hanya memotret pintu masuknya saja dari luar. Selesai dari Bantimurung, kami bergerak kembali menuju parkiran untuk menuju angkot yang sudah kami pesan untuk mengantarkan kami menuju Rammang - Rammang. Kena Rp 120.000,- kalau tidak salah.

Oiya, bagi kalian yang ingin mencari oleh-oleh dari TWA Bantimurung, di tempat parkir ini dijajakkan berbagai macam oleh-oleh berupa Kupu-kupu (mungkin sudah jadi jasad kali yaa) yang telah diawetkan. Ada yang dalam bentuk gantungan kunci seharga Rp 15.000,- per 2 pcs, ada juga yang sudah dibingkai dalam pigura. Dengan harga bervariasi juga tentunya. Pintar-pintar saja untuk menawar.

Aneka oleh-oleh dari TWA Bantimurung

F. Rammang - Rammang

Dermaga 01/Perintis menuju Rammang Rammang
Saat menuju Rammang - Rammang kami hanya tinggal 8 orang karena 2 kawan (Anhar & Ismail) sudah harus mengejar pesawat mereka menuju Jakarta malam ini. Di Bantimurung tadi juga terakhir kami berjumpa dengan Bang Ryan (Guide kami di Latimojong) yang tetiba datang untuk mengantar kaos pesanan kami. Makasi ya bang Bro.. semoga bisa ketemu lagi lain kesempatan.. ;).

Perjalanan menyusuri Rammang - Rammang
Ternyata cukup jauh untuk menuju Rammang - Rammang, sekitar pukul 15.45 WITA kami baru tiba di dermaga dan langsung disambut oleh Pak Harris (0812 410 29 609) . Disini kami menyewa perahu untuk kami ber-8 dengan harga sewa Rp 250.000,- . Perjalanan di wisata ini adalah menyusuri sungai (mungkin rawa tepatnya) dengan pemandangan berbagai bukit batuan Karst di depannya. Bisa dilihat juga sesekali ada Rombongan bebek dan hewan-hewan unggas lainnya yang melintas. Jika melihat ke udara, terlihat elang dengan gagahnya terbang kesana kemari menguasai udara. Dan ketika sudah melewati lintasan berupa terowongan, artinya kita sudah dekat dengan tujuan, yakni Kampung Berua.

8 orang yang tersisa, lengkap dengan Pak Harris dan Sopir Angkot
Sudah akan memasuki Kampung Berua

G. Kampung Berua

Papan Penunjuk arah Kampung Berua
Kampung yang satu ini memang agak tersembunyi, karena untuk mencapainya harus menaiki perahu terlebih dahulu melewati Rammang-Rammang.

Rombongan tiba sekitar pukul 16.15 WITA. Oiya, dikenakan HTM Rp 2.500,-/orang untuk bisa menjelajah kampung yang dikelilingi oleh bukit batuan Karst ini. Suasana disini sangat sejuk dan asri. Ingin rasanya suatu saat bisa bermalam dan merasakan indahnya sunrise di kampung ini. Berikut beberapa view menarik yang saya ambil.

Sekilas landscape Kampung Berua
View lain
Setelah puas jalan-jalan dan berfoto didalamnya, tujuan kami berikutnya adalah Pantai Losari di Kota Makassar. Oiya, biaya parkir dikenakan Rp 10.000,-/mobil sebelum keluar dari area dermaga.


