Kamis, 04 Desember 2014

Balada Pulau Air .. Benar-benar penuh "Air"

Latihan One Hand Stand :P
Hai.. Hai.. Hai..

Saya kembali lagi..

kali ini dengan membawa tema cerita yang agak berbeda dari sebelum-sebelumnya, yakni mengenai "Pantai, Laut, dan Pulau" yang baru-baru ini saya kunjungi bersama kawan-kawan dari komunitas Backpackers Jakarta (BPJ).


Ok, let's the story begin...

Berawal dari "keisengan" saya hadir di Kopdar BPJ yang diadakan di dekat patung Ikada (Monas) tanggal 18 Oktober 2014 silam, dilanjut dengan Kopdar di Taman Suropati tanggal 22 November 2014 (untuk pembentukan kelompok dan membahas teknis), akhirnya membawa saya menuju ke sebuah Pulau yang terletak dalam gugusan Kep.Seribu, yakni Pulau Air.

Jujur saja, meskipun sudah sering berkelana, tapi saya masih termasuk "newbie" dalam "menginjakkan kaki" di wilayah Kep.Seribu (padahal jaraknya termasuk dekat dari Jakarta).

Maka dari itu saya sangat excited saat BPJ mengumumkan akan mengadakan trip ke Pulau Air.

Petualangan saya kali ini bisa dibilang seperti "Bedol Desa".

Kenapa? dipastikan total peserta yang ikut mencapai 60 orang, dan dari berbagai macam latar belakang. Jadi sudah bisa kebayang lah yaa akan seperti apa "rusuhnya" disana? hehe

Serunya lagi, saat memutuskan untuk bergabung, nyaris 99 % peserta belum saya kenal. Paling saya hanya kenal Bang Derry selaku koordinator acara dan Indanna Zulfah yg pernah sama-sama ngetrip ke Gunung Munara di Bogor.

Sisanya? Saya "nyicil" kenalan saat Kopdar di Taman Suropati dan melalui sebuah grup di Whatsapp yang dijamin bikin baterai cepat habis..T-T


28 November 2014

Kumpul di Kota Tua
Berdasarkan hasil Kopdar tanggal 22 November 2014 yang bertempat di Taman Suropati, kami sepakat untuk bersama-sama "begadang" di Kota Tua Jakarta guna menghindari keterlambatan tiba di Muara Angke pada Sabtu pagi tanggal 29 November 2014.

(fyi, kapal dijadwalkan akan berangkat pukul 07.00 WIB )

Di Kota Tua inilah kami mulai mengenal satu sama lain sedikit demi sedikit dikarenakan memang banyak yang belum saling kenal. Ujung-ujungnya sih ga bisa tidur juga malam itu (Karena keasikan ngobrol dan nyamuk yang ga bisa diajak kompromi.. )


29 November 2014

Usai menunaikan sholat Subuh di masjid dekat Kota Tua, rombongan pun segera berangkat menuju Muara Angke dengan "menyarter" bus. Kalau tidak salah seorang dikenakan biaya Rp 4.000,- . Alhamdulillah semua bisa masuk, meskipun suasana sudah seperti ikan pepes.. hehehe

Sampai di Muara Angke !


Pasar Becek bin bau amis yang kami lewati

Setelah perjalanan sekitar 30 menit, tibalah kami di depan Pintu Pemukiman Nelayan Muara Angke.Berhubung saat itu macet (padahal masih jam 06.00 WIB), kami pun harus berjalan menyusuri pasar nelayan yang super becek dan bau amis untuk menuju pom bensin tempat kami akan bertemu dengan kawan-kawan lain yang tidak ikut begadang di Kota Tua.

Langsung Nangkring di atas kapal
Sebagian yang berada di sisi lain kapal
Jadwal keberangkatan kapal pagi itu cukup "ngaret", dikarenakan kapal baru berangkat saat waktu sudah hampir menunjukkan pukul 08.00 WIB sehingga kami harus menunggu cukup lama dari pukul 06.30 WIB.

Sekilas ketika saya melihat ke belakang, muatan kapal kami termasuk penuh , sehingga kami yang sudah duduk di luar tidak bisa lagi untuk masuk ke dalam.

Alhamdulillahnya, cuaca saat itu cukup cerah, ombak tidak terlalu besar, angin sepoi-sepoi, sehingga membuat kami sangat leluasa untuk berfoto.. ^^ V

Ini sebagian foto kehebohan kami selama berada di atas kapal :

Bagian depan kapal

Raut Muka kegembiraan

Sekitar pukul 09.46 WIB , kapal kami singgah di Pulau Pari untuk menurunkan beberapa penumpang, kemudian dilanjut menuju ke Pulau Pramuka dimana kami akan berganti dengan kapal yang lebih kecil untuk menuju tujuan kami, Pulau Air.

Satu jam setelahnya, kami tiba di Pulau Pramuka, dan langsung disambut oleh Bapak-Bapak Satpol PP dan Polres yang langsung menggeledah barang-barang bawaan kami, terutama para cowok.

