Tampilkan postingan dengan label Pendakian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendakian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Oktober 2018

Binaiya, di-BINA dan di-Aniaya

Halo, setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya saya bisa kembali lagi. Dan kali ini saya akan cerita tentang perjalanan saya bersama beberapa kawan tentang bagian Timur Indonesia. Tepatnya, Gunung Binaiya di Pulau Seram, Maluku.

Bagi yang belum tahu , Gunung Binaiya yang memiliki ketinggian 3.027 MDPL  ini masuk dalam jajaran gunung Seven Summits Indonesia. Meskipun tingginya tidak seberapa jika dibanding dengan Gunung-gunung di Pulau Jawa, dan sangat pendek sekali jika dibandingkan dengan Kerinci dan Rinjani, tapi tingkat kesulitan yang dimiliki gunung ini tidak bisa dianggap remeh.

Selain aksesnya yang jauh dan harus menggunakan berbagai macam moda transportasi mulai dari Pesawat, Mobil, Kapal Express, bahkan dulu sampai memakai Getek, medan yang dilewati juga cukup sadis, karena harus menaiki dan menuruni sekitar 9 Perbukitan. Kebayang kan semantap apa jalurnya? Nah mari langsung disimak.


27 April 2018 

Berangkat!
Dengan menaiki Bus Damri dengan tiket Rp 35.000,-/orang yang ada di Pondok Indal Mall 2, yang mana tidak jauh dari rumah, saya bertolak menuju Bandara Soekarno Hatta. Cukup macet sore itu sehingga membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk masuk ke jalan Tol. Sesampai di bandara saya memutuskan untuk mengisi "bahan bakar" dulu di salah 1 restoran cepat saji sembari menunggu kedatangan 3 orang kawan saya. Tepat pukul 22.45 WIB,  kami lepas landas menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dimana kami akan singgah terlebih dahulu.


28 April 2018

Tiba di Ambon!
Wefie pertama kami di Ambon
Setelah sebelumnya singgah di Makassar dan menunggu hampir 1,5 jam untuk penerbangan selanjutnya ke Ambon, Alhamdulillah pukul 05.50 WIT kami tiba di Bandara Pattimura, Ambon. Saat tiba di Bandara kami harus menunggu agak lama dikarenakan Guide kami "kesiangan". Hahaha..

Sekitar pukul 07.15 WIT, kami dijemput oleh Bang Alief yang seharusnya menjadi Guide kami, namun karena 1 dan lain hal beliau berhalangan dan kemudian menyerahkan tugasnya pada Bang Ricky. Berhubung Bang Ricky sudah bersama kami juga saat itu, jadi kami langsung bertolak ke Pelabuhan Tulehu dengan mobil sewaaan yang sudah dipesan. Kira-kira membutuhkan waktu 45 menit untuk mencapai Pelabuhan.


Pelabuhan Tulehu

Suasana di depan Pelabuhan Tulehu
Pukul 08.15 WIT kami sudah tiba di Pelabuhan Tulehu, dan langsung bergegas membeli tiket Kapal Express Cantika seharga Rp 115.000,-/orang di loket yang sudah tersedia. Berhubung Kapal baru akan berangkat pukul 09.00 WIT, maka kami menyempatkan dulu untuk sarapan di sekitar Pelabuhan sembari berfoto-foto. Jangan lupa, biasakan untuk terlebih dahulu menanyakan harga sebelum memesan makanan/minuman ya. 

Siap menyeberang!

Maafkan muka kami yang super lecek!
Suasana di dalam Kapal pagi itu cukup ramai, berhubung kami juga menyeberang di hari Sabtu. Tapi jangan khawatir karena ruangan sudah dilengkapi dengan AC dan ada nomor tempat duduk. Jadi tidak akan rebutan. Di dalam Kapal banyak juga pedagang yang mondar mandir berjualan, sehingga tidak perlu takut kelaparan. Oiya, karcis jangan sampai hilang, karena akan ada pemeriksaan nanti.

Sekitar pukul 11.51 WIT kami merapat ke Pelabuhan Amahai dan sudah ditunggu oleh Bang Moge, si Abang baik hati dengan  mobil kuningnya yang terkenal seantero Seram. ahahahah (Silahkan kontak beliau di 0813 4343 3835 untuk Wa/Telp). Hal yang pertama kami lakukan adalah menuju Balai Taman Nasional Manusela untuk mengurus simaksi ke bang William. (Oiya, pastikan kalian sudah mengurus simaksi melalui Guide setidaknya 1 Bulan sebelum ya, supaya Guide juga bisa bersiap dan membantu pengurusan ke Balai ).


Balai Taman Nasional Manusela

Berfoto bersama Bang William di depan gedung Balai
Di Balai Taman Nasional Manusela, kami disambut oleh Bang William, yang mana saya juga sudah kontak dengan beliau beberapa bulan sebelumnya. Penting! Jangan lupa siapkan Hardcopy dari Foto Copy KTP, Surat Keterangan Sehat, dan Materai 6.000 untuk kelancaran pengurunsan Simaksi . Oiya, bagi yang ingin menunaikan Sholat atau pun sekedar bersih-bersih, bisa langsung ke lantai 2 ya. Untuk Biaya Total Simaksi, kami ber-5 dikenakan Rp 575.000,-/team yang mana rinciannya akan saya jabarkan nanti di bawah. Dengan maksimal waktu pendakian disebut untuk 6 hari 5 malam.

Jangan pernah coba-coba nanjak Binaiya tanpa memegang Simaksi ya, atau kalian bisa disuruh kembali lagi ke Balai meskipun sudah tiba di Piliana sekalipun. Nantinya, beberapa Surat yang diberikan oleh Bang William akan diberikan ke beberapa tempat seperti Resort Balai Taman Nasional Manusela di desa Yaputih, dan terakhir sebagai pengantar ke Bapak Raja di desa Piliana.

Kemudian, perjalanan dilanjut dengan mampir ke pasar untuk membeli aneka logistik dan makan siang bersama sebelum menuju Desa Piliana.


Kolam Jodoh NiniFala
Perjalanan menuju Desa Piliana ditempuh dengan melewati jalan pesisir pantai yang berkelok kelok dan sesekali saya perhatikan, Bang Moge hampir selalu  menyapa pengendara yang berpapasan dengan kami, secara tidak langsung menunjukkan betapa beliau sudah cukup dikenal dan "ahli" di daerah ini..Terpercaya lah pokoknya. Hehehehe

Kolam Jodoh Nini Fala (model by Elfrida)
Berhubung hari masih sore, kami menyempatkan untuk mampir ke Kolam Jodoh NiniFala, yang mana terletak tidak jauh sebelum mencapai desa Piliana. Tidak ada biaya masuk saat kami kesana, mungkin karena memang sudah terlalu sore. Akses untuk ke bawah agak licin, jadi harap berhati-hati. 

Dari jauh, warna kolam terlihat biru muda seperti air mendidih, namun ternyata airnya sangat segar dan dingin. Konon katanya, yang mandi atau pun membasuh diri disini akan cepat dapat jodoh. Wallahu'alam. Dan pastinya bagi kami yang sudah hampir seharian tidak mandi, membasuh badan disini rasanya sangat menyegarkan!


Desa Piliana

Rumah Bapak Raja
Setelah puas basah-basahan di Kolam Jodoh NiniFala, perjalanan dilanjut. Alhamdulillah sekitar pukul 18.30 WIT kami sudah tiba di Desa Piliana yang menjadi gerbang awal pendakian Gunung Binaiya via jalur Selatan. Setibanya disana kami langsung menuju rumah Bapak Raja.

Bapak Raja orangnya sangat ramah, dan suka mengobrol. Kami langsung disambut dengan aneka kue dan Kopi khas daerah saat tiba di rumahnya.

Setelah beramah tamah, acara dilanjut dengan jamuan makan malam dan ditutup dengan Upacara adat sebelum kami beristirahat menyiapkan tenaga untuk pendakian esok hari. Oh iya, bagi yang memerlukan jasa porter, sebaiknya infokan langsung ke Bapak Raja agar paginya sang porter sudah siap. Biaya porter dikenakan Rp 150.000,-/hari/orang nya.

