Tampilkan postingan dengan label Caving. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Caving. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Januari 2015

Menuju Perut Bumi ! Goa Buniayu, Sukabumi Part I

Menjelang penghujung tahun 2014, saya bersama kawan-kawan tertarik untuk mengunjungi sebuah Goa yang terletak di Sukabumi, Jawa Barat, Goa Buniayu namanya.

Bagi kawan-kawan yang belum tahu, "Buniayu" sendiri merupakan nama kawasan Goa-goa alam yang tersebar disini. Keseluruhan ada 3 Goa yang terdapat di Buniayu, yakni Goa Wisata, Goa Landak dan Goa Kerek.
Berdasarkan standar keselamatan yang ada disini, selama musim hujan hanya ada 2 Goa yang bisa dimasuki yakni Goa Landak dan Goa Wisata ( jangan bandel jangan ngeyel kalau mau selamat..hehehe )

That's why, akan ada part II nya saat musim kemarau April-Mei 2015 mendatang dengan tujuan Goa Kerek ! tunggu aja tanggal mainnya.. hehehe

29 Desember 2014
Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan dengan menggunakan CommuterLine dari Jakarta (Sudirman) menuju Bogor, disambung angkot menuju Terminal Baranangsiang dan disambung lagi Omprengan menuju Cisaat, Sukabumi, kami ber 6 pun dijemput oleh team LPP (Langkah Petualang Sukabumi) menuju Basecampnya untuk beristirahat sekaligus bermalam sebelum memulai aktivitas di Goa Buniayu.

Ini team saya : Rhesty, Mbak Ijul Baso, Pita, Elde dan Metha

Malamnya, kami pun disambut dengan makan malam bersama team LPP Sukabumi, suasana saat itu sangatlah ramai, karena kebetulan banyak juga kawan-kawan yang sedang bermain di basecamp. Saya pribadi mewakili kawan-kawan Jakarta mengucapkan terima kasih banyak pada team LPP Sukabumi atas keramahtamahannya menyambut kami semua, terutama kang Den yang sudah mengizinkan kami berenam untuk "merusuh" di rumahnya. Hehehe..

Suasana makan malam bersama
30 Desember 2014
Berhubung perjalanan ke Goa Buniayu terbilang cukup jauh dan jalanannya banyak yang rusak, kami pun berangkat dari Basecamp sekitar pukul 00.30 WIB dengan men-charter angkot. Di dalam angkot pun terlihat muka-muka yang masih sangat kelelahan namun sangat bersemangat untuk mencicipi petualangan yang akan segera hadir. hehehe

Sekitar pukul 02.30 WIB, kami pun tiba di lokasi Goa Buniayu dan langsung disambut oleh kang Uspur yang nantinya akan memandu kami selama di dalam Goa.

Berhubung masih sangat lelah, kami pun baru memulai masuk Goa sekitar pukul 04.30 WIB (pastinya setelah bersiap-siap mengamankan barang-barang berharga dan mengenakan safety clothes untuk masuk Goa)

Doa bersama dipimpin mang Agus Jaliteung (LPP Sukabumi)

A. Goa Wisata
Perjalanan masuk Goa Wisata diawali dengan melewati medan anak tangga licin, yang terus menerus turun ke bawah tanah dengan banyak kelelawar yang terbang kesana kemari di atas kami semua. Dari dalam Goa ini pun juga beberapa kali tercium bau tidak sedap yang berasal dari "Guano" (kotoran kelelawar). Meskipun perjalanan di Goa ini cukup singkat, namun ornamen-ornamen bawah tanah yang terdapat di dalam Goa ini pun tidak bisa dianggap remeh keindahannya. Lumpur-lumpur yang ada di dalam Goa ini pun cukup lengket dan tidak heran bisa membuat terpleset jika kurang hati-hati. Berikut foto-foto kami :

Perjalanan masuk Goa Wisata
Ada yang bisa menjelaskan ke saya apa yang berwarna silver di atas itu ??

Foto bersama di dalam Goa Wisata
Ornamen-ornamen alam di dalam Goa


Di beberapa bagian, kami pun harus berjalan sembari merunduk

Tiba di bagian Goa yang cukup luas

B.Goa Landak
Setelah menemui jalan buntu di Goa Wisata, kami pun segera bergerak kembali sedikit ke atas dekat pintu masuk untuk masuk ke Goa berikutnya, yakni Goa Landak. Untuk berjalan masuk ke dalam pun harus kami lewati dengan berjalan agak menyamping di antara batu-batu besar, disambung dengan kembali jalan merunduk.Ada juga track dimana kami harus berjalan dengan bertumpu sambil berpegangan pula dengan batu di kanan kiri kami.