H. Pallu Basa Datumuseng & Mie Titi - Pantai Losari

Pallu Basa Datumuseng & Nasinya. Sedap!
Untuk menuju Pantai Losari, kami kembali men-charter angkot (yang sama), dengan tarif Rp 130.000,- dari Rammang - Rammang. Sekitar Pukul 19.40 WITA kami sudah tiba di dekat Pantai Losari. Namun, kami tidak langsung berfoto, namun mencari kuliner dulu karena kami pun sudah lapar. Beberapa kawan tertarik mencoba Mie Titi, namun saya yang sudah merasa "butuh" nasi pun memilih untuk mencoba Pallu Basah Datumuseng. Bisa dibilang sejenis Sup daging berkuah (dengan santan) yang sambalnya bisa ditakar sendiri (saran saya jangan banyak-banyak, karena sambalnya pedas sekali !). Nah, cara makanya lebih kurang seperti Soto, bisa dicampur dengan nasi.Seporisi dihargai Rp 20.000,- dan Nasinya Rp 5.000,-. Barulah setelah kenyang mengisi perut, kami berfoto dengan pantai Iconic yang berada di pusat kota Makassar ini.
Belum sah ke Makassar jika belum foto disini!
Malamnya, kami kembali menginap di rumah kawan dengan menggunakan mobil aplikasi untuk persiapan esok pagi menuju Tanjung Bira.


19 Agustus 2016
Menuju Tanjung Bira, singgah di Terminal Malengkeri

Terminal Malengkeri, Gowa
Pagi sekitar pukul 09.30 WITA, kami pamit dari rumah kawan menuju Tanjung Bira. Menurut info dari beberapa orang yang kami tanya ketika di Losari, dan kami konfirmasikan ulang ke Pak Rustan selaku driver mobil aplikasi yang saya tumpangi, ternyata memang tidak ada kendaraan yang bisa langsung menuju Tanjung Bira. Sehingga kami harus tetap singgah di Terminal Malengkeri untuk mencari kendaraan menuju Tanjung Bira.


Pak Samad (berpeci) dan mobil yang kami tumpangi
10.15 WITA, mobil yang saya tumpangi tiba terlebih dahulu di terminal dan dengan ditemani Pak Rustan kami langsung mencari info soal bus menuju Tanjung Bira. Sayang disayang, bus menuju Tanjung Bira sudah jalan sekitar 09.00 WITA tadi, dan baru ada lagi esok hari. Saat itulah kami berkenalan dengan Pak Samad, bisa dibilang "calo" nya terminal Malengkeri. Dengan perawakannya yang tinggi besar, jujur saya sempat takut salah ngomong , tapi beruntungnya ternyata beliau sangat baik dan ramah. See? Don't judge a book by it's cover lah yaaa..

Awalnya kami ditawari untuk menyewa 2 Avanza dengan tarif Rp 500.000,- per mobil. Tapi berhubung kami ingin bareng-bareng dalam 1 mobil saja, akhirnya disepakati sebuah Kijang Krista untuk kami ber 8 plus barang-barang dengan harga Rp 700.000,- menuju Tanjung Bira.

Setelah memastikan bahwa kami tidak akan dimintai biaya lagi di sepanjang jalan (Pak Samad sampai memanggil Pak Hajar sang sopir ke hadapan kami untuk mengkonfirmasi), kami menyerahkan sebagian tarif sebagai DP dan langsung pamit berangkat setelah rombongan kedua tiba. Sekitar pukul 10.40 WITA kalau tidak salah.


Perjalanan Menuju Tanjung Bira
Berhubung hari itu hari Jum'at, menjelang adzan kami sempat mampir untuk Jum'at-an terlebih dahulu. Kalau tidak salah setelah melewati Kabupaten Takalar. Perjalanan pun lanjut setelah selesai Jum'at-an.

Mampir di rumah makan di Kab.Bantaeng
Sekitar pukul 14.32 WITA, laut sudah terlihat di sebelah kanan yang menandakan kami sudah memasuki kabupaten Bantaeng. Disitu pun kami makan siang di restoran yang memang sudah menjadi langganannya para driver ini. sekitar 15.28 WITA kembali melanjutkan perjalanan. Pemandangan saat itu menjadi semakin indah karena view yang kami lihat berganti-gantian dari ladang warga kemudian pantai dan seterusnya. Tak lama sekitar pukul 16.06 kami sudah memasuki Kabupaten Bulukumba, yang artinya tidak lama lagi akan mencapai Tanjung Bira.


