Selasa, 06 Oktober 2015

City Tour Yogyakarta..

Awal September 2015 lalu, saya bersama 7 orang kawan berkesempatan untuk mengunjungi D.I Yogyakarta. Sebagai persiapan, kami pun sudah membeli tiket kereta keberangkatan pada 2 bulan sebelumnya.

4 September 2015
Malam Pukul 21.00 WIB kami sudah berkumpul di Stasiun Senen untuk menanti KA Progo yang akan mengantar kami menuju Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Tepat pukul 22.30 WIB kami berenam pun berangkat untuk menyusul 2 kawan yang sudah lebih dulu tiba di Yogyakarta.

5 September 2015

Sesuai dengan jadwal, sekitar pukul 06.55 pagi, kami sudah tiba di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Hal pertama yang kami lakukan adalah bersih-bersih diri sejenak, dilanjutkan dengan mencari kawan kami (Jeral) yang sudah tiba lebih dulu di Yogyakarta. Tak lama, mobil yang disewa pun sudah tiba, dan kami langsung bergerak menuju Bandara Adisucipto, Yogyakarta untuk menjemput kawan kami yang baru saja landing (Bang Hendrik).


A. Gunung Api Purba Nglanggeran
Bisa dibilang, perjalanan kami ke Yogyakarta kali ini seperti tanpa itinery (rencana perjalanan). Walaupun sudah direncakan jauh-jauh sebelumnya, tapi seakan-akan rencana tinggallah rencana  disana. Dan ketika kami bergerak menuju Gunung Kidul, Wonosari, objek wisata Gunung Api Purba Nglanggeran lah yang menjadi tujuan pertama kami.


Tiba di lokasi Gunung Api Purba Nglanggeran
Untuk biaya masuk, dikenakan sebesar Rp 7.000,-/orang, dan parkir mobil sebesar Rp 5.000,-. Oiya, bagi kalian yang ingin sarapan terlebih dahulu, di dekat lokasi pintu masuk (berjarak sekitar 50 meter) terdapat aneka warung makan dengan harga yang pastinya tidak merusak kantong. Kami pun memilih untuk makan di salah satu rumah makan Padang yang ada disana.

Perjalanan pun dimulai !
Sekilas, jalan yang harus dilalui ketika berkunjung di Gunung Api Purba ini terlihat seperti Gunung Munara yang ada di kecamatan Rumpin, Bogor. Yakni sama-sama melewati jalur dengan bebatuan besar di kanan dan kirinya, namun bedanya tidak melewati jalur hutan. Di dalam kawasan ini saya rasa tidak terlalu memerlukan guide, dikarenakan memang petunjuk arahnya sudah sangat jelas, bahkan disetiap belokan pun bisa kalian temui berbagai petunjuk arah.

Bagi yang ingin mencoba camping, di dalam kawasan ini pun disediakan sebuah lahan datar yang tidak jauh dari pintu masuk. Untuk harganya, mohon maaf saya tidak sempat menanyakan.

Camping Ground yang ada disana

View dari bawah
Oiya, tidak jauh setelah melewati jalan dengan bebatuan besar ini, nanti akan kalian temui sebuah lorong yang bisa dibilang sangat sempit dan kami pun harus agak merangkak sembari menaiki tangga untuk melewatinya. Ya, namanya adalah Lorong Sumpit. Rasakan sendiri sensasinya melewati lorong tersebut jika kalian kesana yak...

Lorong Sumpit

View dari Pos 1 Gunung Api Purba
Untuk mencapai tempat seperti di foto sebelah ini, kami memerlukan waktu sekitar 40 menit dengan berjalan kaki (udah termasuk dengan foto-foto aneka rupa dan istirahat, santai banget lah pokoknya..) Dari sini pun menurut saya pemandangan sudah cukup oke. Karena kami seperti berdiri diantara tebing-tebing besar dengan pemandangan luas dibawahnya. Kalau  tidak salah mungkin ini yang dimaksud dengan Pos 1 Gunung Api Purba Nglanggeran.

Melanjutkan perjalanan kembali, tidak lama kami pun bertemu dengan sebuah area terbuka dengan pemandangan yang tidak kalah bagus dari sebelumnya. Bisa dibilang ini Puncak Bayangan dari Gunung Api Purba.

View dari Puncak Bayangan

Bagian lain Puncak Bayangan

We-fie di Puncak Bayangan
Berhubung hari sudah siang dan hari sudah semakin panas, kami pun memutuskan untuk turun kembali ke bawah tanpa mengunjungi Puncak dari Gunung Api Purba dan melanjutkan ke destinasi berikutnya yakni Embung Nglanggeran.


B.Embung Nglanggeran
Untuk menuju kawasan ini, cukup bergerak kembali ke jalan utama dan ikuti petunjuk arah hingga menemui gerbang masuk dimana dikenakan sebesar Rp 5.000,-/orang dan Rp 5.000,- sebagai biaya parkir mobil.
Secara umum, Embung Nglanggeran bisa dibilang adalah sebuah waduk buatan. Untuk mencapai tepinya harus dilalui dengan menaiki beberapa anak tangga. Tenang saja, tidak banyak kok... hehehe

Selamat datang di Embung Nglanggeran

Embung Nglanggeran

View dari atas
Waktu yang terbaik untuk mengunjungi Embung ini adalah pada sore menjelang malam hari, dikarenakan cuaca biasanya sudah tidak terlalu panas saat itu. Ditambah dengan adanya lampu-lampu yang menyala di berbagai tepian Embung pastinya akan semakin menambah cantik suasana malam.