Upacara Adat

Prosesi Upacara Adat
Upacara adat menjadi hal yang harus kami lewati sebelum menjalankan pendakian Binaiya. Bisa dibilang sebagai tanda permohonan untuk keselamatan kami selama di pendakian. Kami berempat duduk secara bersebelahan dan upacara pun dimulai. Diawali dengan Bapak Adat menyalami kami satu persatu,  dilanjut dengan membaca doa-doa dalam bahasa daerah, dan ditutup dengan masing-masing dari kami harus "Menyirih", dan meludahkan sirih tersebut ke luar jendela, atau jika tidak mau, boleh dengan menyentuh piringnya saja. Sehabis upacara, Bapak Adat kembali menyalami kami sebelum pamit dan kami menuju ke Homestay untuk beristirahat.


29 April 2018

Pendakian dimulai

Foto lengkap bersama Guide, Bapak Adat, Para Porter dan Bapak Raja
Hari yang ditunggu tiba. Sesuai kesepakatan semalam, kami akan memulai pendakian sekitar pukul 07.30 paling lambat. Sehingga setelah selesai Packing, kami langsung bergegas menuju rumah Bapak Raja sekaligus menunggu Bapak Enos yang akan menjadi Porter kami selama pendakian.

Track awal pendakian

Jalur tanah becek berlumpur
Tepat pukul 07.15 WIT, kami memulai pendakian dengan menyusuri jalur awal berupa tanah bersemen melewati rumah-rumah warga, dan kemudian segera berbelok setelah mencapai rumah seperti di foto. Jalur langsung memasuki hutan, dengan tanah berlumpur serta becek ga ada ojek (eh keceplosan.hahha). Dari sini jalur sudah mulai terasa  naik dan turun, namun masih banyak bonus alias datar.

Setelah melewati jalur yang cukup banyak bonus, dikejauhan kalian akan menemui pohon besar tumbang yang menghalangi jalan. Pilihannya antara dua, mau "ngolong", atau naik ke atas. Saya sih ngolong..



Melewati celah pohon tumbang.


Melintasi jalur sungai
Kira-kira 5 menit berjalan setelah melewati pohon tumbang, kami memasuki jalur menyusur sungai, beruntungnya saat itu tidak hujan sehingga air sungai tergolong dangkal. Bisa dibilang salah 1 jalur yang sangat "memorable" bagi saya. Kenapa? padahal hari masih termasuk pagi, namun suasana di jalur tersebut sudah cukup membuat saya merinding. Yaa baiknya jangan terpisah terlalu jauh dengan rombongan ketika melewati jalur ini, terlebih jika malam.

Di ujung jalur sungai, kita akan bergerak ke atas, menyusuri jalur hingga kemudian menyebrangi sungai Yahe, dan tidak jauh dari situ tibalah kami di Pos 1 Yamitala.


Pos 1 Yamitala ( 2 Jam 55 menit)
Pos 1 Yamitala
Kami tiba di Pos Yamitala sekitar pukul 10.10 WIT, atau setidaknya setelah menempuh lebih kurang 3 jam perjalanan dari Desa Piliana. Di Yamitala terdapat Shelter yang layak untuk dipakai bermalam. Namun karena hari masih siang, tujuan kami hari itu adalah bisa bermalam di Pos 2 Aimoto. Setelah puas berleha-leha dan sebagian dari kami sempat-sempatnya memakan durian yang sedang musim, perjalanan kami lanjutkan.

Perjalanan dilanjut dengan jalur yang terus menanjak dan berakar, ditambah saat itu hari semakin gelap karena sepertinya akan turun hujan, dan benar saja, hujan langsung turun dengan derasnya. Karena sudah memasuki jam makan siang, di tengah hujan deras pukul 11.30 WIT kami memutuskan untuk makan siang dengan beratapkan Flysheet dan gantian memasak.


Batu Lukuamano
Hujan nyaris badai tiada hentinya menerjang kami di hari itu, sehingga tidak terasa air hujan sudah merembes dan seakan jas hujan tiada berguna lagi melindungi tubuh kami. Alhamdulillahnya sekitar pukul 15.07 WIT, kami menyempatkan berteduh sekaligus kembali di bawah cekungan Batu Lukuamano sembari mengisi perut yang entah kenapa kembali lapar. Yah, memang tidak dipungkiri jalur yang naik turun dan sadis membuat kami cepat lelah.

Padahal untuk mencapai Pos 2 Aimoto dari Batu Lukuamano ini sudah tidak jauh, hanya harus menuruni bukit serendah-rendahnya, kemudian naik lagi, menemui sungai, dan tibalah di Pos 2 Aimoto.




Pos 2 Aimoto ( +/- 6 Jam 30 Menit termasuk makan siang dan istirahat beberapa kali)

Shelter di Pos 2 Aimoto
Kami yang sudah basah kuyup diterjang hujan sedari siang ini segera mencari lapak masing-masing untuk menjemur baju, celana, bahkan jas hujan yang basah. Dan tak lupa berganti pakaian. Sesuai rencana di awal, malam ini kami menginap di Aimoto,  memasak makanan, ngopi-ngopi ganteng dan segera beristirahat untuk persiapan pendakian hari kedua.


30 April 2018

Pendakian hari kedua dimulai!

Jalur menanjak sebelum dataran Ailunasai
Pukul 09.00 WIT kami memulai pendakian dan langsung disambut dengan jalur becek berlumpur seperti sebelumnya. Jalanan dilanjut dengan jalur kemiringan 45 derajat yang ujungnya adalah dataran Ailunasai. Nah, di tanjakan agak sedikit ekstrim yang ga ada ampun nih, disinilah satu-satunya saya bertemu Pacet selama di Binaiya, meskipun yaa tetap tidak sebanyak di Bukit Raya yang memang Kerajaan Pacet.. hahaha.

Sedikit saran, ketika menanjak melalui tanjakan yang satu ini baiknya jangan ngelihat ke atas deh.. pasti bawaannya jadi malas... -,-


Berfoto sejenak di Dataran Ailunasai bersama Bang Ricky

Jalanan masih lanjut dan terus menanjak, mulai memasuki hutan lumut, dan kemudian bertemu jalur dengan banyak batu berwarna putih yang agak tajam, disinilah kami berjumpa dengan beberapa rombongan pendaki lain yang turun, dan disini juga kami berjumpa dengan Bang Ichal, yang nantinya akan menjadi Guide kami selama di Ambon (tunggu ceritanya di Part 2) ^^. Dan Seperti biasa, sekitar pukul 11.39 WIT kami istirahat makan siang.

Maafkan muka kami yang sudah ga enak inih.. -,-"
Sekitar pukul 13.21 WIT, kami tiba di Puncak Teleuna, sebuah lahan datar yang tidak terlalu besar, namun asyik buat dipakai duduk-duduk. Nah, dari Puncak Teleuna ini sebenarnya sudah sangat dekat menuju Pos 3 High Camp. Karena setelahnya jalanan akan dilanjut melewati hutan-hutan lumut yang indah, banyak bonus pula sehingga kalian akan betah berlama-lama melewatinya (Sayang foto-foto kami di hutan lumut masih ada di bang Ricky -,-)

Di Ujung hutan lumut ini, jalanan akan langsung curam ke bawah, dan itu pertanda kalian sudah semakin dekat dengan Pos 3 High Camp. Tiba sekitar pukul 15.05 WIT


Pos 3 High Camp (+/- 6  Jam termasuk Makan Siang) 

Pos 3 High Camp
Jika dilihat dengan seksama, Pos High Camp ini sebenarnya berada di dasar lembah, dan kondisinya saat itu agak rusak pada bagian atap, sehingga kebayang akan dingin sekali jika bermalam disini. Tapi memang tujuan kami hari itu adalah bermalam di Isilale karena esoknya akan langsung Summit Attack ke Puncak Binaiya. Jadilah kami hanya beristirahat sejenak dan kembali meneruskan perjalanan yang sepertinya Hmmm (ala Nisa Sabyan) masih jauh...


