Rabu, 23 Maret 2016

Edisi Bayar Utang..

Sebenarnya ini kali kedua saya mengunjungi Gunung Slamet di Purbalingga, Jawa Tengah sejak tahun 2013 silam yang diyakini sebagai "Atap Jawa Tengah". Saat itu, dikarenakan cuaca yang sudah sangat buruk ketika kami tiba di Pos 7 Samyang Kendit, dengan berat hati kami pun memilih untuk turun demi alasan keselamatan. 
Ingat ! jangan sampai mati konyol di gunung gara-gara nekat/sengaja mengabaikan keselamatan !

Dengan ketinggian sekitar 3.428 mdpl, tentunya gunung ini membuat para pendaki merasa tertantang untuk bisa berdiri di puncaknya.

Gunung ini diyakini sebagai Gunung dengan track tersulit dan tersadis di kawasan Jawa Tengah. Ya, karena sepanjang jalan nyaris tidak ada bonus, selalu menanjak, banyak jalur air dan akar, serta akan sangat licin jika hujan sudah turun. Gunung ini juga terkenal dengan aura mistisnya yang kuat. Jadi pastikan kalian selalu menjaga sikap dan tingkah laku ketika berada disana,ya.


8 Maret 2016
Awal Perjalanan
Setelah sempat beberapa kali rencana ini gagal ataupun nyaris berganti rute karena status Gn.Slamet yang masih belum kondusif untuk didaki, kami pun akhirnya jadi berangkat karena mendengar info Gunung Slamet sudah dibuka untuk pendakian per 1 Maret 2016. Sesuai kesepakatan awal, sekitar Pukul 20.00 WIB, bahkan nyaris-nyaris pukul 21.00 WIB, team yang terdiri dari saya, Bang Indra Difa, Mpok Agustin, Elfrida , dan Tengku berangkat menuju Purwokerto dengan KA Serayu Malam.


9 Maret 2016
Tiba di Purwokerto
Paginya setelah tiba di Stasiun Purwokerto sekitar pukul 07.33 WIB, kami tidak sengaja berkenalan dengan rombongan pendaki lain yang dipimpin oleh Bang Ocit, yang kebetulan memiliki tujuan yang sama. Jadilah kami sepakat untuk charter angkot bareng menuju Basecamp Bambangan. Setelah nego sana-sini dicapai harga Rp 50.000,-/orang atau yakni Rp 450.000,- untuk 9 orang. Dengan catatan beliau ini rela menunggu kami jika kami ingin mampir-mampir untuk membeli logistik dll.

Suasana di angkot (Doc by Tengku)
Bagi yang ingin nyarter angkot, bisa hubungi Bp.Solikun di 0821 - 3617 - 9960. Fyi, Cara beliau mengendarai mobil sudah sangat terbukti, bahkan beliau sangat handal meliuk-liuk ketika melewati jalan dengan tanjakan curam.

Untuk menuju Basecamp Bambangan, kami diajak Pak Solikun melewati bukit-bukit yang menembus Taman Wisata Baturraden (wisata air panas dan kebun bunga) , sehingga pemandangan yang kami lihat disepanjang jalan adalah hutan-hutan yang masih sangat asri. Hati-hati bagi yang mudah mabok darat, karena pasti kalian akan merasa mual. Ha ha ha..


Basecamp Bambangan, Memulai Perjalanan
Di depan gerbang pendakian
Sekitar pukul 10.00 WIB atau setelah melewati 2 jam perjalanan dari Stasiun Purwokerto, kami tiba di Basecamp Bambangan. Menurut saya ini adalah Basecamp yang baru, dan lebih besar pula dari yang sebelumnya pernah saya singgahi 2013 silam.

Setelah re-packing dan makan siang bersama di warung seberang Basecamp, kami segera mengurus Simaksi untuk pendakian siang itu. Dikenakan biaya sebesar Rp 5.000,-/orang . Setelah berfoto bersama, sekitar pukul 10.55 WIB, kami memulai pendakian menuju Gunung tertinggi no.2 se-Jawa tersebut.

Perjalanan dibuka dengan melintasi ladang warga di kiri dan kanan jalan, namun sedari disini saja jalanan sudah mulai menanjak sedikit demi sedikit. Setelah melewati ladang warga, jalanan sedikit demi sedikit memasuki area hutan, dimana mulai bertemu dengan medan berlumpur kering dan tetap terus menanjak.

