Senin, 29 Juni 2015

Mencari setitik "Surga" di Pulau Papatheo

13 Juni 2015
Terkadang, untuk menemukan tempat yang indah bak "surga" tidak perlu dengan pergi terlalu jauh. Masih di wilayah provinsi DKI Jakarta, tepatnya Kepulauan Seribu, terdapat sebuah pulau yang sangat recommended untuk dijadikan tujuan wisata sekaligus melepaskan penat di sela-sela rutinitas sehari-hari.

Tepatnya tanggal 13 Juni 2015 silam, saya beserta kawan-kawan lintas komunitas yang dimotori oleh Kak Tini dan kak Lady berangkat menuju Pulau Papatheo.
Pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB, kami yang sudah berkumpul di pelabuhan Muara Angke bersiap untuk berangkat. Dibutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk mencapai Pulau Harapan,dimana kami akan transit terlebih dahulu sebelum menuju Pulau Papatheo. 

Perairan sekitar Pulau Harapan
Berhubung hari sudah siang saat tiba di Pulau Harapan, kami pun menyempatkan diri untuk menyantap makan siang sekaligus berganti pakaian guna persiapan Snorkling. Ya, karena rencananya siang itu kami akan mengunjungi 2 Spot Snorkling yang terletak diantara Pulau Harapan dan Pulau Papatheo.

Spot Snorkling pertama

Bagian lainnya dimana kawan-kawan sedang berkumpul

Setelah puas bermain di Spot pertama (namanya saya lupa) kami pun bergegas untuk pindah ke spot kedua, dikarenakan hari sebentar lagi juga akan gelap, jadi kami pun harus mengejar waktu.

Spot Snorkling kedua terlihat jauh lebih bagus dari yang pertama, dikarenakan semakin banyaknya ikan "Nemo" yang berenang kesana kemari, terumbu karang yang lebih bervariasi, bahkan kami menemukan bintang laut berwarna biru dan saya pun sempat berfoto bersama.

Keindahan biota bawah laut di Spot kedua. (doc by Kamera Iman)

Horeeee Bintang Laut !! (doc by Kamera Iman)

Hanya bisa berkata "WOW" untuk pemandangan yang ada (doc by Kamera Iman)
Selesai bersenang-senang di Spot Kedua, kami bertolak menuju Pulau Papatheo, dimana kami akan mendirikan tenda, memasak makanan dan membuat cerita yang lain disana.. hehehe..

15 orang yang bergembira setelah Snorkling (doc by Kamera Gemi Tasli)
Perjalanan menuju Pulau Papatheo dicapai kurang lebih 15 menit dari Spot kedua, yang artinya sekitar 30 menit jika dihitung dari pelabuhan Pulau Harapan. Memasuki wilayah Pulau Papatheo, kami langsung disambut dengan pemandangan laut dangkal yang menampakkan segala isi yang berada di dalamnya. Di bagian depan pulau bisa dilihat terdapat dermaga berbentuk "Letter U", lengkap dengan ornamen-ornamen patung disekitarnya yang menambah kesan klasik pulau ini.

Tiba di Pulau, kami langsung mendirikan tenda dan membagi tugas untuk memasak. Tidak terasa perut sudah mulai lapar kembali.

Welcome to Papatheo Island !!!

Tempat kemah kami (doc by Kamera Gemi Tasli)
Bagi kalian yang (pastinya) ingin berbilas setelah bermain dengan air asin di laut, di Pulau Papatheo terdapat sumur yang memiliki air tawar. Cukup berjalan sekitar 500 meter lurus dari arah dermaga memasuki area hutan, dimana nanti kalian akan menemui bangunan di tengah hutan yang pintunya ditutup oleh kain. Hanya saja, harap bersabar yaa.. karena mandi di dalam sini harus antri. Kalau mau cepat, kalian bisa mandi sekaligus berenam.

