Minggu, 09 Agustus 2015

Track Ajib si Mungil Guntur..

"Perjalanan" saya kali ini awalnya untuk mengikuti acara Halal Bihalal yang diadakan oleh saudara-saudara saya di Langkah Para Petualang Indonesia (kita singkat saja jadi LPP ). Berhubung moment-nya bertepatan seminggu setelah hari raya Idul Fitri 1436 H.. ^^

Tujuan kami kali ini adalah Gunung Guntur, yang memiliki  ketinggian 2.249 mdpl, merupakan gunung yang bisa dibilang "mungil" karena diapit oleh Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray yang berdiri kokoh didekatnya.

So, let's the story begin... 

24 Juli 2015

Memulai Perjalanan
Malam itu, kami ber 9 , ditambah Kang Chuy yang ternyata juga jalan dari Jakarta sudah berkumpul di Terminal Kp,Rambutan sekitar pukul 21.00 WIB. Kami pun kedatangan dua orang kawan baru yang tidak sengaja berkenalan di terminal, yakni Bang Komeng dan Bang Aswin sehingga menambah Total jumlah kami menjadi 12 orang

Setelah nego harga dengan beberapa kenek, tercapailah harga Rp 55.000,-/orang untuk tujuan Jakarta - Garut (Terminal Guntur ). Maka, setelah memastikan semua barang-barang sudah terangkut dan kawan-kawan naik, berangkatlah kami ber 12 menuju Garut.


25 Juli 2015 

Tiba di Garut
Perjalanan malam itu terasa sangat singkat, karena Jakarta- Garut yang normalnya bisa ditempuh dalam 4-5 jam, hanya dicapai dalam waktu 3,5 jam saja. Mantap kang supiiiiir !!! prok prok prok....
*belum lagi ditambah adanya film laga "Undisputed" yang diputar di dalam bus, "sukses" membuat saya tidak bisa tidur -,-"

Siap-siap sebelum berangkat
Sesampai di Garut, kami langsung disambut oleh Ivan Bapenk dan Kang Irwan "Wiro Sableng" yang memang sudah menunggu disana. Setelah selesai belanja kebutuhan logistik, kami pun segera melipir ke "Saung" untuk segera beristirahat untuk persiapan pendakian nantinya.

Pagi harinya setelah bersiap-siap dan melakukan berbagai re-packing, kami pun bersiap untuk bertolak menuju Pos perizinan Gunung Guntur dimana kawan-kawan kami yang lain sudah menanti disana.


Gunung Guntur yang sudah menanti kami
Pendakian dimulai
Sesampai di Pos Perizinan, hal pertama yang kami lakukan selain menemui kawan-kawan kami adalah... mencari SARAPAN !! karena yaa, kami memang belum makan sama sekali (Baca : Belum bertemu NASI) selain kue pancong dan aneka gorengan yang disuguhkan di Saung.. ehehehehe..

Maka, setelah semuanya selesai, sekitar pukul 08.00 WIB, kami pun segera bersiap untuk "mencicipi" track ajib Gunung Guntur..

Foto sebelum berangkat di pos perizinan, ga lengkap nih..

dan perjalanan pun dimulai...
Jalur awal yang kami lewati lebih banyak didominasi oleh pasir berbatu dan debu, jalannya masih agak landai, namun sedikit demi sedikit terus menanjak. Bisa kalian saksikan juga nanti di sebelah kiri banyak terdapat kontraktor pengangkut pasir, yaa karena memang disini dijadikan lahan untuk tambang pasir. Nanti akan ada beberapa jalan percabangan, namun jangan khawatir, yang penting tetap ikuti saja papan arahan yang sudah ada.

Gundukan pasir besar di sepanjang jalan

Mulai memasuki jalur hutan
Setelah melewati jalan yang luas dimana banyak terdapat gundukan pasir berbatu yang besar, jalanan akan dilanjut memasuki hutan dengan jalan yang semakin menyempit. Jika haus, nanti akan kalian temukan pipa dimana airnya bisa kalian ambil untuk minum. 