Note : saya sarankan jangan membawa barang macam-macam seperti miras, narkoba, dllnya. Bahkan rumornya pisau lipat gunung pun akan disita juga (jika ketahuan).

Sekilas saya perhatikan, ada beberapa kawan yang benar-benar digeledah secara detail, mulai dari cek KTP, cek tiap barang bawaan, bahkan sampai kado yang dibawa pun harus dibuka, namun ada juga yang hanya dicek sebentar lalu disuruh lanjut (saya salah satunya)

Tiba di Pulau Pramuka
Biota laut di Pulau Pramuka
Ternyata masih di Propinsi DKI Jakarta ?
Setelah melewati berbagai pemeriksaaan dari Bapak-Bapak Satpol PP, kami segera berganti pakaian guna siap-siap ber-Snorkling ria, dan tak lupa makan siang untuk mengisi "kekosongan" perut kami yang sedari pagi sudah "demo". T-T

fyi, makan siang di Pulau Pramuka ini masih termasuk murah harganya. Dengan kombinasi Nasi + Tempe Orek + Telor Balado + Kentang hanya habis Rp 10.000, - saja.. ^^

Lanjuuuut !!!!

Sekitar pukul 12.30 WIB kami bertolak menuju Pulau Air.

Seperti inilah kapal yang kami pakai untuk ke Pulau Air
Berhubung kali ini menggunakan perahu yang lebih kecil dengan muatan yang cukup banyak, ombak menuju Pulau Air pun lebih terasa dan membuat kami serasa terombang ambing di lautan. Ibaratnya, seperti naik Kora-kora di wahana Dunia Fantasi lah.. :D
Tak jarang, air laut beberapa kali terciprat ke muka kami sehingga menambah keseruan kami di atas kapal.

Sesampainya di Pulau Air, kami pun langsung mendirikan tenda dan merapikan barang-barang (karena barang-barang tersebut akan kami tinggal selama kami Snorkling).

A Place of Nowhere.. sisi lain Pantai Pulau Air yang masih sunyi
Kelompok VI - Kak Boru, Restu, Bang Derry, Danna, Martha, Wulan, Irwan, Novi, Rezki (si Fara kemana yak? )

Perjalanan menuju tempat Snorkling pun dimulai !

Melintasi lautan yang berwarna hijau tozca dengan deburan ombaknya yang tenang membuat kami semakin terhanyut dalam suasana lautan saat itu. Tiada lagi suara bising-bising maupun polusi asap kendaraan bermotor yang umumnya selalu kami terima di kota-kota besar..

What a paradise !!

Spot yang pertama, berada tidak terlalu jauh dari tempat kami Camp, disini kita bisa melihat berbagai macam terumbu karang beserta ikan-ikan kecil yang berenang kesana kemari.

Jika anda bisa berenang, saya sarankan anda untuk menjelajah tempat ini tanpa menggunakan life jacket, sehingga anda benar-benar bisa merasakan berada di dasar dan merasakan indahnya biota laut di dalam sana.

Untuk Spot kedua, kami agak berbalik arah saat menuju kesana, namun sayangnya, spot kedua ini terlalu dalam, sehingga yang bisa kami lakukan hanya bernarsis ria sembari bermain-main tanpa sadar terus terbawa ombak dan menjauhi kapal. hahhaa

Berikut gambaran suasana Snorkling saat itu :

Seru-seruan terbawa ombak
Inilah saya..














Terumbu karang jelas terlihat












Suasana di dekat kapal
Main ombak di Spot kedua
Ketika hari sudah mulai gelap dan langit sudah terlihat mendung, kami segera kembali ke Camp untuk membersihkan diri kami dan menyiapkan makan malam (berhubung perut sudah kembali terasa lapar karena asik ber- Snorkling ria .. hehehe )

Salah satu moment seru ketika duo Edi "saling memandikan"
Suasana mandi sore itu terasa sangat seru , ibaratnya kami mandi sudah seperti di pos pengungsian saja, saling memandikan, guyur-guyuran, dan pastinya ketawa ketiwi.. :P Sayang, saya tidak sempat mendokumentasikan moment-moment seru tersebut, dikarenakan lagi sibuk mengantri giliran mandi juga.. hahaha..

Setelah merasa cukup bersih-bersihnya, saya pun segera kembali ke tenda guna menyiapkan makan malam bersama kawan-kawan yang nantinya akan kami makan bersama saat acara malam nanti.

Dapur kelompok VI
Setelah adegan masak - memasak selesai, kami segera berkumpul di tengah dengan beralasakan matras untuk kemudian menyantap makan malam bersama sekaligus mencicipi "hasil karya" tiap kelompok. Suasana malam itu bisa dibilang juga tidak kalah heboh. Karena sebelum makan pun, dibuka dengan joget-joget oleh kawan-kawan kami yang bisa dibilang kebanyakan energi.. heheheheh


Joget-joget sore sebelum makan
Suasana Makan
Tukang Nasi uduk keliliing :P

Setelah acara makan bersama, acara pun kemudian dilanjut dengan "Tukar kado". Dimana dalam acara ini kami semua diwajibkan membawa kado dengan minimal harga Rp 10.000,- dengan dibungkus koran untuk nanti akan diambil secara acak.