Enaknya di Pulau ini, suasananya tidak terlalu ramai, karena memang masih termasuk pulau pribadi. Disini hanya terdapat dua cottage/villa yang kebetulan sedang kosong. Kami yang datang ke pulau ini pun total hanya ada 3 kelompok dengan jumlah keseluruhan tidak sampai 60 orang.

Suasana makan malam (doc by Kamera Iman)

Dilanjut dengan bermain kembang api
Malam itu, kami mengisinya dengan formasi duduk setengah lingkaran dan saling memperkenalkan diri satu sama lain yang dimulai dari ujung (kebetulan saya.. ahahha), karena memang belum semua dari kami sudah saling mengenal, meskipun memang banyak diantaranya yang sudah sering pergi bersama.

Sekitar pukul 22.00 WIB, karena memang sudah terlalu lelah, satu persatu dari kami pun mulai "berguguran" dan akhirnya meninggalkan suasana sunyi di bawah langit berbintang.. Tsaaaaaaaaaaah...


14 Juni 2015
Pagi hari, setelah selesai sarapan dengan aneka roti bakar, kami langsung berburu foto di berbagai tempat-tempat yang dirasa eksotik. Ya, seperti judul saya di atas, Pulau ini memang indah seperti setitik "Surga".

Bagi kalian yang hobby foto, disini banyak sekali spot-spot cantik yang sangat sayang untuk dilewatkan. Beberapa hasil jepretannya,

Oiya, di dekat dermaga ini kalian bisa berenang (jika masih merasa kurang puas..hahaha)*

Indah sekali pulau ini.... So Glad to be here !!

Serasa di kolam renang pribadi

Pemandangan siang itu sebelum kembali ke Jakarta
Pantai di pagi hari yang masih surut














*Note: Bagi kalian yang ingin berenang di seputaran dermaga, mohon berhati-hati karena banyak bulu babi yang "merapat"..

Akhir kata, setelah selesai packing dan beres-beres perlengkapan, kami pun bersiap untuk kembali menuju Jakarta. Inilah foto bersama sebelum kami kembali ke Jakarta :

Foto bersama sebelum kembali ke Jakarta (doc by Kamera Gemi Tasli)

Nb : Untuk sewa kapal dari Pulau Harapan menuju Pulau Papatheo, bisa menghubungi Bp.Bagge di 0877 7416 1955 dengan sewa kapal sekitar Rp 700.000,- (Harapan - Papatheo PP dan selama Snorkling)

Rincian pengeluaran :

- Sharecost : Rp 250.000,-/orang
Included :
*Tiket Kapal PP Muara Angke - Pulau Harapan
*Sewa kapal kecil PP Pulau Harapan - Pulau Papatheo
*Makan siang 1x
*Logistik kelompok selama  di Pulau
*Sewa alat Snorkling (untuk hari Sabtu)
*Perizinan Pulau
*Biaya tak terduga

Sisanya adalah biaya-biaya lain diluar Sharecost seperti jajan makanan, minuman dan cemilan pribadi, serta ongkos dari rumah masing-masing menuju Muara Angke dan sebaliknya yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.


Cheers,
RPR - Sang Petualang
(follow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)

Kamis, 18 Juni 2015

Serang, "Surga" Kebudayaan Masa Lalu

24 Mei 2015 silam, saya beserta kawan-kawan dari komunitas Backpacker Jakarta berkesempatan jalan-jalanke kota Serang, pro vinsi Banten dalam rangka City Tour.

Seperti yang mungkin sudah kita ketahui, Serang yang terletak di bagian barat Pulau Jawa ini menyimpan berbagai peninggalan budaya masa lalu berupa artefak, bangunan, serta tradisi yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Ada apa saja di Serang ?

A. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama
Museum yang bersebelahan dengan Masjid Agung Banten Lama ini menjadi destinasi awal kami ketika tiba di Serang. Untuk masuk ke dalam Museum , tiap pengunjung dikenakan biaya Rp 1.000,- (sangat murah untuk sebuah pameran benda-benda kebudayaan zaman dulu) . Di dalam , dapat ditemui berbagai macam barang-barang kuno seperti guci, koin, lukisan, patung, peralatan dapur, serta berbagai macam artefak peninggalan purbakala, dan tak lupa catatan sejarah kota Serang (Banten Lama) yang terpampang memanjang di salah satu tembok Museum.


Papan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Tampak luar bangunan Museum

Bagian dalam :

Berfoto bersama di bagian dalam Museum

Berbagai koleksi piring, mangkuk dan cawan

Vas bunga yang hampir pecah

Duo vas bunga

Peluru Meriam
Di bagian luar, tepatnya di pekarangan museum,dapat ditemui sebuah meriam besar dan berbagai batu-batu bertuliskan sajak Jepang, serta beberapa pecahan tembikar. Lebih kurang sepert inilah penampakannya :


Meriam

Batu dengan tulisan sajak Jepang
Jika mendadak lapar atau haus, disekitar pekarangan Museum banyak terdapat pedagang yang menawarkan aneka makanan dan minuman seperti Batagor, Es Kelapa, Es Cendol dll nya yang bisa dinikmati sembari menyiasati cuaca yang (pastinya) semakin memanas.

B. Masjid Agung Banten Lama
Tidak jauh dari kawasan museum, jika mengikuti jalur dimana banyak pedagang di kanan dan kiri jalan, kita akan menemukan pintu masuk menuju Masjid Agung Banten Lama. Menurut catatan sejarahnya, Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang banyak menyimpan catatan sejarah. Pembangunannya diprakarsai oleh Sultan Maulana Hasanuddin (Sultan pertama Banten), sekitar tahun 1552 - 1570 dan merupakan anak dari Sunan Gunung Jati.  Berhubung saat itu sangat ramai dengan pengunjung, maka kami pun agak sulit untuk masuk ke bagian dalam masjid, sehingga kunjungan ke dalam Masjid pun harus kami relakan. Tapi tenang, berikut saya lampirkan foto-foto tentang Masjid Banten Lama dalam perjalanan saya sebelumnya.

Pekarangan Masjid Agung Banten Lama

Berfoto dengan menara Masjid Agung Banten Lama

Bagian dalam Masjid














C. Keraton Surosowan
Tidak jauh dari komplek Masjid dan Museum, di bagian depan terdapat bekas reruntuhan istana yang dinamakan Keraton Surosowan. Kami pun langsung tertarik masuk dan berniat berburu beberapa foto didalamnya.

Mengutip catatan sejarahnya, Keraton ini dibangun sekitar tahun 1522 - 1526 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Dimana pada masa penguasa Banten berikutnya, bangunan keraton ini ditingkatkan, bahkan konon melibatkan arsitek asal Belanda, yaitu Hendrik Lucaz Cardeel, yang kemudian memeluk Islam dan bergelar Pangeran Wiraguna. Bisa dilihat,disekeliling Keraton terdapat dinding pembatas setinggi 2 meter yang mengitari area keraton sekitar kurang lebih 3 hektare. Sekilas, Keraton Surowowan mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan Bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya. Sehingga pada masa jayanya Banten disebut juga dengan Kota Intan. Saat ini bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Surosowan)

Menurut saya,waktu terbaik untuk mengunjungi Keraton ini adalah pada sore hari , dikarenakan siang hari akan terasa panas sekali disini. Pekarangannya cukup luas, dan rasa-rasanya akan memakan waktu lama jika kita ingin mengeksplore tiap sudut dari reruntuhan keraton ini. Oh iya, untuk masuk ke dalam kawasan Keraton Surosowan ini tidak dipungut biaya.

