Senin, 11 Mei 2015

Dieng oh Dieng...

1 May 2015
Berbekal "diculik" oleh kawan saya yang bernama Ophie.. Jum'at malam,1 Mei 2015 pun kami bertujuh berangkat menuju Wonosobo dari Jakarta dengan menggunakan mobil.

Cukup jauh jarak yang haurs kami tempuh dengan menggunakan mobil, karena kami harus melewati jalan pantura yang panjang, gelap, serta berlubang, Ditambah lagi ditemani oleh para "Transformer" (Bus dan truk besar) selama di jalan, sehingga kami pun harus ekstra berhati-hati dalam membawa kendaraan. Memasuki daerah Brebes setelah keluar dari tol berbiaya Rp 34.000,-, akan banyak sekali ditemui perbaikan jalan sehingga jalan akan dibuka secara bergantian. Saran saya, sebaiknya siapkan banyak uang receh, karena nantinya akan banyak para pekerja yang meminta sumbangan seikhlasnya untuk perbaikan jalan.

2 May 2015
Alhamdulillah, sekitar  pukul 08.53 WIB, kami tiba di daerah Dieng dan lansung sarapan sekaligus bersih-bersih diri seadanya di rumah makan setempat.

Setelah sarapan dan membayar sebesar Rp 8.000,-/orang di gerbang untuk masuk kawasan wisata Dieng, barulah kami memulai petualnagan kami di dataran tinggi Dieng.

Ada apa saja disana ?

A.Kawasan Telaga Warna
Telaga warna merupakan tujuan wisata pertama kami saat menginjakkan kaki di Dieng, karena memang jaraknya juga yang paling dekat. Disini, kita bisa menyaksikan pemandangan 2 danau yang berwarna kehijauan. Untuk Telaga Warna, ada spot menarik yang sering digunakan orang untuk berfoto, yakni batang pohon yang seakan seperti mengambang di permukaan telaga seperti yang tampak pada foto di bawah ini.

Telaga Warna

Team kami
Telaga yang lain, yang harus dicapai dengan trackking singkat melewati lumpur dan tanah becek, bernama "Telaga Pengilon". Memang tidak seindah Telaga warna, namun pemandangannya juga tidak kalah indah.

Telaga Pengilon

Foto dengan Background Telaga Pengilon

Selain dua telaga di atas, di kawasan wisata ini dapat juga kita temui berbagai Goa-goa alam, namun sayangnya hanya bisa dilihat dari luar dan tidak bisa dimasuki. Ada Goa Jaran, Goa Sumur, Goa Pengantin dll..

Goa Jaran

Goa Sumur

Goa Pengantin

Bagi kalian yang ingin mencoba kuliner (lebih tepatnya sih cemilan kali yaa...), tidak jauh dari lokasi Dieng Plateu Theater (bisa dicapai dengan menaiki anak tangga menuju ke atas dari Telaga Warna ), kalian bisa temui berbagai pedagang yang menawarkan cemilan berupa kentang dan jamur crispy. Harganya pun murah meriah. Cukup dengan Rp 5.000,- saja.

Aneka kentang dan jamur crispy yang siap disantap

B. Kawah Sikidang
Untuk masuk ke dalam kawasan kawah Sikidang, kita cukup membayar Rp 10.000,-/orang yang mana itu sudah termasuk dengan biaya masuk menuju kawasan Candi Arjuna nantinya. Sekilas, suasana di kawah Sikidang hampir mirip dengan kawah gunung Papandayan di Garut,Jawa Barat. Bedanya, disepanjang jalan menuju kawah dapat kita temui banyak sekali pedagang yang menawarkan barang-barang mulai dari Carica (cemilan tradisional Dieng, seperti manisan), Aneka macam Kentang + Jamur crispy , pasir belerang, vas bunga yang dibuat dari kerajinan kayu, hingga batu akik ! :D

Jalan menuju Kawah Sikidang

Kawah Sikidang dilihat dari atas

Di depan kawah Sikidang

C. Candi Arjuna
Tujuan kami berikutnya adalah Candi Arjuna. Kalau dilihat sekilas seperti "Mini Prambanan", hanya saja jumlah candinya jauh lebih sedikit dan pekarangannya juga lebih kecil. Sayang seribu sayang, kondisi pelataran Candi Arjuna saat kami kesana sedang dalam renovasi, sehingga ada beberapa candi yang tidak bisa dimasuki.