C. Tubing Sungai Tegal Arum 
Menuju kawasan ini, sama seperti mengarah ke wisata Goa Pindul, karena memang lokasinya yang bersebelah. Hanya saja kalau Goa Pindul itu melewati sungai yang berada di dalam Goa bawah tanah, Tegal Arum hanya melewati sungai diantara bebatuan.

Saran : berhubung pintu masuk/loketnya banyak, pilihlah jalur resmi dimana terdapat orang yang menggunakan seragam dan name tag resmi .Karena yang terjadi pada kami waktu itu adalah, banyak orang-orang yang berusaha untuk terus menawarkan jasanya meski kami sudah menolak, bahkan "rusuhnya" ada yang sampai terus mengikuti dengan motor seperti orang mau "membegal". Hadeeeeeeh. Pastikan anda berani untuk menolak jika memang merasa tidak yakin.

Sampai akhirnya, kendaraan kami pun terhenti oleh sebuah portal dimana dijaga oleh orang-orang yang mengenakan seragam wisata goa Pindul. Setelah bertanya sana sini, akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti mereka dan diantar langsung menuju pintu masuk menuju tempat wisata Sungai Tegal Arum.

Disana, kami langsung disambut oleh seorang pemandu yang langsung menjelaskan harga beserta fasilitas yang akan kami dapat. Disepakatilah harga Rp 50.000,-/orang sudah termasuk bonus Flying Fox/Semangkuk Bakso, lengkap dengan welcome drink (Teh hangat bebas refill) dan mobil penjemputan. Tidak lupa biaya parkir Rp 5.000,-.

Saran : banyaklah bertanya terlebih dahulu tentang kondisi dan tempat-tempat yang akan dijelajahi agar tidak menimbulkan salah paham atau misskom nantinya.

Setelah selesai memakai segala perlengkapan mulai dari safety vest, sepatu, dan topi pelindung (jika dirasa perlu), kami diantar oleh pemandu menuju tempat petualangan kami akan dimulai. Hmm, yang sedikit mengecewakan saat itu adalah, berhubung air sedang agak surut (karena musim kemarau) sehingga saat menaiki Tubing (ban dalam) bisa dibilang kurang nuansa petualangannya, ditambah karena airnya yang sedang sangat surut, membuat pantat kami (maaf) sering tergores oleh bebatuan yang berada di dasar sungai. -,-

Bersiap-siap sembari wefie. Photo Doc by : Septia Endang

Air terjun yang ada di Tegal Arum
Alhamdulillah airnya sejuk
Dibagian akhir sungai dimana terdapat batu besar, kalian bisa melepaskan ban dan ber-body rafting ria, bahkan jika bernyala besar, silahkan untuk melompat dari atas batu yang bertinggi kurang lebih 2-3 meter. Petualangan kami disini pun berakhir setelah kami menaiki tangga ke atas, melewati jalur diantara sawah dan dijemput oleh mobil bak terbuka kembali menuju loket pendaftaran.


D. Pantai Pok Tunggal
Untuk menuju Pantai yang satu ini, diperlukan waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam melintasi jalan di tepi pantai dan berkelok-kelok. Kondisi jalannya, meskipun bagus namun sangat sepi. Jika sudah memasuki jalan yang semakin mendekati pantai, jalanan pun akan berganti menjadi jalanan aspal berpasir dengan beberapa kali terdapat seperti timbunan pasir besar di kana atau kirinya. Sayangnya, saat kami tiba di sana hari sudah cukup gelap, ditambah air laut sedang surut, sehingga tidak banyak yang bisa kami lakukan disana selain menyantap semangkuk Mie Goreng dan Es Teh Manis untuk mengisi kekosongan perut kami. Untuk izinn masuk pantainya, dikenakan biaya Rp 10.000,-/orang, dan parkir mobil Rp 5.000,- . Berikut gambaran kondisi yang kami dapat saat itu, dan yang "seharusnya" kami dapat jika tiba lebih cepat.

Suasana sore menjelang malam itu dimana air sedang surut. Model by : Salis

Suasana pantai yang seharusnya kami dapatkan. Sumber : www.google.com/www.yukpiknik.com
 
E. Menuju Malioboro (Check in Hotel Karunia)
Menuju Jl.Malioboro, yakni sebuah jalan yang saya rasa hampir semua diantara kalian pasti tahu dan mungkin sudah beberapa kali kesini karena memang suasananya yang sangat homy, dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dari Pantai Pok Tunggal hingga akhirnya kami bisa tiba di Jl.Malioboro dan langsung menuju hotel tempat kami akan menginap. Ya, kami menginap di Hotel Karunia yang berada di Jl.Sosrowijayan no.78, tidak jauh dari Malioboro.

Hotel tempat kami menginap
Tidak salah memang semboyan dari hotel ini, satu kamar bisa dihuni setidaknya maksimal 3 orang (1 harus dengan ekstra bed), ada kamar mandi dalam, AC, TV, Lemari, gantungan baju, serta dapat sarapan di paginya. Tersedia juga halaman parkir bagi kalian yang membawa kendaraan baik motor maupun mobil. Untuk harga ter-updatenya, silahkan langsung dihubungi nomor yang tertera di atas ya.