Reruntuhan Keraton Surosowan

Sepintas terlihat seperti sawah

Tampak lain















D. Danau Buatan Tasikardi
Menjelang makan siang, kami merapat ke sebuah Danau buatan yang bernama "Tasikardi". Terletak di desa Margasana, kecamatan Kramatwatu, Serang. Untuk masuk ke dalam kawasan ini, dikenakan biaya sekitar Rp 10.000,-/orang (jika rombongan akan lebih murah kenanya).

Disini, terdapat berbagai aneka jajanan tradisional, seperti pecel, cimol, aneka gorengan dll dengan harga yang relatif murah, sehingga tidak perlu khawatir akan masalah perut.. ^^. Bagi kalian yang ingin menunaikan Shalat, di bagian lain kawasan terdapat Musholla. Ada juga gazebo yang disewakan dengan harga Rp 20.000,-/tempat yang bisa digunakan untuk makan atau sekedar berkumpul bersama kawan sembari berisitrahat.

Menurut saya pribadi, sebenernya tidak ada yang terlalu istimewa dengan kawasan ini, selain dengan adanya Pulau Buatan yang berada di tengah- tengah kawasan yang bisa dibilang menjadi daya tarik dari Danau Buatan Tasikardi. Bagi kalian yang suka bermain perahu bebek mengitari danau, disinipun ada.

Pulau Buatan di tengah Danau Tasikardi
Satu hal yang harus menjadi perhatian pengurus, yakni sumber air yang digunakan untuk mengambil wudhu sangatlah kurang, sehingga kami pun harus rela mengantri lama-lama di toilet.


E. Pantai Karang Bolong, Anyer
Perjalanan kami menuju Pantai Karang Bolong ditempuh dalam waktu lebih kurang 3 jam perjalanan, "apes"nya, bus kami sempat beberapa kali mogok sehingga kami pun harus mendorong hingga bus bisa berjalan normal kembali. Anggap saja olah raga sore-sore deh. -,-

Tiba di Pantai Karang Bolong, kami dikenakan biaya sebesar Rp 15.000,-/ orang untuk memasuki kawasan.

Karang Bolong, mirisnya banyak sekali sampah bertebaran
Saran dari kawan kami yang sering kesini, biasakan untuk selalu bertanya dulu sebelum membeli makanan atau minuman. Dikarenakan bisa saja pedagang "menembak harga" setelah kita selesai menyantap makanan dan minumannya.

Untuk mendapatkan view terbaik dari kawasan ini, cobalah untuk naik ke atas Karang Bolong. Jalan keatas dapat dicapai dengan menaiki anak tangga yang sudah dibuat rapi oleh pengelola.

Menuju Puncak Karang Bolong
Di bagian atas Karang Bolong dapat ditemukan gazebo besar dimana terdapat beberapa pedagang yang menjajakkan dagangannya, kita pun bisa beristirahat sembari menikmati angin sepoi-sepoi di atas sana. Tapi, sebaiknya segera melanjut saja ke sisi lainnya dimana bisa kalian temukan tangga untuk turun, karena pemandangan yang disuguhkan tidak kalah seru !!

View dari atas Karang Bolong, dimana garis Cakrawala* terlihat jelas

View Pantai di bawah Karang Bolong

View ketika sampai di bawah

Bagian lain pantai yang bisa dipakai untuk bermain air

Akhirnya, menikmati Sunsets di Pantai Karang Bolong
*garis Cakrawala : garis khayal yang seakan-akan menjadi batas langit dan bumi.

Pantai Karang Bolong di Anyer ini, merupakan destinasi terakhir kami sebelum kembali pulang ke Jakarta, namun perlu diketahui, sebenarnya masih banyak beberapa destinasi wisata seru lainnya yang belum sempat dikunjungi. Yah, harap maklum memang dikarenakan oleh adanya keterbatasan waktu.