I. Tanjung Bira

Di depan Homestay Salassa
17.03 WITA, memasuki Tanjung Bira, kami dikenakan biaya Rp 15.000,-/orang dan parkir mobil Rp 10.000,-. Ternyata Homestay tujuan kami (Salassa) tidak jauh berada dari pintu masuk sehingga tepat pukul 17.07 WITA, kami sudah tiba di depan penginapan. Akhirnya, Tanjung Bira!!

Setelah menurunkan barang-barang, Pak Hajar pamit. Rencananya besok beliau akan menjemput lagi kami disini setelah mendapat kabar jam kepulangan dari kami. Setelah proses registrasi selesai, kami langsung menuju kamar untuk menaruh barang-barang dan berencana berburu Sunsets di pantai yang katanya merupakan salah satu pantai terindah di Indonesia ini (kata kawan-kawan saya yang pernah kesini lho yaa..)

Bagian dalam Salassa
Bagi kawan-kawan yang ingin menginap di Salassa , bisa menghubungi no. 0812 426 5672 , 0813 5463 4200, atau 0811 444 8804, bisa juga email ke sallassaguesthouse@yahoo.com atau salassaguesthouse@yahoo.com (silahkan dicoba saja keduanya, takut salah) . Saat itu kami dikenakan tarif Rp 730.000,-/hari untuk dua kamar, yakni 1 kamar untuk 3 orang (Included 1 extra Bed) dan 1 kamar seperti mini Bungalow yang bisa diisi 5 orang (saya kurang tau pasti extra bed-nya berapa disini karena di kamar cewek...haha) . Sempat kena charge tambahan  Rp 50.000,- karena keluar melebihi jam Check Out.

Asiknya , Homestay kami hanya berjarak sekitar 500 meter-an dari bibir pantai, sehingga sore itu kami bisa menyaksikan Sunsets yang begitu indah sembari bermain-main di tepi pantai (kebetulan saat itu air laut sedang surut). Berikut beberapa foto yang tertangkap oleh saya.

Sunsets!

Terlihat air laut yang sedang surut
View malam dengan background restoran Kapal
Setelah puas bermain-main di pantai hingga hari sudah larut, kami yang kembali kelaparan ini memutuskan untuk membeli beberapa logistik seperti beras dan beberapa telur untuk kami masak sendiri di pekarangan Homestay . Kebetulan juga sisa gas dari pendakian Latimojong masih ada dua, jadi sekalian saja dihabiskan, itung-itung ngirit budget lah!


20 Agustus 2016
J. Pulau Penyu - Penangkaran Penyu

Pagi-pagi sekali kami sudah terbangun, kemudian bersiap-siap dan segera sarapan untuk mengejar agenda kami hari ini. Waktunya main air !

Setelah menyelesaikan sarapan, kami bergerak menuju ke arah bibir pantai untuk bertemu dengan salah seorang penyedia jasa wahana air di sekitar pantai. Dikenakanlah biaya Rp 350.000,- untuk kami ber 8 bermain air lengkap dengan Life Jacket dan Snorkel.

Dermaga Pulau Penyu
Pukul 09.30 WITA, kami tiba di dermaga pulau penyu, jujur disini kami tidak mendapat Spot yang bagus untuk Snorkel, selain itu karena misskom, alhasil si Bapak Perahu hanya akan meminjamkan 5 alat saja, padahal kami 8 orang.

Sempat terjadi adu mulut antara beberapa kawan dengan si Bapak Perahu. Karena menurut info dari Boss-nya, seharusnya kami mendapat tempat untuk Snorkeling dan 8 Snorkel. Kami  tidak mau tahu karena itu bukan kesalahan kami. Si Bapak pun akhirnya menelpon sang Boss. Akhirnya alat Snorkel pun didapat 8 buah, tapi tetap kami tidak dapat Spot untuk Snorkling dan Bapak Perahu pun segera melesat pergi dengan sebelumnya sudah bertanya "mau dijemput jam berapa?"