Pengumpulan kado
Persiapan prosesi pengambilan kado
Acara tukar kado ini pun berlangsung dengan seru, dengan tiap peserta yang hadir maju ke depan dengan memperkenalkan diri beserta domisili tempat tinggal, kemudian dilanjut mengambil kado.

Foto mengelilingi api unggun

Games "Neng ayo Neng, Bang ayo Bang"
"Kehebohan" pun terus berlanjut mulai dari mulai bernyanyi bersama sembari mengelilingi api unggun, menyanyikan lagu lokal, daerah, barat hingga akhirnya muncul permainan " Neng Ayo Neng, Bang Ayo Bang" yang semakin membuat suasana malam itu semakin seru, meskipun ujung-ujungnya agak - agak "menjurus" bahasanya. hahaha paham lah kalian.

Berhubung sudah merasa terlalu lelah, saya pun lebih banyak diam malam itu dan memutuskan untuk tidur lebih awal.

Dan seingat saya, acara nyanyi-nyanyi dan joget-joget tersebut baru benar-benar bubar pada pukul 04.00 WIB !! wooow, kalian luar biasa !!!.. hahhaha


30 November 2014

Pagi-paginya, sekitar pukul 05.00 WIB, kami bangun dan berjalan ke sisi lain pantai untuk menyaksikan fenomena Sunrise.

Kamehameha Sunrise
Sembari jalan di tepi pantai ini (cielaaah), saya perhatikan banyak terdapat vila-vila kecil yang seperti sudah tidak terurus, padahal saya pikir letaknya asik sekali tepat di dekat bibir pantai. Menurut info dari abang-abang kapal, vila-vila tersebut katanya baru dibersihkan jika yang punya ada rencana untuk main kesitu saja..

Hmm, orang-orang kebanyakan uang lah yaa..haha

Di pinggir pantai ini, banyak juga spot-spot seru yang bagus untuk dijadikan spot berfoto, cekidot!

Pantai yang masih terasa sunyi
Sisi lainnya





Mari berfoto
Berfoto di spot dermaga
Jika mau berjalan sedikit lagi menyusuri bibir pantai (dengan sedikit melewati pembatas berupa ranting-ranting), maka kita bisa menemukan spot-spot seperti ini, cekidot !


Salah satu spot eksotik yang saya temukan
Dan, jika bersabar sedikit lagi menyusuri jalan yang merupakan sambungan dari sungai, kawan-kawan bisa menemukan spot dengan air yang berwarna gradasi seperti ini, tapi dengan resiko harus rela basah-basah sedikit pastinya...hehehe

Salah satu spot eksotik di Pulau Air yang agak tersembunyi
Setelah puas berfoto-foto kami langsung bergegas kembali ke Camp untuk menyantap sarapan pagi dan langsung bersih-bersih sekaligus packing dikarenakan matahari sudah mulai meninggi dan kami pun masih ada tujuan lain yang harus dicapai sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.

Semangat pagi BPJ !!
Setelah semua beres, bergeraklah kami menuju penangkaran hiu yang berada terapung di tengah-tengah kepulauan Seribu.

Perjalanan menuju tempat penangkaran hiu, dicapai dengan cukup singkat, tidak sampai 30 menit kami pun sudah tiba di dermaganya dan langsung berkeliling menjelajah lokasi, ada pula yang sibuk mencari spot untuk berfoto-foto.. hehehe

Suasana di penangkaran hiu dalam bentuk panorama photo
terlihat beberapa anak hiu berenang kesana kemari



Dan inilah foto kami bersama,

Backpackers Jakarta "ngeksis" di Penangkaran Hiu

Setelahnya, kami bergerak kembali ke kapal dan menuju Pulau Panggang untuk transit dengan kapal yang lebih besar guna menuju pelabuhan Muara Angke.

Seperti biasa, di Muara Angke pun kapal tidak langsung jalan, sehingga cukup waktu bagi kami yang ingin jajan dan bersantai sejenak di dermaga.

"Ngamen" lagi di atas kapal
Sekali lagi, bukan BPJ namanya jika tidak heboh, kami pun kembali menggelar lapak di bagian belakang kapal, duduk melingkar dan kembali mendendangkan lagu-lagu sembari menggoyang agar suasana siang itu tetap hidup meskipun badan terasa sangat lelah.

Merasa mata masih terasa ngantuk, saya langsung "ngabur" ke bagian dalam kapal untuk mencari lapak yang bisa dipakai untuk tidur.

Sekitar jam 11.00 WIB, kapal pun berjalan menuju pelabuhan Muara Angke, dan saat itu saya berpikir inilah akhir dari perjalanan Trip Pulau Air kami semua.

