Selasa, 16 Desember 2014

Pesona Danau Toba, Danau terbesar di Indonesia

Hai kawan-kawan semua..
Saya kembali lagi..
Kali ini dengan membawa kisah perjalanan ketika saya mengunjungi salah satu kota di Sumatera Utara, negerinya orang Batak, yakni Medan. Horas bah!! ^^

Berawal dari keinginan Bapak saya untuk mengunjungi makam orang tuanya yang bertempat di Medan, akhirnya membawa saya untuk mengunjungi kota tersebut pada 12 Desember 2014 silam.

Jujur, secara garis keturunan saya bukanlah orang Batak, namun berhubung keluarga saya banyak yang menikah dengan orang Batak , jadilah saya banyak mempunyai saudara berdarah Batak, dan Medan merupakan salah satu kota yang biasa kami tuju ketika Lebaran tiba.

Untuk postingan kali ini, mungkin sedikit banyak akan membahas tentang keluarga saya di Medan, dikarenakan memang petualangan kali ini saya "ditemani" oleh mereka semua.

Ok, here we go !!


12 Desember 2014

Berhubung pesawat dijadwalkan berangkat sekitar pukul 17.00 WIB, ditambah kekhawatiran macet di jalan karena ini hari Jum'at,  jadilah saya bersama Bapak saya berangkat dari rumah menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta sekitar pukul 14.15 WIB.

Sembari jalan, kami pun sempat mampir ke Jl.KH.Ahmad Dahlan untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk sanak saudara di Medan (tidak enak juga kalau berkunjung dengan tangan hampa..hehe)

Pukul 16.15, tibalah saya beserta Bapak di Terminal 1C Bandara Internasional Soekarno Hatta, dan langsung melakukan proses check in agar bisa segera bersantai sembari minum kopi. hehehe. Kebetulan untuk ke Medan ini saya baru mencoba naik maskapai "Kota Nyambung".

Pemandangan di luar jendela saat menuju Medan

Alhamdulillah, jadwal penerbangan malam itu tepat waktu sehingga kami pun langsung lepas landas menuju Bandara Internasional Kualanamu, Medan tepat pukul 18.00 WIB.

Perjalanan menuju Medan ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam.

Disambut oleh sanak saudara di Medan
Tiba di Bandara Kualanmu Medan sekitar Pukul 20.00 WIB, kami pun langsung disambut oleh sanak saudara yang berada di Medan. Kebetulan saat itu yang datang ke bandara adalah kakak-kakak dan adik dari Bapak. Ada juga yang langsung terbang dari Batam karena memang sudah berencana untuk berkumpul bersama di Medan saat kami datang.

Rasa-rasanya sudah lama sekali saya tidak menginjakkan kaki di tanah Medan ini. Hehehe

Berhubung kami hanya makan sedikit di pesawat, kami pun langsung meluncur dengan mobil sewaan menuju rumah makan terdekat untuk mengisi bahan bakar perut kami yang sudah mulai "demo" dari tadi.

Tidak lain tidak bukan, restoran Padang lah yang kami cari. hehehe

Makan malam ketika tiba di Medan

Acara malam itu, bisa dibilang lebih banyak berkunjung ke tempat saudara-saudara yang berdomisili di Medan, dimulai dengan mengunjungi rumah Bang Ivan, kemudian ke tempat Om Heri (adik Bapak urutan ke 8 dari 9 bersaudara), dan terakhir ke Kakak Bapak yang urutan no.1, yakni Pakwo Jubhar Rusli.

Fyi, Bapak saya ini 9 bersaudara, dan rata-rata tinggal di Medan, Batam dan Banda Aceh, makanya saya senang sekali jika berkunjung ke 3 kota besar tersebut, karena rumah saudara banyak tersebar disana..hehehe

Mengunjungi rumah Pakwo Jubhar Rusli (di tengah baju putih)


Malam itu, kami pun bermalam di rumah Makwo Yusna, guna persiapan stamina untuk acara di esok hari.


13 Desember 2014

Pagi itu, kami pun langsung bersiap-siap karena si pak Supir travel (Pak Aswanto) akan menjemput kami pada pukul 07.00 WIB.

Acara pagi ini, yakni berkunjung ke makam Nenek (Jl.Sungaiskambing) dan Kakek saya (Jl.Alat) yang berjarak sekitar 30 menit di antaranya. Dulu ketika Nenek saya meninggal, saya pun tidak sempat berkunjung ke Medan dikarenakan sedang kuliah, jadi inilah kali pertama saya mengunjungi makam beliau sejak 2008 silam.

Dan kakek saya, M.Rusli, seumur hidup saya belum pernah bertemu dengannya, dikarenakan beliau meninggal 3 tahun sebelum saya lahir.