F. Makan di Angkringan & Kopi Joss
Salah satu yang khas ketika berkunjung ke Yogyakarta adalah, kalian mesti dan wajib mencoba makan di Angkringan. Umumnya angkringan maupun lesehan ini banyak tersebar di sepanjang Jl.Malioboro, namun yang kami pilih malam itu adalah deretan angkringan yang terdapat di seberang Stasiun Tugu. Dan tak lupa, untuk mencoba "Kopi Joss" yang katanya diberi arang. Alhamdulillah, disini kami bisa makan dengan kenyang dan tentunya dengan harga murah. Saya berdua dengan kawan saja hanya dikenakan Rp 42.000,-  dengan rincian :
2 Kopi Joss
2 Nasi isi Teri
2 Sate Telur Puyuh
2 Sate Bakso
2 Sate Ati
1 Sate Usus
1 Es Teh Manis
1 Teh Manis Hangat
Kopi Joss
Kenyang yak ? :p

G. Alun - Alun Selatan ("Mobil" LED Warna Warni & Pohon Beringin Kembar)
Setelah kenyang makan malam, kami berniat untuk mengunjungi Alun-alun Selatan yang mana lebih banyak dikenal orang karena terdapat 2 pohon beringin kembar yang konon katanya menyimpan sebuah cerita mistis. Hmm seperti apa ya ? jadi penasaran. ^^

Untuk menuju kesana, kami pun menumpang Andong dengan tarif Rp 80.000,- yang artinya sebesar Rp 10.000,-/orang dari Jl.Malioboro menuju Alun-Alun Selatan.

Wahana Mobil LED warna-warni
Di kawasan Alun-Alun selatan ini pun terdapat "wahana permainan" berupa sepeda kayuh berbentuk mobil yang dihiasi oleh Lampu LED berwarna warni. Memang, jika sedang pergi bersama kawan, hal-hal yang terkesan sepele atau kekanak-kanakan pun tetap menjadi SERU ! Untuk bisa menikmati wahana ini, kami dikenakan Rp 60.000,- untuk 2x putaran mengelilingi Alun-Alun.

Selepas bermain "Mobil", kami berjalan ke arah dua pohon beringin kembar untuk mencoba mitos yang selama ini beredar. Konon katanya, jika bisa menyeberang dengan mulus dengan mata tertutup diantara dua pohon ini, maka keinginannya akan terkabul. Dan uniknya lebih banyak yang gagal saat berusaha menyeberanginya. Begitu pun dengan kawan kami yang mencoba, dia malah malah berbelok jauh , bahkan hampir menabrak orang. Duh !

Pohon Beringin Kembar di Malam hari
Menurut info yang saya kutip dari http://www.kumpulanmisteri.com/2015/03/misteri-pohon-beringin-kembar-di-alun.html, Tradisi melintas di antara kedua pohon beringin kembar disebut tradisi masangin. Artinya adalah memasuki diantara 2 pohon beringin. Dimana kepercayaan masyarakat sekitar adalah barang siapa yang bisa melewati kedua pohon beringin tersebut dengan mata tertutup tanpa melenceng akan terpenuhi segala permintaannya. Sayangnya banyak yang sudah mencoba berkali-kali tetapi tetap saja gagal mencoba tradisi itu hingga bisa menyebrang dengan sempurna. Padahal secara logika, jarak antara 2 pohon beringin tersebut cukup lebar untuk di lewati.

Menurut legenda lama , tradisi tersebut diawali oleh permintaan putri Sultan Hamengku Buwono VI yang akan dinikahkan akan tetapi tidak begitu menyukai calon yang sudah dipilihkan oleh sang ayah. Maka dari itu sang putri memberi syarat jika pria tersebut bisa melewati ke dua pohon beringin dengan mata tertutup maka dia bersedia menikah. Ternyata syarat yang diberlakukan sang putri tidak bisa dilakukan oleh pria tersebut. Hingga akhirnya sultan memberikan maklumat bahwa siapa saja pria yang bisa melewati 2 pohon beringin tersebut berarti memiliki hati yang benar-benar tulus dan akan dinikahkan dengan sang putri. Entah sudah berapa banyak pria yang mencoba hingga pada akhirnya ada satu pria yang bisa menaklukan tantangan tersebut yakni putra pangeran dari Prabu Siliwangi.

Setelah puas bermain dan berfoto-foto disekitar Pohon, kami pun segera kembali ke penginapan untuk beristirahat dengan menggunakan becak motor. :D

H. Berburu Oleh-Oleh di Malioboro

Jl.Malioboro pagi itu
Pagi yang cerah di Malioboro, saya dengan beberapa orang kawan pun memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Malioboro setelah menyelesaikan sarapan di Hotel . Terlihat saat itu toko-toko belum banyak yang buka. Karena ya memang masih sekitar pukul 08.00 WIB. Kami pun menikmati pagi yang cerah tersebut dengan berjalan kaki dari ujung-ujung sembari "mengeker" oleh-oleh ataupun barang-barang yang akan dibeli untuk dibawa pulang ke Jakarta. Bisa dibilang hingga menjelang siang hari pun kami masih "betah" berada disini. Di sepanjang jalan Malioboro ini dijual berbagai macam aneka jenis barang. Mulai dari kerajinan batik (Selendang, tas, kemeja, dll), gantungan kunci, aneka souvenir berupa miniatur Gunung Merapi, Candi Prambanan, Candi Borobudur. Dan masih banyak jenis-jenis lainnya yang tidak mungkin saya absen satu persatu.