Melintasi jalan perladangan warga
Memasuki area hutan
Jalur menanjak yang sudah mulai licin karena embun dan rintik air hujan

Pos 1 Pondok Gembirung
Bangunan di Pos 1
Sekitar pukul 13.05 atau sekitar 2 jam perjalanan dari Basecamp, kami tiba di Pos 1. Disini terdapat sebuah bangunan besar dan bisa dijadikan tempat untuk nge-camp. Asiknya disini, terdapat warga yang menjajakkan aneka jajanan mulai dari minuman dingin dan aneka gorengan seperti pisang goreng dan sejenisnya. Harganya pun masih masuk akal. Rp 2.000,- untuk pisang goreng, Rp 4.000,- untuk teh hangat, dan Rp 5.000,- untuk Es Teh Manis. Ibu dan Bapak pedagangnya sangat ramah, sehingga membuat kami betah berlama-lama disana sembari mengobrol dengan mereka. Sadar perjalanan masih sangat panjang, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 2, yang mana sudah langsung disambut dengan aneka tanjakan curam dan jalur tanah. Bisa dibilang antara Pos 1 dan Pos 2 ini merupakan salah 1 jalur terekstrim di Gunung Slamet. Kenapa ? karena selain tetap dan terus menanjak tiada bonus, jalur ini pun didominasi jalur air yang sempit, dan tangga akar yang membuat kami harus memanjat-manjat.

Gambaran jalur menuju Pos 2
Hujan mulai turun, Raincoat pun beraksi


 Pos 2 Pondok Walang
Shelter di Pondok Walang
Menjelang Pos 2, jalanan semakin ekstrim dan hujan pun turun, sehingga kami harus berjalan lebih ekstra hati-hati. Sekitar 15.10 WIB (1,5 jam dari Pos 1 setelah dipotong isitirahat) kami tiba di Pos 2 Pondok Walang dan langsung memilih berteduh di dalam shelter karena hujan sudah turun cukup deras. Alhamdulillah, ada kawan sependakian yang berbaik hati membagi teh hangat kepada kami sehingga lumayan bisa membuat badan hangat. Tidak lama, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 3.

Jalur menuju Pos 3



Tiba di Pos 3
Pos 3 Pondok Cemara  
Gambaran track dari Pos 2 menuju Pos 3 masih berupa track melintasi akar-akar yang semakin curam dan menanjak (seperti gambar di atas). Sekitar pukul 17.24 WIB kami berlima tiba di Pos 3 Pondok Cemara. Disini, kami tidak beristirahat terlalu lama. Namun, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 lewati dikit dan terdengar suara adzan dari kejauhan, kami  memilih untuk berdiam diri sebentar sembari istirahat.

Menuju Pos 4, masih dilalui dengan jalur banyak tanjakan akar dan jalur air yang super sempit. Ditambah, saat itu hari sudah gelap, sehingga kami pun sudah berjalan menggunakan Headlamp.


 Pos 4 Pondok Samarantu
Pos 4 yang dikenal sebagai pos paling angker
Sekitar pukul 19.18 WIB, kami tiba di Pos 4 Pondok Samarantu. Di Pos ini terdapat lahan yang cukup luas untuk nge-camp. Namun saran saya, kecuali dalam keadaan darurat, sebaiknya JANGAN SINGGAH/CAMP di Pos ini. Menurut info yang beredar ditambah yang saya rasakan saat itu, jujur perasaan saya tidak terlalu enak berlama-lama berada disini. Ya, diantara Pos-pos yang lain, bisa dibilang Pos 4 inilah yang paling angker, dan dikhawatirkan para pendaki bisa diganggu oleh "penunggu" yang berada disini. Jadi, lebih baik langsung saja lanjut ke Pos V yak.. ^^..
Setelah melewati Pos 4, Jalur sudah mulai terbuka dan meluas dibandingkan jalur-jalur pada perjalanan menuju pos-pos sebelumnya.


Pos 5 Samyang Katebonan
Sekitar Pukul 20.22 WIB, kami tiba di Pos 5 dan memutuskan untuk Camp dikarenakan kondisi badan yang sudah terlalu lelah, ditambah kondisi perut yang sudah sangat keroncongan. Di Pos 5 ini terdapat sebuah shelter/bedeng, ada juga beberapa lahan yang kosong didepannya, namun sayangnya tidak datar. Sehingga kami harus mundur sedikit untuk mencari tempat Camp. Dan disini pun kami kembali bertemu dengan rombongan Bang Ocit yang ternyata sudah tiba lebih dulu disaat kami istirahat di pos-pos sebelumnya.
Disini, kami langsung membagi tugas, ada yang memasang tenda, flysheet, dan memasak makanan. Dan setelah selesai makan dan waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, kami yang lelah ini pun langsung tertidur pulas.


10 Maret 2016
Persiapan Summit Attack

Perjalanan Summit Attack
Sesuai kesepakatan malam sebelumnya, Pukul 03.00 WIB kami sudah bangun untuk membiasakan diri dahulu terhadap suhu di luar. Pagi itu kami mengisi kekosongan perut kami sebelum Summit Attack dengan Roti tawar berisi susu. Tidak masalah tidak sarapan banyak, yang penting perut tidak kosong.