Pelataran Candi Arjuna

Salah satu bangunan Candi yang terbesar

Photo Session

D. Homestay
Untuk urusan homestay/tempat menginap, di daerah Dieng banyak pilihannyam mulai dari yang tipe per kamar, hingga yang menyewakan satu rumah untuk rame-rame. Saya bersama kawan-kawan pun beruntung bisa dapat penginapan dalam bentuk kamar untuk 7 orang, sudah termasuk dengan kamar mandi, dan ruang keluarga untuk makan atau ngopi, bonus cemilan dengan harga Rp 300.000,-/malam (harga weekend, jika tidak weekend, silahkan coba ditawar lagi). Fyi, bentuk penginapannya tidak terlihat seperti penginapan jika dilihat dari luar, namun lebih seperti rumah makan/warung. Jika lapar, tinggal pesan makan deh di depan..hehehe

Jika ada yang pengen coba menginap, mungkin bisa coba hubungi nomor di bawah ini :

Kartu nama Bu Khatmini

Penampakan Homestay dari depan

3 May 2015

E. Melihat Sunrise Bukit Sikunir
Bukit Sikunir, merupakan salah satu ikon tempat yang paling sering dicari oleh para pelancong yang berkunjung ke Dieng. Untuk mencapainya dari tempat kami menginap, bisa ditempuh dalam kurun waktu 15-20 menit dengan menggunakan mobil dengan jarak sekitar 7 Km melewati bukit-bukit dan lereng. Tiket masuk yang dikenakan adalah Rp.5000,-/orang. Diperlukan waktu sekitar 5 hingga 10 menit untuk mencapai puncak Bukit Sikunir. Tapi tenang saja, karena jalannya sudah ada, hanya saja akan sedikit licin jika baru selesai hujan.

View dari atas Puncak Bukit Sikunir

Bersama kawan-kawan

Dekat pintu masuk menuju Bukit Sikunir

Oiya, sehabis turun dari Bukit Sikunir, jika kawan-kawan merasa lapar, di dekat parkiran banyak sekali terdapat warung-warung makan, dan jangan lupa coba minuman tradisional khas Dieng yang bernama "Purwaceng", bisa ditebus dengan harga Rp 10.000,-/gelas. Segeeeer.....

Purwaceng

F. Gunung Prau
Dieng pun juga punya gunung, namanya Gunung Prau. Memiliki ketinggian 2.565 mdpl. Menurut cerita dari kawan-kawan yang pernah kesana, dibutuhkan waku sekitar 2-3 jam perjalanan untuk mencapai puncaknya. Kabarnya, kita bisa melihat Triple S (Sindoro,Sumbing,Slamet) dengan sangat jelas. Ibaratnya seperti negeri di atas awan.

Namun, karena terbatasnya waktu yang kami punya, kami belum sempat berkunjung kesana. Mungkin lain kali. :)

Selepas dari Bukit Sikunir, kami bertujuh pun beranjak menuju tujuan kami berikutnya, yakni Curug Nangga yang berada di daerah Banyumas, yang mana sudah sekalian arah kami pulang menuju Jakarta.

G. Curug Nangga
Untuk menuju kawasan Curug Nangga, kawan-kawan yang menggunakan kendaraan pribadi harus sangat ekstra hati-hati, dikarenakan harus melewati jalan tanjakan yang terjal dan juga panjang. Pastikan kalian ahli membawa kendaraan di jalan tanjakan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Untuk masuk ke Curug Nangga, kawan-kawan cukup membayar sebesar Rp 3.000,-/orang dan biaya parkir di dekat rumah warga seharga Rp 10.000,-. Setelah melewati petugas tiket, kawan-kawan harus tracking sekitar kurang lebih 10-15 menit melewati jalanan conblock yang menurun, kemudian dilanjut dengan anak tangga berupa tanah yang bisa dipastikan akan sangat licin jika turun hujan.