Oiya, bagi kalian pecinta kuliner, jangan lupa untuk mencoba makanan khas Yogyakarta, yakni Lumpia, terutama yang terletak di seberang Hotel Mutiara. Untuk Lumpia, dijual per buah dengan harga Rp 3.000,- hingga Rp 3.500,- dan satu kotaknya bisa memuat 10 buah. Jangan lupakan juga Bakpia yang berada di beberapa gang sebelum Jl.Sosrowijayan. Bakpia disini dijual dengan konsep toko yang menurut saya cukup unik. Bahkan di lantai 2 toko tersebut dijual juga aneka batik. Fyi, sekotak Bakpia di toko tersebut dijual dengan harga Rp 33.000,-/kotak. Terbagi menjadi yang original dan blasteran (campur dengan aneka rasa baru).

Toko Bakpia yang unik

Ini disebut Bakpia Blasteran

I. Keraton Yogyakarta

Pintu Masuk Keraton
Keraton Yogyakarta ini sekaligus menutup petualangan singkat kami di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Untuk tiket masuknya dikenakan sebesar Rp 5.000,-/orang, dan dikenakan biaya parkir Rp 10.000,-/mobil. Keraton ini terletak di dekat Alun-Alun Utara dan masih sering digunakan jika sedang ada acara adat keluarga kerajaan. Pada bagian pertama saat kami masuk, terdapat aneka diorama patung dengan menggunakan baju adat kerajaan. Kemudian disambung dengan tembok penuh ukiran yang menggambarkan tentang salah satu perjuangan di masa lalu. Pada bagian lainnnya, terdapat ruang dengan berbagai macam foto kereta masa lampau dan disebelahnya terdapat foto para Sultan beserta keterangan data diri mereka (termasuk jumlah putra yang dimiliki sebagai penerus tahta).

Pada bagian belakang, terdapat tangga menurun dari dua sisi dimana terdapat lorong yang cukup panjang dan kami rasa seru untuk dijadikan tempat berfoto. Sebenarnya saya yakin masih ada ruangan lagi di bagian belakang, namun sayang saat itu pintu tertutup rapat.


Tembok berisi ukiran perjuangan masa lampau

Ruangan berisi foto kereta kuno
Ruangan foto dan data diri para Sultan Yogyakarta

Tangga menurun menuju bagian belakang

Lorong panjang di bagian belakang

Sebenarnya, Yogyakarta memiliki banyak tempat wisata lain baik itu yang bersifat alam ataupun peninggalan budaya masa lalu yang belum sempat kami kunjungi saat itu, seperti Kali Biru, Gumuk Pasir, Lava Tour Kaliadem, Tubing Kalisuci, Goa Pindul, Hutan Imogiri, Pantai Parang Tritis, Candi Borobudur, Candi Prambanan dll. Namun apadaya, kami sudah harus kembali menuju Jakarta dengan kereta api Gaya Baru Malam yang berangkat pukul 17.10 WIB. Mungkin jika ada umur panjang, kami bisa kembali lagi mengunjungi tempat-tempat lainnya. In sya Allah, Aamiin !!

Oiya, bagi kalian yang berjumlah 7 -8 orang ketika akan mengunjungi Yogyakarta, saya sarankan kalian bisa menggunakan jasa mobil rental untuk mengunjungi berbagai tempat wisata. Selain lebih hemat waktu, kalian pun tidak perlu tergesa-gesa mengejar angkot maupun bus untuk mengantarkan kalian ke beberapa tempat wisata. Karena yang saya tahu, ada beberapa tempat juga seperti untuk menuju Goa Pindul,Tegal Arum maupun Kalisuci yang agak sulit jika ingin dicapai dengan "ngeteng".

Ini kontak Rental Car yang kami pakai waktu itu, bisa menghubungi Pak Alif di 0813 2871 3493.
Untuk harga sewa New Avanza, saat itu kami dikenakan Rp 325.000,-/per 24 jam. dan Rp 275.000,-/per 12 jam. Dengan jaminan Laptop.


Berikut Rincian Biaya Pengeluaran (Saya)* :
-KA Progo (Berangkat) : Rp 75.000,-
-Beli persediaan Minum : Rp 9.000,-
-Sharecost (untuk sewa kendaraan mobil avanza 24 + 12 jam, biaya parkir, bensin, penginapan di Malioboro, Tiket masuk Keraton, Ongkos ojek penyewa mobil dan makan siang sebelum kembali ke Jakarta) : Rp 266.125,-
-Sarapan di Rumah Makan Padang : Rp 11.000,-
-Biaya Masuk Gunung Api Purba : Rp 7.000,-
-Biaya masuk Embung : Rp 5.000,-
-Biaya masuk Tubing Tegal Arum (sepaket) : Rp 50.000,-  
-Biaya masuk kawasan Pantai : Rp 10.000,-
-Ngemil Mie Goreng + Es Teh : Rp 11.000,-
-Makan di Angkringan + Kopi Joss (Porsi 2 orang) : Rp 42.000,-
-Sewa Andong menuju Alun-Alun Selatan : Rp 10.000,-/orang
-Bermain mobil hias warna warni di Alun-Alun selatan : Rp 7.500,-/orang
-Becak motor untuk kembali ke Hotel : Rp 12.500,-/orang (maksimal 2 orang)
-Oleh-oleh Bakpia @ Rp 33.000,- : Rp 66.000,-
-Jajan Roti bulet : Rp 9.500,- 
-Oleh-oleh gantungan kunci : Rp 10.000,-
-Teh Liang di sekitar Keraton : Rp 4.000,- 
- KA Gaya Baru Malam (Pulang) : Rp 110.000,-
--------------------------------------------------------------------------------------------------------- +
Total : Rp 715.625,-