Noerseha binti Mandoego

M.Rusli Binti Ali Ibrahim

Rusli bersaudara, ki-ka: Yulizar (no.4), Teuku Rusian (no.6), Yusnaini (no.2), Yusmiati (no.7), Herianto (no.8), Yunensi (no.5)

Halo Kakek Rusli.. akhirnya saya bisa berkunjung kesini..

Setelah selesai acara Ziarah pagi itu, kami pun segera memulai perjalanan panjang kami Danau terbesar di Indonesia, yang mana juga menjadi pesona dan daya tarik bagi turis-turis mancanegara maupun domestik, yakni Danau Toba.

Danau ini bisa diakses dari kota Parapat yang berjarak sekitar 4-5 jam lamanya jika ditempuh dengan menggunakan mobil.

Perjalanan menuju Parapat ditempuh melewati jalan yang umumnya berliku-liku melewati hutan dan perbukitan (seperti jalan di Sumatera pada umumnya), dengan belokan-belokan yang pastinya bisa membuat kepala pusing dan perut terasa mual bagi yang tidak biasa.

Sepanjang mata memandang kita bisa melihat hamparan kebun Kelapa Sawit dan Karet yang bisa dibilang merupakan komiditi utama di Pulau Sumatera ini.

Becak Motor, kendaraan "Khas Kota Medan"

Kebuh Kelapa sawit yang begitu luas

Hamparan kebun Karet

Jalan berliku menuju Parapat

Dan akhirnya, setelah melewati sekitar 4,5 jam perjalanan,  Eng In Eng !!

Danau Toba pun sudah mulai terlihat !!

Pesona keindahan Danau Toba dari atas bukit tempat kami ngopi sejenak..

Di dekat kami ngopi, lucunya banyak sekali monyet-monyet liar seperti yang pernah saya temui ketika melewati lembah-lembah menuju Lembah Anai Bukittinggi, maupun pantai pasir putih yang berada di Pangandaran.

Akhirnya terjadilah adegan-adegan seperti ini, cekidot !

Foto bareng sama si monyet

lucunya, mereka suka kue bolu..

Lanjut, kami segera masuk ke kawasan wisata Danau Toba dengan membayar sebesar Rp 20.000,- untuk parkir mobil ( hanya bayar sekali, selanjutnya mau keluar masuk berapa kali pun tidak usah membayar lagi karena spion mobil sudah diberi tanda)

Danau Toba International Cottage Parapat
Atas usul dari pak Aswanto, kami pun menginap di Danau Toba International Cottage Parapat yang berada agak di atas bukit, sehingga view-view indah bisa didapat dengan mudah dengan berkeliling cottage.

Untuk fasilitas yang ada, di Cottage ini terdapat kolam renang yang view-nya menghadap langsung ke danau Toba, Restoran untuk sarapan di pagi hari, ruang pertemuan dan areal parkir yang cukup luas.

Berhubung mendekati Hari Raya Natal, harga yang ditawarkan untuk 1 cottage berisi 2 tempat tidur, TV, lemari, kulkas, ruang tamu, beranda depan, tempat parkir mobil, dan kamar mandi ini tergolong mahal, mencapai Rp 615.000,- / malam.
Kira-kira dalam 1 cottage bisa lah untuk 4-5 orang.

Ini view-view yang bisa didapat dari sekitar Cottage :

View dari bagian atas Cottage
Indahnya Danau Toba
Salah satu spot asik untuk berfoto



















Ketika hari sudah mulai sore, kalau tidak salah waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB saat itu, saya bersama makwo Nen dan Pak Aswanto segera menuju ke dermaga untuk menyeberang menuju Pulau Samosir (Tomok).

Sementara Bapak saya, Makwo Yusna, Makwo Yulizar dan Bunda Yusmiati beristirahat di cottage karena sudah terlampau lelah. Untuk menyeberang menuju Tomok (P.Samosir) bisa dicapai dengan menggunakan jasa kapal feri yang banyak bersandar di dekat dermaga dengan biaya Rp 10.000,- / orang / sekali jalan.

Perjalanan menuju Pulau Samosir (Tomok) pun ditempuh selama lebih kurang 45 menit, dan inilah foto-foto kami di atas kapal saat itu :

Pak Aswanto, driver kami selama di Medan

Bagian belakang kapal (sebelum jalan )

Bagian depan kapal

GCB Indonesia, Mestre Itabora dapat salam dari Danau Toba !!


Sampai di Pulau Samosir ( Tomok ), kami pun langsung berfoto di tugu batu yang menggambarkan pembagian dari masyarakat Batak

Welcome to Pulau Samosir (Tomok)
Peta Danau Toba dan Pulau Samosir

Suasana di Pulau Samosir (Tomok) ini benar-benar sudah ramai dan sepanjang jalan dipenuhi oleh lapak-lapak para pedagang yang menawarkan barang dagangannya. Mulai dari makanan dan minuman, kaos, kemeja dan celana, serta berbagai macam kerajinan tangan yang umum seperti gantungan kunci, tas, dompet, miniatur rumah adat Batak, kain ulos, dll yang semuanya bermotif adat Batak.