Untuk mencapai Puncak Gn.Slamet masih ada sekitar 4 pos lagi yang harus dilalui, baru kemudian disambung dengan jalur bebatuan yang langsung menanjak menuju Puncak. Alhamdulillah cuaca pagi itu sangat bersahabat, tidak terlalu dingin, dan angin pun tidak kencang. Namun jaket dan Rain Coat (Jas hujan) tetap menjadi barang wajib yang harus dibawa ya.

Track yang dilalui untuk menuju Pos-pos berikutnya masih sama, yakni tanjakan tanpa adanya bonus, jalur air yang super sempit dan jalur akar.


Pos 6 Samyang Rangkah
Jaraknya tidak terlalu jauh dari Pos 5, hanya berjarak sekitar 20 menit-an. Kami tiba sekitar pukul 04.07 WIB. Disini kami tidak beristirahat dan langsung menuju ke Pos selanjutnya.


Pos 7 Samyang Kendit
Bangunan di Pos 7
Pos ini hanya berjarak sekitar 35 menit dari Pos 6 dan ditandai dengan jalur yang semakin terbuka dan adanya shelter berupa bedeng. Dimana jika kita melihat kedalamnya cukup untuk mendirikan dua buah tenda.





Pos 8 Samyang Jampang
Jalanan menuju Pos 8
Perjalanan menuju Pos 8 dilalui dengan melewati jalur yang semakin terbuka. Jika dilihat dari arah datang, ada dua jalur yang bisa dipilih yakni yang berada di sebelah kiri bedeng, maupun sebelah kanannya (seperti di foto sebelah kiri ini), yang mana keduanya akan bermuara pada jalur yang sama. Dibutuhkan sekitar 15 menit dari Pos 7 untuk mencapai Pos 8.


Pos 9 Pelawangan
View Sunrise dari Pos 9 Pelawangan
Menuju Pos 9, yang merupakan batas vegetasi sebelum mendaki jalan berbatu besar menuju Puncak Slamet, dibutuhkan waktu sekitar 35 menit. Selain papan nama, pos ini ditandai juga dengan adanya Plang Merah besar yang nantinya dipakai sebagai petunjuk arah bagi para pendaki yang turun dari Puncak agar tidak tersesat/salah arah.

Saat tiba disini bersamaan dengan fenomena Sunrise, jadilah kami agak berlama-lama karena semua sibuk mengabadikan moment yang ada di depan mata.


Menuju 3.428 MDPL !!
Jalur bebatuan yang harus ditempuh menuju Puncak
Jalur yang harus dilalui menuju Puncak adalah tanah pasir bebatuan. Bedanya dengan menuju Puncak Semeru (bagi yang sudah pernah pasti paham), disini tidak berlaku hukum 1-3, atau 3-5. Tapi harus tetap ekstra hati-hati karena tidak semua batu yang diinjak kokoh, alias mudah terlepas. Jangan juga mengambil jalur terlalu ke kanan, dikarenakan selain lebih sulit, sangat dekat dengan jurang (seperti Blank 75 yang ada di Semeru). Saran saya, gunakan taktik "zig-zag" ketika meniti batuan untuk naik. Kira-kira seperti inilah view ketika mendaki menuju atap Jawa Tengah...

View lain
Inilah kami

Tiba di 3.428 MDPL..
View Puncak Slamet 3.428 MDPL
Alhamdulillah.. sekitar pukul 07.25 WIB, kami berhasil menginjakkan kaki di Puncak tertinggi no.2 Se-Jawa, atau bisa dibilang atapnya Jawa Tengah. Artinya, dibutuhkan waktu sekitar 3,5 jam untuk mencapainya dari Pos 5 Samyang Katebonan.

Meskipun kami tidak benar-benar sampai pada waktu yang bersamaan, namun kami senang karena kami semua bisa sampai di Puncak tanpa ada yang tertinggal/tidak muncak.

Senangnya juga, cuaca di Puncak saat itu sangat bagus, dan langitpun terlihat benar-benar biru (seperti foto saya di sebelah). Dan inilah beberapa  moment foto yang menggambarkan situasi di atas sana.

Alhamdulillah terbayar sudah "utang" semenjak 2013 silam.

Jam saya menjadi saksi bisu keberadaan kami di Puncak Slamet, tampak Kawah Slamet yang masih aktif
View awan yang berbaris, sayang belum terlalu ramai

Salam buat Backpacker Jakarta #01 dari Puncak Slamet... (doc by Indra Difa)
Good job guys! Summit Attack berhasil ! (doc by Indra Difa)

Perjalanan Turun kembali menuju Pos 5
Setelah puas berfoto-foto dan mengabadikan berbagai moment yang ada di Puncak, sekitar pukul 08.45 WIB kami pun segera bergegas untuk turun. Kabut sudah mulai menutupi jalan, sehingga kami harus turun dengan ekstra hati-hati (Ingat patokan papan besar Merah yang ada di Pos 9 sebagai penanda jalur). Umumnya memang perjalanan turun selalu lebih cepat dari naik, sehingga pukul 11.00 WIB (atau sekitar 2 jam perjalanan turun dari Puncak) kami sudah tiba kembali di Pos 5.