Nyamping diantara batu besar

Kembali merunduk

Bertumpu dengan batu dengan sungai kecil di bawahnya

Tiba juga di bagian yang cukup luas

Stalaktit yang sangat besar
Ketika sudah mencapai bagian dalam Goa yang cukup besar, kami pun menumukan berbagai ornamen-ornamen alam yang seru untuk difoto, salah satunya bisa kawan-kawan lihat adalah stalaktit berukuran jumbo seperti foto di atas.

Nah, tak lama beranjak dari stalaktit besar tersebut, kami pun diantar mang Uspur untuk merasakan fenomenan "Kegelapan Abadi" yang konon katanya 4x lebih gelap dari malam hari. Kami semua tiba di sebuah tempat yang agak luas, dimana ada juga kubangan berlumpur (bagi yang ingin mencoba sensasi lumpur Goa Landak). Kemudian, semua penerangan yang ada segera dimatikan, dan langsung terlihatlah fenomena "Kegelapan Abadi" itu.
Benar benar gelap, dan tidak terlihat apa-apa !

Sebelum Fenomena "Kegelapan Abadi" dimulai, foto by Mbak Ijul Baso.

Setelahnya, kami kembali disuguhkan jalanan yang super licin, berlumpur dan banyak genangan air untuk menuju keluar dari Goa Landak ini, bahkan untuk keluar menuju lubang terakhir pun kami harus benar-benar berjalan merangkak, menempel pada tanah dan lumpur (untuk yang badannya tinggi, jujur akan sedikit kesulitan, beruntunglah mereka yang "kecil" ).. hahahaha

Sayangnya, di moment-moment tersebut kami sudah tidak lagi terpikir untuk berfoto dikarenakan tangan dan baju yang sudah kotor dan penuh dengan lumpur.

Setelah bertemu lubang keluar, otomatis mengakhiri petualangan kami di 2 Goa Buniayu tersebut.

Berfoto di depan Plang Goa Buniayu, ceritanya udah pada ganteng-ganteng dan cantik-cantik niiih..hahaha

Rincian Biaya (saya) :
-  Bus Rumah (Pd.Indah - Blok M) - St.Sudirman PP (@ Rp 8.000,- ) : Rp 16.000,-
- Commuter Line Sudirman - Bogor PP (@ Rp 4.000,-)   : Rp 8.000,-
- Angkot Stasiun Bogor - Term.Baranagsiang PP : Rp 8.000,-
- Bus Bogor - Sukabumi (Cisaat) PP (@ Rp 25.000) : Rp 50.000,-
- ShareCost masuk Goa Buniayu : Rp 70.000 (silahkan tambahkan tips seikhlasnya jika pelayanan memuaskan)
- Sewa Angkot Basecamp - Buniayu PP : Rp 50.000 / orang ---> karena bertujuh dengan mang Agus, kena Rp 350.000,-/angkot
------------------------------------------------------------------------------------------------------- +
Total : Rp 202.000,-

Note : Biaya tersebut diluar dari biaya makan selama di perjalanan dan tempat wisata.

Untuk kawan-kawan yang ingin Booking masuk ke dalam Goa Buniayu, bisa menghubungi mang Uspur di 085864773582,
saat itu paketan yang kami ambil adalah Rp 70.000/orang untuk Goa Landak & Wisata, dan Rp 150.000,-/orang jika masuk ke Goa Kerek.
Disarankan untuk berkunjung saat musim kemarau (April, Mei) sehingga lebih puas karena bisa mengeksplore sekaligus ketiga Goa (asalkan stamina kuat).

Paketan sudah lengkap dengan :
1. Helm
2. Safety Clothes
3. Sepatu

untuk Dry bag dan  Head lamp tidak disediakan, jadi harus bawa sendiri.

Beliau pun juga menyediakan paketan jika kawan-kawan ingin menginap langsung di sekitar Goa Buniayu dan dapat makan (silahkan nego langsung ke beliau yak ! )

Akhir kata, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih banyak untuk kawan-kawan yang sudah mengikuti ekspedisi singkat dan sederhana ini, semoga ga kapok ya, Rhesty, mbak Ijul, Pita, Metha dan Elde..

Terima kasih juga untuk mang Agus Jaliteung yang sudah mengkordinir keadaan di lapangan sehingga niatan kami berkunjung ke Goa Buniayu bisa tercapai, dan tentunya mang Uspur yang telah memandu kami selama di dalam Goa.