Trackking menuju Curug Nangga - Conblock
Trackking menuju Curug Nangga  - pematang sawah
Trackking menuju Curug Nangga 
Tiba di Curug Nangga, saya pun tidak banyak bermain air, karena sebelum saya benar-benar tiba di Curugnya, ada aturan yang berbunyi bahwa tidak boleh mandi/berenang di Curug. (entah mandi dalam artian yang bagaimana maksudnya ).

Papan Aturan Curug Nangga

Curug Nangga
Bagi kawan-kawan yang penasaran ingin menuju Curug teratas, bergeraklah ke arah kiri, dimana kalian akan menemukan anak tangga yang akan mengarah ke atas. Namun harap hati-hati, dikarenakan memang jalannya yang cukup terjal dan licin karena air curug.

Kira-kira, inilah view yang bisa kalian dapatkan di bagian atas curug, dijamin ga nyesel !! tapi pastikan mengajak kawan agar ada yang bisa motoin..

View dari atas Curug

Curug no.1 yang begitu indah.
Dengan ini, maka berakhirlah petualangan kami bertujuh di kawasan Dieng dan sekitarnya. Oiya, bagi yang ingin mencoba kuliner, disepanjang jalan menuju Banyumas, terdapat restoran yang menyediakan Mie Ongklok dan Sate Sapi, seharga masing-masing Rp 7.500,- dan Rp 19.000,-.

Dalam perjalanan pulang ketika melewati Tegal, kami pun sempat mampir untuk makan malam di restoran yang menyediakan aneka Sate Kambing Muda.. Hmmm Yummy...

Berikut saya cantumkan pengeluaran saya selama di Trip kali ini, semoga bisa menjadi referensi biaya yang sekiranya harus kawan-kawan keluarkan jika menggunakan kendaraaan pribadi (Mobil)

Rincian biaya (saya) :
- Sewa Mobil 4 hari (Jum'at - Senin) : Rp 1.150.000,- / 7 = Rp 164.285,71 ---- Rp 164.000,-
- Bus Metro Mini PP Rumah-Mipo : Rp 16.000,-
- Makan malam sebelum berangkat : Rp 25.000,-
- Sarapan pagi tgl 2 May : Rp 18.000,-
- Tiket masuk Dieng : Rp 8.000,-
Tiket masuk kawasan Telaga Warna : Rp 7.500,-
- Kentang & Jamur Crispy : Rp 5.000,-
- Tiket masuk Kawah Sikidang dan Candi Arjuna : Rp 10.000,-
- Carica (2) : Rp 10.000,-
- Homestay : Rp 300.000/7 = sekitar Rp 42.500,-
- Tiket masuk Sikunir : Rp 5.000,-
- Purwaceng : Rp 10.000,-
- Mie Goreng + Telur : Rp 7.000,-
- Sate Sapi + Lontong + Es teh manis (Arah Banyumas) : Rp 24.000,-
- Tiket masuk Curug Nangga : Rp 3.000,-
- Numpang mandi : Rp 5.000,-
- Sate Kambing Muda + Nasi + Es teh (di Tegal) : Rp 45.000,-
- Tol PP : ( ( Cikampek (Rp 13.500,-) + Rp 34.000,- ) x 2 ) / 7 = sekitar Rp 13.600,-
- Parkir Objek wisata : Telaga Warna (Rp 5.000,-) + Kawah Sikidang (Rp 5.000,-) + Candi Arjuna (Rp 5.000,-) + Bukit Sikunir (Rp 5.000,-) + Curug Nangga (Rp 10.000,-) dibagi 7 : sekitar Rp 4.300,-
- Tambal ban : Rp 8.000,-
------------------------------------------------------------------------------------------------------ +

Total :  Rp 430.900, -

Akhir kata, semoga tulisan saya bisa membawa manfaat bagi kalian yang ingin berkunjung kesana.. Aamiin..

Salam,
RPR- Sang Petualang
(silahkan difollow IG saya : @rezkirusian) jika berkenan..



Sabtu, 28 Maret 2015

WARTO : Harga Kaki Lima, Rasa Bintang Lima

Bagi kalian yang berdomisili di daerah Jakarta Selatan dan sekitarnya, pasti tidak asing dengan  Pasar Blok A. Ya, sebuah pasar tradisional yang terletak di Jl.Fatmawati Raya. 