Wisata yang tidak sempat dikunjungi :
Berikut, saya jabarkan beberapa tempat seru yang pernah saya kunjungi dan mungkin bisa menjadi pilihan seru saat kunjungan berikutnya,

F. Istana (Keraton) Kaibon
Secara letak, sebenarnya kita pasti akan melewati bekas reruntuhan istana/ keraton ini sesaat sebelum masuk menuju Keraton Surosowan ataupun Masjid Agung Banten Lama. Karena memang letaknya yang berada tepat di pinggir jalan. Hanya saja, secara bangunan, masih lebih banyak yang tersisa dan terkesan "lebih mewah" jika dibandingkan dengan keraton Surosowan, karena disini kita bisa melihat beberapa struktur dari bangunan yang masih berdiri kokoh. Bagi kalian yang hobi hunting foto, disini  banyak terdapat spot-spot seru yang sayang untuk dilewatkan. Berikut penampakannya:

Tampak depan Istana Kaibon

Puing-puing peninggalan berupa gerbang

Gerbang yang masih berdiri kokoh

Banyak spot seru untuk dijadikan tempat berfoto

Sepertinya ini merupakan gerbag utama



















Ditinjau dari namanya (Kaibon = Keibuan), keraton ini dibangun untuk ibu Sultan Syafiudin, Ratu Aisyah mengingat pada waktu itu, sebagai sultan ke 21 dari kerajaan Banten, Sultan Syaifusin masih sangat muda (masih berumur 5 tahun) untuk memegang tampuk pemerintahan. 
Keraton Kaibon ini dihancurkan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1832, bersamaan dengan Keraton Surosowan. Asal muasal penghancurannya, adalah ketika Du Puy, utusan Gubernur Jenderal Daendels meminta kepada Sultan Syafiudin untuk meneruskan proyek pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan, juga pelabuhan armada Belanda di Teluk Lada (di Labuhan). Namun, Syafiuddin dengan tegas menolak. Dia bahkan memancung kepala Du Puy dan menyerahkannya kembali kepada Daen Dels yang kemudian marah besar dan menghancurkan Keraton Kaibon (Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Kaibon)

G. Kuliner Rabeg & Sate Bebek di Alun-Alun Serang
Bagi kalian pecinta kuliner, jangan lupa untuk berkunjung ke kawasan Alun-Alun Serang yang berada di jantung kota Serang. Kawasan ini akan terasa sangat ramai di malam minggu, dikarenakan banyak muda mudi yang menghabiskan waktu bersama untuk sekedar duduk-duduk atau wisata kuliner di sekitar alun-alun. Begitu pula dengan saya saat beberapa waktu lalu kemari.

Di perjalanan saya sebelumnya, saya berkesempatan untuk mencicipi Rabeg dan Sate Bebek khas kota Serang. Jika ada yang belum tahu, Rabeg dilihat sekilas mirip dengan Soto, dan Sate Bebek disini disediakan per porsi 10 tusuk dengan bumbu istimewa. Kawan-kawan bisa memilih ingin dengan nasi atau lontong. Rasanya ? Silahkan dicoba sendiri yaa jika kesana.. He he he..

Plang Nama Rabeg Khas Serang

Rabeg Khas Serang

Sate Bebek dengan bumbu istimewa















Sekian dulu tentang cerita perjalanan saya di Serang, terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya..

Cheers...

RPR - Sang Petualang
(Bisa difollow Instagram saya jika berkenan : @rezkirusian )

Senin, 11 Mei 2015

Dieng oh Dieng...

1 May 2015
Berbekal "diculik" oleh kawan saya yang bernama Ophie.. Jum'at malam,1 Mei 2015 pun kami bertujuh berangkat menuju Wonosobo dari Jakarta dengan menggunakan mobil.