*Biaya di atas diluar ongkos dari rumah masing-masing menuju Stasiun Senen dan sebaliknya.

Sekian dulu info yang bisa saya berikan, semoga bermanfaat..

Sampai jumpa di trip berikutnya !!

Cheers,
RPR - Sang Petualang
(Silahkan difollow Instagram saya jika berkenan : @rezkirusian )

Senin, 14 September 2015

Cirebon si Kota Udang

Pada tanggal 21-22 Agustus 2015 lalu, saya bersama beberapa kawan dari komunitas Backpacker Jakarta (selanjutnya akan disebut sebagai BPJ) berkesempatan untuk mengunjungi kota Cirebon di Jawa Barat. Umumnya, banyak yang mengenal kota ini sebagai kota Udang (karena memang pada lambang kotanya pun ada 2 ekor udang, hehehe ) . Tapi sekali lagi, kedatangan kami kesana bukan untuk menangkap udang, melainkan untuk menjelajah isi dari kota Cirebon, yang mana banyak peninggalan-peninggalan bersejarah yang sangat sayang jika dilewatkan.


21 Agustus 2015
Awal Keberangkatan 
Malam sekitar pukul 21.00 WIB, saya tiba di depan kampus FK UKI (Universitas Kristen Indonesia), yang menjadi "mipo" (Meeting Point) kami sebelum berangkat bersama menuju Cirebon. Sejujurnya di awal trip kali ini saya agak merasa asing, karena memang sangat sedikit orang yang saya kenal (kecuali Ferdinand dan Berlian selaku Contact Person dari trip ). Tapi itulah serunya sebuah perjalananan, yang tadinya kaku, atau tidak kenal , bisa jadi menjadi sangat akrab ketika pulang atau selama perjalanan. Hehehehe

Pukul 22.34 WIB, kami ber 18 pun berangkat menuju kota Cirebon, dimana nanti akan disambut oleh kawan kami Hamdan yang akan menjemput di Masjid Raya At-Taqwa Cirebon.

22 Agustus 2015
Tiba di Cirebon

A. Masjid Raya At-Taqwa Cirebon

Masjid Raya At-Taqwa Cirebon
Perjalanan menuju Kota Cirebon ditempuh dalam waktu yang cukup singkat, ditambah kami  sempat mampir di KM166 Tol Cipali untuk beristirahat sejenak. Sekitar Pukul 04.00 WIB, kami sudah tiba di depan Masjid Raya At-Taqwa Cirebon dan langsung disambut oleh Hamdan yang akan menjadi Tour Leader kami hari itu.

Karena waktu sudah dekat dengan sholat Subuh, maka kami pun sepakat untuk beristirahat sejenak sembari menyegarkan diri di Masjid. Barulah pada pukul 06.00 WIB kami memulai aktivitas pertama kami yakni mencari sarapan.

Fyi, Pemandangan di kawasan Masjid yang bersebelahan dengan alun-alun ini pun tidak kalah menarik untuk diabadikan. Kawan-kawan pun langsung siap dengan kamera dan gadget masing-masing ketika memasuki kawasan Masjid.

Masjid inipun punya semacam Theater sendiri. Bersama salah seorang CP, Berlian Aji (doc by Kamera Berlian Aji)
B. Nasi Jamblang
Aneka menu Nasi Jamblang
Pagi itu, ketika hari sudah mulai terang, kami sarapan pagi dengan menu Nasi Jamblang (makanan tradisional khas Cirebon) yang dibawa oleh seorang Ibu-ibu tua. Nasi Jamblang ini disajikan dengan berbagai macam pilihan menu lauk seperti sate telur puyuh, paru/ati ampela, telur dadar, perkedel kentang tepung dan lain-lainnya. Selain itu , kita makan dengan wadah daun jati. Bagaimana rasanya ? Mantaaaap !!! mesti coba sendiri deh pokoknya. Soal harga tidak usah khawatir, sangat bersahabat untuk kantong para Backpacker. Bahkan saya pribadi pun, dengan menu Nasi + 2 Sate Telur Puyuh + 1 Telur dadar + 2 Perkedel Kentang, hanya dikenakan Rp 9.500,- saja. Murah bangeet!!!! :D

C. Gedung Walikota Cirebon
Setelah kenyang makan nasi Jamblang, kami bergerak dengan berjalan kaki menyusuri jalan kota Cirebon yang saat itu masih sepi dengan kegiatan. Kami pun segera berhenti untuk melihat dan berfoto-foto ketika bertemu dengan gedung unik di sebelah kami yang mana itu adalah gedung walikota Cirebon. Awalnya, kami hanya sekedar berfoto-foto dari luar, hingga setelah kawan kami Hamdan nego dengan penjaganya, kami pun diizinkan masuk untuk berfoto-foto di bagian dalam gedung.