Sekian dulu, semoga bermanfaat..

Sampai jumpa di petualangan berikutnya..

Cheers..
RPR - Sang Petualang
(Silahkan difollow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)

 

Minggu, 28 Desember 2014

Takana Jo Kampuang.... yuk ke Sumatera Barat !

Bicara tentang Sumatera Barat, banyak yang bisa kita explore selama disana,mulai dari keindahan alamnya, budayanya, kuliner, hingga peninggalan-peninggalan sejarah yang ada.

Alhamdulillah, selama 2011 menuju 2012, saya berkesempatan untuk tinggal di Bukittinggi dan sekitarnya selama lebih kurang 3 bulan lamanya, dan sedikit banyak saya bisa berkeliling berbagai tempat-tempat wisata yang ada disela-sela libur kerja.
Kebetulan, nenek saya orang Minang, dan mungkin "darah" Minangnya sampai juga ke saya, sehingga ketika menginjakkan kaki disana entah kenapa saya tidak lagi merasa asing dengan keadaan alam, kota, maupun interaksi dengan orang-orang yang ada disana.

Ada apa saja sih di Sumatera Barat ????
Yuk kita simak bersama-sama..

1. Air Terjun Lembah Anai - Tepi Jalan Raya Padang - Bukittinggi
Di sepanjang jalan dari kota Padang menuju Bukittinggi, kita akan melewati bukit dan lembah-lembah di mana di kanan-kiri banyak terdapat rumah makan dan jualan souvenir. Nah, namun istimewanya, di sudut jalan ini terdapat sebuah air terjun eksotik yang dinamankan Air Terjun Lembah Anai.


Penampakan Air Terjun Lembah Anai dari dekat
Spot air terjun ini tidak disarankan untuk mandi atau berendam , dikarenakan arus airnya juga sangat deras. Tapi cukup seru dan eksotik jika dijadikan objek foto. Tapi kalau mau foto sedekat foto saya di atas, siap-siap saja baju ganti ya, karena dijamin kalian langsung basah.
Harga tiket masuk sebesar Rp 2.000 / orang,- saat itu.

2. Sate Mak Syukur - Padang Panjang
Masih di antara Padang - Bukittinggi, ada sebuah daerah bernama Padang Panjang. Kawan-kawan harus coba mampir ke sebuah rumah makan bernama "Sate Mak Syukur". Rumah makan ini menyediakan sate padang asli ranah Minang dan rasanya tidak bisa anda cari di kota mana pun.

3. Bukittinggi
Tiba di Kota yang satu ini saya sarankan kawan-kawan menginap sehingga bisa mengeksplore segala keindahan yang ada di kota ini dengan maksimal. Bukan promosi, tapi saya bisa rekomendasikan untuk menginap di Hotel Bagindo yang letaknya cukup strategis. Dekat dengan berbagai objek wisata sehingga esoknya bisa berkeliling dengan berjalan kaki, dekat dengan berbagai rumah makan sehingga tidak perlu khawatir akan kelaparan, dekat dengan supermarket dan harganya juga terjangkau.

Saat itu saya kena Rp 250.000 / malam per kamar, included sarapan, 2 tempat tidur, kamar mandi dengan Bath Tub, Air Panas, dan kamarnya cukup luas, sehingga 1 kamar untuk 4 orang pun saya rasa cukup. Oiya, hotel ini tidak dilengkapi dengan AC, dikarenakan malam hari di kota Bukittinggi sangat sejuk udaranya.

Interior dalam Hotel Bagindo

Hotel Bagindo

Bukittinggi merupakan salah satu kota wisata terkenal yang berada di ranah Minang, Sumatera Barat, ada apa saja disana ?

A. Jam Gadang
Jam Gadang, Bukittinggi
Belum lengkap rasanya jika kawan-kawan berkunjung ke Bukittinggi tanpa berfoto di depan sebuah menara jam yang menjadi icon kota Bukittinggi ini. Untuk menuju kesini dari Hotel Bagindo bisa dicapai dengan berjalan kaki selama lebih kurang 10 menit atau naik angkot dengan biaya Rp 2.000,- hingga Rp 3.000,-/orang. Di sekitar jam gadang banyak sekali bisa anda temukan pedagang-pedagang yang menjual berbagai souvenir khas Bukittinggi, mulai dari kaos, topi, gantungan kunci, dll. Pesan saya, jangan ragu untuk menawar yak ! hehehe. Disini pun ada kuliner unik yang bisa kawan-kawan coba, namanya "Burger Talua". Konsepnya seperti Burger (roti isi) pada umumnya, hanya saja tidak diisi dengan daging, melainkan dengan talua dadar (telur dadar).

