Senin, 14 September 2015

Cirebon si Kota Udang

Pada tanggal 21-22 Agustus 2015 lalu, saya bersama beberapa kawan dari komunitas Backpacker Jakarta (selanjutnya akan disebut sebagai BPJ) berkesempatan untuk mengunjungi kota Cirebon di Jawa Barat. Umumnya, banyak yang mengenal kota ini sebagai kota Udang (karena memang pada lambang kotanya pun ada 2 ekor udang, hehehe ) . Tapi sekali lagi, kedatangan kami kesana bukan untuk menangkap udang, melainkan untuk menjelajah isi dari kota Cirebon, yang mana banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang sangat sayang jika dilewatkan.


21 Agustus 2015
Awal Keberangkatan 
Malam sekitar pukul 21.00 WIB, saya tiba di depan kampus FK UKI (Universitas Kristen Indonesia), yang menjadi "mipo" (Meeting Point) kami sebelum berangkat bersama menuju Cirebon. Sejujurnya di awal trip kali ini saya agak merasa asing, karena memang sangat sedikit orang yang saya kenal (kecuali Ferdinand dan Berlian selaku Contact Person dari trip ). Tapi itulah serunya sebuah perjalananan, yang tadinya kaku, atau tidak kenal , bisa jadi menjadi sangat akrab ketika pulang atau selama perjalanan. Hehehehe

Pukul 22.34 WIB, kami ber 18 pun berangkat menuju kota Cirebon, dimana nanti akan disambut oleh kawan kami Hamdan yang akan menjemput di Masjid Raya At-Taqwa Cirebon.

22 Agustus 2015
Tiba di Cirebon

A. Masjid Raya At-Taqwa Cirebon

Masjid Raya At-Taqwa Cirebon
Perjalanan menuju Kota Cirebon ditempuh dalam waktu yang cukup singkat, ditambah kami  sempat mampir di KM166 Tol Cipali untuk beristirahat sejenak. Sekitar Pukul 04.00 WIB, kami sudah tiba di depan Masjid Raya At-Taqwa Cirebon dan langsung disambut oleh Hamdan yang akan menjadi Tour Leader kami hari itu.

Karena waktu sudah dekat dengan sholat Subuh, maka kami pun sepakat untuk beristirahat sejenak sembari menyegarkan diri di Masjid. Barulah pada pukul 06.00 WIB kami memulai aktivitas pertama kami yakni mencari sarapan.

Fyi, Pemandangan di kawasan Masjid yang bersebelahan dengan alun-alun ini pun tidak kalah menarik untuk diabadikan. Kawan-kawan pun langsung siap dengan kamera dan gadget masing-masing ketika memasuki kawasan Masjid.

Masjid inipun punya semacam Theater sendiri. Bersama salah seorang CP, Berlian Aji (doc by Kamera Berlian Aji)
B. Nasi Jamblang
Aneka menu Nasi Jamblang
Pagi itu, ketika hari sudah mulai terang, kami sarapan pagi dengan menu Nasi Jamblang (makanan tradisional khas Cirebon) yang dibawa oleh seorang Ibu-ibu tua. Nasi Jamblang ini disajikan dengan berbagai macam pilihan menu lauk seperti sate telur puyuh, paru/ati ampela, telur dadar, perkedel kentang tepung dan lain-lainnya. Selain itu , kita makan dengan wadah daun jati. Bagaimana rasanya ? Mantaaaap !!! mesti coba sendiri deh pokoknya. Soal harga tidak usah khawatir, sangat bersahabat untuk kantong para Backpacker. Bahkan saya pribadi pun, dengan menu Nasi + 2 Sate Telur Puyuh + 1 Telur dadar + 2 Perkedel Kentang, hanya dikenakan Rp 9.500,- saja. Murah bangeet!!!! :D

C. Gedung Walikota Cirebon
Setelah kenyang makan nasi Jamblang, kami bergerak dengan berjalan kaki menyusuri jalan kota Cirebon yang saat itu masih sepi dengan kegiatan. Kami pun segera berhenti untuk melihat dan berfoto-foto ketika bertemu dengan gedung unik di sebelah kami yang mana itu adalah gedung walikota Cirebon. Awalnya, kami hanya sekedar berfoto-foto dari luar, hingga setelah kawan kami Hamdan nego dengan penjaganya, kami pun diizinkan masuk untuk berfoto-foto di bagian dalam gedung.