Dari arah dermaga, saya ambil lurus dimana kami masuk menuju lorong yang di kanan kirinya pun penuh lapak para pedagang, kemudian ketika ada pertigaan saya ambil ke kanan dan tibalah kami di...

Plang wisata budaya Sigale-Gale

Berbagai rumah adat Batak

Di kawasan wisata budaya ini, terdapat sebuah boneka yang konon katanya bisa menari, tapi kalau saya perhatikan lebih dekat sih lebih mirip seperti boneka wayang  yang terdapat di tanah Jawa. Di belakang boneka ini, terdapat berbagai macam kain Ulos yang bisa dijadikan wardrobe untuk berfoto dengan sumbangan seikhlasnya pada kota yang telah disediakan.

Kalau dia nengok juga, beneran saya kabur !!

Kembali ke pertigaan sebelumnya, saya pun bergerak untuk ke tempat wisata berikutnya, dimana disini terdapat Makam Raja Sidabutar


Makam Raja Boru Sidabutar

Perjalanan pun berlanjut, dan sepertinya saya hampir menemui ujung dari lorong ini, dimana jalan selanjutnya adalah jalanan yang mendaki untuk menuju bukit / puncak yang ada di Pulau Samosir ini. Tapi berhubung waktu yang sudah semakin menipis dan sudah hampir malam, saya tidak melanjutkan perjalanan ke atas. Di sebelah kiri sebelum pertigaan terakhir ini bisa kita lihat ada museum Batak. Sayangnya, saya tidak mengabadikan foto disana dan langsung berburu souvenir sembari perjalanan pulang menuju Parapat.

Pukul 18.30 WIB, kami pun kembali menuju penginapan di Parapat dengan menggunakan kapal Fery yang sama.

Tiba di Parapat sekitar pukul 19.15 WIB, saya langsung kembali ke kamar, mandi, bersih-bersih dan bersiap untuk mencari makan malam bersama Bapak dan saudara-saudaranya yang lain.

Oiya perlu diingat, terutama bagi kalian yang muslim, di sekitar Parapat ini memang banyak rumah makan, dan bisa dibilang sangat mudah jika ingin mencari makan. Tapi harap diteliti dulu benar-benar, karena dikhawatirkan mengandung Babi. Begitulah cerita dari Bapak Supir yang mengantar kami.

Akhirnya kami pun singgah di rumah makan Aceh dan sekaligus menutup petualangan saya di hari itu.


14 Desember 2014
Pagi itu, setelah bersiap-siap check out, kami pun langsung sarapan di restoran atas yang mempunyai view langsung ke Danau Toba.

Restoran ini juga dilengkapi dengan 2 kolam renang dan ruang gantinya sehingga menambah keindahan di pagi hari itu.

Selesai sarapan, tak lupa kami pun langsung mencari spot untuk berfoto dengan background Danau Toba,
kira-kira seperti inilah jadinya ..

Sarapan pagi itu
Photo Sessio, cheers!!
Foto bersama di pagi itu sekaligus mengakhiri petualangan saya beserta keluarga di Danau Toba, Pulau Samosir dan sekitarnya berhubung kami juga harus mengejar pesawat untuk kembali ke Jakarta. Selama perjalanan menuju Medan dan Bandara Kualanamu, ini beberapa toko oleh-oleh yang saya rasa recommended untuk dikunjungi :

- Roti Ganda (mohon maaf saya lupa alamatnya, karena tidak tertera juga di plastiknya, tapi yang jelas terletak di ruko-ruko dekat Pematang Siantar)
menjual berbagai macam Roti dan selai srikaya yang khas. Roti yang dijual disini dalam ukuran besar dan bisa diraih dengan kisaran harga Rp 7500 - Rp 15.000. dan selai sriyana 1 kg seharga Rp 50.000,- , ada juga ukuran segelas air mineral seharga Rp 25.000,-

- Bika Ambon Zulaikha (Jl.Mojopahit No.62, telp 061-4528181) ( Jl.Mojopahit No.96 D E F, telp 061-4552881) Medan - Indonesia
Menjual berbagai macam oleh-oleh, dan yang menjadi ciri khasnya adalah Bika ambon yang masih fresh seharga Rp 50.000,-, dengan masa berlaku 3 hari.

Bolu Meranti ( Pusat : Jl.Kruing No.2-K, Medan telp 061-453 8217) (Cabang : Jl.S.M.Raja no. 19B, Medan (Seberang Hotel Garuda Plaza)
Menjual berbagai macam bolu aneka rasa (Strawberrry, Blueberry, Pandan, Mocha, Keju, with topping, dll) dengan harga satuan Rp 50.000,- / netto 600 gram.