Perjalanan kembali ke Basecamp yang SERU!!
Sebuah pendakian tidak bisa dibilang berhasil jika belum kembali ke Basecamp dengan selamat. Oleh karenanya setelah selesai makan siang, istirahat sejenak dan beres-beres (re-packing). Kami segera memulai perjalanan untuk kembali ke Basecamp Bambangan.

Pos demi pos kami lalui dengan sangat cepat karena memang cuaca yang sudah semakin memburuk dan yang ada di pikiran kami saat itu hanyalah ingin tiba di Basecamp dengan cepat dan bisa segera istirahat dengan nyaman. Jujur situasi track sudah sangat licin saat itu karena hujan sudah kembali turun, sehingga nyaris terpeleset atau bahkan benar-benar terpeleset sudah menjadi hal yang lumrah.

Namun, apa daya kami harus sempat terhenti lama di Pos 2 dikarenakan kami dikepung oleh hujan yang sangat deras dan petir yang besar. Ini serius. Lebih baik berhenti dulu dalam waktu lama jika hujan deras dibandingkan memaksakan jalan dengan kondisi petir yang besar. Ada sekitar 2 jam kami berdiam diri di Pos 2. Barulah setelah hujan mulai reda kami berani untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju Pos 1 dimana kami tahu akan disambut dengan aneka jajanan di Ibu.. ehehehehhe

Kami tiba di Pos 1 menjelang Maghrib, sehingga kami pun baru melanjutkan kembali perjalanan setelah adzan Maghrib selesai berkumandang..


Jalan yang Seakan Tiada Berujung !
Meskipun hujan sudah reda, namun sisa-sisa track malam itu masih terasa agak licin, masih ada pula beberapa jalur yang agak ekstrim. Jadi tetap harus ekstra berhati-hati. Dan lagi dan lagi, apa yang saya takutkan kembali terjadi. Sesuatu yang sering saya alami dibeberapa gunung yang pernah saya singgahi dan selalu terjadi jika kita melanjutkan perjalanan setelah Maghrib.

Yak, tepatnya ketika melewati jalur ladang warga, jalan kami seakan-akan bertambah panjang, ada beberapa ladang yang seharusnya tidak kami lewati, namun tiba-tiba muncul .

Kami sangat yakin bahwa kami tidak salah jalan atau nyasar, karena disepanjang jalan pun masih sering berjumpa dengan pendaki yang ingin naik. Barulah ketika seorang kawan berkata "Kok jalan ini seakan tidak berujung,ya?"Saat itulah saya tersadar, bahwa kami kembali "Diputar". Saya pribadi merasa ini kebalikannya dari yang kami dapat dari Pos 5 menuju Pos 4. Kalau yang terjadi saat itu adalah jalan kami "dipersingkat", ada beberapa jalan yang dihilangkan. Wallahu'alam.

Alhamdulillahnya, sekitar pukul 20.00 WIB, kami berlima tiba dengan selamat di Basecamp Bambangan, yang mana artinya misi pendakian kali ini sudah berhasil ! Alhamdulillah... \(^0^)/. Berhubung sudah terlalu lelah, tak banyak yang kami lakukan malam itu kecuali bersih-bersih, ngopi sejenak kemudian tidur.

11 Maret 2016
Refreshing dan Mandi Air Panas di Baturraden
Pintu Masuk Sumber Air Panas Baturraden
Berhubung jam kepulangan kami menuju Jakarta masih jauh (Sore pukul 16.30 dari Stasiun Purwokerto), kami berlima ditambah rombongan Bang Ocit (Beserta Dayat, Abie, dan Salam) sepakat untuk bermain sejenak ke kawasan Sumber Air Panas Baturraden. Untuk menuju kesana, sudah disediakan transportasi oleh pihak Basecamp, dan disepakati Rp 550.000,-/mobil dengan jalur Basecamp Bambangan - Pemandian Air Panas Baturraden - Stasiun Purwokerto. Berhubung sifatnya Charter, jadi kawan-kawan bebas jika ingin mampir membeli oleh-oleh, Sholat Jum'at (berhubung itu hari Jum'at) atau sekedar kuliner diantara tujuan itu.

Sekitar pukul 09.35 WIB kami tiba di depan pintu masuk Sumber Air Panas Baturraden. Bagi yang ingin membeli oleh-oleh berupa kaos dan aneka gelang, di depan gerbang ini banyak pedagang yang menjajakkan aneka dagangannya. Harga pun murah meriah.

HTM untuk masuk kawasan Sumber Air Panas ini dikenakanan Rp 10.000,-/orang. 