Kantor Walikota Cirebon

Mari berpose sejenak

D. Bubur M.Toha
Tidak jauh dari lurusan jalan di depan Gedung Walikota dan mengambil ke kanan saat bertemu pertigaan, kami singgah di warung Bubur M.Toha yang kata orang Cirebon sih paling enak disini. Rasanya ? enak dooong. Harga dibandrol Rp 6.000,- untuk semangkuk bubur ayamnya, dan Rp 3.000,- untuk permangkuk bubur ketan hitam atau kacang hijau.

Bubur M.Toha yang sudah ramai oleh pengunjung di pagi hari

E. Taman Goa Sunyaragi
Setelah selesai nyabu (nyarap bubur) di pagi hari, kami segera kembali bus untuk menuju destinasi kami selanjutnya, yakni Taman Goa Sunyaragi (Sunya = Sunyi, Ragi = Raga). Tidak sampai 15 menit, kami pun tiba di pintu masuk Goa Sunyaragi, yang mana beberapa bagian gerbangnya sedang dalam tahap renovasi.

Pintu masuk menuju Taman Goa Sunyaragi

Tertera harga tiket masuk yakni Rp 10.000/orang
Menurut info yang saya dapat dari sebuah brosur yang dibagikan saat kami tiba di Cirebon, situs ini sebenarnya merupakan kompleks bangunan - bangunan kuno bekas tamansari dan pesanggrahan, yang memang fungsi utamanya untuk berkhalwat atau untuk menyepi. Situs ini pun sudah berkali-kali mengalami pemugaran, baik pada jaman Sultan Sepuh IX, pada jaman kolonial, maupun pada jaman sekarang.


Sebuah panggung yang sepertinya berfungsi sebagai sarana hiburan di kala itu

Beberapa ornamen bangunan yang masih asli

Sepasang Candi Bentar yang menyerupai pura Hindu Klasik
Taman Goa Sunyaragi ini sangat luas, dan terdiri dari berbagai macam goa beserta fungsinya masing-masing. Saya pribadi kemarin tidak sempat mengunjungi semuanya. Saran saya, pergunakanlah guide lokal saat mengunjungi Taman Goa ini agar kalian mengerti dengan jelas sejarah yang ada, dan pastinya untuk menghindari SALAH PEGANG, SALAH SENTUH, ataupun MAIN PELUK tanpa kalian mengerti maksudnya. Duh! Karena menurut mitos kepercayaan yang ada, terutama di bagian tengah Taman Goa dimana terdapat banyak patung, ada beberapa patung yang sangat dilarang untuk disentuh, seperti Patung Perawan Sunti yang katanya jika disentuh bisa susah mendapat jodoh. Memang hanya sekedar kepercayaan, tapi bukankah lebih baik dihindari jika kita tahu kan? Wallahu'alam.

Berikut saya sajikan beberapa lokasi yang saya temui di Taman Goa Sunyaragi (meskipun tidak semua) beserta ketengannya pada foto :

Pemandangan dari atas Goa Padang Ati

Goa Padang Ati, yang dijadikan tempat menyepi bagi keluarga keraton yang mempunyai cita-cita namun belum tercapai

Pemandangan lain dari Puncak Goa Padang Ati

Goa Pawon yang dipakai sebagai tempat menyimpan persediaan konsumsi keluarga Keraton
Pemandangan dari atas Goa Arga Jumut, tampak diseberangnya sepasang Candi Bentar (seperti pura dalam gaya Hindu Klasik) dan panggung yang sering dijadikan saran hiburan

Altar Sholat yang terdapat di dalam Goa Padang Ati

Bale Kambang yang dipakai sebagai gazebo untuk tempat beristirahat keluarga raja

F. Keraton Kasepuhan 
Setelah puas berpanas-panas ria mengelilingi Taman Goa Sunyaragi, kami pun bergegas untuk ke destinasi selanjutnya, yakni Keraton Kasepuhan. Dimana disana juga terdapat banyak barang-barang bersejarah peninggalan dari keluarga keraton.

Pintu masuk Keraton Kasepuhan
Kalau tidak salah, dikenakan biaya sebesar Rp 15.000/orang saat kami masuk, belum termasuk dengan biaya guide lokal.

Siang itu kami ditemani oleh seorang guide bernama Kang Boy yang memakai baju adat khas Cirebon, lengkap dengan blangkon dan keris nyalip di pinggangnya. Beliau pun langsung menjelaskan sejarah tentang Keraton Kasepuhan ini. Tidak lupa kami minta difotokan di bagian depan Keraton dimana terdapat gapura sebagai kenang-kenangan.

Berfoto bersama sebelum menjelajah Keraton
Singsana tempat raja duduk sembari melihat latihan perang
Memasuki area Keraton, kami langsung menemui sebuah pendopo atau sejenis gazebo yang menurut penjelasan dari guide adalah pendopo yang sering digunakan oleh Sultan/Raja Keraton untuk menonton latihan perang yang berada di tanah kosong dekat dengan gapura kami masuk tadi. Disini pun terdapat plang "Siti Inggil" yang berarti adalah tanah tinggi.