Namun, ternyata alam berkata lain, baru kira-kira melewati setengah jam perjalanan, kapal kami pun berkali-kali dihantam oleh ombak yang cukup besar sehingga kemiringan sudah mencapai 45 derajat. Suasana cukup mencekam saat itu, karena di dalam orang-orang mulai banyak yang menyebut asma Allah dan satu persatu mulai mengenakan life jacket guna bersiap untuk kondisi terburuk yang mungkin terjadi.
Untungnya, saat itu saya berada di bagian atas, sehingga rasa mual dan pusing tidak terlalu berasa.

Ketika pulang, salah seorang kawan saya (Elde) bercerita tentang percakapannya dengan sang Nakhoda saat ombak besar tersebut menghantam, kira-kira begini penggalan percakapannya :
Elde (E) : Pak, kondisi seperti ini sudah sering terjadi ya?
Nakhoda (N) : Wah, saya baru pertama nih mengalami seperti ini mbak (muka pucat)

Begitu mendengar kalimat sang Nakhoda, saya yakin seyakin-yakinnya kawan saya itu pasti tidak berkata apa-apa. Kenapa? Nakhodanya saja sudah merasa tidak yakin, apalagi kami yang hanya penumpang? T-T

Karena merasa tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan, sekitar pukul 12.00 WIB kami pun kembali menuju ke Pulau Panggang. Disini, kami sempat beradu argumen tentang jadwal kepulangan kami, ada yang berani untuk pulang hari ini, ada juga yang memilih untuk menunda kepulangan sembari menunggu keadaan cuaca menjadi lebih bersahabat.
Akhirnya saya beserta 49 orang lainnya memutuskan untuk tetap pulang saat itu juga, dengan keadaan muatan kapal yang lebih penuh dari sebelumnya, dan sulit mendapatkan tempat untuk duduk (boro-boro deh mau tiduran kayak di kapal sebelumnya), dan 10 orang sisanya memutuskan untuk menunggu kapal berikutnya.

Posisi saya di kapal kedua
Benar saja, di kapal kedua yang akan mengantarkan kami ke pelabuhan Muara Angke / Kali Adem ini pun juga tidak terlepas dari hantaman ombak besar seperti sebelumnya.

Kapal oleng ke kiri dan ke kanan, bahkan beberapa kali air laut pun sempat masuk melalui bagian belakang kapal, hanya saja bedanya kali ini sang Nakhoda terlihat lebih ahli dalam memecah ombak sehingga kapal tidak oleng dalam waktu yang lama.

Posisi kami semua saat itu, rata-rata berada di bagian dek bawah, sehingga "goyangan" ombak menjadi lebih terasa daripada di kapal sebelumnya dimana saya berada di atas.

Beberapa dari kami yang masih terjaga, saya perhatikan mukanya pucat, entah menahan rasa mual atau memikirkan hal yang tidak-tidak. Ada yang memilih untuk tidur guna menyikapi rasa mualnya, ada yang sudah siap-siap berganti celana menjadi celana renang dan ada juga katanya yang sudah saling bermaaf-maafan seakan-akan yakin maut akan menjemput sebentar lagi.

Di beberapa bagian kapal, saya perhatikan juga ada sekelompok muda mudi yang sudah tidak sanggup berkata dan hanya bergandengan tangan sembari berpelukan satu sama lain.

Di sisi lainnya, ada juga sekelompok Ibu-ibu yang seperti sedang Tabligh Akbar dan tak henti-hentinya menyebut asma Allah.

Melihat berbagai macam kondisi yang ada di kapal saat itu,
sekali lagi, alam kembali "mengajarkan" kepada kami semua bahwa manusia hanyalah zat kecil dan tidak berdaya, terlebih jika alam sudah "mengamuk".

Berhubung tempat sudah tidak muat, saya pun tetap saja "bertengger" di dekat pintu masuk dimana air dan angin dengan bebasnya berkali-kali menghantam wajah saya. Asin choy !!!! -,-
akhirnya saya pun merasa tidak kuat berdiri dan memutuskan untuk duduk "nyempil" di antara kawan-kawan yang sedang tidur.

Anehnya, baru sebentar duduk, saya sudah merasa saya mual, bahkan melebihi mual saat berdiri dan Eng Ing Eng, Jackpot sebanyak 2x... -,-" (lambaikan tangan ke kamera menahan "Jackpot")

Saran : Kalau sudah berdiri, terus duduk di kapal oleng --> BAD IDEA !!
mendingan berdiri atau duduk sekalian tanpa berubah posisi !!