Pastinya kami tidak puas dengan yang terjadi saat itu, tapi yaa apa mau dikata? Tidak ada maksud untuk menjelekkan sebuah pelayanan di suatu daerah, namun memang itu yang sempat terjadi pada kami, dan bukan berarti tidak mungkin terjadi pada kalian saat kesana.

Saran saya, sebelum mulai beraktivitas, apalagi di daerah baru, sebaiknya tanyakan dulu dengan jelas apa saja yang termasuk dalam paketan yang kalian ambil, termasuk jumlah destinasi, dan berapa jumlah alat yang memang disewakan. jangan lupa juga minta konfirmasi antara si Boss dengan anak buahnya yang akan membawa kalian. Bukannya apa-apa, agar tidak terjadi hal-hal tidak diinginkan yang ujung-ujungnya pasti merugikan pengguna.

But, the show must go on...

Penangkaran Penyu (Atap merah)
Pagi itu kami menghabiskan waktu bermain-main dengan 4 penyu berukuran raksasa yang berada tidak jauh dari dermaga (bisa dilihat bangunan beratap merah).

Untuk bisa masuk dan bermain didalamnya, dikenakan lagi biaya Rp 10.000,-/orang. Setelah menaruh barang-barang dalam posisi yang aman, kami pun secara bergantian turun ke kolam tempat penyu-penyu tersebut berada. Alhamdulillahnya, penyu-penyu disini sangat jinak, sehingga mereka tidak merasa terganggu dengan kehadiran kami yang sempat heboh di kolam mereka. Berikut beberapa keseruan di penangkaran penyu tersebut.

Turunnya dari tangga ini
Santai dulu ah main sama si penyu. (doc by Riska Icha)
Dikelilingi penyu raksasa (doc by Riska Icha)
Tidak terasa, waktu pun berlalu begitu cepat saking asyiknya kami bermain dengan para penyu. Sekitar pukul 10.54 WITA, kami sudah dijemput kembali oleh si Bapak Perahu untuk menuju destinasi berikutnya, yang mana akan menjadi destinasi terakhir kami di Tanjung Bira, yakni Pulau Bara dengan pantai pasir putihnya yang eksotis.


K. Pantai Pasir Putih Pulau Bara

Pantai Pasir Putih Pulau Bara
Sekitar pukul 11.08 WITA, kami tiba di Pantai pasir Putih Pulau Bara. Wow, pantainya sangat jernih, airnya biru dengan campuran hijau tozca. Pasirnya sangat putih dan halus, dan membuat saya jadi pengen "jumpalitan" diatasnya. ^^ Di Pantai yang cantik dan masih sepi dengan penduduk ini, tidak banyak yang kami lakukan selain bermain air dan foto-foto. Senam SKJ'88 pun kami lakukan demi meluapkan energi yang sepertinya sedang banyak ini. hahaha
Berikut gambaran suasana disana dan beberapa keseruan yang terjadi..

Seru-seruan di Pantai Pasir Putih
View lain pantai
Setelah puas bermain air, kami pun segera kembali menuju penginapan agar tidak terlalu terlambat untuk Check Out. Belum lagi pastinya kami juga harus mandi, guna menyegarkan diri menempuh perjalanan jauh untuk kembali ke Makassar.

Berhubung pagi sudah dihubungi saat sarapan, Pak Hajar selaku driver pun sudah tiba di penginapan. Pukul 13.52 WITA, setelah menyelesaikan segala administrasi penginapan, dan dengan melajunya mobil Pak Hajar yang kami tumpangi, maka berakhirlah petualangan kami di Tanjung Bira.

Bye Tanjung Bira, semoga bisa kesana lagi di lain waktu..!!

Liburan kami pun tak terasa sebentar lagi akan usai, namun masih ada yang sedikit mengganjal karena kami belum kesampaian untuk makan Pisang Epe yang berada di pinggir Pantai Losari, sekaligus membeli oleh-oleh di Toko Unggul yang tidak jauh dari Pantai.