Oiya, bagi yang ingin jalan-jalan di medan dan sekitarnya, jika tidak ingin ribet naik turun angkot atau bus, ditambah jika jumlah kalian banyak, saya sarankan lebih baik charter mobil saja, jadi kalian bisa explore tempat-tempat yang kalian suka tanpa adanya batasan waktu .

Ini no.driver yang saya pakai, namanya pak Aswanto (0812 652 1515 ), tarif Rp 500.000 - Rp 600.000 / per 12 jam, sudah termasuk tol, bensin, parkir.
Excluded : makan si supir selama perjalanan.

Orangnya baik dan ramah, jadi saya rasa beliau akan selalu siap menemani kawan-kawan yang ingin jalan-jalan selama disana.
Beliau selalu stand by di Bandara Internasional Kualanamu.

Finally, perjalanan saya selama di Medan dan sekitarnya ini diakhiri dengan delay selama 1 jam sebelum kembali ke Jakarta.
Dimana seharusnya saya berangkat pukul 18.50 dari Medan, alhasil berangkat pukul 20.00 WIB, dan Alhamdulillah tiba dengan selamat di Jakarta pukul 22.00 WIB.

Anyway, sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada para pembaca sekalian yang masih setia membaca berbagai tulisan saya, semoga informasi yang ada dapat memberi gambaran dan In sya Allah bermanfaat..

Cheers..

RPR - Sang Petualang
(silahkan difollow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)
 

Kamis, 04 Desember 2014

Balada Pulau Air .. Benar-benar penuh "Air"

Latihan One Hand Stand :P
Hai.. Hai.. Hai..

Saya kembali lagi..

kali ini dengan membawa tema cerita yang agak berbeda dari sebelum-sebelumnya, yakni mengenai "Pantai, Laut, dan Pulau" yang baru-baru ini saya kunjungi bersama kawan-kawan dari komunitas Backpackers Jakarta (BPJ).


Ok, let's the story begin...

Berawal dari "keisengan" saya hadir di Kopdar BPJ yang diadakan di dekat patung Ikada (Monas) tanggal 18 Oktober 2014 silam, dilanjut dengan Kopdar di Taman Suropati tanggal 22 November 2014 (untuk pembentukan kelompok dan membahas teknis), akhirnya membawa saya menuju ke sebuah Pulau yang terletak dalam gugusan Kep.Seribu, yakni Pulau Air.

Jujur saja, meskipun sudah sering berkelana, tapi saya masih termasuk "newbie" dalam "menginjakkan kaki" di wilayah Kep.Seribu (padahal jaraknya termasuk dekat dari Jakarta).

Maka dari itu saya sangat excited saat BPJ mengumumkan akan mengadakan trip ke Pulau Air.

Petualangan saya kali ini bisa dibilang seperti "Bedol Desa".

Kenapa? dipastikan total peserta yang ikut mencapai 60 orang, dan dari berbagai macam latar belakang. Jadi sudah bisa kebayang lah yaa akan seperti apa "rusuhnya" disana? hehe

Serunya lagi, saat memutuskan untuk bergabung, nyaris 99 % peserta belum saya kenal. Paling saya hanya kenal Bang Derry selaku koordinator acara dan Indanna Zulfah yg pernah sama-sama ngetrip ke Gunung Munara di Bogor.

Sisanya? Saya "nyicil" kenalan saat Kopdar di Taman Suropati dan melalui sebuah grup di Whatsapp yang dijamin bikin baterai cepat habis..T-T


28 November 2014

Kumpul di Kota Tua
Berdasarkan hasil Kopdar tanggal 22 November 2014 yang bertempat di Taman Suropati, kami sepakat untuk bersama-sama "begadang" di Kota Tua Jakarta guna menghindari keterlambatan tiba di Muara Angke pada Sabtu pagi tanggal 29 November 2014.

(fyi, kapal dijadwalkan akan berangkat pukul 07.00 WIB )

Di Kota Tua inilah kami mulai mengenal satu sama lain sedikit demi sedikit dikarenakan memang banyak yang belum saling kenal. Ujung-ujungnya sih ga bisa tidur juga malam itu (Karena keasikan ngobrol dan nyamuk yang ga bisa diajak kompromi.. )


29 November 2014

Usai menunaikan sholat Subuh di masjid dekat Kota Tua, rombongan pun segera berangkat menuju Muara Angke dengan "menyarter" bus. Kalau tidak salah seorang dikenakan biaya Rp 4.000,- . Alhamdulillah semua bisa masuk, meskipun suasana sudah seperti ikan pepes.. hehehe

Sampai di Muara Angke !