Jalur menuju Sumber Air Panas
Untuk menuju tempat Sumber Air Panas, kawan-kawan harus berjalan kaki sekitar lebih kurang 500 hingga 700 meter melewati jalan tangga yang naik dan turun. Tentunya, dengan kaki yang habis capek karena turun dari Slamet, naik turun tangga ini sangat "menyiksa" kami.. T-T . Hingga kalian akan bertemu dengan Icon tempat ini yakni Sumber Air Panas Pancuran 7 (seperti pada gambar di bawah ini)
Pancuran Sumber Air Panas 7
Pijat dan Lulur Belerang, mantap!
Tidak perlu khawatir akan makanan dan minuman, karena setelah kalian tiba disini akan banyak warung yang sudah menanti. Bagi yang merasa pegal-pegal (kami pastinya!), disini juga disediakan jasa lulur plus urut dengan belerang. Tarifnya murah, hanya dikenakan sebesar Rp 20.000,-/orang (untuk kaki, tangan dan pundak), dan Rp 50.000,-/orang (untuk seluruh badan). Jangan lupa sembari pesan kopi hangat, dijamin makin nikmat ! Lihat saja seperti ekspresi kami ini.

Bagi yang ingin berendam, terdapat bilik khusus dimana terdapat banyak kamar mandi yang berisi bath-tube berisi air belerang lengkap dengan air dingin jika dirasa terlalu panas. Untuk dapat masuk dan berendam ke bilik ini dikenakan biaya tambahan Rp 5.000,-/orang. (Maaf gambar tidak bisa ditampilkan karena terlalu vulgar..hahahahahaha).

Selain wisata Sumber Air Panasnya, tempat ini pun mempunyai view yang tidak kalah indahnya, seperti foto saya berikut ini..

View yang indah
Oiya, dibawah saya berpijak ini ada tangga menuju Goa Alam juga lho, tapi karena kaki kami masih terlalu lelah dan kaku, ditambah waktu yang sudah mepet menjelang Sholat Jum'at, kami pun segera menyudahi wisata kami di Baturraden.

Kuliner Bakso Pekih
Plang Bakso Pekih
Berhubung masih ada waktu tersisa (sekitar 3,5 jam sebelum waktu keberangkatan kembali menuju Jakarta) , kami memutuskan untuk kulineran sejenak sekaligus makan siang di waung Bakso Pekih. Warung bakso ini terletak di dalam gang yang hanya muat pas untuk 2 mobil. Namun ajaibnya, pengunjungnya selalu ramai, bahkan rata-rata datang menggunakan kendaraan pribadi. Kami segera memesan sebuah meja untuk 10 orang (termasuk pak Sopir) dan segera memesan menu yang menurut saya sangat murah meriah.

Ya, karena untuk seporsi Bakso Urat & Bakso Telur (digabung dalam 1 mangkok) hanya dihargai Rp 13.500,-/mangkok saja. Ukurannya pun besar, sehingga pasti puas dan kenyang saat menyantapnya.


Bakso Urat & Bakso Telur
Kulineran kami siang itu pun menjadi penutup dari perjalanan kami di Gunung Slamet serta Purwokerto dan sekitarnya. Tepat pukul 16.30 WIB kereta Serayu Malam pun berangkat dari Stasiun Purwokerto mengantar kami kembali menuju Jakarta.

Rincian Pengeluaran :
-Tiket Kereta PP (K.A Serayu Malam, JKT-PWT) : Rp 140.000,-
-Biaya Admin : Rp 7.500,-
-Sewa bantal di kereta PP : Rp 10.000,-
-Nasi Fried Chicken Restorasi : Rp 20.000,-
-Teh Manis Hangat : Rp 5.000,-
-Kopi : Rp 4.000,-
-Patungan Angkot Stasiun Purwokerto - Basecamp Bambangan : Rp 50.000,-/orang
-Makan siang depan Basecamp : Rp 13.000,-
-Simaksi : Rp 5.000,-
-Jajan di Pos 1 PP , Es Teh Rp 5.000,-, Teh hangat Rp 4.000,-, Gorengan Rp 12.000,- (@Rp 2.000,-), Total Rp 21.000,-
-Ngopi pagi-pagi : Rp 3.000,-
-Patungan Mobil Basecamp - Baturraden - Stasiun PWT : Rp 60.000,-/orang
-Souvenir Gelang : Rp 20.000,-
-HTM Baturraden : Rp 10.000,-
-Lulur belerang Kaki-tangan-pundak : Rp 20.000,-
-Berendam Air Panas : Rp 5.000,-
-Jajan di Bakso Pekih (termasuk dengan es teh manis 2 @ Rp 2.500,-) : Rp 18.500,- 
-Nasi Goreng Restorasi : Rp 20.000,-
-Es Krim Brasil : Rp 5.000,-
-Sarapan Lontong :  Rp 10.000,-
--------------------------------------------------------------------------------------------+
Total : Rp 447.000,- *
*Biaya tersebut diluar dari belanja logistik, oleh-oleh, serta ongkos masing-masing orang dari rumah ke mipo PP.