Selama di perjalanan menuju Makassar, tidak banyak suara-suara yang kami buat, karena memang sepertinya sudah pada capek. Saya yang masih terjaga pun menemani Pak Hajar sembari mengobrol sepanjang jalan.

Pukul 19.23 WITA, setelah melalui perjalanan yang panjang plus macet dari Tanjung Bira, Alhamdulillah kami tiba di dekat Terminal Malengkeri dan berniat charter angkot untuk menuju Pantai Losari. Disepakatilah harga Rp 50.000,- dengan asumsi Rp 5.000,-/orang ditambah lebihnya Rp 10.000,-. Maka setelah menaruh barang-barang, kami pun berpamitan dengan Pak Hajar dan melaju menuju Pantai Losari untuk kedua kalinya.


L. Pisang Epe, Toko Oleh-Oleh Unggul (Pantai Losari)

Pisang Epe Keju Susu
Saat kami tiba disana (Pukul 20.15 WITA) suasana Pantai Losari sedang sangat ramai. Tidak bisa dipungkiri karena memang saat itu sedang malam minggu. Jadi jangan heran jikalau banyak muda mudi yang wara-wiri di sekitar pantai. Di sekitar pantai banyak bisa ditemui pedagang yang menjual Pisang Epe, tapi pintar-pintar juga mencari lapak yang enak ya, sehingga betah nongkrongnya. Pisang Epe seperti disamping ini dihargai Rp 10.000,-/porsi dengan teh manis hangat Rp 5.000,-/gelas.

Toko Kerajinan Unggul
Berhubung kami masih ingin mencari oleh-oleh, tidak lama setelah menyantap Pisang Epe, kami bergerak menuju Toko Oleh-Oleh Unggul yang berada tidak jauh dari tempat kami makan. Kalau dari depan Hotel Losari Beach, tinggal lurus saja hingga bertemu pertigaan besar, kemudian ambil belok kanan. Toko ini menyediakan aneka macam oleh-oleh Makassar, terutama yang bersifat umum bisa kalian temui disini (beberapa memang harus dari daerahnya langsung). Mulai dari Kopi Toraja, Kain tenun, Sarung, Aneka gelang, gantungan kunci, baju kaos, makanan dan cemilan khas, serta tas dan dompet yang bisa kalian dapatkan dengan harga yang relatif terjangkau.
 
Setelah puas berbelanja dan toko pun sudah tutup, kami kembali ke tempat Pisang Epe dimana Ardy Jawir masih setia menunggui Tas dan Carrier kami. Berhubung jam keberangkatan pesawat menuju Jakarta masih lama, kami memilih untuk bersantai sejenak sembari menikmati suasana tepi pantai.

Tak terasa, di Pantai Losari inilah petualangan kami akan berakhir. Aaaaah, rasanya waktu cepat sekali berlalu. 


21 Agustus 2016

Bye Makassar, hope to see u again!
Maka dengan kami menuju Bandara setelahnya, dan esoknya menaiki pesawat masing-masing untuk kembali ke Jakarta, berakhirlah sudah petualangan kami selama 8 hari menjelajah Sulawesi Selatan. Ingin sekali rasanya suatu saat saya kembali kesini. Semoga saja. Aamiin.

Foto disamping inilah yang menjadi saksi bisu saat pesawat yang saya tumpangin akan lepas landas dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Bandara Soekarno- Hatta, Jakarta. ;)






Rincian Pengeluaran Taman Wisata Alam Bantimurung (10 orang) :

-Sewa 2 Mobil Bandara - Rumah Kawan @ 100.000 : Rp 200.000,-
-2 Mobil aplikasi Rumah Kawan -Bantimurung + parkir : Rp 160.000,-
-Makan siang di Bantimurung (Bakso+Soto) : Rp 231.000,-
-HTM Bantimurung @ 25.000 : Rp 225.000,- (nego)
-Angkot ke Rammang-Rammang : Rp 120.000,-
-Ongkos tambahan untuk kawan yang balik duluan : Rp 50.000,-
----------------------------------------------------------------------+
Total : Rp 986.000,-/10 orang = Rp 98.600,-/orang