Kantor Walikota Cirebon

Mari berpose sejenak

D. Bubur M.Toha
Tidak jauh dari lurusan jalan di depan Gedung Walikota dan mengambil ke kanan saat bertemu pertigaan, kami singgah di warung Bubur M.Toha yang kata orang Cirebon sih paling enak disini. Rasanya ? enak dooong. Harga dibandrol Rp 6.000,- untuk semangkuk bubur ayamnya, dan Rp 3.000,- untuk permangkuk bubur ketan hitam atau kacang hijau.

Bubur M.Toha yang sudah ramai oleh pengunjung di pagi hari

E. Taman Goa Sunyaragi
Setelah selesai nyabu (nyarap bubur) di pagi hari, kami segera kembali bus untuk menuju destinasi kami selanjutnya, yakni Taman Goa Sunyaragi (Sunya = Sunyi, Ragi = Raga). Tidak sampai 15 menit, kami pun tiba di pintu masuk Goa Sunyaragi, yang mana beberapa bagian gerbangnya sedang dalam tahap renovasi.

Pintu masuk menuju Taman Goa Sunyaragi

Tertera harga tiket masuk yakni Rp 10.000/orang
Menurut info yang saya dapat dari sebuah brosur yang dibagikan saat kami tiba di Cirebon, situs ini sebenarnya merupakan kompleks bangunan - bangunan kuno bekas tamansari dan pesanggrahan, yang memang fungsi utamanya untuk berkhalwat atau untuk menyepi. Situs ini pun sudah berkali-kali mengalami pemugaran, baik pada jaman Sultan Sepuh IX, pada jaman kolonial, maupun pada jaman sekarang.


Sebuah panggung yang sepertinya berfungsi sebagai sarana hiburan di kala itu

Beberapa ornamen bangunan yang masih asli

Sepasang Candi Bentar yang menyerupai pura Hindu Klasik
Taman Goa Sunyaragi ini sangat luas, dan terdiri dari berbagai macam goa beserta fungsinya masing-masing. Saya pribadi kemarin tidak sempat mengunjungi semuanya. Saran saya, pergunakanlah guide lokal saat mengunjungi Taman Goa ini agar kalian mengerti dengan jelas sejarah yang ada, dan pastinya untuk menghindari SALAH PEGANG, SALAH SENTUH, ataupun MAIN PELUK tanpa kalian mengerti maksudnya. Duh! Karena menurut mitos kepercayaan yang ada, terutama di bagian tengah Taman Goa dimana terdapat banyak patung, ada beberapa patung yang sangat dilarang untuk disentuh, seperti Patung Perawan Sunti yang katanya jika disentuh bisa susah mendapat jodoh. Memang hanya sekedar kepercayaan, tapi bukankah lebih baik dihindari jika kita tahu kan? Wallahu'alam.

Berikut saya sajikan beberapa lokasi yang saya temui di Taman Goa Sunyaragi (meskipun tidak semua) beserta ketengannya pada foto :

Pemandangan dari atas Goa Padang Ati

Goa Padang Ati, yang dijadikan tempat menyepi bagi keluarga keraton yang mempunyai cita-cita namun belum tercapai

Pemandangan lain dari Puncak Goa Padang Ati

Goa Pawon yang dipakai sebagai tempat menyimpan persediaan konsumsi keluarga Keraton
Pemandangan dari atas Goa Arga Jumut, tampak diseberangnya sepasang Candi Bentar (seperti pura dalam gaya Hindu Klasik) dan panggung yang sering dijadikan saran hiburan

Altar Sholat yang terdapat di dalam Goa Padang Ati

Bale Kambang yang dipakai sebagai gazebo untuk tempat beristirahat keluarga raja

F. Keraton Kasepuhan 
Setelah puas berpanas-panas ria mengelilingi Taman Goa Sunyaragi, kami pun bergegas untuk ke destinasi selanjutnya, yakni Keraton Kasepuhan. Dimana disana juga terdapat banyak barang-barang bersejarah peninggalan dari keluarga keraton.

Pintu masuk Keraton Kasepuhan
Kalau tidak salah, dikenakan biaya sebesar Rp 15.000/orang saat kami masuk, belum termasuk dengan biaya guide lokal.

Siang itu kami ditemani oleh seorang guide bernama Kang Boy yang memakai baju adat khas Cirebon, lengkap dengan blangkon dan keris nyalip di pinggangnya. Beliau pun langsung menjelaskan sejarah tentang Keraton Kasepuhan ini. Tidak lupa kami minta difotokan di bagian depan Keraton dimana terdapat gapura sebagai kenang-kenangan.