B. Pasa Ateh (Pasar Atas)
Ini merupakan surga belanjanya kota Bukitinggi. Bagi kawan-kawan yang muslim, disini terdapat banyak sekali pedagang yang menjajakkan mukena, baju koko dengan motif khas ranah Minang, dengan harga yang terjangkau dan bisa ditawar pula pastinya.

Di bagian depan pasar, kalian bisa temukan berbagai macam kerajinan tangan dan souvenir khas Ranah Minang yang pastinya bagus untuk anda bawa pulang dan hadiahkan pada sanak saudara.

Di bagian tengah pasar, anda bisa temuin berbagai kuliner khas ranah minang, salah satunya adalah Nasi Kapau.

Jika mau bersabar sedikit dan berjalan ke bagian belakang pasar disini terdapat sejenis "Pasar Bekas" dimana jika beruntung, kalian bisa mendapatkan berbagai macam produk "Branded" bekas dengan harga yang sangat miring. Tinggal pintar-pintar saja menawarnya.

C. Janjang Ampek Puluah ( Tangga 40 )
Bagi kawan-kawan yang penggemar batu cincin, permata, di sepanjang tangga ini banyak sekali dijajakkan berbagai macam batu alam, batu permata yang sangat bervariasi jenisnya. Bahkan kalian bisa menyaksikan langsung proses pembuatan, pemotongan dan pemolesannya yang masih menggunakan alat-alat yang sangat sederhana.

D. Taman Panorama, Lobang Jepang
Berjalan menjauhi Pasa Ateh dan Jam Gadang, sekitar 15 menit kalian bisa temukan sebuah taman Panorama dimana terdapat salah satu peninggalan jaman Jepang yang masih abadi hingga sekarang, yakni Lobang Jepang.

Saat itu, untuk masuk ke dalam taman Panoramanya dikenakan biaya Rp 3.000/orang dan Rp 5.000,-/orang untuk masuk ke Lobang Jepang.
Untuk masuk ke Lobang Jepang, disarankan menggunakan guide lokal agar tidak tersasar selama di dalam, karena memang Lobang Jepang yang ada disini sangatlah panjang dan terbesar di Indonesia. Tarif guide pun bisa ditawar.

Selamat Datang di Lobang Jepang !

Menuju ruang penyiksaan yang katanya paling angker

Tangga masuk ke dalam Lobang Jepang

View Ngarai Sianok dibagian belakang














E. Museum Perjuangan Kemerdekaan
Berada tidak jauh dari taman Panorama, bagi anda yang suka berkunjung ke Museum, disini terdapat pula Museum Perjuangan Kemerdekaan yang menceritakan tentang perjuangan memperebutkan kemerdekaan Indonesia,
Di dalam museum ini terdapat berbagai macam koleksi antik peninggalan jaman penjajahan Belanda

Berbagai macam senapan
Roket, Granat
Potret Bung Hatta
Peluru Meriam VOC


F. Benteng Fort de Kock
Benteng Fort de Kock

Berjarak sekitar 1 Km dari jalanan pusat kota Bukittinggi, terdapat sebuah benteng peninggalan jaman Belanda yang dulu dijadikan benteng pertahanan Belanda guna berlindung dari gempuran rakyat Minangkabau, tepatnya pada Perang Paderi 1821 - 1837. Benteng ini berdiri di atas bukit dan dikelilingi oleh 4 buah meriam di tiap sudutnya.Sekarang Benteng ini banyak digunakan sebagai tempat piknik keluarga.

G.Kebun Binatang Bukittinggi
Antara Benteng Fort de Kock dan Kebun Binatang dihubungkan oleh jembatan layang bernama "Limpapeh" yang membentang di atas jalan raya kota Bukittinggi.

Di atas jembatan Limpapeh

Buaya

Sejenis Rusa tutul
H.Martabak Mesir dan Teh Talua
Jika sudah tiba malam hari, di depan hotel saya menginap suka banyak jajanan malam, salah satunya adalah Martabak Mesir khas ranah Minang yang dapat kita beli dengan harga Rp 13.000 untuk satu telur dan Rp 20.000,- untuk dua telur.