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB dan kota Jakarta mulai terlihat dari kejauhan, kawan-kawan kami pun kembali bangun dan (pastinya) kembali ceria . Padahal kalau diingat tiga jam yang lalu, jangankan bercanda, ngobrol saja sudah tidak terpikir saking mualnya.hehehe

Tak lama, saya pun juga mendapat kabar dari Irwan bahwa kelompok sisanya juga sudah akan merapat ke Kali Adem sebentar lagi.
Bagus lah, akhirnya kami bisa tetap pulang bersama-sama meskipun awalnya berbeda kapal.

dan inilah foto kami semua saat kembali tiba di Kali Adem,

Tiba dengan selamat di Pelabuhan Kali Adem

Satu hal yang terpikir oleh saya saat itu, Alhamdulillahi Robbil alamin, kami semua masih selalu dijaga oleh-Nya, dan bisa dibilang Trip kali ini menjadi salah satu Trip BPJ juga yang paling seru (kata si Edi M Yamin..hehe)

Tiada kata yang pantas terucap selain maaf untuk segala kesalahan baik kata atau pun perbuatan yang mungkin terjadi selama kita ngetrip bareng. Tentunya Terima kasih banyak kepada Bang Derry yang sudah berbaik hati mengkordinir segala keperluan Trip ini sehingga acara bisa berjalan lancar dari Jum'at malam hingga Minggu sore saat kita kembali ke rumah masing-masing.

Thanks buat Edi M Yamin selaku Admin BPJ yang ikut juga dalam trip ini, Thanks juga buat bro Abdul Mutakin yang foto-fotonya banyak beredar di blog ini, dan mungkin foto-foto punya kawan-kawan lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu disini.

Oiya, sebagai informasi , ini rincian biaya yang terjadi (versi saya) :

- Sharecost Rp 152.000,-
*Sewa Kapal Ferry Muara Angke - P.Pramuka (berangkat), P.Panggang - Kali Adem (Pulang)
*Sewa perahu kecil (Antar - jemput, Snorkling)
*Keamanan & Kebersihan Pulau
*Sewa Alat Snorkling
*Sewa guide Snorkling
*Beli nasi putih (makan malam)

- Sharecost logistik : Rp 20.000,-
- Patungan beli Aqua Galon dan air bilas : Rp 8.500,-
- Makan siang di pulau Pramuka : Rp 10.000,-
- Carter Bus & Angkot Kota tua - Muara Angke PP : Rp 9.000,-
- Ongkos Busway Blok M - Kota PP : Rp 7.000,-
- Biaya tidak terduga : Rp 10.000,-
-----------------------------------------------------------------------------------------------------+
Total : Rp 216.500,-


Mungkin cukup sekian dulu, semoga informasi yang ada dapat memberi manfaat, kurang dan lebihnya saya mohon maaf..

Cheer,

RPR - Sang Petualang
(Silahkan difollow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)

Kamis, 20 November 2014

Bersantai sejenak di Gunung Munara

07 November 2014

Berawal dari obrolan singkat saya dengan beberapa kawan di BPJ (Backpacker Jakarta) tentang Gunung Munara, sebuah gunung (atau lebih tepatnya bukit karena tingginya tidak sampai 2000mdpl) yang berada di desa Kampung Sawah, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, akhirnya membawa saya untuk mencoba menjelajah Gunung tersebut pada 7 November 2014 lalu.


Setelah kontak dengan "kuncen" Munara (Herdy Benk-Benk) sekaligus membicarakan ongkos untuk kesana sehari sebelumnya, berangkatlah saya menuju Bogor dengan menggunakan Commuter Line pada tanggal 7 November 2014 malam.


Setelah turun dari kereta, saya bertemu dengan Danna (kawan saya di BPJ) yang ternyata berada pada kereta yang sama. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB dan saya bergegas untuk keluar dari peron kereta menuju tempat Meeting Point yang sudah ditentukan.


Bertemu kawan-kawan baru di depan Stasiun Bogor
Disana, kami bertemu dengan peserta lain, sekaligus berkenalan dan memulai berbagai macam obrolan untuk mencairkan suasana (biar akrab gituh..hehe)

Oiya, Sharecost yang kami kumpulkan disini adalah Rp 50.000,-/ orang (kisaran untuk ke Munara Rp 39.000,- sampai Rp 50.000,- seorang ) sudah termasuk segalanya mulai dari tarif angkot bolak-balik, tips supir, dan biaya administrasi untuk masuk ke Gunung Munara.
Kebetulan saat itu sudah diatur oleh Herdy selaku Tour Leader kami selama perjalanan, sehingga kami hanya tinggal tahu beres saja.

Setelah menyelesaikan administrasi dan angkot datang, berangkatlah kami ber-19 menuju desa Kampung Sawah dimana tujuan kami sudah menunggu.

Ban bocor
Namun, terkadang, bukanlah sebuah petualangan jika tidak ada "hambatannya". Belum lama angkot berjalan ban kiri belakang kami kempes, setelah diganti ban dan angkot siap berjalan lagi, ban pun kembali kempes, namun di ban yang berbeda. Hal tersebut membuat sang sopir berinisiatif untuk mengganti mobil supaya tidak ada masalah lagi saat jalan.

Ternyata, masalah pun belum selesai sampai disitu, saat memasuki area hutan, gantian lampu yang tidak menyala sehingga membuat suasana jadi agak "mencekam" saat itu.