Pasar Becek bin bau amis yang kami lewati

Setelah perjalanan sekitar 30 menit, tibalah kami di depan Pintu Pemukiman Nelayan Muara Angke.Berhubung saat itu macet (padahal masih jam 06.00 WIB), kami pun harus berjalan menyusuri pasar nelayan yang super becek dan bau amis untuk menuju pom bensin tempat kami akan bertemu dengan kawan-kawan lain yang tidak ikut begadang di Kota Tua.

Langsung Nangkring di atas kapal
Sebagian yang berada di sisi lain kapal
Jadwal keberangkatan kapal pagi itu cukup "ngaret", dikarenakan kapal baru berangkat saat waktu sudah hampir menunjukkan pukul 08.00 WIB sehingga kami harus menunggu cukup lama dari pukul 06.30 WIB.

Sekilas ketika saya melihat ke belakang, muatan kapal kami termasuk penuh , sehingga kami yang sudah duduk di luar tidak bisa lagi untuk masuk ke dalam.

Alhamdulillahnya, cuaca saat itu cukup cerah, ombak tidak terlalu besar, angin sepoi-sepoi, sehingga membuat kami sangat leluasa untuk berfoto.. ^^ V

Ini sebagian foto kehebohan kami selama berada di atas kapal :

Bagian depan kapal

Raut Muka kegembiraan

Sekitar pukul 09.46 WIB , kapal kami singgah di Pulau Pari untuk menurunkan beberapa penumpang, kemudian dilanjut menuju ke Pulau Pramuka dimana kami akan berganti dengan kapal yang lebih kecil untuk menuju tujuan kami, Pulau Air.

Satu jam setelahnya, kami tiba di Pulau Pramuka, dan langsung disambut oleh Bapak-Bapak Satpol PP dan Polres yang langsung menggeledah barang-barang bawaan kami, terutama para cowok.

Note : saya sarankan jangan membawa barang macam-macam seperti miras, narkoba, dllnya. Bahkan rumornya pisau lipat gunung pun akan disita juga (jika ketahuan).

Sekilas saya perhatikan, ada beberapa kawan yang benar-benar digeledah secara detail, mulai dari cek KTP, cek tiap barang bawaan, bahkan sampai kado yang dibawa pun harus dibuka, namun ada juga yang hanya dicek sebentar lalu disuruh lanjut (saya salah satunya)

Tiba di Pulau Pramuka
Biota laut di Pulau Pramuka
Ternyata masih di Propinsi DKI Jakarta ?
Setelah melewati berbagai pemeriksaaan dari Bapak-Bapak Satpol PP, kami segera berganti pakaian guna siap-siap ber-Snorkling ria, dan tak lupa makan siang untuk mengisi "kekosongan" perut kami yang sedari pagi sudah "demo". T-T

fyi, makan siang di Pulau Pramuka ini masih termasuk murah harganya. Dengan kombinasi Nasi + Tempe Orek + Telor Balado + Kentang hanya habis Rp 10.000, - saja.. ^^

Lanjuuuut !!!!

Sekitar pukul 12.30 WIB kami bertolak menuju Pulau Air.

Seperti inilah kapal yang kami pakai untuk ke Pulau Air
Berhubung kali ini menggunakan perahu yang lebih kecil dengan muatan yang cukup banyak, ombak menuju Pulau Air pun lebih terasa dan membuat kami serasa terombang ambing di lautan. Ibaratnya, seperti naik Kora-kora di wahana Dunia Fantasi lah.. :D
Tak jarang, air laut beberapa kali terciprat ke muka kami sehingga menambah keseruan kami di atas kapal.

Sesampainya di Pulau Air, kami pun langsung mendirikan tenda dan merapikan barang-barang (karena barang-barang tersebut akan kami tinggal selama kami Snorkling).

A Place of Nowhere.. sisi lain Pantai Pulau Air yang masih sunyi
Kelompok VI - Kak Boru, Restu, Bang Derry, Danna, Martha, Wulan, Irwan, Novi, Rezki (si Fara kemana yak? )

Perjalanan menuju tempat Snorkling pun dimulai !

Melintasi lautan yang berwarna hijau tozca dengan deburan ombaknya yang tenang membuat kami semakin terhanyut dalam suasana lautan saat itu. Tiada lagi suara bising-bising maupun polusi asap kendaraan bermotor yang umumnya selalu kami terima di kota-kota besar..

What a paradise !!

Spot yang pertama, berada tidak terlalu jauh dari tempat kami Camp, disini kita bisa melihat berbagai macam terumbu karang beserta ikan-ikan kecil yang berenang kesana kemari.

Jika anda bisa berenang, saya sarankan anda untuk menjelajah tempat ini tanpa menggunakan life jacket, sehingga anda benar-benar bisa merasakan berada di dasar dan merasakan indahnya biota laut di dalam sana.