Nah, cobalah main kesana sekitar pukul 18.00 WIB ke atas. Tidak jauh dari seberang Pasar Blok A, kalian bisa temukan warung tenda bernama WARTO.

Sejujurnya, saya kurang paham tepatnya kapan warung tenda ini berdiri, tapi yang pasti warung ini didirikan oleh seorang mantan koki restoran Jepang (Furaibo) bernama Bp.Ari. Singkat cerita, beliau yang memilih resign dari pekerjaannya sebagai koki di restoran, memilih untuk membuka usaha sendiri. 

Warung makan sederhana ini buka setiap hari dari pukul 18.00 WIB hingga sekitar pukul 00.00 WIB. Menu yang ditawarkan tentunya adalah aneka masakan Jepang, seperti Beef Teriyaki, Chicken Teriyaki, Beef Yakiniku, Nasi Goreng ala Jepang, dll.

Jangan heran, meskipun suasana warung makan ini terkesan sederhana dan hanya beratapkan tenda, kelezatan makanannya tidak bisa dianggap remeh. Belum lagi ditambah dengan adanya bumbu mayonaise racikan pribadi Bp.Ari membuat rasa dari masakan yang disuguhkannya menjadi lebih lezat. Asiknya lagi, harganya sangat bersahabat !

Contohnya saja,  untuk sepiring Beef /Chicken Teriyaki (tanpa nasi) bisa kawan-kawan dapatkan seharga Rp 16.000,- .  jika dengan nasi cukup tambah Rp 3.000,- saja. Nasi Goreng ala Jepang pun bisa dinikmati dengan Rp 14.000,- saja.

Beef Teriyaki + Nasi

Nasi Goreng Ala Jepang

Minuman yang ada pun bervariasi dari mulai jus, teh, kopi hingga es jeruk, dengan harga yang murah meriah juga tentunya.

Bisa dibilang, ini merupakan salah satu warung tenda favorit saya di daerah Jakarta Selatan. Selain itu, jika ada kawan-kawan saya yang mencari kuliner seru dan murah meriah di Jakarta Selatan, umumnya saya arahkan untuk makan disana . Dan bagi kalian pecinta masakan Jepang,  wajib hukumnya untuk mencoba !

Hmmmm.... Tertarik untuk mencoba ?? 

Cheers,

RPR - Sang Petualang


Senin, 16 Maret 2015

Mahameru : Puncak Tertinggi Pulau Jawa

Setelah sekian kali gagal mencapai Puncak Mahameru, pada 10 Oktober 2013 silam saya berkesempatan untuk kembali menjelajahi indahnya alam Gunung Semeru yang berada di Malang, Jawa Timur ini.

Seperti yang kalian tahu, Gunung Semeru yang terletak di Jawa Timur ini termasuk dalam 7 Summits Indonesia. Semenjak akhir tahun 2012 dan seterusnya kesini, ditambah dengan kemunculan film 5 cm,  Gunung Semeru semakin ramai dikunjungi. Pengunjungnya beragam, baik wisatawan lokal maupun asing, sehingga tak heran jika kalian kesana sekarang, tarif masuknya menjadi lebih mahal, bahkan dihitung per-harinya.

Terlepas dari itu semua, Gunung ini merupakan salah satu gunung yang wajib didatangi bagi kalian para pecinta dunia "ketinggian". Dan entah kenapa, walaupun sudah berkali-kali kesana, tidak ada kata "bosan" bagi saya untuk mengunjunginya kembali.

Disini, saya akan coba bercerita tentang perjalanan saya dan kawan-kawan menuju Puncak Mahameru, Puncak Para Dewa sekitar tahun 2013 silam.

Semoga bisa menginspirasi, monggo merapat..

10 Oktober 2013
Memulai Perjalanan
Persiapan menuju Gunung Semeru
Pagi itu, setelah persiapan selesai, saya segera bergerak naik bus metro mini 72 menuju perempatan Lebak Bulus, kemudian disambung dengan P20 (Kopaja) yang akan mengantarkan saya bertemu dengan kawan-kawan di stasiun Senen sebelum berangkat menuju Malang.