Pos Perizinan Gunung Munara
8 November 2014

Sekitar pukul 00.45 WIB, tibalah kami di pos perizinan Gunung Munara.

Setelah berisitirahat sebentar dan packing ulang  barang-barang yang akan dibawa, barulah pukul 01.23 WIB kami memulai perjalanan menuju Puncak Gunung Munara (niatnya sih sekalian liat sunrise..hehehe)

Perjalanan dibuka dengan jalur melewati rumah-rumah warga yang jalanannya bertanah merah (untung saja saat itu tidak hujan sehingga tidak licin), kemudian disambung dengan melewati jembatan yang tidak ada pegangannya menuju hutan bambu.

Setelah mencapai hutan bambu, jalan mulai terasa sedikit mendaki dan melewati batu-batu dan terus naik ke atas, hingga kami menemukan plang "Kramat Gunung Menara" (Munara dalam bahasa Sunda) seperti di bawah ini.

Plang Kramat
Melihat tulisan di atas ini, bisa saya simpulkan bahwa Gunung Munara termasuk sebagai gunung yang sering dijadikan daerah petilasan ataupun ziarah para tokoh-tokoh jaman dulu. Bahkan mungkin juga dijadikan tempat untuk mencari "ilmu".

Berhubung suasana saat itu cukup gelap, jadi saya tidak bisa melihat berbagai macam Goa dan objek wisata lainnya seperti Goa petilasan Soekarno, Batu Menara, dan tapak Kabayan yang ada di gunung ini.

Puncak Gunung Munara
Tepat pukul 02.23 WIB, yaitu setelah 1 jam berjalan (diiringi dengan istirahat 1x), kami pun tiba di Puncak Gunung Munara dan segera memposisikan diri untuk berfoto dengan plang Puncak. Tapi sampai hari ini saya pun masih ragu dengan tinggi Gunung ini sebenarnya. Ada yang bilang 1.119 mdpl, ada juga yang menyebut hanya 387 mdpl.




Puncak Gunung ini terdiri atas beberapa bongkahan batu-batu besar dan beberapa pohon yang saya rasa lumayan sebagai tempat berlindung saat matahari mulai naik di siang hari.

Bisa saya bilang, suhu di Puncak tidaklah dingin, jadi dengan bermodalkan jaket tipis saja juga tidak masalah.

Setelah mencari "lapak" masing-masing untuk beristirahat sembari menunggu datangnya "sunrise", kami pun segera mengisi perut dengan memasak Indomie dan pastinya Kopi sebagai kawan saat kami bebincang malam..hehehe.
Tapi ada juga kawan-kawan kami yang tiada henti-hentinya berfoto di berbagai sudut Puncak (padahal gelap juga gituh.. -,- )

Sekitar pukul 05.30 WIB, barulah yang ditunggu-tunggu muncul dengan indahnya, sehingga terciptalah berbagai foto-foto di bawah ini :

Selamat Pagi dari Puncak Gunung Munara

Rebutan nyari spot buat foto

Ini kawan gw si Danna

Menikmati fenomena Sunrise

Setelah "kenyang" foto-foto dan makan, kami pun segera beranjak turun sebelum matahari terasa sangat terik, dan barulah di perjalanan saya menemui berbagai macam objek yang tidak bisa saya lihat ketika malam hari.

Salah satunya ada batu tinggi menjulang yang disebut dengan batu menara adzan yang konon katanya dulu dipergunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan, kemudian ada Goa Soekarno yang pernah dijadikan petilasan bung Karno untuk bersemedi, dan tapak Kabayan yang besarnya sekitar 2 kali kaki manusia dewasa normal.
Sayangnya ketiga tempat tersebut tidak saya foto ---,---

Tidak jauh dari ketiga objek tersebut, kami juga mengunjungi Goa yang dulunya sempat djadikan tempat Petilasan Sultan Maulana Hasanuddin Banten (Putra Sunan Gunung Jati) dan kemudian berfoto lagi di depan plang Gunung Munara.

Suasana turun dari Puncak

Goa Petilasan Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Berfoto di Batu besar plang Situs Gunung Munara (dekat warung)

Kemudian, perjalanan kembali dilanjutkan, dan spot terakhir yang kami kunjungi adalah Puncak Batu Belah. Tapi, berhubung saya sudah agak lelah saat itu, jadinya saya tidak melanjutkan hingga ke batu paling atas, tapi yang seru, diantara batu belah terdapat Goa yang bagus untuk dijadikan tempat foto, kira-kira seperti inilah pemandangannya saat itu :

View dari Batu Belah (tidak sampai atas tapinya)

Goa Batu Belah

Oh iya, dibawah sedikit, setelah melewati berbagai tangga batu, terdapat Goa yang disebut sebagai kandang kuda, seperti ini rupanya :

Goa Kandang Kuda


Alhamdulillah, sekitar pukul 10.30 WIB, kami semua tiba kembali di pos perizinan dan segera beristirahat sejenak sembari menunggu angkot yang akan menjemput dan mengantar kami kembali ke Stasiun Bogor.