Rincian Pengeluaran Rammang-Rammang + Pantai Losari + Tanjung Bira (8 orang) :

-Sewa perahu di Rammang-Rammang : Rp 250.000,-
-Angkot Rammang-Rammang --> Pantai Losari : Rp 130.000,-
-Parkir Rammang-Rammang : Rp 10.000,-
-Makan Pallu Basa Datumuseng : Rp 205.000,-
-Mie Titie : Rp 27.000,-
-Mobil Aplikasi Pantai Losari --> Rumah Kawan : Rp 50.000,-
-2 Mobil Aplikasi Rumah Kawan - Terminal Malengkeri @50.000 : Rp 100.000,-
-Tips Keamanan Rumah Kawan : Rp 100.000,-
-Sewa mobil ke Tanjung Bira (Kijang Krista-Pak Hajar) : Rp 700.000,-
-Makan siang di Bantaeng : Rp 253.000,-
-HTM Tanjung Bira plus parkir @15.000/orang, parkir @10.000/mobil : Rp 130.000,-
-Penginapan Salassa 2 kamar (Tanjung Bira) , termasuk charge 50.000 : Rp 780.000,-
-Paket Snorkeling : Rp 350.000,-
-Belanja Logistik makan malam : Rp 82.000,-
-HTM Penangkaran Penyu @10.000/orang : Rp 80.000,-
-Sewa mobil ke Terminal Malengkeri (Pak Hajar) : Rp 600.000,-
-Charter angkot ke Pantai Losari : Rp 50.000,-
-2 mobil Aplikasi Pantai Losari - Bandara @85.000 : Rp 170.000,-
---------------------------------------------------------------------------------+
Total : Rp 4.067.000,-/8 orang = Rp 508.375,-/orang


Pengeluaran Pribadi (13 Agustus - 21 Agustus 2016) :

-Jajan dari Bandara menuju Baraka : Rp 26.500,-
-Kopi Enrekang 2 Packs @5.000 : Rp 10.000,-
-Jajan selama di Toraja : Rp 28.000,-
-Souvenir Toraja : Rp 20.000,-
-Kopi Toraja Arabica : Rp 35.000,-
-Teh Susu Bandara : Rp 15.000,-
-Kaos Latimojong lengan panjang (pesan) : Rp 90.000,-
-Snack Bira @5.000 : Rp 10.000,-
-Souvenir Kerang Bira (4) : Rp 10.000,-
-Makan siang di A & Y Sop Saudara (menuju Makassar) : Rp 35.000,-
-Pisang Epe dan Teh Manis hangat : Rp 15.000,-
-Oleh-oleh Toko Unggul : Rp 66.500,-
-------------------------------------------------------+
Total : Rp 361.000,-


Total Pengeluaran Trip Sulawesi Selatan 13 Agustus 2016 - 21 Agustus 2016 (Saya) :

-Rantemario + Tana Toraja : Rp 700.770,-
-Taman Wisata Alam Bantimurung : Rp 98.600,-
-Rammang-Rammang + Pantai Losari + Tanjung Bira : Rp 508.375,-
-Pengeluaran Pribadi : Rp 361.000,-
-Tiket Pesawat PP : Rp 1.554.000,-
-----------------------------------------------------------------------------------------------+
Grand Total : Rp 3.222.745,- *
*Biaya di atas tidak termasuk ongkos dari Rumah masing-masing menuju Bandara PP yaa..

Begitulah akhir cerita kami di Sulawesi Selatan, semoga informasi yang ada bisa bermanfaat dan bisa menjadi gambaran bagi kalian yang ingin menghabiskan waktu disana. Saran saya persiapkan waktu yang cukup panjang, sehingga kalian puas untuk menjelajah ke berbagai daerah yang kalian mau (karena memang lokasi tempatnya jauh-jauh).

Cheers !

RPR - Sang Petualang
(Silahkan di-follow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)