Tarif Kereta Matarmaja saat itu masih terbilang murah, saya masih mendapat harga Rp 130.000,- (Jakarta - Malang PP), kalau sekarang bisa sekitar Rp 115.000,- sekali jalan (silahkan cek lagi di web PT.KAI yak, supaya tidak salah).

Pendakian kali ini bagi saya terasa seperti reuni, karena merupakan gabungan dari kawan-kawan saya dari berbagai macam pendakian. Meskipun ada juga beberapa yang baru saya kenal di hari itu.

11 Oktober 2013
Tiba di Malang
Tiba di Stasiun Kota Baru Malang
Setelah melewati perjalanan selama lebih kurang 18 Jam, tibalah kami semua di Stasiun Kota Baru Malang. Jangan kaget, ketika kawan-kawan tiba di Stasiun Kota Baru Malang dan saat keluar gerbang akan banyak sekali yang menawarkan jasa untuk mengantar baik ke Bromo, Sempu, maupun Semeru.

Untuk menuju Pasar Tumpang, saya memilih untuk charter angkot dengan maksud agar lebih efisien dan tidak perlu naik turun angkot 2x. Akhirnya disepakati angkot dengan tarif Rp 130.000,- (muatan maksimal 12 orang dengan Carier diikat di atas )

Sebelum naik Jeep
Di depan Ps.Tumpang, kami sudah ditunggu oleh Mas Genthonk selaku orang dari paguyuban Jeep yang akan mengantar kami menuju desa Ranu Pani. Bagi yang ingin ke Bromo/Semeru atau hanya sekedaar keliling kota Malang, saya bisa rekomendasikan untuk menghubungi beliau, Mas Genthonk di 0858 5230 8530 , orangnya ramah dan cara bawa mobilnya juga sangat berhati-hati. Bilang saja dari saya (Rezki - Jakarta) juga gpp. hehehe :)

Saat itu kami dikenakan tarif Rp 500.000,- /jeep sekali jalan, dan perjalanan menuju Ranu Pani dapat dicapai dalam waktu 2 jam.

Kalian mesti rasakan sendiri serunya naik Jeep Off Road melewati lembah-lembah dengan jurang di kanan kiri, benar-benar menguji adrenalin !! hehehehe


Salah satu View yang bisa dilihat sepanjang perjalanan,

Tiba di Basecamp Ranu Pani, kami pun langsung mengurus Simaksi pendakian dan mengecek ulang perbekalan kami selama disana. Saat itu, tarif masuk per orang masih dikenakan Rp 10.000,-/orang dan tenda Rp 20.000,-/per tenda. Oh iya jangan heran di Pos perizinan ini kalian akan diminta untuk melist segala barang bawaan kalian. Dan jangan lupa juga untuk menyiapkan Surat Keterangan Sehat yang menyatakan kalian sehat untuk mendaki Gunung Semeru.

Untuk saat ini saya dengar berkisar Rp 22.500,- hingga Rp 27.500,- / hari untuk WNI, dan bisa ratusan ribu per-harinya untuk WNA.
Tepok jidat*

Memulai Perjalanan Panjang

Wajib banget foto disini bagi yang ke Semeru
Perjalanan dari Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo bisa dicapai dalam waktu 3,5 - 4 jam bagi yang konstan, dan jika santai mungkin sekitar 5 jam.

Track pendakian
Kondisi jalan menuju Ranu Kumbolo melewati bukit yang berkelok-kelok naik dan turun. Jalanan sudah bagus, rambu-rambu sudah jelas, di Pos 1 dan 2 pun bahkan ada Shelter sehingga kawan-kawan bisa duduk leha-leha sembari beristirahat. Hanya saja, siap-siap dari Pos III (ditandai dengan adanya bangunan/shelter yang rubuh), jalanan akan menanjak dan baru akan menurun kembali jika sudah mendekati Pos IV.

Tapi, saat itulah kalian bisa melihat Danau yang berada di atas Gunung, ya selamat datang di Ranu Kumbolo !!

Malam itu pun kami ber-12 sepakat untuk bermalam didinginnya Ranu Kumbolo, sembari menikmati Sunrise yang indah menanti esok hari.