Barulah sekitar habis Dzuhur, kami segera bertolak ke Stasiun Bogor untuk kembali ke rumah masing-masing. Kembalinya kami ke Stasiun Bogor bisa dibilang menutup petualangan kami hari itu.

Bisa dibilang, team saya kali ini merupakan team yang paling narsis, karena sepanjang jalan penuh dengan foto-foto, bahkan di peron serta di dalam KRL pun tidak pernah berhenti untuk berfoto dan mengabadikan segala moment yang ada.
Benar-benar super eksis, tapi saya salut karena mereka ga ada yang jaim..hehe

Sebelumnya juga saya ucapkan terima kasih kepada kawan saya Herdy Benk-Benk beserta team Ants-nya yang sudah mau mengantar kami semua kesana.

Dan inilah beberapa foto yang saya anggap paling menggambarkan kekompakan dan kehebohan kami saat itu (sayang formasi sudah tidak lengkap karena sudah ada yang pulang duluan).
Yah anggap saja sebagai ekspresi kegembiraan dan keceriaan kami yang sedih karena sebentar lagi harus berpisah (cielaaaaah...hahaha)

cekidot!

Rusuh di pinggir Rel

Rusuh di pinggir Peron

Rusuh di dalam KRL

Oke, mungkin segitu dulu ceritanya kali ini, sampai jumpa lagi di lain kesempatan...
Pastinya, di destinasi yang jauh lebih seru!!
hehehe

Sekali lagi, saya pribadi mengucapkan terima kasih banyak juga untuk kawan-kawan yang masih setia membaca blog saya..
Semoga informasi yang ada dapat bermanfaat buat kawan-kawan yang ingin ke Gunung Munara.


Cheers,
RPR - Sang Petualang
(Silahkan difollow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)

 

Minggu, 09 November 2014

Menghadapi Pencopet "berkedok" Pengamen

Pernah KECOPETAN ?

Cukup dijawab dalam hati saja yaa, karena saya yakin rasanya pasti ngenes saat barang kita raib diambil orang.

Bagi orang-orang yang sering bepergian dengan menggunakan kendaraan umum, macam bus, kereta, dll nya harus sangat waspada terhadap barang-barang yang kita bawa, karena lengah sedikit saja, bisa-bisa barang tersebut akan langsung "berpindah tangan" alias diambil orang.


Kali ini, saya mau "sharing" sedikit tentang beberapa kejadian yang saya alami, dan Alhamdulillah saya pun menemukan solusi "cerdik" yang In sya Allah bisa mencegah terjadinya kasus kecopetan tersebut di kemudian hari. Yuk disimak !


KRONOLOGIS KEJADIAN
Beberapa waktu lalu, sepulang dari kantor dan singgah di terminal Blok M untuk berganti bus, (tidak ada maksud untuk menjelekkan suatu tempat, tapi memang pada kenyataannya sering juga terjadi disana) saya langsung mengambil bus 610 jurusan Blok M - Pd.Labu, dan dengan alasan agar bus cepat jalan, saya ambil di dekat pintu keluar peron.

Tidak lama saya duduk, masuklah 4 orang pemuda, dimana keempatnya memakai topi dan mengucapkan kata-kata yang pastinya sering anda dengar :

 "Lapar Tuan Lapar Nyonya, Bapak Ibu, Mas-mas, Mbak-mbak sekalian, kedatangan kami disini tidak ingin berbuat keonaran, bla bla bla kami berharap dibalik kerapihan anda sekalian masih tersimpan jiwa-jiwa sosial bagi kami anak-anak jalanan. Bukan kesombongan anda yang kami butuhkan, melainkan uluran tangan anda, apalah artinya seribu-dua ribu, tidak akan membuat anda jatuh miskin, lebih baik kami meminta daripada kami harus menodong anda !! "


merasa sering mendengar kalimat tersebut saat naik bus kota ?

Tak lama, mereka pun akan langsung menyodorkan topi untuk meminta uang anda dan uniknya keempat pemuda tersebut secara beurutan menengadahkan topi kepada anda, bahkan mereka meletakannya hampir mengenai wajah.


Saya pun sudah memberi uang receh yang saya punya, karena saya paham orang-orang seperti ini jika tidak diberi tidak akan langsung pergi tanpa berusaha keras dulu (memaksa).
Anehnya, mereka pun tidak kunjung pergi meskipun sudah saya beri uang.


Barulah, setelah mereka pergi, dan akan membayar ongkos bus, saya menyadari bahwa uang yang terdapat di saku kiri saya sudah raib dicopet oleh mereka. Satu yang saya ingat, ternyata topi-topi yang mereka sodorkan ke muka itulah yang mereka gunakan sebagai kamuflase untuk menutupi gerakan tangannya saat merogoh atau membuka retsleting tas kita.