Cukup jauh jarak yang haurs kami tempuh dengan menggunakan mobil, karena kami harus melewati jalan pantura yang panjang, gelap, serta berlubang, Ditambah lagi ditemani oleh para "Transformer" (Bus dan truk besar) selama di jalan, sehingga kami pun harus ekstra berhati-hati dalam membawa kendaraan. Memasuki daerah Brebes setelah keluar dari tol berbiaya Rp 34.000,-, akan banyak sekali ditemui perbaikan jalan sehingga jalan akan dibuka secara bergantian. Saran saya, sebaiknya siapkan banyak uang receh, karena nantinya akan banyak para pekerja yang meminta sumbangan seikhlasnya untuk perbaikan jalan.

2 May 2015
Alhamdulillah, sekitar  pukul 08.53 WIB, kami tiba di daerah Dieng dan lansung sarapan sekaligus bersih-bersih diri seadanya di rumah makan setempat.

Setelah sarapan dan membayar sebesar Rp 8.000,-/orang di gerbang untuk masuk kawasan wisata Dieng, barulah kami memulai petualnagan kami di dataran tinggi Dieng.

Ada apa saja disana ?

A.Kawasan Telaga Warna
Telaga warna merupakan tujuan wisata pertama kami saat menginjakkan kaki di Dieng, karena memang jaraknya juga yang paling dekat. Disini, kita bisa menyaksikan pemandangan 2 danau yang berwarna kehijauan. Untuk Telaga Warna, ada spot menarik yang sering digunakan orang untuk berfoto, yakni batang pohon yang seakan seperti mengambang di permukaan telaga seperti yang tampak pada foto di bawah ini.

Telaga Warna

Team kami
Telaga yang lain, yang harus dicapai dengan trackking singkat melewati lumpur dan tanah becek, bernama "Telaga Pengilon". Memang tidak seindah Telaga warna, namun pemandangannya juga tidak kalah indah.

Telaga Pengilon

Foto dengan Background Telaga Pengilon

Selain dua telaga di atas, di kawasan wisata ini dapat juga kita temui berbagai Goa-goa alam, namun sayangnya hanya bisa dilihat dari luar dan tidak bisa dimasuki. Ada Goa Jaran, Goa Sumur, Goa Pengantin dll..

Goa Jaran

Goa Sumur

Goa Pengantin

Bagi kalian yang ingin mencoba kuliner (lebih tepatnya sih cemilan kali yaa...), tidak jauh dari lokasi Dieng Plateu Theater (bisa dicapai dengan menaiki anak tangga menuju ke atas dari Telaga Warna ), kalian bisa temui berbagai pedagang yang menawarkan cemilan berupa kentang dan jamur crispy. Harganya pun murah meriah. Cukup dengan Rp 5.000,- saja.

Aneka kentang dan jamur crispy yang siap disantap

B. Kawah Sikidang
Untuk masuk ke dalam kawasan kawah Sikidang, kita cukup membayar Rp 10.000,-/orang yang mana itu sudah termasuk dengan biaya masuk menuju kawasan Candi Arjuna nantinya. Sekilas, suasana di kawah Sikidang hampir mirip dengan kawah gunung Papandayan di Garut,Jawa Barat. Bedanya, disepanjang jalan menuju kawah dapat kita temui banyak sekali pedagang yang menawarkan barang-barang mulai dari Carica (cemilan tradisional Dieng, seperti manisan), Aneka macam Kentang + Jamur crispy , pasir belerang, vas bunga yang dibuat dari kerajinan kayu, hingga batu akik ! :D

Jalan menuju Kawah Sikidang

Kawah Sikidang dilihat dari atas

Di depan kawah Sikidang

C. Candi Arjuna
Tujuan kami berikutnya adalah Candi Arjuna. Kalau dilihat sekilas seperti "Mini Prambanan", hanya saja jumlah candinya jauh lebih sedikit dan pekarangannya juga lebih kecil. Sayang seribu sayang, kondisi pelataran Candi Arjuna saat kami kesana sedang dalam renovasi, sehingga ada beberapa candi yang tidak bisa dimasuki.