Jalur hutan lumut berikut sudah menanti
Perjalanan yang kami lalui semakin gurih, jalur-jalur juga sudah mulai didominasi oleh bebatuan terjal dan tajam, jadi bagi kalian yang memakai celana pendek harus ekstra hati-hati yaa supaya kaki kalian tidak tergores apalagi sobek. Pastikan juga memakai alas kaki yang nyaman dan kuat. Sekuat hati kalian kalau Chat kalian ga dibalas sama gebetan. Lhoh.....-,-"


View menuruni lembah menuju Pos IV Isilale
Sekitar pukul 17.50 WIT, kami tiba di Puncak Manukupa, yang View langsungnya adalah laut jika kita melihatnya di pagi/siang hari. Namun sayang saya sudah terlalu lelah untuk berfoto sehingga sudah fokus untuk bagaimana caranya cepat tiba di Pos IV Isilale. Sore itu hujan kembali turun dengan derasnya, padahal perjalanan kami masih ada sekitar 30 menit menuruni dasar lembah untuk mencapai Pos berikut.



Pos IV Isilale (3 Jam 25 Menit)
Hari sudah semakin gelap saat itu, hujan semakin kencang, tapi Alhamdulillah pukul 18.30 WIT kami sudah tiba di dalam Shelter Pos IV Isilale. Tidak banyak yang kami lakukan malam itu kecuali langsung menjemur baju, berganti pakaian, dan segera mempersiapkan keperluan untuk Summit Attack esok hari karena kami berencana memulainya dari pukul 02.30 WIT dini hari.

 
1 Mei 2018

Summit Attack!!
Hari yang ditunggu tiba, waktunya untuk Summit Attack! Kami yang memang sudah terbangun dari pukul 01.00 WIT, langsung memasak dan mempersiapkan kembali alat-alat yang akan dipakai menuju Puncak. Carrier sudah pasti ditinggal, paling kami hanya membawa masing-masing ransel kecil saja. Dan setelah memakai sepatu yang dinginnya seperti es, belum lagi memang masih dalam keadaan basah karena hujan kemarin, kami memulai pendakian dini hari itu pukul 02.25 WIT setelah berdoa bersama.


Saran saya, ketika kalian sudah naik dari Shelter Isilale menuju bertemu banyak bebatuan di kiri dan kanan, ingat-ingat dengan baik tanda-tanda untuk kembali menuju ke Isilale. Kenapa? alasannya nanti akan saya ceritakan di belakang.


Pos V Nasapeha (3 Jam 30 Menit)
Untuk menuju Pos Nasapeha kita melalui jalur berbatu-batu yang naik dan turun disambung hutan. Entah ada berapa kali naik turun dan hutan (karena tidak saya hitung), yang pasti diujungnya akan diakhiri dengan berbagai macam pohon melintang dan di depannya ada tanah lapang berlumut yang mana menandakan sudah tiba di Pos Nasapeha. Sekilas Pos ini layak juga untuk dijadikan tempat Camp, namun berhubung info dari Para Pendaki yang turun Nasapeha sedang becek parah, alhasil kami memilih di Isilale yang memang juga ada Shelter sehingga lebih nyaman untuk beristirahat.

Memasak minuman hangat di Pos Nasapeha

Sang mentari telah tiba
Kami tidak berlama-lama di Nasapeha, setelah beristirahat secukupnya, team langsung bergerak lagi. Naaaah, setelah Nasapeha inilah pemandangan sudah mulai terbuka, terlebih saat itu sinar mentari sudah tiba dan membuat suasana yang dingin menjadi lebih hangat. 

Tapi jangan senang dulu, karena menuju Puncak Binaiya ini kalian harus melewati berbagai macam bukit yang sifatnya PHP, mungkin beberapa kali kalian akan berpikir "Tuh puncaknya disana!", tapi ternyata kalian salah. Hahahahaha.

Hutan lumut yang ditemui dalam perjalanan ke Puncak
Mulai terlihat berbagai tumbuhan Pakis (Doc by Bang Ricky)


View yang indah, Alhamdulillah cerah!
Setelah kalian menemui berbagai tumbuhan Pakis yang berjejer, saran saya jangan lupa untuk menengok ke belakang ya. Selain untuk memastikan tidak ada kawan yang ketinggalan, kalian juga bisa menikmati pemandangan seperti di samping ini. Pokoknya wajib diabadikan ya! :D

Kami terus melanjutkan perjalanan, melewati berbagai bukit-bukit berbatu dan berbagai tanaman pinus yang sudah tidak terhitung banyaknya, dan sekali lagi kami disuguhi pemandangan super indah, yakni Oase menuju Puncak yang airnya sedang banyak! Alhamdulilah juga karena dua hari sebelumnya hujan, jadinya air tidak kering. Belum sah lah kalian kemari kalau belum mencoba air di Oase ini. :D

Oase menuju Puncak Binaiya


Puncak Binaiya !!  (+/- 3 Jam 19 Menit)

Puncak Binaiya 3.027 Mdpl
Alhamdulillah, sekitar pukul 09.15 WIB kami tiba di Puncak Binaiya, tepatnya setelah berjalan kaki lebih kurang 3 hari dari Desa Piliana.

Kalau dipikir-pikir, dibanding Gunung Rinjani maupun Gunung Kerinci yang tingginya jauh di atas Binaiya, tapi untuk menggapai Puncak Binaiya ini tidak bisa dianggap remeh.

Bisa dilihat Puncak Binaiya ini cukup luas, dan kita bisa bersantai-santai sejenak menikmati sinar mentari sembari menjemur sepatu dan baju yang basah (tetep yeee..hahaha).

Disini kami puas-puasin foto dengan berbagai macam gaya dan bentuk, yaa ga ada salahnya juga karena memang untuk kemari saja sudah penuh perjuangan, belum lagi drama-drama yang terjadi sebelumnya. Tapi yaaah, Alhamdulillah semua itu terbayar lunas ketika menapakkan kaki disini. 

Pasukan Team "Tukang Sapu"
Foto lengkap bersama Bang Ricky dan Bapa Enos

Kembali menuju Isilale..

Taman Batu dalam perjalanan pulang
Setelah puas berfoto-foto dan mengisi perut yang pastinya sudah kembali lapar, selanjutnya kami bergerak turun menuju Isilale, dimana kalau nguber sebenarnya kami ingin mencapai Ayemoto hari ini juga.

Kabut tipis sudah mulai turun saat itu, padahal jika dilihat baru sekitar pukul 11.13 WIT. Nah, tidak jauh dari kabut turun, kami tiba di taman batu yang mengingatkan saya pada lokasi wisata "Stone Garden" yang ada di Padalarang. Mirip-mirip lah yaa tapi saya rasa pastilah lebih bagus ini.. (Teteeeep)...

Perjalanan turun kami lakukan dengan cepat, karena memang sudah tidak banyak berfoto, dan tujuan kami hanya ingin secepatnya tiba di Pos Isilale dan langsung bergerak menuju Aimoto.

Masih ingat kata-kata saya di awal supaya kalian "menghapal" tanda-tanda setelah memulai pendakian dari Isilale menuju Puncak? Kalau dari arah turun dari Puncak, tepatnya setelah melewati Puncak Bukit Bintang, kalian akan merasa jalan lurus-lurus saja, namun nanti ada suatu saat dimana kalian masuk hutan dan buntu. (Harusnya sih sudah ditutup yaa jalan itu sekarang supaya tidak membingungkan).

Ya, saya sempat tersesat dan tak tahu arah jalan pulang (tetiba nyanyi Butiran debu.. -,-), padahal lokasinya sudah sangat dekat dengan Pos Isilale. Dan yang saya lakukan adalah memanggil-manggil nama kawan saya yang sepertinya sudah tiba lebih dulu sembari orientasi medan, dan ternyata jalan yang saya lalui sebenarnya sudah tepat, hanya saja harus melipir melewati bebatuan ke kanan (kalau diperhatikan baik-baik ada debu-debu pecahan batu berwarna putih yang digunakan sebagai penunjuk jalan), barulah kita tiba di jalan menuju Pos Isilale.