Lanjut berjalan ke bagian lain dari pendopo, terdapat pendopo lain yang merupakan tempat untuk para ksatria duduk beristirahat. Nah, tidak jauh dari pendopo-pendopo ini ada hal lain yang menarik perhatian kami saat itu yakni "Batu Adam & Hawa". Menurut penuturan guide kami tentang batu ini adalah bahwa manusia yang hidup di dunia diciptakan berpasangan yakni Laki-laki dan perempuan. Selain dari itu ? Silahkan ditafsirkan sendiri.

Batu Adam & Hawa
Selesai dengan bagian depan, kami dibawa ke bagian tengah di Keraton. Dan langsung mengambil ke bagian kiri dimana didalamnya terdapat sebuah kereta kencana yang pernah digunakan oleh Pangeran Cakrabuana. Konon kereta ini ditarik oleh 4 ekor lembu (sapi). Ornamennya sangat unik, karena terdiri dari berbagai macam bentuk hewan yakni Gajah, Ular, Rajawali yang merupakan bentuk akulturasi dari berbagai macam budaya. Kayu yang dipakai untuk membuatnya pun diyakini sudah berumur ribuan tahun. Dan rahasia keawetannya adalah karena diberi menyan. Ternyata, Menyan adalah "zat" ampuh untuk menghindarkan kayu dari serangan rayap.

Di bagian belakang dari kereta Kencana, selain berbagai macam tombak yang digunakan para ksatria jaman dulu, terdapat pula lukisan unik 3D dari Prabu Siliwangi, yang mana beliau adalah merupakan kakek dari Sunan Gunung Jati atau yang biasa dikenal sebagai Syech Syarief Hidayatullah atau Fatahillah atau Falatehan.

Kenapa unik? karena jika dilihat dari depan, tampak seperti seorang yang bertubuh gemuk berisi dengan tatapan yang sedang marah/garang. Namun jika dilihat dari sisi sebelahnya (misal kiri), tampak seperti seorang yang tinggi langsing dengan muka tersenyum. Selain itu, jika memandang arah bola matanya, seakan-akan tatapannya tidak berhenti menatap kita kemana pun kita beranjak.

Saya bersama lukisan Prabu Siliwangi
Di sebelahnya, terdapat pula tandu dari Cina yang biasa dipergunakan oleh Permaisuri.

Tandu dari Cina

Keraton tempat tinggal Sultan beserta keluarganya
Selanjutnya, kami beranjak ke gedung yang berada di ujung dari Keraton ini, yakni Keraton yang dipergunakan sebagai tempat tinggal oleh keluarga kerajaan. Sayang sekali, demi menjaga kelestarian dari tempat tersebut, kami hanya bisa melihatnya dari pintu yang ditutup kaca. Di bagian gedung ini pun bisa sama-sama kita saksikan silsilah dari Syech Syarief Hidayatullah dari Bapak maupun Ibunya. Yang mana jika dilihat dari garis keturuan Bapak, beliau (Syech Syarief Hidayatullah) masih merupakan turunan langsung dari Baginda Nabi Muhammad SAW.


Tempat tinggal raja beserta keluarganya
Silsilah Sunan Gunung Jati (turun dari Ayah)
Silsilah Sunan Gunung Jati (turun dari Ibu)
Di bagian terakhir dari Keraton, terdapat Museum Benda Kuno yang terdiri dari berbagai macam perabotan yang jaman dulu, mulai dari Alat-alat musik tradisional, aneka kerajinan dari Cina, Gelas-gelas yang dipakai pada jaman kolonial Belanda (VOC), pernak pernik perhiasan pengantin dari kuningan (tahun 1526 M ) hingga adanya batok kelapa yang konon hanya tumbuh per 25 tahun sekali.

Aneka Gelas VOC

Perhiasan Pengantin dari Kuningan (1526 M)

Gamelan Sekaten dari Demak

Batok Kelapa yang tumbuh 25 tahun sekali

G. Tahu Gejrot asli Cirebon
Tidak jauh dari pintu masuk Keraton Kasepuhan, terdapat seorang Bapak Tua yang menjajakkan satu lagi jajanan khas Cirebon, yakni Tahu Gejrot. Tahu ini disajikan dengan mangkuk coklat yang terbuat dari tanah liat. Soal harga? kami pun mendapat harga yang cukup murah yakni Rp 5.000,-/ mangkuk berkat lobi dari sang tour guide kami Hamdan (melobi dalam bahasa Sunda pastinya).. ehehhee

Santai sembari menikmat Tahu Gejrot (doc by Kamera mbak Endang/Ferdinand)

H. Keraton Kacirebonan
Destinasi kami selanjutnya adalah Keraton Kacirebonan, sebuah bangunan lain dari Keraton yang dulunya banyak ditinggali oleh keluarga kerajaan. Disini kami dikenakan biaya sekitar Rp 5.000,-/orang dan dipandu oleh dua orang Ibu-ibu yang mengenakan pakaian adat. Menurut buku yang ditulis oleh Wahyoe Koesumah,S.Sn, Keraton ini didirikan pada tahun 1800 M, Sultannya yang sekarang adalah Abdul Ghani,S.E. Potret beliau bersama istri serta keluarganya pun bisa kalian temui di dalam Keraton ini.

Secara ukuran, Keraton ini lebih kecil dibanding Keraton Kasepuhan yang kami kunjungi sebelumnya, ruangannya pun tidak banyak, namun tetap menyimpan berbagai peninggalan seperti keris, wayang, gamelan, alat-alat perang dan dll didalamnya.