Akhir kata, semoga informasi yang ada bisa bermanfaat bagi siapapun yang ingin berkunjung ke Gunung Slamet, Sumber Air Panas Baturraden ataupun yang ingin Kulineran di seputar Purwokerto.

Cheers,
RPR - Sang Petualang
(Silahkan difollow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)

Sampai jumpa di trip selanjutnya !

Senin, 30 November 2015

Probolinggo .. Situbondo .. Banyuwangi..

Sebelum naik kereta. (Doc by Mula M)
Pada kesempatan kali ini, saya bersama (lagi dan lagi) kawan-kawan dari Backpacker Jakarta (BPJ), berkesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat indah nan eksotis yang berada di ujung Jawa Timur. Tepatnya di Probolinggo , Situbondo dan Banyuwangi itu sendiri.

Sebenarnya BPJ sendiri sudah berkali-kali kemari, namun mungkin saya merupakan satu dari sekian banyak yang mungkin baru pertama kali kesana.
ehehehe

Cekidot!

13 November 2015

Awal Perjalanan
Seperti yang telah direncanakan 2 bulan sebelumnya,  sekitar pukul 11.30 WIB, kami direncanakan sudah berkumpul di Stasiun Pasar Senen untuk berangkat pukul 14.00 WIB. Namun apa dikata, karena kondisi jalan yang tidak terduga, saya pun terlambat sampai stasiun dan harus "kejar-kejaran" sebelum Sholat Jum'at dimulai. Tapi Alhamdulillah masih kebagian ^^

Setelah absen singkat dan semuanya telah berkumpul, sekitar pukul 13.45 kami mulai memasuki peron untuk segera naik KA Kertajaya yang akan mengantarkan kami semua ke Stasiun Pasar Turi, Surabaya.

Rame-ramena di gerbong restorasi (Doc by Selly S)
Sekitar lebih kurang 12 jam lamanya kami habiskan dengan ngobrol, makan, ngemil, dan sebagian sudah tertidur pulas. Untuk mengurangi kebosanan, beberapa dari kami pun memilih untuk bergerak ke gerbong restorasi dan "ketawa-ketiwi" sembari ngopi-ngopi disana. Fyi, di KA Kertajaya ini untuk segelas Hot Chocolate dihargai sebesar Rp 10.000,-/cup.

14 November 2015

Tiba di Stasiun Pasar Turi
Sekitar pukul 01.30 WIB, kami tiba di stasiun Pasar Turi, Surabaya. Hmm, udaranya agak sedikit panas yaa saat itu. Setelah sebagian pergi menunaikan Sholat Isya dan bersih-bersih sejenak, barulah kami menaiki elf yang sudah tersedia. Dimana grup BPJ part 3 akan menuju Air terjun Madakaripura dan grup 4 akan menuju Pulau Menjangan.

A. Air Terjun Madakaripura
Gerbang masuk Air Terjun Madakaripura
Sekitar pukul 05.50 WIB, kami tiba di pintu masuk Air terjun Madakaripura, yang mana artinya setelah menempuh sekitar 3,5 jam perjalanan dari Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Fyi, untuk memasuki kawasan Air terjun ini dikenakan biaya Rp 5.000,-/orang dan Rp 80.000,-/team jika ingin menggunakan jasa Guide. Jalan menuju Air terjun Madakaripura sudah cukup mudah, karena kita hanya akan tinggal melewati jalan aspal bercor yang terletak di sepanjang sungai. Diperlukan waktu sekitar 45 - 1 jam untuk mencapai Air terjun. Namun, tetap pastikan memakai alas kaki yang nyaman, karena di beberapa bagian nantinya kalian akan melewati track berbatu yang cukup licin (di sekitar Air terjun).

Jalanan bercor menuju Air terjun Madakaripura
Jalanan dibawah tampias air
Setelah melalui "Check Point" berupa jembatan yang mana artinya sudah sangat dekat dengan pintu masuk menuju Air terjun. Akan terdapat beberapa pedagang yang menawarkan jas hujan plastik seharga Rp 10.000,-. Silahkan beli jika kalian belum punya, dan langsung dipakai jika sudah punya. Kenapa? karena untuk menuju Air terjun, kalian akan basah-basahan melewati tampias air yang jatuh dari atas. Untuk yang tidak ingin repot membawa barang bawaan, bisa dititip di loker.

Ketika melewati jalanan seperti gambar di samping, harap sangat berhati-hati. Carilah jalanan yang sekiranya dangkal agar kalian tidak jatuh atau tercebur kedalamnya. Hati-hati juga dalam memilih pijakan batu, karena bisa saja batu yang kalian injak bergeser alias tidak kokoh. Nah, setelah melewati jalur ini, kalian harus sedikit memanjat ke atas untuk menuju cekungan dimana Air Terjun Madakaripura berada.