Berfoto bersama sebelum menjelajah Keraton
Singsana tempat raja duduk sembari melihat latihan perang
Memasuki area Keraton, kami langsung menemui sebuah pendopo atau sejenis gazebo yang menurut penjelasan dari guide adalah pendopo yang sering digunakan oleh Sultan/Raja Keraton untuk menonton latihan perang yang berada di tanah kosong dekat dengan gapura kami masuk tadi. Disini pun terdapat plang "Siti Inggil" yang berarti adalah tanah tinggi.

Lanjut berjalan ke bagian lain dari pendopo, terdapat pendopo lain yang merupakan tempat untuk para ksatria duduk beristirahat. Nah, tidak jauh dari pendopo-pendopo ini ada hal lain yang menarik perhatian kami saat itu yakni "Batu Adam & Hawa". Menurut penuturan guide kami tentang batu ini adalah bahwa manusia yang hidup di dunia diciptakan berpasangan yakni Laki-laki dan perempuan. Selain dari itu ? Silahkan ditafsirkan sendiri.

Batu Adam & Hawa
Selesai dengan bagian depan, kami dibawa ke bagian tengah di Keraton. Dan langsung mengambil ke bagian kiri dimana didalamnya terdapat sebuah kereta kencana yang pernah digunakan oleh Pangeran Cakrabuana. Konon kereta ini ditarik oleh 4 ekor lembu (sapi). Ornamennya sangat unik, karena terdiri dari berbagai macam bentuk hewan yakni Gajah, Ular, Rajawali yang merupakan bentuk akulturasi dari berbagai macam budaya. Kayu yang dipakai untuk membuatnya pun diyakini sudah berumur ribuan tahun. Dan rahasia keawetannya adalah karena diberi menyan. Ternyata, Menyan adalah "zat" ampuh untuk menghindarkan kayu dari serangan rayap.

Di bagian belakang dari kereta Kencana, selain berbagai macam tombak yang digunakan para ksatria jaman dulu, terdapat pula lukisan unik 3D dari Prabu Siliwangi, yang mana beliau adalah merupakan kakek dari Sunan Gunung Jati atau yang biasa dikenal sebagai Syech Syarief Hidayatullah atau Fatahillah atau Falatehan.

Kenapa unik? karena jika dilihat dari depan, tampak seperti seorang yang bertubuh gemuk berisi dengan tatapan yang sedang marah/garang. Namun jika dilihat dari sisi sebelahnya (misal kiri), tampak seperti seorang yang tinggi langsing dengan muka tersenyum. Selain itu, jika memandang arah bola matanya, seakan-akan tatapannya tidak berhenti menatap kita kemana pun kita beranjak.

Saya bersama lukisan Prabu Siliwangi
Di sebelahnya, terdapat pula tandu dari Cina yang biasa dipergunakan oleh Permaisuri.

Tandu dari Cina

Keraton tempat tinggal Sultan beserta keluarganya
Selanjutnya, kami beranjak ke gedung yang berada di ujung dari Keraton ini, yakni Keraton yang dipergunakan sebagai tempat tinggal oleh keluarga kerajaan. Sayang sekali, demi menjaga kelestarian dari tempat tersebut, kami hanya bisa melihatnya dari pintu yang ditutup kaca. Di bagian gedung ini pun bisa sama-sama kita saksikan silsilah dari Syech Syarief Hidayatullah dari Bapak maupun Ibunya. Yang mana jika dilihat dari garis keturuan Bapak, beliau (Syech Syarief Hidayatullah) masih merupakan turunan langsung dari Baginda Nabi Muhammad SAW.


Tempat tinggal raja beserta keluarganya
Silsilah Sunan Gunung Jati (turun dari Ayah)
Silsilah Sunan Gunung Jati (turun dari Ibu)
Di bagian terakhir dari Keraton, terdapat Museum Benda Kuno yang terdiri dari berbagai macam perabotan yang jaman dulu, mulai dari Alat-alat musik tradisional, aneka kerajinan dari Cina, Gelas-gelas yang dipakai pada jaman kolonial Belanda (VOC), pernak pernik perhiasan pengantin dari kuningan (tahun 1526 M ) hingga adanya batok kelapa yang konon hanya tumbuh per 25 tahun sekali.