Kejadian kedua, masih di terminal yang sama, kejadiannya baru kemarin tanggal 8 November 2014 saat saya pulang dan memang harus melewati terminal Blok M. 
Setelah saya naik Bus 72 jurusan Blok M - Lebak Bulus, lagi-lagi masuk 2 pemuda dengan menggunakan modus yang sama, tapi Alhamdulillah kali ini tidak ada barang saya yang hilang, tapi hanya retsleting yang terbuka sedikit.


Ini ciri-ciri mereka agar anda bisa lebih waspada  :

1. Umumnya berkelompok, selalu 2-4 orang
2. Bergaya seperti anak punk, baju compang camping, celana ketat, terdapat tindikan dan tatto dalam jumlah banyak, namun terkadang bisa juga memakai kemeja flanel motif kotak-kotak
3. Tidak memakai gitar (karena memang niat mereka bukan ngamen, tapi MENCOPET )
4. Seluruhnya memakai topi


SOLUSI
Serba salah memang jika kita melihat modus kejahatan baru ini, "pencopet berkedok pengamen/orator". Mungkin anda akan sempat berpikir, "Jika saya bawa kendaraan pribadi malah bikin macet, terjebak macet dll, sedangkan naik kendaraan umum malah keamanan tidak terjamin"


Kabar baiknya, saya punya solusi yang bisa membuat mereka "mati kutu" saat akan menjalankan aksinya, trik ini bisa ditiru oleh siapa saja, dan tidak perlu menghabiskan energi sedikitpun saat berhadapan dengan mereka.

Saya tegaskan, kita tidak perlu melawan mereka dengan meneriaki atau menggunakan kekerasan untuk mengusir mereka, karena percayalah, saya yakin itu bukanlah pilihan bijaksana.

Sejenak, jika anda beruntung mungkin mereka akan merasa malu dan langsung keluar, namun jika anda sial, bisa saja mereka memanggil komplotannya untuk mencegat anda suatu saat di jalan dan menimbulkan masalah bar (Saran saya, ga usah nyari masalah deh sama orang-orang kayak gini, ga penting !! )


Cara mengatasinya, jika anda betul-betul tidak ingin berjumpa dengan mereka, dan jika anda berniat naik bus seperti metro mini 610, 72, 69, 74, 71, saya sarankan anda jalan sedikit hingga mencapai taman sepeda yang terletak di depan pintu masuk Blok M Square, dan langsung naik dari sana, karena umumnya mereka hanya "beroperasi" dari dalam terminal hingga bus akan berangkat.


Namun jika apesnya anda harus naik bus di depan terminal dan bertemu dengan mereka, silahkan trik sederhana ini dicoba..


Carabiner ukuran kecil
Pernah lihat benda mungil di atas? 
Ya, itu adalah CARABINER, salah satu alat yang digunakan oleh para pendaki untuk kegiatan panjat tebing.
Saat ini Carabiner sangat mudah didapat, anda dapat menemukannya di berbagai toko perlengkapan Outdoor dengan harga yang relatif terjangkau, dan pastikan beli yang ada "kuncinya" biar makin oke. Jangan lupa, beli yang ukuran kecil saja agar tidak terlalu mencolok. hehe


Bagaimana cara menggunakannya?
Anda dapat menggunakan alat tersebut di tas bagian depan tas, atau pun tempat-tempat dimana anda menyimpan barang-barang penting seperti dompet, handphone dan barang-barang penting lainnya


Teknisnya, buka kunci Carabiner dengan memutarnya seperti sekrup dan masukkan ke dalam lubang retsleting anda.
Misalnya, pada tas saya pribadi, saya letakkan pada retsleting tas bagian depan, karena memang itu bagian yang paling mudah dibuka oleh para pencopet.

Letakkan Carabiner pada retsleting yang sekiranya paling mudah dibuka

Masukkan Carabiner ke dalam lubang

Setelah masuk, kawan-kawan hanya tinggal mengaitkan Carabiner ke dalam lubang retsleting yang satu lagi, dan kemudian menguncinya.
Lakukan selalu ketika kawan-kawan berada di luar ruangan, terutama saat akan menaiki berbagai macam kendaraan umum,  sehingga tercipta kondisi seperti ini :



Dengan trik sederhana ini, In sya Allah bisa membuat kita terhindar dari resiko kehilangan barang akibat kecopetan, setidaknya bisa membuat mereka (para pencopet) keki karena kesulitan membuka tas kita dan merasa malu karena niatnya sudah ketahuan..

Ingat kata bang NAPI,
"KEJAHATAN BISA TERJADI BUKAN HANYA KARENA ADA NIAT DARI PELAKUNYA, TAPI JUGA KARENA ADANYA KESEMPATAN.. WASPADALAH.. WASPADALAH !!"

So, jangan pernah memberi mereka (para pencopet) kesempatan maupun celah sedikit pun !!


Semoga bermanfaat..

Salam,

RPR- Sang Petualang
(Silahkan difollow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)