Air Terjun Madakaripura
Sayang seribu sayang, nampaknya karena efek dari hujan malam sebelumnya mengakibatkan air di Air terjun ini menjadi berwarna cokelat. Kira-kira seperti di atas inilah penampakannya.

Jika merasa lapar setelah puas mengeksplore Air terjun, di depan pintu masuk dekat dengan tempat parkir terdapat aneka warung yang menjual aneka makanan dengan harga yang bisa dibilang cukup terjangkau. Kebetulan saya makan nasi goreng pagi itu, seharga Rp 12.000,-/porsi. Jika ingin berbilas, terdapat berbagai macam bilik kamar mandi dengan air yang sedingin es di seberang dan sekitar warung. Ehhehehe

Menuju Situbondo, Isirahat Sejenak
Sekitar pukul 09.40 WIB, Perjalanan pun berlanjut menuju daerah berikutnya, yakni Situbondo. Perjalanan dibuka dengan melewati jalan-jalan di pinggir perkebunan dan beberapa jurang di sisi kami. Sekitar pukul 12.15 WIB ketika jam makan siang tiba, dan perut sudah mulai "berdemo", kami istirahat sebentar, makan siang sekaligus "memanjangkan kaki" di RM Setia.

RM Setia, Situbondo

B. Taman Nasional Baluran
Setelah "urusan perut" selesai, sekitar pukul 13.30 WIB, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju destinasi berikutnya, yakni Taman Nasional Baluran yang terkenal sebagai "Afrika"nya Indonesia. Kenapa? karena yaa memang ketika sudah berada di dalamnya kalian tidak akan merasa seperti di Indonesia.. ehehhee..

Jalan menuju Taman Nasional Baluran

Sekitar pukul 15.15 WIB, kami sudah mulai memasuki wilayah menuju Taman Nasional Baluran, dimana ditandai dengan banyaknya pohon-pohon kering di pinggir jalan, bahkan bisa kalian juga barisan monyet yang berjajar di kanan kiri jalan layaknya joki yang sedang menunggu mobil. :P

Berfoto dengan fosil Banteng
Sekitar pukul 15.40 WIB, kami tiba di Pintu masuk Taman Nasional Baluran dan membayar tiket sebesar Rp 15.000,-/orang. Fyi, dari pintu gerbang menuju Savana Bekol harus ditempuh sekitar 10 Km lagi, sehingga kami pun kembali masuk ke dalam Elf untuk menuju Savana Bekol.

Savana Bekol sendiri cukup gersang, ditandai dengan lapisan tanah yang terpecah-pecah dan bolong kekurangan air. Namun pemandangan yang ditawarkan disini sangatlah sayang untuk dilewatkan, sehingga tidak aneh ketika pintu Elf dibuka kawan-kawan langsung "berebutan" mencari spot terbaik untuk mengabadikan pemandangan yang ada. Cekidot !

Suasana Savana Bekol

Landscape Savana Bekol


Foto rame-rame (Doc by Aditya R - Go Pro)

Backpacker Jakarta di Savana Bekol, Taman Nasional Baluran

C. Pantai Bama
Menuju Pantai Bama, dicapai dalam waktu sekitar 10 hingga 15 menit dari Savana Bekol. Pantai Bama ini pun sebenarnya bukan merupakan salah satu destinasi tujuan kami. Tapi berhubung masih dalam 1 kawasan, tidak ada salahnya mampir. Sayangnya, tidak banyak yang bisa dilakukan di pantai ini dikarenakan juga hari yang sudah sangat sore dan matahari sebentar lagi akan terbenam.

Pantai Bama

Makan Malam ala Prasmanan di Grafika Restaurant
Restoran Grafika di pinggir pantai Banyuwangi
Sebelum meneruskan perjalanan menuju destinasi terkahir yakni Kawah Ijen, kami pun sepakat untuk makan malam ala prasmanan di restoran Grafika yang berada tepat di bibir Pantai Banyuwangi. Disarankan bagi kalian yang ingin berganti pakaian atau buang air besar, silahkan gunakan waktu seefektif mungkin di restoran ini. Kenapa?  karena di Pos Paltuding (pos terakhir sebelum nanjak Ijen) bisa dibilang kekurangan fasilitas Toilet. Untuk sekedar buang air kecil saja bisa mengantri sekitar 15-20 menit.

15 November 2015

D. Kawah Ijen
Tiba di Basecamp Paltuding
Setelah selesai makan dan beres semuanya, sekitar pukul 00.40 WITA (ya, entah kenapa waktu menunjukkan bahwa di titik tersebut kami berada di WITA). Kami bertolak menuju destinasi terakhir kami yakni Kawah Gunung Ijen, atau yang biasa disingkat dengan Kawah Ijen. Untuk menuju kesana, kami harus melewati jalanan menanjak berliku-liku, disertai dengan beberapa tanjakan yang cukup curam, sehingga elf yang kami tumpangi pun harus agak "mengantri" ketika menaikinya.Barulah sekitar pukul 01.03 WITA, kami tiba di Pos Paltuding. Cuaca di basecamp cukup dingin, jadi pastikan kalian memakai jaket yang tebal, sarung tangan, kaos kaki, serta pelindung leher agar diri kalian tetap hangat ya! 