Aneka Gelas VOC

Perhiasan Pengantin dari Kuningan (1526 M)

Gamelan Sekaten dari Demak

Batok Kelapa yang tumbuh 25 tahun sekali

G. Tahu Gejrot asli Cirebon
Tidak jauh dari pintu masuk Keraton Kasepuhan, terdapat seorang Bapak Tua yang menjajakkan satu lagi jajanan khas Cirebon, yakni Tahu Gejrot. Tahu ini disajikan dengan mangkuk coklat yang terbuat dari tanah liat. Soal harga? kami pun mendapat harga yang cukup murah yakni Rp 5.000,-/ mangkuk berkat lobi dari sang tour guide kami Hamdan (melobi dalam bahasa Sunda pastinya).. ehehhee

Santai sembari menikmat Tahu Gejrot (doc by Kamera mbak Endang/Ferdinand)

H. Keraton Kacirebonan
Destinasi kami selanjutnya adalah Keraton Kacirebonan, sebuah bangunan lain dari Keraton yang dulunya banyak ditinggali oleh keluarga kerajaan. Disini kami dikenakan biaya sekitar Rp 5.000,-/orang dan dipandu oleh dua orang Ibu-ibu yang mengenakan pakaian adat. Menurut buku yang ditulis oleh Wahyoe Koesumah,S.Sn, Keraton ini didirikan pada tahun 1800 M, Sultannya yang sekarang adalah Abdul Ghani,S.E. Potret beliau bersama istri serta keluarganya pun bisa kalian temui di dalam Keraton ini.

Secara ukuran, Keraton ini lebih kecil dibanding Keraton Kasepuhan yang kami kunjungi sebelumnya, ruangannya pun tidak banyak, namun tetap menyimpan berbagai peninggalan seperti keris, wayang, gamelan, alat-alat perang dan dll didalamnya.

Dibagian akhir sebelum keluar, para pemandu menawarkan aneka macam kain batik, gelang, cincin maupun aksesoris lainnya manatahu kita tertarik untuk membeli.

Keraton Kacirebonan

Backpacker Jakarta di depan Keraton Kacirebonan
Aneka koleksi kursi antik yang terdapat di salah satu ruangan
Ruang tengah dimana terdapat alat-alat perang, lukisan dan gamelan














I. Empal Gentong Jl.Sutomo
Berhubung hari sudah menjalang Zhuhur dan waktunya makan siang, kami pun diantar oleh Hamdan menuju warung Empal Gentong yang berada di Jl.Sutomo. Saya  saat itu memesan seporsi Empal Gentong Daging, sepiring lontong dan sebuah teh di botol (ga enak kalo sebut merk). Seporsi ini dikenakan Rp 25.000,-
 
Seporsi Empal Gentong Daging + Lontong

J.Keraton Kanoman
Keraton Kanoman yang lokasinya dekat dengan pasar ini merupakan tujuan terakhir kami di Cirebon sebelum kembali pulang ke Jakarta. Memasuki kawasan Keraton, bisa kita lihat banyaknya bangunan-bangunan tua yang seperti sudah tidak terawat. Hingga akhirnya memasuki pekarangan keraton dimana terlihat banyak mobil parkir.

Dibanding dengan 2 keraton yang kami kunjungi sebelumnya, bangunan Keraton ini bisa dibilang yang paling kecil, hanya saja halamannya cukup luas. Disini pun kami disambut oleh seorang Bapak yang berpakaian sangat santai (terlalu santai jika dibanding 2 keraton sebelumnya..haha),namun penjelasan dan pemikirannya sangatlah kritis.

Dengan membuka sepatu terlebih dahulu, kami diajak masuk dan berkeliling ruangan urama Keraton, dan tak lupa berfoto bersama di dalamnya.

Bagian teras Keraton Kanoman

Bangunan di dalam kawasan Keraton Kanoman

Bagian dalam Keraton Kanoman















Setelah menjelajah bagian dalam, sang pemandu pun mengajak kami ke bagian samping Keraton dimana terdapat bangunan tua yang merupakan asal usul sebelum terbangunnya Keraton Kanoman ini. Dan ternyata lengkap juga dengan Sumur yang menurut kepercayaan orang-orang sini dapat membuat awet muda dan bla..bla..bla..

Bapak ini pun juga menerangkan, bahwa di tempat yang jika saya lihat lebih mirip sebagai tempat Sholat ini (karena memang ada beberapa sajadah tergelar), sering dijadikan tempat untuk bermunajat atau iktikaf (menginap) pada waktu-waktu tertentu seperti malam 1 Suro, bahkan ada juga yang menggunakannya sebagai tempat mencari ilmu/wangsit. Tapi satu pemikiran yang saya suka dari Bapak ini, beliau melarang keras agar orang-orang yang berkunjung kemari tidak berbuat syirik selain hanya menyembah yang Maha Kuasa.