Untuk Spot kedua, kami agak berbalik arah saat menuju kesana, namun sayangnya, spot kedua ini terlalu dalam, sehingga yang bisa kami lakukan hanya bernarsis ria sembari bermain-main tanpa sadar terus terbawa ombak dan menjauhi kapal. hahhaa

Berikut gambaran suasana Snorkling saat itu :

Seru-seruan terbawa ombak
Inilah saya..














Terumbu karang jelas terlihat












Suasana di dekat kapal
Main ombak di Spot kedua
Ketika hari sudah mulai gelap dan langit sudah terlihat mendung, kami segera kembali ke Camp untuk membersihkan diri kami dan menyiapkan makan malam (berhubung perut sudah kembali terasa lapar karena asik ber- Snorkling ria .. hehehe )

Salah satu moment seru ketika duo Edi "saling memandikan"
Suasana mandi sore itu terasa sangat seru , ibaratnya kami mandi sudah seperti di pos pengungsian saja, saling memandikan, guyur-guyuran, dan pastinya ketawa ketiwi.. :P Sayang, saya tidak sempat mendokumentasikan moment-moment seru tersebut, dikarenakan lagi sibuk mengantri giliran mandi juga.. hahaha..

Setelah merasa cukup bersih-bersihnya, saya pun segera kembali ke tenda guna menyiapkan makan malam bersama kawan-kawan yang nantinya akan kami makan bersama saat acara malam nanti.

Dapur kelompok VI
Setelah adegan masak - memasak selesai, kami segera berkumpul di tengah dengan beralasakan matras untuk kemudian menyantap makan malam bersama sekaligus mencicipi "hasil karya" tiap kelompok. Suasana malam itu bisa dibilang juga tidak kalah heboh. Karena sebelum makan pun, dibuka dengan joget-joget oleh kawan-kawan kami yang bisa dibilang kebanyakan energi.. heheheheh


Joget-joget sore sebelum makan
Suasana Makan
Tukang Nasi uduk keliliing :P

Setelah acara makan bersama, acara pun kemudian dilanjut dengan "Tukar kado". Dimana dalam acara ini kami semua diwajibkan membawa kado dengan minimal harga Rp 10.000,- dengan dibungkus koran untuk nanti akan diambil secara acak.

Pengumpulan kado
Persiapan prosesi pengambilan kado
Acara tukar kado ini pun berlangsung dengan seru, dengan tiap peserta yang hadir maju ke depan dengan memperkenalkan diri beserta domisili tempat tinggal, kemudian dilanjut mengambil kado.

Foto mengelilingi api unggun

Games "Neng ayo Neng, Bang ayo Bang"
"Kehebohan" pun terus berlanjut mulai dari mulai bernyanyi bersama sembari mengelilingi api unggun, menyanyikan lagu lokal, daerah, barat hingga akhirnya muncul permainan " Neng Ayo Neng, Bang Ayo Bang" yang semakin membuat suasana malam itu semakin seru, meskipun ujung-ujungnya agak - agak "menjurus" bahasanya. hahaha paham lah kalian.

Berhubung sudah merasa terlalu lelah, saya pun lebih banyak diam malam itu dan memutuskan untuk tidur lebih awal.

Dan seingat saya, acara nyanyi-nyanyi dan joget-joget tersebut baru benar-benar bubar pada pukul 04.00 WIB !! wooow, kalian luar biasa !!!.. hahhaha


30 November 2014

Pagi-paginya, sekitar pukul 05.00 WIB, kami bangun dan berjalan ke sisi lain pantai untuk menyaksikan fenomena Sunrise.

Kamehameha Sunrise
Sembari jalan di tepi pantai ini (cielaaah), saya perhatikan banyak terdapat vila-vila kecil yang seperti sudah tidak terurus, padahal saya pikir letaknya asik sekali tepat di dekat bibir pantai. Menurut info dari abang-abang kapal, vila-vila tersebut katanya baru dibersihkan jika yang punya ada rencana untuk main kesitu saja..

Hmm, orang-orang kebanyakan uang lah yaa..haha

Di pinggir pantai ini, banyak juga spot-spot seru yang bagus untuk dijadikan spot berfoto, cekidot!

Pantai yang masih terasa sunyi
Sisi lainnya





Mari berfoto
Berfoto di spot dermaga
Jika mau berjalan sedikit lagi menyusuri bibir pantai (dengan sedikit melewati pembatas berupa ranting-ranting), maka kita bisa menemukan spot-spot seperti ini, cekidot !