Tepat pukul 03.30 WITA, setelah tiket sudah dibeli dan persiapan selesai, rombongan kami pun bergerak menuju jalur pendakian Kawah Ijen . Oiya, fyi saat ini untuk biaya masuk menuju kawah Ijen dikenakan Rp 7.500,-/orang dan guide Rp 150.000,-/team.

Alhamdulillah, cuaca saat itu sedang bersahabat, sehingga kami tidak terlalu kesulitan melewati jalur pendakian yang pelan-pelan semakin menanjak dan pastinya berdebu ini. Namun tetap harus berhati-hati ketika kalian sudah menemukan jalan berliku-liku dengan jurang menganga disebelahnya ya.

Untuk menuju Puncak Ijen, bisa dicapai dalam waktu 2 jam perjalanan santai. Dan jika ingin turun ke kawah, (manatahu masih keburu untuk melihat fenomena Blue Fire yang hanya ada 2 di dunia), pastikan kalian sudah memakai masker/Buff sebelum turun agar tidak keracunan Gas Belereng yang baunya sangat menyengat. Sembari dalam perjalanan turun, harap jangan terburu-buru dan jangan lupa berikan jalan terlebih dahulu jika nanti ada penambang yang lewat. Karena bisa repot jika sampai tertiban bongkahan belerang yang mereka bawa, mengingat beratnya sangat lumayan. Eheheh..

Kira-kira beginilah pemandangan di Kawah Ijen dan sekitarnya.. Cekidot!!

Jangan lupa beri jalan dulu jika berpapasan dengan penambang (Doc by Aditya R)

Sebagian kawan Backpacker Jakarta yang berfoto bersama (Doc by Selly Sukesi)
View Kawah Ijen dari dekat
Tepat di depan bibir Kawah, pastikan memakai masker yak! (Doc by Liza Minelli)

Kawah Gunung Ijen dengan warna danau kawahnya yang hijau tozca

Bagian atas sebelum mencapai Kawah
Kegiatan kami di Kawah Ijen dan sekitarnya ini bisa dibilang merupakan akhir dari perjalanan kami dalam menjelajah Probolinggo, Situbondo dan Banyuwangi tentunya. Berhubung di toilet Basecamp Paltuding sangat panjang antriannya, kami yang sudah turun pun segera bergerak menuju RM Setia di Situbondo untuk sekali lagi makan siang sekaligus numpang mandi dan bersih-bersih disana.

Perjalalan terakhir pun kami lanjutkan menuju Surabaya selama lebih kurang 4 jam untuk menaiki KA Kertajaya yang akan mengantar kami pulang ke Jakarta.

*Untuk Jasa sewa Elf (kapasitas 18 orang/mobil) dari Surabaya menuju tempat-tempat wisata tersebut dan kembali lagi ke Surabaya bisa menghubungi No. 0822 3340 0178 ( Bapak Sugeng ) dengan tarif sewa Rp 3.400.000,-/2hari/elf , mungkin bisa saja dinego kembali. Untuk Tips Sopir bisa dikasi sekitar Rp 150.000,-/sopir. Untuk sewa parkir tinggal menyesuaikan di tiap-tiap tempat yang kalian datangi.

Rincian Pengeluaran :
-Sharecost kelompok (included Tiket KA Kertajaya PP @Rp 90.000,-, Tiket Masuk Air terjun Madakaripura + Guide, Tiket Masuk Taman Nasional Baluran, Tiket Masuk Kawah Ijen, Sewa Elf, Tips Sopir, donasi sekret, dll ) : Rp 490.000,-
-Kopi : Rp 4.000,-
-Aqua : Rp 5.000,-
-Gorengan : Rp 1.000,-
-Makan siang di RM Setia, Situbondo  : Rp 28.000,-
-SC makan malam prasmanan di RM Grafica : Rp 20.000,-
-Sarapan Nasi Goreng & Teh manis hangat di Ijen : Rp 12.000,-
-Makan siang di warung seberang RM Setia : Rp 14.000,-
-Teh : Rp 5.000,-
----------------------------------------------------------------------------------+
Total : Rp 579.000,-*

*Biaya tersebut diatas tidak termasuk dengan Ongkos PP dari rumah masing-masing menuju Stasiun Pasar Senen, dan biaya-biaya lainnya yang tidak tercantum di list. 

Demikian informasi yang bisa saya berikan, semoga bisa bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Sampai jumpa di Trip selanjutnya! (Doc by Aditya R)


Cheers,
RPR - Sang Petualang
(Silahkan difollow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)