Inilah beberapa penampakan dari bangunan itu :

Terlihat Bapak Pemandu (Kemeja garis-garis) sedang menjelaskan kepada kami

Sebuah bak kosong yang saya rasa adalah kolam dulunya

Sumur yang dipercaya bisa memjadikan awet muda















K.Pusat Oleh-Oleh Khas Cirebon
Disepanjang jalan menuju Keraton Kanoman, dapat kita jumpai berbagai macam toko yang menjajakkan aneka oleh-oleh khas Cirebon yang pastinya akan sangat berkesan untuk dibawa pulang. Saya pun mampir ke sebuah toko yang bertajuk "Aneka Oleh-Oleh khas Cirebon". Disini barangnya bagus-bagus, dan tempatnya juga bersih. Untuk pembelanjaan di atas Rp 100.000,- bisa dibayar secara Debit. Saran saya, cek dulu benar-benar apakah barang yang kawan-kawan mau beli benar-benar hanya ada disini, karena ternyata seperti Sirup Tjampolay (sirup dengan aneka rasa), bisa ditemui di berbagai macam kota besar, apalagi Jakarta. Hanya saja dengan harga sekitar 2x lipat.


Rincian Pengeluaran (versi saya) :

-Sharecost Trip Cirebon (Include Bus AC PP Jakarta-Cirebon dan selama di Cirebon, Parkir, Toll, Bensin dan tiket masuk semua tempat wisata) : Rp 285.000,-/orang 
-Ngemil Tahu Gejrot 2 porsi @Rp 5.000,- : Rp 10.000,-
-Empal Gentong Daging + Nasi + Teh di Botol : Rp 25.000,-
-Makan malam di Pom bensin Km 166 : Rp 20.000,- 
-------------------------------------------------------------------------------------------- +
Total : Rp 340.000,-*

*Biaya tersebut di atas belum termasuk uang transport PP dari rumah masing-masing ke Mipo dan biaya oleh-oleh..


Sekian dulu cerita dari saya, semoga informasi yang ada dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian..

Sampai jumpa di trip berikutnya !!
Cheers,
RPR -  Sang Petualang
(Silahkan difollow IG saya jika berkenan : rezkirusian)


Selasa, 18 Agustus 2015

Jalan Santai di Kebun Raya Cibodas

Saya yakin, banyak diantara kawan-kawan pasti sudah sering mendengar tentang Taman Nasional Gn.Gede Pangrango beserta Curug Cibereumnya.. tapi apakah kawan-kawan sudah tahu tentang Kebun Raya Cibodas beserta isinya ?

Dari beberapa kawan yang melihat foto saya, ternyata banyak yang tidak tahu dimana letak Kebun Raya Cibodas, padahal setiap mereka akan menanjak Gn.Gede atau Pangrango, atau hanya sekedar ingin ke Curug Cibereum, pasti akan melewati gerbang menuju Kebun Raya Cibodas. (Mungkin karena kebanyakan dari mereka memulai pendakian di waktu Subuh kali yaaa..sehingga gelap dan tidak terlihat.. -,-" )


Oke, cerita dimulai..

8 Agustus 2015
Berawal dari ajakan seorang sahabat (Ferdinand "Si Anak Rumahan"), tetiba saya tertarik untuk meng-explore Kebun Raya Cibodas yang secara letak memang tidak jauh dari kota Jakarta.

Pukul 08.00 WIB kurang, kami berlima yang terdiri dari Saya, Bang Ferdinand, Dewi, Fani, dan mbak Dewi (ini bukan salah tulis, tapi memang ada 2 orang yang bernama sama.. :P ) sudah berkumpul di Terminal Kp.Rambutan yang mana menjadi "mipo" kami pagi itu. Ketika melihat bus Marita melintas, langsung saja kami naik setelah menyepakati harga dengan keneknya. Dikenakan sebesar Rp 25.000,-/orang.

Perjalanan menuju Puncak saat itu termasuk macet, karena memang kami berangkat di waktu Weekend dimana orang-orang Jakarta juga banyak yang berlibur ke daerah Puncak. Akhirnya, perjalanan yang harusnya bisa dicapai dalam waktu 2-2,5 jam harus dicapai dalam waktu 4 jam.