Dan karena insiden ini, kami memutuskan untuk nginap lagi di Isilale dan berencana untuk mengejar ke Desa Piliana esok hari. Oh iya, Maghrib menjelang malam itu kami sempat kedatangan "tamu tak diundang", tapi tak apalah karena mungkin sebenarnya beliau tidak bermaksud "mengganggu", hanya numpang lewat.. Hahahahha


2 Mei 2018

Kita Pulang!

View dari Puncak Manukupa
Berhubung tujuan kami hari itu adalah langsung menuju Desa Piliana, jadilah kami berjalan agak ngebut, bahkan tidak sempat berpikit untuk foto-foto, dan foto di sebelah ini adalah satu-satunya foto yang saya ambil dalam perjalanan pulang, yakni di Puncak Manukupa, karena sebelumnya saat menuju Isilale dalam keadaan hujan besar.

Dan lebih kurang seperti inilah Timeline perjalanan kami turun di hari itu menuju Desa Piliana..

08.15 WIT Turun dari Isilale
10.08 WIT Tiba di Pos 3 High Camp
13.45 WIT Tiba di Pos 2 Aimoto (Makan siang)
16.56 WIT Tiba di Pos 1 Yamitala
20.28 WIT Desa Piliana

Alhamdulillah, dengan tibanya kami semua di Desa Piliana kembali dengan selamat sentausa artinya berakhir sudah perjalanan kami di Gunung Binaiya yang menjadi salah 1 dari 7 Seven Summits Indonesia. Bagi saya pribadi, ini Puncak ke 5 dari 7.

Malam itu kami langsung beristirahat sejenak, makan malam sembari evaluasi singkat perjalanan, mandi+berganti pakaian dan setelah Bang Moge (driver kami) datang, bergeraklah kami menuju destinasi berikutnya, yakni Ora Beach (yang akan saya bahas di Part selanjutnya) , namun dengan menginap semalam di rumah Bang Moge terlebih dahulu..


Berikut rincian pengeluaran (Team) selama menuju dan di Binaiya :
- Ongkir Ojol sewa Carrier : Rp 60.000,-
- Beli Gas 6 botol @22.000 : Rp 132.000,-
- Ongkir ambil tenda (Elfrida) PP : Rp 40.000,-
- Wrapping Bandara 5x 50.000 : Rp 250.000,-
- Sewa mobil ke Tulehu : Rp 200.000,-
- Parkir + Karcis masuk ke Tulehu : Rp 5.000,-
- Tiket Kapal Cepat 5x 115.000 : Rp 575.000,-
- Sarapan pagi ( 3 Soto+1 Mie+Nasi+3 Kopi) : Rp 100.000,-
- Simaksi untuk 5 orang termasuk guide : Rp 575.000,-**
- Wortel 2 ikat : Rp 20.000,-
- Kol : Rp 5.000,-
- Spiritus untuk Trangia : Rp 15.000,-
- Aqua karton + 6 Cleo : Rp 101.000,-
- Makan siang warteg (6 orang termasuk guide + driver) : Rp 85.000,-
- Biaya adat : Rp 150.000,- (Nyirih)
- Biaya Porter 4 hari : Rp 600.000,-
- Buku Tamu + Homsetay + Makan selama di Piliana : Rp 350.000,-
- Biaya Guide 5 hari (dihitung dari tiba Bandara) : Rp 1.500.000,-
- Mobil PP Masohi - Desa Piliana (Bang Moge) : Rp 2.000.000,-
------------------------------------------------------------------------------------- +
Total :  Rp 6.763.000,- dibagi 5 menjadi Rp 1.352.600,-/orang*


Note : Biaya tersebut belum termasuk dengan Biaya Pribadi, dan Biaya Kapal Cepat untuk pulang ke Ambon, karena akan masuk ke Part selanjutnya...


** Rincian Biaya Simaksi (dibuat untuk estimasi 6 hari oleh Guide kami) :
- Karcis Masuk : 5.000 x 5 orang x 6 hari : Rp 150.000,-
- Berkemah : 5.000 x 5 orang x 6 hari : Rp 150.000,-
- Penelusuran hutan/Trackking : 5.000 x 5 orang : Rp 25.000,-
- Ambil foto/dokumentasi : Rp 250.000 /team
----------------------------------------------------------------------------- +
Total : Rp 575.000,-


Kontak yang bisa dihubungi :
Guide : Bang Alief Izham 0821 984 32 106  @camp_binaiya / Bang Ricky M.K 0813 546 699 15 @binaiyaexpeditions
Driver : Bang Moge 0813 434 338 35  @toisutamoken
Balai Taman Nasional Manusela : Bang William 0822 3835 8198


Sekian info yang bisa saya berikan tentang perjalanan kami di Gunung Binaiya, semoga segala info yang ada bisa bermanfaat dan memudahkan bagi kalian yang ingin berkunjung kesana..
Aamiin!


Salam, 
RPR - Sang Petualang
(Silahkan di follow IG saya jika berkenan : @rezkirusian) 


Sampai jumpa di Part selanjutnya! (Spoiler alert!) hahaha

Senin, 25 Desember 2017

"Lari Marathon" di Argopuro

Marathon? Laaaah katanya lo nanjak gunung? ngapain bawa-bawa lari marathon?. 

Buat kawan-kawan yang belum tahu, Gunung Argopuro yang secara administratif terletak di 3 Kabupaten , yakni Probolinggo, Jember dan Situbondo ini merupakan gunung dengan Track pendakian terpanjang Se-Jawa, dan bagi pendaki super santai seperti saya ini membutuhkan waktu 5 hari 4 malam untuk menyelesaikan jalurnya. Menurut info dari Pak Arifin yang rumahnya kami singgahi saat tiba di Bremi, panjang Tracknya adalah 63 Km. Wiiiiiw! Ga salah kaki berasa banget setelahnya.. hahaha

Dengan berlandaskan berbagai info blog dan bertanya-tanya ke kawan yang sebelumnya pernah kemari, maka dipilihlah  untuk naik lewat Baderan dan turunnya ke Bremi pada pendakian Argopuro kali ini.


13 Juli 2017

Berangkat!
Pukul 10.00 WIB saya sudah berangkat dari rumah untuk menuju Stasiun Senen dimana saya akan bertemu dengan Bang Mamat rekan seperjuangan saya kali ini untuk kemudian sama-sama berangkat ke Surabaya menuju Stasiun Pasar Turi. Sesuai jadwal, pukul 14.00 WIB kereta KA.Kertajaya berangkat.


14 Juli 2017

Tiba di Surabaya
Tiba di Stasiun Pasar Turi
Setelah melewati perjalanan lebih kurang 12 jam, kami tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Setelah rehat sejenak, dan berfoto geje seperti disebelah ini, kami langsung bergerak keluar stasiun dan segera mengisi perut ketika melihat seorang Bapak Tua yang berjualan ala angkringan tepat di seberang pintu keluar.

Harganya juga murah meriah, untuk seporsi nasi dengan telur dadar dan lauk mini ditambah segelas teh manis hangat hanya dikenakan Rp 9.000,-. 

Dengan tampilan kami yang membawa Carrier dan seperti orang mencari-cari transportasi ini jangan heran jika banyak yang langsung menawarkan jasa untuk mengantar . Namun saya bersabar sedikit sehingga ketika kami sedang makan terdengar teriakan "Bungur..Bungur!!" dari Angkot yang sedang ngetem di depan stasiun. Setelah bertanya harga, dikenakanlah Rp 15.000,-/orang untuk mengantar kami menuju Terminal Bungurasih (Purabaya), tempat dimana kami akan mencari bus yang akan mengantarkan kami menuju Besuki.

Angkringan depan Stasiun Pasar Turi
Dengan jalanan yang kosong malam itu, ditambah lagi si Mas ini ngebut bawa mobilnya, tidak terasa setelah 25 menit perjalanan kami sudah tiba di depan pintu keluar Terminal Bungurasih. Saat itu sebenarnya sudah ada bus yang siap jalan menuju Situbundo, namun kami memilih untuk masuk dulu ke terminal, beristirahat sejenak dan menunggu waktu Sholat Subuh di Masjid dekat pintu masuk terminal.