Dibagian akhir sebelum keluar, para pemandu menawarkan aneka macam kain batik, gelang, cincin maupun aksesoris lainnya manatahu kita tertarik untuk membeli.

Keraton Kacirebonan

Backpacker Jakarta di depan Keraton Kacirebonan
Aneka koleksi kursi antik yang terdapat di salah satu ruangan
Ruang tengah dimana terdapat alat-alat perang, lukisan dan gamelan














I. Empal Gentong Jl.Sutomo
Berhubung hari sudah menjalang Zhuhur dan waktunya makan siang, kami pun diantar oleh Hamdan menuju warung Empal Gentong yang berada di Jl.Sutomo. Saya  saat itu memesan seporsi Empal Gentong Daging, sepiring lontong dan sebuah teh di botol (ga enak kalo sebut merk). Seporsi ini dikenakan Rp 25.000,-
 
Seporsi Empal Gentong Daging + Lontong

J.Keraton Kanoman
Keraton Kanoman yang lokasinya dekat dengan pasar ini merupakan tujuan terakhir kami di Cirebon sebelum kembali pulang ke Jakarta. Memasuki kawasan Keraton, bisa kita lihat banyaknya bangunan-bangunan tua yang seperti sudah tidak terawat. Hingga akhirnya memasuki pekarangan keraton dimana terlihat banyak mobil parkir.

Dibanding dengan 2 keraton yang kami kunjungi sebelumnya, bangunan Keraton ini bisa dibilang yang paling kecil, hanya saja halamannya cukup luas. Disini pun kami disambut oleh seorang Bapak yang berpakaian sangat santai (terlalu santai jika dibanding 2 keraton sebelumnya..haha),namun penjelasan dan pemikirannya sangatlah kritis.

Dengan membuka sepatu terlebih dahulu, kami diajak masuk dan berkeliling ruangan urama Keraton, dan tak lupa berfoto bersama di dalamnya.

Bagian teras Keraton Kanoman

Bangunan di dalam kawasan Keraton Kanoman

Bagian dalam Keraton Kanoman















Setelah menjelajah bagian dalam, sang pemandu pun mengajak kami ke bagian samping Keraton dimana terdapat bangunan tua yang merupakan asal usul sebelum terbangunnya Keraton Kanoman ini. Dan ternyata lengkap juga dengan Sumur yang menurut kepercayaan orang-orang sini dapat membuat awet muda dan bla..bla..bla..

Bapak ini pun juga menerangkan, bahwa di tempat yang jika saya lihat lebih mirip sebagai tempat Sholat ini (karena memang ada beberapa sajadah tergelar), sering dijadikan tempat untuk bermunajat atau iktikaf (menginap) pada waktu-waktu tertentu seperti malam 1 Suro, bahkan ada juga yang menggunakannya sebagai tempat mencari ilmu/wangsit. Tapi satu pemikiran yang saya suka dari Bapak ini, beliau melarang keras agar orang-orang yang berkunjung kemari tidak berbuat syirik selain hanya menyembah yang Maha Kuasa.

Inilah beberapa penampakan dari bangunan itu :

Terlihat Bapak Pemandu (Kemeja garis-garis) sedang menjelaskan kepada kami

Sebuah bak kosong yang saya rasa adalah kolam dulunya

Sumur yang dipercaya bisa memjadikan awet muda















K.Pusat Oleh-Oleh Khas Cirebon
Disepanjang jalan menuju Keraton Kanoman, dapat kita jumpai berbagai macam toko yang menjajakkan aneka oleh-oleh khas Cirebon yang pastinya akan sangat berkesan untuk dibawa pulang. Saya pun mampir ke sebuah toko yang bertajuk "Aneka Oleh-Oleh khas Cirebon". Disini barangnya bagus-bagus, dan tempatnya juga bersih. Untuk pembelanjaan di atas Rp 100.000,- bisa dibayar secara Debit. Saran saya, cek dulu benar-benar apakah barang yang kawan-kawan mau beli benar-benar hanya ada disini, karena ternyata seperti Sirup Tjampolay (sirup dengan aneka rasa), bisa ditemui di berbagai macam kota besar, apalagi Jakarta. Hanya saja dengan harga sekitar 2x lipat.


Rincian Pengeluaran (versi saya) :

-Sharecost Trip Cirebon (Include Bus AC PP Jakarta-Cirebon dan selama di Cirebon, Parkir, Toll, Bensin dan tiket masuk semua tempat wisata) : Rp 285.000,-/orang 
-Ngemil Tahu Gejrot 2 porsi @Rp 5.000,- : Rp 10.000,-
-Empal Gentong Daging + Nasi + Teh di Botol : Rp 25.000,-
-Makan malam di Pom bensin Km 166 : Rp 20.000,- 
-------------------------------------------------------------------------------------------- +
Total : Rp 340.000,-*

*Biaya tersebut di atas belum termasuk uang transport PP dari rumah masing-masing ke Mipo dan biaya oleh-oleh..


Sekian dulu cerita dari saya, semoga informasi yang ada dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian..

Sampai jumpa di trip berikutnya !!
Cheers,
RPR -  Sang Petualang
(Silahkan difollow IG saya jika berkenan : rezkirusian)