Pelataran Candi Arjuna

Salah satu bangunan Candi yang terbesar

Photo Session

D. Homestay
Untuk urusan homestay/tempat menginap, di daerah Dieng banyak pilihannyam mulai dari yang tipe per kamar, hingga yang menyewakan satu rumah untuk rame-rame. Saya bersama kawan-kawan pun beruntung bisa dapat penginapan dalam bentuk kamar untuk 7 orang, sudah termasuk dengan kamar mandi, dan ruang keluarga untuk makan atau ngopi, bonus cemilan dengan harga Rp 300.000,-/malam (harga weekend, jika tidak weekend, silahkan coba ditawar lagi). Fyi, bentuk penginapannya tidak terlihat seperti penginapan jika dilihat dari luar, namun lebih seperti rumah makan/warung. Jika lapar, tinggal pesan makan deh di depan..hehehe

Jika ada yang pengen coba menginap, mungkin bisa coba hubungi nomor di bawah ini :

Kartu nama Bu Khatmini

Penampakan Homestay dari depan

3 May 2015

E. Melihat Sunrise Bukit Sikunir
Bukit Sikunir, merupakan salah satu ikon tempat yang paling sering dicari oleh para pelancong yang berkunjung ke Dieng. Untuk mencapainya dari tempat kami menginap, bisa ditempuh dalam kurun waktu 15-20 menit dengan menggunakan mobil dengan jarak sekitar 7 Km melewati bukit-bukit dan lereng. Tiket masuk yang dikenakan adalah Rp.5000,-/orang. Diperlukan waktu sekitar 5 hingga 10 menit untuk mencapai puncak Bukit Sikunir. Tapi tenang saja, karena jalannya sudah ada, hanya saja akan sedikit licin jika baru selesai hujan.

View dari atas Puncak Bukit Sikunir

Bersama kawan-kawan

Dekat pintu masuk menuju Bukit Sikunir

Oiya, sehabis turun dari Bukit Sikunir, jika kawan-kawan merasa lapar, di dekat parkiran banyak sekali terdapat warung-warung makan, dan jangan lupa coba minuman tradisional khas Dieng yang bernama "Purwaceng", bisa ditebus dengan harga Rp 10.000,-/gelas. Segeeeer.....

Purwaceng

F. Gunung Prau
Dieng pun juga punya gunung, namanya Gunung Prau. Memiliki ketinggian 2.565 mdpl. Menurut cerita dari kawan-kawan yang pernah kesana, dibutuhkan waku sekitar 2-3 jam perjalanan untuk mencapai puncaknya. Kabarnya, kita bisa melihat Triple S (Sindoro,Sumbing,Slamet) dengan sangat jelas. Ibaratnya seperti negeri di atas awan.

Namun, karena terbatasnya waktu yang kami punya, kami belum sempat berkunjung kesana. Mungkin lain kali. :)

Selepas dari Bukit Sikunir, kami bertujuh pun beranjak menuju tujuan kami berikutnya, yakni Curug Nangga yang berada di daerah Banyumas, yang mana sudah sekalian arah kami pulang menuju Jakarta.

G. Curug Nangga
Untuk menuju kawasan Curug Nangga, kawan-kawan yang menggunakan kendaraan pribadi harus sangat ekstra hati-hati, dikarenakan harus melewati jalan tanjakan yang terjal dan juga panjang. Pastikan kalian ahli membawa kendaraan di jalan tanjakan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Untuk masuk ke Curug Nangga, kawan-kawan cukup membayar sebesar Rp 3.000,-/orang dan biaya parkir di dekat rumah warga seharga Rp 10.000,-. Setelah melewati petugas tiket, kawan-kawan harus tracking sekitar kurang lebih 10-15 menit melewati jalanan conblock yang menurun, kemudian dilanjut dengan anak tangga berupa tanah yang bisa dipastikan akan sangat licin jika turun hujan.