Terminal Purabaya (Bungurasih)

Ketemu Bapak-Bapak Heboh
Setelah Subuh, kami langsung bersiap mencari bus yang bisa mengantar kami menuju Besuki. Saat itu terpikir oleh saya, untuk menghindari calo dan mendapat harga normal kami harus masuk terlebih dahulu menuju terminal utama yang bentuknya seperti ruang tunggu Bandara. Benar saja, ruangannya sangat bagus,ada cafe, ada mini marketnya juga dan banyak terlihat orang yang tidur di bangku.

Disitulah saya bertemu dengan Bapak-Bapak Super Heboh yang sangat bersemangat menggiring kami ke salah 1 bus, bahkan saya pun sempat seperti "diomeli" ketika sedang berpikir akan naik bus yang mana. Hahahaha maklum deh namanya juga ga tau.. -,-". Lucunya, setiap saya ingin nego harga, Bapak ini sudah jalan lagi beberapa meter ke depan sehingga kami seperti main kejar-kejaran. Sampai akhirnya saya berhenti dan memanggil si Bapak untuk nego harga. Beliau bilang Rp 37.000,-/orang, namun ketika saya bilang hanya sampai Besuki, dikenakan Rp 25.000,-/orang saja. Baiklah kami ambil.

Sekitar Pukul 05.20 WIB, bus kami jalan dan langsung masuk tol. Saat Kenek memberi karcis, saya sedikit kaget karena harganya mendadak naik jadi Rp 30.000,-/orang. Hmmmm, jadi Si Bapak Heboh itu Calo juga rupanya.. panteees semangat sekali.. -,-". Tapi saya makasi juga sih sama beliau, mungkin kalau dia ga sesemangat itu saya masih bingung mau naik bus yang mana..


Tiba di Alun-Alun Besuki
Sekitar pukul 10.13 WIB, Bus sudah mulai memasuki Kabupaten Situbondo, dimana laut juga sudah mulai terlihat di sebelah kiri kami, tepatnya sebelum melewati gedung PLTU yang sangat besar. Dan barulah 10.40 WIB, atau setelah melewati hampir sekitar 5,5 Jam Perjalanan kami tiba di Alun-Alun Besuki dan turun di terminal terdekat.

Sesampai di terminal, kami langsung berniat mampir ke Alfamart terdekat untuk membeli aneka logistik termasuk gas yang akan kami gunakan untuk memasak. Disitulah kami diikuti oleh Bapak-Bapak yang sangat getol menawarkan jasanya untuk mengantar kami menuju Basecamp. Setelah nego harga yang sebenarnya tidak bisa dinego dan alot (karena mereka sudah langsung menetapkan Rp 50.000,-/orang diantar pakai motor). Kami iyakan tawaran mereka dan kami bilang bahwa kami akan belanja dan Jum'at an dulu sebelum berangkat. Mereka setuju dan sudah menunggu kami dengan pakaian lengkap seusai Jum'at an.


Menuju Basecamp Baderan
Naik Ojek menuju Basecamp Baderan
Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit dari Alun-Alun Besuki untuk menuju Basecamp Baderan. Saya pikir wajar juga dihargai segitu, karena memang jalannya cukup jauh dan melintasi beberapa bukit dan 3 desa. Alhamdulillah udaranya sangat sejuk dan cuaca sangat bersahabat. Dan akhirnya setelah melalui perjalanan panjang dari Jakarta, pukul 12.56 WIB kami tiba di Basecamp Baderan untuk memulai pendakian di gunung Argopuro.

Di Basecamp yang isinya hanya kami ini, tidak banyak yang kami lakukan kecuali langsung bersiap Packing ulang, membayar uang registrasi dan istirahat sejenak sebelum memulai pendakian. Oiya, kami juga sudah memesan Ojek yang akan mengantar kami hingga batas Makadam dengan tarif Rp 40.000,-/orang. Sekedar info, untuk HTM Gunung Argopuro dikenakan sebesar Rp 20.000,-/hari/orang untuk hari kerja (Senin-Jum'at), dan Rp 30.000,-/hari/orang untuk hari libur (Sabtu/Minggu).

Total kami membayar simaksi Rp 100.000,-/orang .

Basecamp Baderan

Pertigaan pertama, ambil yang ke atas
Sekitar pukul 13.56 WIB, atau setelah naik Ojek selama lebih kurang 10 menit hingga di batas Makadam yang membuat pantat sakit T-T, pendakian pun dimulai. Jalur awal pendakian melintasi kebun warga dimana terdapat jalur motor ditengahnya sehingga cukup jelas untuk dilalui. Setelah menemukan petunjuk menuju Mata Air 1 dimana ada pertigaan, ambil yang ke atas dan tidak lama akan memasuki hutan dan akan memasuki jalur air yang pastinya akan sangat licin jika hujan.

Setelah berjalan sekitar 2 jam lamanya dari Batas Makadam, akhirnya kami menemukan "lahan datar pertama" dan memutuskan untuk beristirahat sejenak sembari menuntaskan makan siang yang sangat tertunda. Lahan ini cukup luas, sehingga saya pikir cukup nyaman jika bermalam. Namun tujuan kami hari itu tetap sampai ke Pos Mata Air 1.

Lahan datar pertama

Berhubung hari sudah semakin sore, tidak lama kami berada di lahan tersebut dan langsung mengejar menuju Pos Mata Air 1 dengan melewati jalan hutan yang semakin rapat, dan semakin gelap pastinya. Alhamdulillah jalanan sudah semakin landai. Dan ketika dirasa sudah memasuki adzan Maghrib, kami diam sejenak sembari beristirahat. Rupanya Pos 1 sudah di depan mata. Tidak banyak yang kami lakukan malam itu selain mendirikan tenda, makan dan langsung tertidur pulas.


15 Juli 2017

Pos Mata Air 1, Bertemu Riki !! (+/- 3,5 jam dari Batas Makadam)


Pagi itu kami langsung bangun dan segera sarapan, karena memang perjalanan kami hari ini akan mencapai Cikasur untuk berkemah selanjutnya disana. Bagi yang sempat Camp disini, jangan kaget ketika pagi kalian akan mendapat "tamu" sekitar 2 ekor Beruk besar, dimana salah 1 nya bernama "Riki" (info dari kawan-kawan yang lain). Riki dan "mungkin" pasangannya tidak berbahaya, namun mereka suka iseng, karena suka mengambil sampah para pendaki dan membiarkannya berantakan. Saya pribadi sampai harus "membarter" dengan beberapa roti supaya sampah saya dikembalikan.. hahahaha

Pukul 08.45 Kami melanjutkan perjalanan menuju Pos Mata Air 2. Disambut dengan jalur yang landai disambung perosotan ala-ala kolam renang, hanya saja naik ke atas. Di pos bayangan menuju Pos Mata Air 2 ini kami bertemu dengan 3 pendaki asal Majalengka yang akhirnya bergabung menjadi kawan seperjalanan kami selama di Gunung Argopuro. Karena jujur saja, sepanjang jalan kami hampir tidak bertemu orang, benar-benar serasa gunung milik sendiri.

Menuju Pos Mata Air 2 jalan serasa sangat php. Sebentar naik, sebentar turun. Namun bagusnya pemandangan yang dilalui sangat indah, sehingga tidak membuat kami bosan selama berjalan.

Masuk hutan lagi

Savana yang dilewati

Ketemu lahan datar begini aja udah bahagia banget!

Pos Mata Air 2 ( 1 Jam 15 Menit)

Tiba di Pos, beberapa dari kami segera mengisi persediaan air, sedangkan yang lainnya (termasuk saya) memilih untuk ngasoh sejenak sembari bersandar di pohon. 11.45 setelah berisitirahat "secukupnya", kami kembali melanjutkan perjalanan.

Sedari melewati Pos Mata Air 2, jalanan semakin banyak bonus. Tentunya kembali memasuki hutan yang rapat, namun kali ini dengan bunga berwarna putih di kiri-kanan sepanjang jalan kami. 