Oiya, pastikan bagi kalian yang ke Semeru untuk membawa Sleeping Bag, memakai full gear mulai dari kaos kaki, sarung tangan, kupluk jika ada, dan tentunya jaket tebal. Ini hukumnya WAJIB !! ga pake ngeyel please..
Karena suhu di Ranu Kumbolo ini sedingin-dinginnya bisa antara -5 hingga -20 derajat Celcius.

Note :  Jangan coba-coba untuk berenang di Ranu Kumbolo, selain dinginnya yang serasa bisa mencabut nyawa, dijamin kalian akan kena diomeli para pendaki yang berada di sekitar situ, dikarenakan air di Ranu Kumbolo berfungsi juga sebagai tempat mengambil air untuk masak dan minum.


12 Oktober 2013
Dinginnya Ranu Kumbolo

Pagi yang dingin di Ranu Kumbolo
View Ranu Kumbolo di Pagi hari
Indahnya Ranu Kumbolo
Tanjakan Cinta
Tidak jauh dari Ranu Kumbolo, kawan-kawan akan melewati yang namanya Tanjakan Cinta untuk meneruskan perjalanan menuju Oro-oro Ombo, Cemoro Kandang, Jambangan hingga Kalimati. Mitosnya, jika kalian berjalan naik ke atas sembari membayangkan orang yang disayangi hingga tiba di atas tanpa menengok ke belakang, katanya sih cintanya bisa terkabul. Tapi, sepertinya mitos hanyakal mitos.. (pernah nyoba dan ga ada efek apa-apa tuh.. makin menjauh iya.. T-T )

Tanjakan Cinta
Setelah selesai sarapan dan beres-beres, kami segera meneruskan perjalanan menuju tujuan kami berikutnya yakni Kalimati dimana kami akan camp sembari menunggu waktu untuk melaksanakan Summit menuju Puncak Mahameru.

Ranu Kumbolo dilihat dari atas Tanjakan Cinta

Padang Oro-Oro Ombo, Cemoro Kandang dan Jambangan
Perjalanan menuju Kalimati dari Ranu Kumbolo bisa dicapai dalam waktu sekitar 3,5 jam dengan melewati Padang Oro-Oro Ombo yang sangat luas (jika sedang tumbuh, bunga lavender-nya akan terlihat sangat bagus berwarna ungu)

Padang Oro-Oro Ombo
Setelah melewati padang Oro-Oro Ombo sepanjang lebih kurang 2 Km, kawan-kawan akan menemui Pos Cemoro Kandang yang ditandai dengan banyaknya pohon cemara yang berjajar. Uniknya di pos ini ada warga setempat yang berjualan pisang goreng, dihargai Rp 2.000,-/ buah. Bahkan, ada juga beberapa minuman bersoda yang dijajakkan disini.

Pos ini juga cukup luas, sehingga kawan-kawan yang ingin beristirahat bisa lebih dengan leluasa. Karena bersiaplah, untuk menuju Pos Jambangan akan dilalui dengan jalan yang agak menanjak, turun lagi, dan kemudian menanjak lagi.

Pos Jambangan, dimana Puncak Mahameru sudah bisa terlihat

Dari Pos Jambangan menuju Pos Kalimati, tidaklah terlalu jauh dan bisa dicapai dalam waktu sekitar 10 menit saja.

Kalimati
Tiba di Kalimati, kami pun segera mendirikan tenda, beristirahat sejenak sembari memasak makanan demi mengisi kekosongan perut kami yang sedari tadi sudah "demo". Alhamdulillahnya, ada tetangga sebelah yang rela berbagi lauk berupa kacang hijau sehingga menambah keberagaman menu makanan kami saat itu.

Selamat makaaaan !!

Menu makanan kami saat itu
Suasana santai di sore hari
Mari makan
Berhubung kami sudah tiba di Kalimati saat sore hari, kami mempunyai waktu yang cukup banyak untuk beristirahat guna persiapan menuju Puncak Mahameru malam nanti. Karena, perjuangan sebenarnya itu baru akan dimulai dari Pos Kalimati menuju ke Puncak Mahameru.