Salah satu spot eksotik yang saya temukan
Dan, jika bersabar sedikit lagi menyusuri jalan yang merupakan sambungan dari sungai, kawan-kawan bisa menemukan spot dengan air yang berwarna gradasi seperti ini, tapi dengan resiko harus rela basah-basah sedikit pastinya...hehehe

Salah satu spot eksotik di Pulau Air yang agak tersembunyi
Setelah puas berfoto-foto kami langsung bergegas kembali ke Camp untuk menyantap sarapan pagi dan langsung bersih-bersih sekaligus packing dikarenakan matahari sudah mulai meninggi dan kami pun masih ada tujuan lain yang harus dicapai sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

Semangat pagi BPJ !!
Setelah semua beres, bergeraklah kami menuju penangkaran hiu yang berada terapung di tengah-tengah kepulauan Seribu.

Perjalanan menuju tempat penangkaran hiu, dicapai dengan cukup singkat, tidak sampai 30 menit kami pun sudah tiba di dermaganya dan langsung berkeliling menjelajah lokasi, ada pula yang sibuk mencari spot untuk berfoto-foto.. hehehe

Suasana di penangkaran hiu dalam bentuk panorama photo
terlihat beberapa anak hiu berenang kesana kemari



Dan inilah foto kami bersama,

Backpackers Jakarta "ngeksis" di Penangkaran Hiu

Setelahnya, kami bergerak kembali ke kapal dan menuju Pulau Panggang untuk transit dengan kapal yang lebih besar guna menuju pelabuhan Muara Angke.

Seperti biasa, di Muara Angke pun kapal tidak langsung jalan, sehingga cukup waktu bagi kami yang ingin jajan dan bersantai sejenak di dermaga.

"Ngamen" lagi di atas kapal
Sekali lagi, bukan BPJ namanya jika tidak heboh, kami pun kembali menggelar lapak di bagian belakang kapal, duduk melingkar dan kembali mendendangkan lagu-lagu sembari menggoyang agar suasana siang itu tetap hidup meskipun badan terasa sangat lelah.

Merasa mata masih terasa ngantuk, saya langsung "ngabur" ke bagian dalam kapal untuk mencari lapak yang bisa dipakai untuk tidur.

Sekitar jam 11.00 WIB, kapal pun berjalan menuju pelabuhan Muara Angke, dan saat itu saya berpikir inilah akhir dari perjalanan Trip Pulau Air kami semua.

Namun, ternyata alam berkata lain, baru kira-kira melewati setengah jam perjalanan, kapal kami pun berkali-kali dihantam oleh ombak yang cukup besar sehingga kemiringan sudah mencapai 45 derajat. Suasana cukup mencekam saat itu, karena di dalam orang-orang mulai banyak yang menyebut asma Allah dan satu persatu mulai mengenakan life jacket guna bersiap untuk kondisi terburuk yang mungkin terjadi.
Untungnya, saat itu saya berada di bagian atas, sehingga rasa mual dan pusing tidak terlalu berasa.

Ketika pulang, salah seorang kawan saya (Elde) bercerita tentang percakapannya dengan sang Nakhoda saat ombak besar tersebut menghantam, kira-kira begini penggalan percakapannya :
Elde (E) : Pak, kondisi seperti ini sudah sering terjadi ya?
Nakhoda (N) : Wah, saya baru pertama nih mengalami seperti ini mbak (muka pucat)

Begitu mendengar kalimat sang Nakhoda, saya yakin seyakin-yakinnya kawan saya itu pasti tidak berkata apa-apa. Kenapa? Nakhodanya saja sudah merasa tidak yakin, apalagi kami yang hanya penumpang? T-T

Karena merasa tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan, sekitar pukul 12.00 WIB kami pun kembali menuju ke Pulau Panggang. Disini, kami sempat beradu argumen tentang jadwal kepulangan kami, ada yang berani untuk pulang hari ini, ada juga yang memilih untuk menunda kepulangan sembari menunggu keadaan cuaca menjadi lebih bersahabat.
Akhirnya saya beserta 49 orang lainnya memutuskan untuk tetap pulang saat itu juga, dengan keadaan muatan kapal yang lebih penuh dari sebelumnya, dan sulit mendapatkan tempat untuk duduk (boro-boro deh mau tiduran kayak di kapal sebelumnya), dan 10 orang sisanya memutuskan untuk menunggu kapal berikutnya.

Posisi saya di kapal kedua
Benar saja, di kapal kedua yang akan mengantarkan kami ke pelabuhan Muara Angke / Kali Adem ini pun juga tidak terlepas dari hantaman ombak besar seperti sebelumnya.

Kapal oleng ke kiri dan ke kanan, bahkan beberapa kali air laut pun sempat masuk melalui bagian belakang kapal, hanya saja bedanya kali ini sang Nakhoda terlihat lebih ahli dalam memecah ombak sehingga kapal tidak oleng dalam waktu yang lama.

Posisi kami semua saat itu, rata-rata berada di bagian dek bawah, sehingga "goyangan" ombak menjadi lebih terasa daripada di kapal sebelumnya dimana saya berada di atas.