Bonus bro! bonus!
Mempersingkat cerita, untuk menuju Cikasur, kami harus melewati beberapa Savana yang sangat indah, Savana tersebut "disekat" oleh hutan rapat. Jadi urutannya Savana-Hutan-Savana-Hutan dan seterusnya. Kira-kira saya hitung ada 5 Savana yang harus dialalui hingga akhirnya bertemu dengan Cikasur. Kondisi jalanan tetap naik turun, tapi tenang saja, terbayar banget kok dengan keindahan yang kalian temui. Oh iya, di Savana yang ke-3, jika beruntung kalian bisa bertemu dengan Burung Merak, namun jika tidak paling hanya mendengar suaranya saja.. Ehehehe..

Savana 1
Savana 2, sempat dikira sudah sampai Cikasur.. -,-"
Savana 3, kalau beruntung bisa bertemu Burung Merak dimari
Savana 4, paling kecil dibanding yang lain
Savana 5, Cikasur sudah terlihat di kejauhan

Ketika melalui Savana ke 5, Cikasur sudah mulai terlihat di kejauhan. Ikuti terus hingga jalur akan terbagi 2, ke atas langsung mengarah ke Camping Ground Cikasur, ke bawah menuju tempat Salada Air. Kami pastinya mau ke bawah dulu, berburu salada air sekaligus menyegarkan diri sejenak.. :D

Berburu Salada Air

Airnya seger banget bro!

Setelah mengambil beberapa salada air dan mengisi perbekalan air, Alhamdulillah sore itu sekitar pukul 17.30 WIB kami tiba di Cikasur. Disana kami sempat bertemu dengan para Akamsi (Anak-anak Kampung Sini) dan kami memutuskan untuk kemah di bekas reruntuhan bangunan tidak jauh dari mereka.

Suasana "Dapur"
Udara sore itu sudah mulai dingin, padahal kami sudah sengaja mengambil tempat yang dikelilingi oleh "barikade" bekas reruntuhan bangunan. Tapi tetap saja tembus. Sehingga kami langsung menghangatkan badan kami dengan memasak air, ngopi-ngopi sejenak, makan malam dan segera tidur. Perjalanan besok masih panjang kawan! :D




16 Juli 2017

Selamat pagi dari Cikasur! Luas banget yeeeeh nih tempat.. (+/- 5 Jam 30 Menit)

Cikasur pagi itu, kereeeeen!
Pukul 05.30 WIB kami sudah terbangun dan langsung disambut indahnya Savana Cikasur dan matahari yang perlahan-lahan mulai naik. Dan jujur semalam dinginnya luar biasa! kami seperti menggigil berjamaah. Untuk yang belum tahu, Cikasur ini terkenal sebagai bekas tempat lapangan udara Jepang pada jaman penjajahan dahulu. Sehingga konon katanya sering terdengar langkah-langkah kaki para serdadu Jepang disini. Wallahu'alam. Namanya bekas lapangan udara, jadi tidak salah jika luasnya bukan main. Tapi hati-hati ya jangan sampai salah masuk jalan yang mana tembus-tembusnya bisa ke arah Jember.

Selama di Cikasur, puas-puasin berfoto sudah pasti menjadi agenda utama , berikut dokumentasinya..

Berfoto bersama para "Akamsi"
View lain, Alhamdulillah cerah banget!


Jika pemandangan yang terlihat seperti ini, jalur kalian benar
Tujuan kami di hari itu adalah Rawa Embik, sehingga setelah puas berfoto, menyegarkan diri sejenak sekaligus mengambil air dekat Salada air, Pukul 10.20 WIB kami segera bergegas melanjutkan perjalanan berikutnya menuju Cisentor. Jalan menuju Cisentor cukup jelas, tinggal kembali ke arah datang ikuti papan petunjuk sehingga sedikit demi sedikit kalian akan menuju ke atas dan bisa melihat betapa luasnya Cikasur.

Untuk menuju Cisentor, pemandangan yang kalian jumpai hampir sama ketika akan menuju Cikasur, yaitu perpaduan antara Savana dan hutan yang terus bergantian. Hmm jujur saya sudah mulai bosan bertemu dengan Savana karena memang di Gunung Argopuro ini seperti "gudangnya" Savana.. hahahaha

Tapi tenang, di ujung Savana entah yang ke berapa belas (eeh masih ngitung :P), kalian akan temui berbagai pemandangan indah seperti Bunga Edelweiss dan sejenis bunga berwarna ungu seperti yang ada di Oro-Oro Ombo Gunung Semeru.

Puas-puasin deh liatin Savana selama disini
Ada beberapa jalur dengan pohon tumbang
Horeeeee! kabut sudah mulai turun

Bunga Edelweiss sudah mulai terlihat
Bunga-bunga berwarna ungu mirip seperti di Oro-Oro Ombo



Kemudian kabut mulai turun, jalanan mulai berganti berkelok kelok sembari melewati tepian jurang yang menganga lebar, sehingga harus ekstra hati-hati melewatinya. Dan ketika suara air semakin terdengar jelas, jalanan menurun dan bertemu dengan sungai yang membelah jalan, artinya kalian sudah tiba di Pos Cisentor. Waktu menunjukkan pukul 14.35 saat itu.


Cisentor (+/- 3,5 - 4 Jam)
Tiba di Cisentor, berhubung dengan dengan sumber air, kami menyempatkan diri untuk memasak makan siang sejenak, sembari beristirahat sedapatnya. Karena melihat dari kondisi dan waktu, sepertinya hari ini kami akan berkemah di Rawa Embik saja.

Pos Cisentor beserta pondokannya.

Savana lagi savana lagi. puas-puasin ngeliat savana disini..:D
Tak lama kami segera melanjutkan perjalanan menuju Rawa Embik, langsung jalanan agak naik dari arah depan Pondokan Cisentor, kembali menemui Savana, dan jalanan akan sedikit demi sedikit nanjak. dilanjut kembali memasuki hutan yang agak rapat. Dan setelah kalian bertemu dengan Plang arah menuju Rawa Embik, artinya kalian memang sudah dekat. Paling lama hanya berjarak sekitar 10 menit dari Plang tersebut berada. Alhamdulillah sebelum Maghrib sekitar pukul 17.35 WIB kami tiba di Rawa Embik dan langsung berkemah disana. Waktunya istirahat! :D

Masuk hutan rapat dan menanjak
dikit lagi sampai bro!

17 Juli 2017

Rawa Embik ( 2 Jam )

Pos Rawa Embik tidaklah terlalu luas, namun enaknya tetap dekat dengan sumber air, meskipun dibanding dengan sumber air sebelumnya, yang ada disini tidak terlalu jernih. Oiya, ada spot asik juga untuk berjemur dekat batu saat matahari mulai terbit lho! Dari sini, niatnya kami akan langsung menuju pertigaan Puncak dan menggapai tiga puncak yang di Argopuro.

Untuk jalan menuju pertigaan puncak, ambil jalan kembali ke arah kalian datang ketika ingin menuju Rawa Embik, dan ikuti tanda panah. Ibarat kata kalian tinggal langsung lurus saja sebelum berbelok ke kanan menuju Rawa Embik. Kalau bingung patokannya ada batu besar seperti di foto berikut.

Patokan batu besar untuk jalan menuju puncak

Setelah melewati batu besar tersebut, kalian akan kembali bertemu Savana dan bisa melihat Puncak Rengganis dengan batuan kapurnya yang berada dikejauhan. Di ujung Savana ini, kalian akan temui jalanan mengecil yang akan langsung melipir naik. Disambung dengan jalur landai sempit dan berujung melipir naik- turun di tepian jurang (sumpah ini bukan lagu!). Diujungnya kalian akan temui cekungan yang mengarah ke bawah, kemudian langsung naik lagi ke atas dengan jalur batu-batuan besar. Dan jika kalian bertemu dengan padang Savana yang sudah agak terbuka dan panjang, artinya kalian sudah mendekati Camp Rengganis (Pertigaan Puncak).