Sebagian dari kami pun ada yang memutuskan untuk tidur, namun ada juga yang asyik mengobrol dan sharing tentang perjalanan-perjalanan yang pernah dilalui.

Menghangatkan diri dengan membuat api unggun

Menuju Puncak Mahameru, Puncak Para Dewa
Tepat pukul 21.00, seperti yang sudah disepakati bersama, kami segera bangun dari tidur kami dan langsung memasak makanan guna mengisi tenaga untuk pendakian kami yang sebenarnya menuju Puncak Mahameru. Setelah semuanya siap, mulai dari perlengkapan hingga bekal makanan dan minuman yang dibawa untuk sepanjang perjalanan, tepat pukul 22.00 pun kami bergerak menuju Pos selanjutnya, yakni Arco Podo.

Menuju Arco Podo
Arco Podo
Untuk menuju Arco Podo, kami harus melewati jalanan yang terus menanjak dan mulai berpasir, sehingga saya sangat menyarankan bagi kawan-kawan yang kesana untuk menggunakan masker agar tidak masuk debu.

Di Arco Podo, ternyata banyak juga kawan-kawan sesama pendaki yang mendirikan tenda, hanya saja memang datarannya banyak yang tidak rata, ditambah sama sekali tidak ada air disini.

Mungkin ada kawan-kawan yang bertanya kenapa Pos ini dinamakan "Arco Podo"? dalam bahasa Jawa, "Arco" itu berarti Arca/patung, dan "Podo" itu berarti mirip/serupa. Konon katanya di dekat Pos ini terdapat dua patung yang sangat mirip, dan gosip-gosipnya hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang memiliki kemampuan tertentu saja. Meskipun, ada juga yang mengaku pernah menemukan dan berkata bahwa salah satu dari kepala patung tersebut hilang seperti terpenggal.

13 Oktober 2013

Jalan Panjang Berpasir Menuju Mahameru, Blank 75
Setelah melewati pohon-pohon dimana didekatnya terdapat banyak makam para pendaki yang sebelumnya meninggal disini, kami pun bertemu dengan jalan dimana kanan kirinya dibatasi oleh rantai. Dan saya pun langsung menyadari bahwa inilah yang dinamakan dengan Blank 75 yang sering menyebabkan para pendaki tersesat.

Blank 75 merupakan jurang pasir yang menganga lebar dengan kedalaman 75 meter , dan dipastikan akan sulit untuk kembali naik ke atas jikalau sampai terjebak di dalamnya.

Antrian Menuju Puncak, mulai jalan pasir
Mulai bisa ditemui batu-batu besar
Ketika sudah bertemu dengan pasir menuju Mahameru, biasanya kami mengenal "hukum 3-5", artinya ketika kita mengambil beberapa langkah ke atas, misal 3 langkah, bisa jadi kita akan merosot sebanyak 5 langkah ke belakang.

Belum lagi angin kencang serta udara yang semakin malam akan semakin dingin, membuat kita tidak bisa berdiam diri berlama-lama meskipun badan sudah sangat terasa lelah. Terkesan berat dan menyebalkan ? Ya, memang itulah ujian sebenarnya saat akan mendaki menuju Puncak Mahameru. Siapa bilang mendaki menuju Mahameru mudah ? :)

Note : saya punya sedikit trick agar kawan-kawan tidak mudah merosot saat berjalan di atas pasir, usahakan berjalan secara zig-zag sehingga sebelum kalian merosot, kaki kalian sudah pindah lagi ke sisi lainnya. Alhamdulillah sih cukup berguna. Silahkan saja jika mau dicoba.. Hehehhe..


Tiba di Puncak Mahameru, 3.676 mdpl !!
Setelah melewati perjalanan sekitar 7 jam lamanya dari Pos Kalimati, Alhamdulillah saya pun tiba di Puncak Mahameru 3676 mdpl. Tepatnya pukul 05.00 WIB dimana saat itu udara masih saja terasa dingin meskipun mentari sudah mulai keluar dari singgasananya. Kalau tidak salah mungkin suhu udara saat itu mencapai - 5 hingga -10 derajat Celcius.