Jika kalian mencoba nongkrong di beberapa warung pinggir jalan, kalian bisa juga mencoba minuman yang bernama "Teh Talua" (Teh Telur), dimana konon katanya minuman berfungsi untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan stamina, terutama untuk orang-orang yang sudah menikah. hehehe

Teh Talua
I. Koto Gadang, Kerajinan Perak & View Gunung Marapi
Koto Gadang bisa dicapai selama kurang lebih 30 menit menggunakan mobil dengan menuruni lembah menuju Ngarai Sianok.
Dimana disini dapat kita lihat berbagai macam arsitektur bangunan khas ranah Minang yang unik, dan ada pula Masjid Tapi Nurul Iman yang mempunyai gaya arsitektur klasik dan berdiri megah di dekat bangunan adat tersebut.

Selain bangunan yang unik, kawan-kawan yang suka perhiasan pun bisa berkunjung ke tempat pengrajin perak yang asli buatan tangan dan terdapat banyak di sekitar Koto Gadang.

Masjid Tapi Nurul Iman

Rumah adat di Koto Gadang
Jika kita bergerak lebih jauh menuju daerah yang mulai banyak rumah dan perkebunan, kebetulan ada rumah kawan saya juga yang tinggal di daerah Ngarai Sianok ini, maka kita bisa menemukan view Gunung Marapi yang berdiri kokok di kejauhan dengan hamparan sawahnya yang menguning.

Damainya bersantai disana di kala sore hari menjelang
J. Ngarai Sianok, Bukik Takuruang, Spot tersembunyi
Bergerak ke sisi lain bukit menggunakan kendaraan, maka kita akan menemui sebuah bukit yang seakan-akan seperti terkurung dengan aliran sungai deras di bawahnya, ya namanya "Bukik Takuruang".
Bukik Takuruang

View dari cafe yang menghadap langsung ke Bukik Takuruang
Bagi kawan-kawan yang ingin bersantai atau pun menginap sambil menikmati keindahan pesona Bukik Takuruang, kalian dapat berjalan sedikit ke atas dan menikmati sebuah Cafe yang juga menyediakan kamar untuk menginap untuk para pelancong yang ingin beristirahat. Bahkan, kamar ala bulan madu pun ada ! hehe

Ada satu spot yang tidak sengaja saya temukan sewaktu berkunjung ke sekitar Bukik Takuruang dan sekitarnya, spot ini agak masuk ke dalam dan jalan yang dilalui semakin sempit. Namun, kira-kira seperti inilah penampakannya :

Spot yang agak tersembunyi, tapi oke bangeeeet !!
4. Danau Maninjau dari Puncak Lawang
Dapat dicapai melalui jalur utara dengan melewati kota Bukittinggi. Waktu itu saya berdua kawan naik motor menuju kesana. Hanya saja, kami melihatnya dari atas (Puncak Lawang) sehingga tidak sempat merasakan "serunya" Kelok Ampek-Ampek (44 ). Hawa udara di Puncak Lawang sangat sejuk, sehingga pasti lambat laun kita akan merasa kedinginan. Disini pun juga banyak warung-warung yang menjual makanan & minuman untuk kita duduk bersantai sembari menikmati pemandangan yang ada. Danau Maninjau ini berada pada ketinggian 459 mdpl.

Danau Maninjau

Danau Maninjau dilihat dari Puncak Lawang
5. Danau Singkarak, Ikan Bilih
Terletak di antara 2 kabupaten, yakni Kabupaten Solok dan Tanah datar. Danau ini merupakan danau kedua terbesar di pulau Sumatera setelah Danau Toba yang berada di Sumatera Utara. Memiliki ketinggian 362,5 mdpl. Uniknya di danau ini hidup sejenis ikan kecil yang tidak bisa hidup di tempat lain selain hanya di danau ini, orang setempat menyebutnya "Ikan Bilih". Bagi kawan-kawan yang ingin menikmati Danau Singkarak dari dekat, dapat merapat ke pinggir sembari minum kopi menikmati indahnya ciptaan yang Maha Kuasa.. hmm sedaaap !!!

Danau Singkarak

Kelakuan salah seorang Driver yang absurd..hahaha

Sebenarnya, masih banyak lagi lokasi-lokasi wisata di Sumatera Barat yang belum saya kunjungi, seperti Lembah Harau yang merupakan Grand Canyon-nya Indonesia, Pantai Air Manis tempat legenda Malin Kundang si anak Durhaka, dan 2 kota budaya yakni Payakumbuah dan Batusangkar.

Sayang sekali, karena keterbatasan waktulah saya belum sempat berkunjung kesana..

Mungkin lain waktu..hehehe

cheers,

RPR - Sang Petualang
(Silahkan difollow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)