Beberapa dari kami yang masih terjaga, saya perhatikan mukanya pucat, entah menahan rasa mual atau memikirkan hal yang tidak-tidak. Ada yang memilih untuk tidur guna menyikapi rasa mualnya, ada yang sudah siap-siap berganti celana menjadi celana renang dan ada juga katanya yang sudah saling bermaaf-maafan seakan-akan yakin maut akan menjemput sebentar lagi.

Di beberapa bagian kapal, saya perhatikan juga ada sekelompok muda mudi yang sudah tidak sanggup berkata dan hanya bergandengan tangan sembari berpelukan satu sama lain.

Di sisi lainnya, ada juga sekelompok Ibu-ibu yang seperti sedang Tabligh Akbar dan tak henti-hentinya menyebut asma Allah.

Melihat berbagai macam kondisi yang ada di kapal saat itu,
sekali lagi, alam kembali "mengajarkan" kepada kami semua bahwa manusia hanyalah zat kecil dan tidak berdaya, terlebih jika alam sudah "mengamuk".

Berhubung tempat sudah tidak muat, saya pun tetap saja "bertengger" di dekat pintu masuk dimana air dan angin dengan bebasnya berkali-kali menghantam wajah saya. Asin choy !!!! -,-
akhirnya saya pun merasa tidak kuat berdiri dan memutuskan untuk duduk "nyempil" di antara kawan-kawan yang sedang tidur.

Anehnya, baru sebentar duduk, saya sudah merasa saya mual, bahkan melebihi mual saat berdiri dan Eng Ing Eng, Jackpot sebanyak 2x... -,-" (lambaikan tangan ke kamera menahan "Jackpot")

Saran : Kalau sudah berdiri, terus duduk di kapal oleng --> BAD IDEA !!
mendingan berdiri atau duduk sekalian tanpa berubah posisi !!

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB dan kota Jakarta mulai terlihat dari kejauhan, kawan-kawan kami pun kembali bangun dan (pastinya) kembali ceria . Padahal kalau diingat tiga jam yang lalu, jangankan bercanda, ngobrol saja sudah tidak terpikir saking mualnya.hehehe

Tak lama, saya pun juga mendapat kabar dari Irwan bahwa kelompok sisanya juga sudah akan merapat ke Kali Adem sebentar lagi.
Bagus lah, akhirnya kami bisa tetap pulang bersama-sama meskipun awalnya berbeda kapal.

dan inilah foto kami semua saat kembali tiba di Kali Adem,

Tiba dengan selamat di Pelabuhan Kali Adem

Satu hal yang terpikir oleh saya saat itu, Alhamdulillahi Robbil alamin, kami semua masih selalu dijaga oleh-Nya, dan bisa dibilang Trip kali ini menjadi salah satu Trip BPJ juga yang paling seru (kata si Edi M Yamin..hehe)

Tiada kata yang pantas terucap selain maaf untuk segala kesalahan baik kata atau pun perbuatan yang mungkin terjadi selama kita ngetrip bareng. Tentunya Terima kasih banyak kepada Bang Derry yang sudah berbaik hati mengkordinir segala keperluan Trip ini sehingga acara bisa berjalan lancar dari Jum'at malam hingga Minggu sore saat kita kembali ke rumah masing-masing.

Thanks buat Edi M Yamin selaku Admin BPJ yang ikut juga dalam trip ini, Thanks juga buat bro Abdul Mutakin yang foto-fotonya banyak beredar di blog ini, dan mungkin foto-foto punya kawan-kawan lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu disini.

Oiya, sebagai informasi , ini rincian biaya yang terjadi (versi saya) :

- Sharecost Rp 152.000,-
*Sewa Kapal Ferry Muara Angke - P.Pramuka (berangkat), P.Panggang - Kali Adem (Pulang)
*Sewa perahu kecil (Antar - jemput, Snorkling)
*Keamanan & Kebersihan Pulau
*Sewa Alat Snorkling
*Sewa guide Snorkling
*Beli nasi putih (makan malam)

- Sharecost logistik : Rp 20.000,-
- Patungan beli Aqua Galon dan air bilas : Rp 8.500,-
- Makan siang di pulau Pramuka : Rp 10.000,-
- Carter Bus & Angkot Kota tua - Muara Angke PP : Rp 9.000,-
- Ongkos Busway Blok M - Kota PP : Rp 7.000,-
- Biaya tidak terduga : Rp 10.000,-
-----------------------------------------------------------------------------------------------------+
Total : Rp 216.500,-


Mungkin cukup sekian dulu, semoga informasi yang ada dapat memberi manfaat, kurang dan lebihnya saya mohon maaf..

Cheer,

RPR - Sang Petualang
(Silahkan difollow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)