Jalan sempit yang langsung menanjak setelah Savana
Pemandangan lautan awan yang sudah terlihat
Jalan melipir yang naik dan turun
Memasuki jalan berbatu besar
Camp Rengganis sudah dekat ketika kalian tiba disini


Selamat Datang di Camp Rengganis (Pertigaan Puncak!) (2,5 - 3 jam)

Pos Pertigaan Puncak ( Camp Rengganis )
Ketika tiba di pos pertigaan yang ditandai dengan beberapa pohon bernuansa teduh ini, kalian akan bisa melihat petunjuk arah menuju Puncak Rengganis (arah kiri dari arah datang) dan Puncak Argopuro (arah kanan). Jika lurus ke depan adalah Savana Lonceng (umumnya sebagai jalan pintas jika dari Puncak Argopuro kalian mau turun lagi dan tidak melewati Puncak Hyang).

Berhubung kami ingin menggapai ketiga puncak, jadi rencana kami adalah menaruh Carrier di Camp Rengganis, menuju Puncak Rengganis, turun kembali ke pertigaan, dan langsung membawa Carrier menuju Puncak Argopuro dilanjut Puncak Hyang dan terus mengarah menuju Danau Taman Hidup.


Puncak Rengganis ( 10 Menit )

Lapangan kecil sebelum Puncak Rengganis
Dari arah datang, langsung ambil jalan ke kiri yang langsung mengarah ke atas, dan tak lama kalian akan mulai temuin tanah bercampur kapur. Jika kalian sudah melihat gunungan kapur seperti foto saya di bawah ini, artinya kalian sudah semakin dekat ke Puncak Rengganis.

Oiya, sebelum naik ke puncak Rengganis ini, disisi lainnya kalian bisa temui lapangan luas dengan batu-batu di tengahnya. Menurut info yang beredar disini salah 1 bekas petilasan dengan letak tertinggi di Indonesia. Dan dengan sedikit tenaga untuk naik ke atas, tibalah kami di Puncak Rengganis. Berikut dokumentasinya.

Di atas bukit inilah Puncak Rengganis berada
Bekas petilasan
Puncak Rengganis

Puncak Argopuro (30 Menit)

Arah menuju Puncak Argopuro
Setelah puas berfoto di Puncak Rengganis, kami segera kembali menuju ke Camp Rengganis untuk menjemput kawan kami yang sedang beristirahat, menyempatkan memasak air panas untuk ngopi sejenak dan segera melanjutkan perjalanan menuju Puncak Argopuro. Arah yang diambil berseberangan dari Puncak Rengganis dan langsung disambut dengan jalanan berakar dan menanjak hingga tiba di Puncak. Alhamdulillah, tepat pukul 14.00 WIB saat itu, kami sudah tiba di Puncak Argopuro. Akhirnya perjalanan selama lebih kurang 4 hari ini terbayar! Yuhuuuuuuu!!

Summit.. Summit...

Maap yee mau begaya dulu dimari.. ahahaha
Puncak Argopuro 3.088 Mdpl

 Puncak Hyang (10 Menit)

Jalur punggungan menuju Puncak Hyang
Di Puncak Argopuro kami agak sedikit lama, yaa maklum lah karena kemari saja sudah butuh perjuangan.. hahahha. Setelah puas mengabadikan berbagai foto dan moment di Puncak Argopuro, kami segera bergerak ke Puncak Hyang yang hanya berjarak sekitar 10 Menit saja dengan melewati punggungan. Dari Punggungan tersebut pula kawan-kawan bisa melihat Gunung Semeru di kejauhan. Dan berikut dokumentasinya.

Terlihat Gunung Semeru di kejauhan
jalur berbatu melintasi punggungan


Puncak Hyang, dengan Bang Mamat sebagai modelnya.. haha
Puncak Hyang sendiri terdiri atas lahan yang sangat kecil dan sempit, sehingga saya yakin kita juga tidak akan bisa berlama-lama disana. Seperti biasa terdapat plang yang menandakan lokasi puncak, dan jika kawan-kawan bergerak sedikit ke bawah, terdapat arca dengan kepala seperti "terpenggal" dan berbagai macam sesajen di bawahnya. Beberapa saya lihat ada uang recehan. Silahkan saja bagi kawan-kawan yang ingin "menyumbang".


Menuju Kabut! Track Terekstrim di Argopuro!

Serasa masuk kabut..!
Alhamdulillah kami telah mencapai ketiga Puncak yang ada di Gunung Argopuro, dan itu pun menandakan perjalanan kami akan segera berakhir. Saat itu waktu menunjukkan pukul 15.10 WIB, dan tujuan kami di hari itu adalah mencapai Danau Taman Hidup untuk Camp terakhir kalinya sebelum mencapai Basecamp Baderan.

Perjalanan langsung disambut dengan jalur yang menurun tajam dan seperti memasuki kabut. Bagi saya pribadi, jalur ini merupakan yang terekstrim selama perjalanan kami di Argopuro. Dalam beberapa jam kedepan (saya lupa pastinya), jalur akan terus menurun seperti ini hingga kita menemui pertigaan kecil yang merupakan sambungan dari Savana Lonceng (jika dari arah Camp Rengganis tinggal lurus saja ikuti jalur, tapi tidak melewati Puncak Hyang).

Setelah hampir 1,5 jam berjalan menurun, akhirnya kami tiba di lahan yang agak luas dan DATAR, alhasil istirahat sejenak disitu.

Ngedatar dulu brooooo...


Jalur yang hampir tidak terlihat!

Jalur semakin rapat dan cenderung tertutup
Selepas beristirahat, hari pun tidak terasa sudah akan semakin gelap, dan kami belum juga mencapai Danau Taman Hidup. Menuju Cemoro Limo, banyak yang info ke saya jika jalur akan semakin rapat dan cenderung tidak kelihatan, apalagi jika kami ngetrack malam. Dan benar saja, baru beberapa langkah berjalan dari tempat kami istirahat, jalur sudah semakin rapat. Saking fokusnya memperhatikan jalan (karena hari semakin gelap dan sudah sangat ingin cepat sampai) saya lupa apakah Cemoro Lima sudah terlewat atau belum, tapi yang pasti sempat ada Plang bahwa Danau Taman Hidup 1 jam lagi.

Sekitar pukul 17.50 WIB, kami berhenti sejenak karena tahu sudah akan Maghrib dan memilih untuk beristirahat sembari memasak makanan guna mengganjal perut kami yang sudah kembali lapar.

Saat itu kami beristirahat cukup lama dan baru jalan kembali sekitar Pukul 18.35 WIB.


Cemoro Limo (+/- 3 Jam)

Tidak lama berjalan dari tempat kami istirahat sembari menunggu Maghrib, kami tiba di Cemoro Lima. Saat itu waktu menunjukkan pukul 18.45 WIB. Sayang sekali saya tidak sempat lagi mengabadikan suasana tempatnya dikarenakan memang hari sudah sangat gelap, dan kami masih harus mengejar ke Danau Taman Hidup.


Danau Taman Hidup ! Alhamdulillah!! (3 Jam)

Setelah melanjutkan perjalanan dari Cemoro Limo, jalanan sudah sempat terbuka, saya pikir sudah dekat, namun ternyata kembali masuk hutan dan kembali rapat. Selama perjalanan malam itu beberapa kali kami harus melewati pohon tumbang, jalanan berkelok-kelok dan serasa melewati jalan yang sama berulang kali (Ini nih.. "penyakitnya" kalau nge-track malem, DIPUTER... Hadeeeeh...T-T)

Dan Alhamdulillah, setelah melewati perjalanan hampir 3 jam lamanya dari Cemoro Limo, kami bertemu dengan Pertigaan yang bertuliskan ke Kiri ke Danau Taman Hidup dan ke Kanan ke Bremi. Akhirnya sampai juga! Dan memang rejeki anak sholeh (:P) sehabis beramah tamah dan bertegur sapa dengan para pendaki yang sedang Nge-camp, kami disuguhi aneka makanan.. :D . Dan Malam itu pun tidak banyak yang kami lakukan, dan segera beristirahat.


18 Juli 2017
Selamat Pagi dari Danau Taman Hidup!!

Bagi kawan-kawan yang sudah menempuh perjalanan hampir 5 Hari 4 malam lamanya di Argopuro, rasanya belum SAH jika belum menyempatkan berfoto di danau yang sangat terkenal ini. Sampai hari ini pun saya pribadi masih ga ngeh kenapa Danau ini dinamakan Taman Hidup. Ada yang lebih paham?