Tiba di Pertigaan Cibodas
Bagi kalian yang takut terlewat jika naik Bus, pastikan setelah melewati Restoran Rindu Alam II kalian segera bersiap-siap, karena artinya sebentar lagi kalian akan sampai. Pertigaan Cibodas ditandai dengan adanya pertigaan besar dengan jalanan menanjak di sebelah Kanan, dimana ada papan besar bertuliskan jalan masuk menuju Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Ditandai juga dengan adanya Alfamart tepat di seberang jalan masuk. 

Dari pertigaan Cibodas kalian tinggal naik angkot warna kuning dengan membayar Rp 5.000,-/orang. (Ga usah pake nanya lagi, tinggal naik dan langsung bayar sesuai jumlah pas turun yeee..)

Begitu masuk di kawasan Cibodas, hati-hati bagi kalian yang tidak bisa menahan diri untuk belanja, karena dipastikan disini banyak barang-barang yang sangat menggoda untuk dibeli.. mulai dari kaos, alat-alat perlengkapan perjalanan, pernak pernik, makanan, hingga oleh-oleh.

Mari makan siang..
Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB lewat, kami pun melipir ke sebuah rumah makan yang berada di area parkir tepat depan Kantor Taman Nasional Gn.Gede Pangrango. Di rumah makan ini kalian  bisa memesan Menu andalan berupa Nasi Goreng dengan Teh manis hangat cukup dengan Rp 16.000,- saja. Suasananya juga nyaman, dan tidak terlalu ramai. Jika ingin sekedar istirahat sembari tidur-tiduran pun di atas disediakan ruang untuk menginap. (Manatahu kalian kemari berangkat dari Jum'at malam dan ingin merasakan rasanya bangun pagi di Kebun Raya Cibodas..hehehhe )

Setelah selesai mengisi "bahan bakar", belum sah rasanya jika kalian main ke Cibodas tapi belum berfoto dengan plang di bawah ini, cekidot !

Selamat datang di Cibodas ..

Gerbang Masuk Kebun Raya Cibodas
Untuk menuju Kebun Raya Cibodas, kalian tinggal berjalan lurus dari arah Kantor hingga menemukan jalan terbelah dua, dimana ke kiri adalah Gerbang masuk Kebun Raya Cibodas, dan ke kanan adalah pintu masuk menuju Taman Nasional Gn.Gede Pangrango.

Untuk masuk kesini, tinggal membayar uanga sebesar Rp 9.500,- saja per orang. Menurut saya pribadi, ini sangatlah MURAH dibanding dengan apa yang akan kalian temukan di dalam.


Daftar Harga Karcis Masuk Kebun Raya Cibodas

Peta Kebun Raya Cibodas, biar pada tahu ada apa saja di dalam sana.. hehehe
Bagi kalian yang berjiwa petualang dan ingin menikmati sejuknya udara dan angin sepoi-sepoi ala pegunungan, saya sarankan berjalan kaki saja selama menjelajah di dalam Kebun Raya ini. Memang akan capek, tapi kalian akan jauh merasa lebih puas daripada dengan mengendarai mobil dan hanya mengikuti jalur mobil.

Berikut adalah beberapa tempat yang kami kunjungi saat kesana :

A. Curug Cibogo
Untuk menuju kemari, bisa dicapai dalam waktu kurang lebih 10 menit, dengan berjalan ke sebelah kiri setelah memasuki Gerbang Utama Kebun Raya Cibodas, kemudian berbelok ke kanan ketika menemui bangunan dimana akan terlihat dari kejauhan tempat untuk kegiatan Outbond. Tinggal lurus ikutin jalan yang ada, hingga terdengar suara deras air di sebelah kanan dan kalian menemukan jalan bebatuan yang mengarah ke bawah. Terus saja ikuti jalan menurun hingga kalian bisa melihat Curug Cibogo di kejauhan Jangan ragu untuk menggunakan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) jika kalian merasa hilang arah. Lebih mudah lagi jika bertemu Satpam yang memakai motor.

Air Terjun Mini sebelum Curug Cibogo

Curug Cibogo dari jauh

Penampakan Curug Cibogo dari dekat
Curug Cibogo bisa dibilang cukup kecil dan jika sedang ramai, akan sulit untuk mendapatkan view yang bagus jika ingin berfoto disana. Kami pun hanya sekedar berfoto-foto dan langsung melanjutkan ke destinasi berikutnya, karena waktu itu sedang ramai disana. Tapi Alhamdulillah saya berhasil mengabadikan satu gambar (foto di atas) dimana Curug tersebut kosong, walaupun jeda waktunya sangat sempit.