Suasana di Puncak Mahameru saat itu sudah sangat ramai oleh para pendaki, padahal baru sekitar pukul 05.00 WIB, dan sudah terasa terang sekali di atas sana.

Sayangnya, pagi itu team kami tidak bisa tiba bersamaan, sempat terpecah menjadi beberapa bagian dikarenakan perbedaan kondisi fisik masing-masing. Saya pun termasuk yang berada di tengah saat itu, bersama dengan Ricky. Sementara Rizal, Raka dan Saddam lah yang mencapai puncak lebih dulu pukul 04.30 WIB. Sumi menyusul bersama Ghofar, begitu pula Shella bersama Juki, dan ditutup oleh Bro Andy. Sayangnya, Rizky dan Pebi tidak berhasil mencapai Puncak Mahameru.

Bagi yang belum tahu, Puncak Mahameru ini termasuk sangat luas dibanding puncak-puncak Gunung lainnya, dan lahannya yang sangat datar sangat memungkinkan jika dijadikan tempat untuk upacara bendera ataupun bermain bola.

Note :
Disarankan paling lama hingga pukul 09.00 WIB saja berada di Puncak Mahameru, dikarenakan lewat dari itu arah angin akan berubah dan membawa gas beracun yang keluar dari kawah Jonggring Saloko mengarah ke Puncak.

Bagi kalian yang ingin menanti erupsi kawah Jonggring Saloko, sabar-sabar saja menunggu tiap 10-15 menit sekali. Itu pun kalau kalian beruntung bisa menunggu tepat waktu. ehehehehe

Berikut adalah foto-foto kami selama di Puncak Mahameru 3.676 mdpl.

Menanti Sunrise di pagi hari
Menanti erupsi Jonggring Saloko

Duaaaaar, Akhirnya yang ditunggu muncul juga..
Sebenarnya sih ini hanya untuk nyari keringat biar ga kedinginan

Maha Besar Allah SWT dengan segala keindahan ciptaan-Nya..Berada di titik tertinggi Pulau Jawa, Puncak Mahameru 3.676 mdpl , 13 Oktober 2013
View lain
Mau berfoto dengan bendera pun harus antri
Ghofar & Sumi
Juki & Shella
Bro Andy Setiawan
Setelah puas berfoto-foto di Puncak, kami pun langsung melanjutkan perjalanan turun kembali menuju Pos Kalimati. Karena memang angin di atas sudah semakin kencang juga dan tidak bagus untuk berlama-lama di Puncak.

Perjalanan turun tidak selama daripada saat naik, bahkan kalian pun bisa berlari jika mau. Mungkin dalam kurun waktu 1-2 jam kalian bisa tiba kembali di Pos Kalimati.

Hanya saja tetap ingat arah ya, jangan sampai terlalu bersemangat dan kalian malah terpleset atau terjebak di Blank 75. Ini serius dan tidak ada maksud untuk menakut-nakuti, karena seringnya banyak pendaki yang tersesat di Blank 75 saat perjalanan turun dari Puncak Mahameru. -,-"

Setelah makan siang dan beristirahat sejenak di Pos Kalimati, kami pun segera bergegas turun untuk kembali menuju Pos Ranu Pani. Dan inilah foto yang sekaligus mengakhiri petualangan kami di Gunung Semeru..

Sebelum turun dari Pos Kalimati
Terima kasih kepada Allah SWT atas segala kemampuan dan kekuatan yang telah diberikan pada kami semua, Orang tua yang telah mengizinkan anaknya untuk berpetualang, Gunung Semeru beserta Puncak Mahamerunya yang gagah, dan tentunya...

Tulisan ini saya dedikasikan untuk 12 orang yang bersama-sama berada di Gunung Semeru saat itu, meskipun kita sampai (di Puncak) dalam waktu yang berbeda, namun tujuan kita saat itu tetap satu, yakni menggapai Puncak Mahameru.. I love you guys.. semoga bisa berjumpa lagi di lain kesempatan, dalam keadaan yang lebih pastinya.. ;)

Akhir kata, semoga tulisan ini dapat membawa manfaat bagi kalian yang membacanya...


Cheers,

RPR - Sang Petualang
silahkan difollow IG saya jika berkenan : @rezkirusian