Trackking menuju Curug Nangga - Conblock
Trackking menuju Curug Nangga  - pematang sawah
Trackking menuju Curug Nangga 
Tiba di Curug Nangga, saya pun tidak banyak bermain air, karena sebelum saya benar-benar tiba di Curugnya, ada aturan yang berbunyi bahwa tidak boleh mandi/berenang di Curug. (entah mandi dalam artian yang bagaimana maksudnya ).

Papan Aturan Curug Nangga

Curug Nangga
Bagi kawan-kawan yang penasaran ingin menuju Curug teratas, bergeraklah ke arah kiri, dimana kalian akan menemukan anak tangga yang akan mengarah ke atas. Namun harap hati-hati, dikarenakan memang jalannya yang cukup terjal dan licin karena air curug.

Kira-kira, inilah view yang bisa kalian dapatkan di bagian atas curug, dijamin ga nyesel !! tapi pastikan mengajak kawan agar ada yang bisa motoin..

View dari atas Curug

Curug no.1 yang begitu indah.
Dengan ini, maka berakhirlah petualangan kami bertujuh di kawasan Dieng dan sekitarnya. Oiya, bagi yang ingin mencoba kuliner, disepanjang jalan menuju Banyumas, terdapat restoran yang menyediakan Mie Ongklok dan Sate Sapi, seharga masing-masing Rp 7.500,- dan Rp 19.000,-.

Dalam perjalanan pulang ketika melewati Tegal, kami pun sempat mampir untuk makan malam di restoran yang menyediakan aneka Sate Kambing Muda.. Hmmm Yummy...

Berikut saya cantumkan pengeluaran saya selama di Trip kali ini, semoga bisa menjadi referensi biaya yang sekiranya harus kawan-kawan keluarkan jika menggunakan kendaraaan pribadi (Mobil)

Rincian biaya (saya) :
- Sewa Mobil 4 hari (Jum'at - Senin) : Rp 1.150.000,- / 7 = Rp 164.285,71 ---- Rp 164.000,-
- Bus Metro Mini PP Rumah-Mipo : Rp 16.000,-
- Makan malam sebelum berangkat : Rp 25.000,-
- Sarapan pagi tgl 2 May : Rp 18.000,-
- Tiket masuk Dieng : Rp 8.000,-
Tiket masuk kawasan Telaga Warna : Rp 7.500,-
- Kentang & Jamur Crispy : Rp 5.000,-
- Tiket masuk Kawah Sikidang dan Candi Arjuna : Rp 10.000,-
- Carica (2) : Rp 10.000,-
- Homestay : Rp 300.000/7 = sekitar Rp 42.500,-
- Tiket masuk Sikunir : Rp 5.000,-
- Purwaceng : Rp 10.000,-
- Mie Goreng + Telur : Rp 7.000,-
- Sate Sapi + Lontong + Es teh manis (Arah Banyumas) : Rp 24.000,-
- Tiket masuk Curug Nangga : Rp 3.000,-
- Numpang mandi : Rp 5.000,-
- Sate Kambing Muda + Nasi + Es teh (di Tegal) : Rp 45.000,-
- Tol PP : ( ( Cikampek (Rp 13.500,-) + Rp 34.000,- ) x 2 ) / 7 = sekitar Rp 13.600,-
- Parkir Objek wisata : Telaga Warna (Rp 5.000,-) + Kawah Sikidang (Rp 5.000,-) + Candi Arjuna (Rp 5.000,-) + Bukit Sikunir (Rp 5.000,-) + Curug Nangga (Rp 10.000,-) dibagi 7 : sekitar Rp 4.300,-
- Tambal ban : Rp 8.000,-
------------------------------------------------------------------------------------------------------ +

Total :  Rp 430.900, -

Akhir kata, semoga tulisan saya bisa membawa manfaat bagi kalian yang ingin berkunjung kesana.. Aamiin..

Salam,
RPR- Sang Petualang
(silahkan difollow IG saya : @rezkirusian) jika berkenan..