B. Taman Sakura
Awalnya saya pun heran, bagaimana caranya bisa ada bunga sakura disini? Sedangkan habitat aslinya adalah di negeri Jepang sana. Terlepas dari ini beneran sakura atau tidak (karena memang saya tidak tahu juga bentuk yang aslinya disana seperti apa ), tapi tetap menarik untuk difoto. Letaknya pun tidak jauh dari Curug Cibogo, tinggal bergerak sana ke arah sebaliknya.

Bunga Sakura yang ada di Kebun Raya Cibodas

C. Kolam Besar
Kalian bisa mencapainya dengan berjalan mengikuti jalur mobil dari Curug Cibogo menuju ke atas, dan segera berbelok ke kanan ketika melihat ada jalan berbatu untuk memotong jalan. Dimana nanti di ujung jalan kalian akan menemui bukit yang hampir serupa dengan bukit teletubbies yang ada di Bromo, dan jika berjalan lagi, kalian akan temuin sebuah kolam besar yang dikelilingi oleh Taman dimana banyak orang Camping atau sekedar duduk makan siang bersama. Bahkan beberapa orang disini sibuk terlihat membakar daging  (Sampai- sampai rela membawa gas elpiji 3kg, lengkap dengan pemanggangnya ! ) untuk keperluan masak memasak.

Kolam Besar
Tidak bermaksud untuk rasis, tapi saya jadi merasa agak miris ketika melihat pemandangan yang terhampar di sepanjang perjalanan saya di Kebun Raya Cibodas ini, puncaknya ketika melewati Taman dengan Kolam besar ini. Kenapa ? Karena Kebun Raya sebagus ini, pengunjungnya lebih banyak didominasi oleh para expatriat yang rata-rata berasal dari Timur tengah. Terkadang saya berpikir, kok jadi berasa seperti di negara lain yak ? Silahkan direnungkan sendiri yak.. -,-"

D. Curug Ciismun
Menuju destinasi selanjutnya, kami melangkah ke arah atas melewati tangga bebatuan dan mengambil belok kiri ketika melihat ada Musholla di pertigaan. Ikuti jalan bebatuan yang ada dan akan semakin menurun,namun harap berhati-hati juga karena batu-batu akan semakin terjal dan pastinya agak licin jika basah karena hujan.
Jalan bebatuan yang akan semakin menurun

Warung terakhir sebelum Curug Ciismun

Curug Ciismun sudah terlihat dari kejauhan
Curug Ciismun
Begitu sampai dibawah dan menemukan pertigaan, kalian ambil belok kanan, terus saja ikuti jalan hingga terlihat tanda-tanda seperti foto saya di atas (bertemu dengan warung yang bertuliskan Ciismun, yang mana artinya kalian sudah dekat menuju Curug Ciismun). Pemandangan Curug Ciismin saat itu lumayan cukup ramai dengan pengunjung, sehingga saya pun gagal untuk mendapatkan view foto yang bagus (karena dimana-mana mata memandang selalu penuh dengan orang.. -,-). Tapi cukup puas lah karena bisa sekedar duduk-duduk santai sembari main air ketika tiba di curug. Bagi kalian yang sudah terlanjur basah-basahan dan ingin bilas, tenang saja karena tidak jauh dari Curug terdapat bilik untuk bilas dan berganti pakaian.

Jika sudah puas bermain air dan berfoto-foto dengan Curug Ciismun, saatnya melanjutnya dengan destinasi berikutnya, yakni Jalan Araucaria.


E. Jalan  Araucaria
Untuk mencapai jalan ini, kalian tinggal berbalik menuju arah dimana kalian menemukan Musholla yang terletak di pertigaan (yes, artinya kalian harus kembali dulu naik ke atas.. :P). Bedanya, jika arah datang dari Curug Ciismun, dimana sekarang Musholla berada di kanan kalian, ambil belok kiri. Inilah yang namanya Jalan Araucaria.
Kenapa dinamakan demikian? sepertinya dikarenan disepanjang jalan ini kalian akan menemui Pohon Araucaria yang berderet rapih hingga mengantarkan kalian ke destinasi berikutnya. Bahkan beberapa batang pohon tersebut ada yang berukuran raksasa.
Cekidot!

Jalan Araucaria

Beberapa batang Araucaria berukuran raksasa

Ternyata berasal dari Australia !