Pagi itu cuaca cerah dan kami cukup puas untuk berfoto dan mengabadikan berbagai moment disana. berikut dokumentasinya..

Ngasoh dulu bro...

Dermaga yang legendaris itu...

View dari jauh
Terlihat kawan-kawan pendaki yang lain















Menuju Bremi !

Dengan foto-foto tadi di atas, perjalanan kami di gunung Argopuro sudah hampir selesai, dan kami tinggal harus berjuang sedikit lagi untuk mencapai Basecamp Bremi, dimana Pak Arifin sudah menanti disana.

Banyak jalur percabangan
Perlu saya ingatkan, perjalanan menuju Bremi kita akan menemui banyak percabangan, dan banyak juga jalan pintas (umumunya lebih terjal atau curan) yang mana ujung-ujungnya akan menyatu kembali ke jalan yang sama. Silahkan saja kalian mau melewati jalur yang mana, tapi saran saya harus tetap fokus dan tetap mengacu pada jalur utama.

Pagi itu kami memulai perjalanan sekitar pukul 09.35 WIB dan langsung jalan dengan agak bergegas karena rasanya sudah sangat ingin tiba di Basecamp dan leha-leha.. hahahha.

Jalanan menuju Bremi masih seputar di dalam hutan dan masih cenderung naik dan turun, hingga akhirnya jika kalian sudah menemukan Banyak Pohon Damar bergetah yang berjejer dengan rapi, artinya kalian sudah mendekati keluar dari hutan.

Banyak Daun berguguran
Pohon Damar yang berjejer dengan sangat rapi

Keluar hutan! Yok Ngasoh Sejenak..

Ngasoh dulu dimari..
Sekitar pukul 12.33 WIB, saya dan Bang Mamat sudah keluar dari hutan dan ga sengaja menemukan Saung sederhana. Jadilah mengasoh sebentar disitu sembari menunggu kawan-kawan yang tertinggal di belakang. Di Saung ini pun juga sinyal sudah bisa didapat, sehingga kami kalian yang mungkin ingin Insta Story, Upload foto atau apapun itu sudah bisa dilakukan.. Hahaha..

Oiya perjalanan menuju Basecamp dari Saung ini sudah tinggal sedikit lagi, namun tetap perhatikan dengan baik tanda-tanda seperti Pita, atau pun botol mineral yang sengaja digantung agar kalian tidak salah pilih jalan ya.


Basecamp Bremi (3,5 Jam)

Basecamp Bremi, tampak Pak Arifin (baju hijau, bersarung)
Alhamdulillah, sekitar pukul 13.45 WIB, kami semua sudah tiba di Basecamp Bremi dan langsung disambut dengan sangat ramah oleh Pak Arifin si empunya Basecamp. Mission Complete!! yeaaaaay!! Disini, kalian bisa benar-benar beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang selama 5 Hari 4 Malam lamanya. Mau makan, mau ngeteh, mau nyusu (Pak Arifin pelihara sapi di bagian belakang rumahnya), mau mandi pun silahkan.

Sembari kami beristirahat, Pak Arifin juga bercerita soal Gunung Argopuro yang baru saja selesai kami turuni ini. Dan menurut info beliau, ternyata kami telah melewati perjalanan sekitar 63 Km jauhnya. Hmmm jadi ga aneh kalau kaki berasa cenat cenut yeee....

Kami memutuskan untuk menginap semalam di Basecamp Pak Arifin sebelum kembali ke Surabaya esok harinya. Menurut info pak Arifin, akan ada bus ukuran sedang yang lewat di depan Basecamp paling pagi setiap pukul 06.00 WIB.


19 Juli 2017

Kembali ke Surabaya 
Pagi-pagi sekali saya sudah bangun untuk Sholat Subuh dan langsung packing barang, ya karena kami akan mengejar Bus jam 06.00 WIB seperti yang diinfokan oleh pak Arifin. Dan benar saja, setelah saya menyelesaikan urusan bayar-membayar jajanan kami selama di Basecamp, Bus yang ditunggu pun sudah datang. Saya dan Bang Mamat langsung bergegas pamit ke Pak Arifin & Istri, sekaligus juga kepada kawan-kawan kami dari Majalengka yang pulang masih agak siangan.

Setelah didapat harga Rp 17.000,-/orang, kami langsung bergegas naik. Cuaca cerah pagi itu, kami pun disuguhi pemandangan alam pedesaaan yang masih sangat asri. Setelah berjalan skitar 1,5 jam lamanya, kami tiba di Pertigaan Mangger dimana akan melanjutkan perjalanan dengan bus Besar untuk menuju Terminal Bungurasih.

Sarapan sekaligus makan siang di Terminal Bungurasih
Setelah menunggu 30 menit, Bus besar AC datang dan kami langsung naik. Ongkos dikenakan Rp 20.000,-/orang, langsung bayar di atas bus. Sekitar pukul 10.50 WIB kami sudah tiba kembali di Terminal Bungurasih, tempat dimana kami memulai perjalanan ini. Berhubung belum sempat sarapan, jadilan kami menyempatkan sarapan sekaligus makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke Stasiun Pasar Turi.

Untuk ke Stasiun Pasar Turi, berhubung masih siang kami harus mampir dulu ke Terminal Joyoboyo dengan menggunakan angkot dengan ongkos Rp 8.000,-/orang, kemudian disambung naik angkot lagi seharga Rp 5.000,-/orang dan langsung turun di depan Stasiun Pasar Turi. Saat itu kami tiba jauuuuuuh lebih awal di depan Stasiun, dan masih ada waktu sekitar 7 jam lagi menjelang waktu kepulangan kami (Pukul 21.00 WIB). Dan dengan tibanya kami kembali ke Stasiun Pasar Turi sekaligus menjadi penutup cerita perjalanan kami di Argopuro ini. Alhamdulillah.....


Berikut rincian pengeluaran Pribadi (Saya) :
- Tiket KA Kertajaya PP : Rp 330.000,-
- Jajan Pribadi (sebelum berangkat) : Rp 50.000,-
- Makan di Warteg Stasiun Senen : Rp 20.000,-
- Makan Malam di KA (Reska) : Rp 23.000,-
- Makan di Angkringan Stasiun Pasar Turi : Rp 9.000,-
- Angkot Omprengan Stasiun Ps.Turi - Terminal Bungurasih : Rp 15.000,-
- Jasa Penitipan + WC : Rp 7.000,-
- Bus Bungurasih - Alun-Alun Besuki : Rp 30.000,-
- Permen : Rp 2.000,-
- Sharecost Logistik (2 orang) : Rp 125.000,-/orang
- Ojek Besuki - Basecamp Baderan : Rp 50.000,-
- Simaksi Argopuro : Rp 100.000/orang
- Ojek ke Batas Makadam : Rp 40.000,-
- Makan siang nasi bungkus : Rp 10.000,-
- Makan, ngopi, nyusu, mandi dll di Basecamp Bremi : Rp 38.000,-
- Bus Bremi - Pertigaan Mangger : Rp 17.000,-
- Ganjel Tahu + Aqua : Rp 7.000,-
- Bus Ac Probolinggo - Bungurasih : Rp 20.000,-
- Makan siang di Bungurasih : Rp 25.000,-
- Penitipan : Rp 5.000,-
- Angkot Bungurasih - Joyoboyo : Rp 8.000,-
- Angkot Joyoboyo - Pasar Turi : Rp 5.000,-
- Jajan di Pasar Turi : Rp 29.500,-
- Sempol Malang : Rp 7.500,- (dapat 8)
- Es Teh Manis : Rp 3.000,-
- Makan Malam Nasi Pecel depan Stasiun : Rp 17.500,-
- Sarapan Pagi di KA : Rp 30.000,-
- Pucuk Harum di Senen : Rp 4.500,-
----------------------------------------------------------------------------- +
Total : Rp 1.028.000,- *

*Biaya di atas tidak termasuk ongkos PP dari rumah masing-masing ke Stasiun Senen.

Jadi sekian dulu cerita dari saya, semoga bisa bermanfaat!

Cheers !

RPR - Sang Petualang
(Silahkan di-follow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)

Sampai jumpa di pendakian berikutnya!