F. Guest House
Di ujung jalan ini, kalian akan menemukan beberapa Guest house (penginapan berupa Villa) yang sepertinya bisa disewakan. Namun saya kurang tahu pasti kemana harus bertanya jika ingin menyewa dan berapa harga per-malamnya. Tapi saya rasa, andaikata kawan-kawan punya dana lebih, pasti seru juga jika menginap disini. Karena tidak jauh dari Guest House tersebut terdapat area rumah kaca dan halaman luas yang seperti seru untuk dipakai bermain atau sekedar berkumpul keluarga.

Penampakan salah satu Guest House

G. Rumah Kaca
Tidak jauh dari Guest House, kawan-kawan bisa melihat adanya rumah kaca jika berjalan sedikit ke belakang. Namun sayang seribu sayang, sewaktu kami kesana , kami hanya bisa melihat koleksi dari rumah kaca tersebut dari luarnya saja dikarenakan sudah tutup (mungkin karena hari sudah terlalu sore juga). Selintas, bisa kita saksikan bersama di dalam rumah kaca ini terdapat aneka koleksi tanaman kaktus dengan berbagai macam bentuk. Dan di bagian belakangnya terdapat berbagai macam koleksi bunga seperti Anggrek Bulan, Alamanda, dan Mawar Albino.

Tampak depan Rumah Kaca

Aneka macam koleksi kaktus

Bunga Anggrek (Anggrek bulan bukan ya?)

Bunga Mawar Albino

Bunga Alamanda

Tampak Rumah Kaca bagian dalam

H. Taman Lumut
Jika berjalan menuju arah parkiran yang tidak jauh dari Guest House, nanti kalian akan menemukan plang arah yang menunjukkan arah menuju Taman Mulut dan Bunga Bangkai. Saat itu, pintu menuju Taman Lumut pun sudah ditutup, dan kami hanya bisa foto-foto pemandangan yang ada dari luar pagar saja. Menurut saya pribadi sih, tidak terlalu menarik juga, karena hanya seperti hiasan batu-batu yang banyak ditumbuhi lumut saja.

Taman Lumut tampak depan

Taman Lumut tampak samping

I. Bunga Bangkai
Letaknya bersebelahan dengan Taman Lumut, hanya saja saat kami kesana kemarin bunganya sedang ditutup dengan kain hitam (sepertinya belum mekar juga) dan dilapisi pagar, sehingga tidak memungkinkan untuk difoto.


J. Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas LIPI

Gedung Balai Konservasi
Sembari mengikuti jalur mobil yang akan membawa kita kembali ke gerbang utama tempat kita masuk, di sebelah kiri nanti akan terlihat sebuah gedung Balai Konservasi Kebun Raya Cibodas. Berhubung hari itu sudah cukup sore, kami pun tidak bisa masuk ke dalamnya, dan cukup berfoto di luar bangunan saja. Mungkin jika kesana siang hari kawan-kawan bisa mencoba langsung masuk ke dalam bangunan dan mencari tahu apa saja informasi yang ada disana.

Balai Konservasi ini sekaligus menutup perjalanan singkat kami di Kebun Raya Cibodas. Dan bagi kalian yang ingin beli oleh-oleh, tidak jauh dari gerbang utama akan banyak para pedagang yang siap menawarkan aneka macam oleh-oleh mulai dari Kue Moci, buah strawberry, dan masih banyak lainnya. Tapi pastikan, ditawar terlebih dahulu yaaa harganya.


Sekedar info pengeluaran saya saat itu :

- Ongkos Bus Marita PP Jakarta - Cibodas : Rp 25.000,- (berangkat) + Rp 20.000,- (pulang) =
Rp 45.000,-
- Angkot Kuning PP : Rp 10.000,-/orang
- Makan siang (Nasi Goreng + Teh Manis hangat) : Rp 16.000,-
- Tiket masuk Kebun Raya Cibodas : Rp 9.500,-/orang
- Makan malam (Mie Goreng Telur & Teh Manis Hangat) : Rp 14.000,-
------------------------------------------------------------------------------------------------- +
Total :  Rp  94.500,-

Biaya di atas tidak termasuk dengan ongkos dari rumah masing ke terminal Kp.Rambutan PP dan biaya-biaya pribadi lainnya seperti jajan, ataupun belanja oleh-oleh.

Semoga informasi yang ada bisa bermanfaat...


Sampai jumpa di trip selanjutnya !! "We-fie dengan Curug Ciismun" (doc by Kamera Ferdinand)

Cheers,
RPR- Sang Petualang
(Silahkan di follow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)