Melewati jalur hutan, harap waspada ketika memegang pohon atau melewati dahan-dahan yang agak melintang, dikarenakan banyak terdapat semut besar dalam jumlah yang banyak.

Jalur hutan

Melewati dahan-dahan yang melintang
Curug dekat Pos1
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 09.22 WIB, tibalah kami di Curug yang berada tidak jauh dari Pos 1 Gunung Guntur. Silahkan bagi yang ingin sekedar mandi-mandi atau ingin menyegarkan diri disini, namun pastikan barang bawaan kalian ada yang jaga yaa.. Karena disini cukup ramai, dan bukan tidak mungkin bisa terjadi kemalingan.

Curug di dekat Pos 1, entah apa namanya...
Jalan Berbatu Besar
Setelah melewati Curug ini, kami pun bergerak ke sebelah kiri dimana akan bertemu dengan jalan bebatuan besar dan pastinya akan semakin menanjak. Saya sarankan untuk jauh lebih berhati-hati ketika melewati bebatuan besar ini, karena selain batunya besar, ada beberapa bagian tanah juga yang mudah merosot.

Jalan berbatu besar yang terus menanjak
Setelah melewati jalan berbatu yang terus menanjak ini, jalan akan semakin terbuka bahkan minim pepohonan sehingga jika siang hari akan terasa sangat panas melewati padang savana tersebut. Jika kalian perhatikan dengan jelas di sebelah kiri, akan tampak bekas lahan-lahan yang terbakar akibat kebakaran beberapa hari sebelumnya. Jika sudah melewati bekas-bekas kebakaran ini, artinya sebentar lagi akan mencapai Pos 3, dimana terdapat sumber air yang jernih untuk minum atau sekedar menyegarkan diri setelah berkutat dengan pasir dan debu. Hehehehe

Padang Savana yang panasnya sangat terik saat siang hari, bisa dilihat bekas kebakaran di kiri dan kanan jalan.
Pos 3 Pamulangan

Akhirnya sampai juga di Pos 3 !! (doc.Fikri-LPP Garut)
Sesampainya di Pos 3 Pamulangan, kami langsung disambut oleh para baraya LPP yang memang sudah tiba dan nge-camp sejak malam sebelumnya. Disana pun juga sudah tiba beberapa kawan saya dari LPP Jakarta. Berhubung memang sudah cukup lelah, kami pun segera mencari posisi yang "asik" untuk memasang Flysheet sembari memasak makanan demi mengisi kekosongan perut kami. Sekaligus, pergi ke sumber mata air untuk mengisi kembali persediaan air dan menyegarkan diri. Segeeeeeeer !!!!

Di Pos 3 ini, kami beristirahat cukup lama, karena memang niatnya sore nanti ketika matahari sudah turun kami akan melanjutkan perjalanan menuju Puncak 1 untuk kemudian Camp disana. Sembari menunggu waktu keberangkatan, saya pun "mutar" keliling tenda  para sedulur LPP sembari bersilaturahmi selepas Hari Raya Idul Fitri 1436 H.

Sekitar pukul 16.00 WIB, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju Puncak Satu. Jalur yang kami lewati sekilas terlihat seperti mendaki tanjakan cinta yang ada di Gunung Semeru (bagi yang pernah pasti tahu), seakan-akan terlihat dekat, tapi ternyata jauh dan seperti tidak sampai-sampai. Selain itu, jalannya juga harus agak zig-zag agar tidak merosot. Satu hal yang pasti, semakin ke atas nanti kemiringannya akan semakin curam, dan mendekati puncak harus lebih berhati-hati dikarenakan akan ada batu-batu yang berjatuhan dari atas. Harap waspada selalu jika mendengar ada yang berteriak "Awas, Batu !". Lihat dulu arah jatuhnya, baru menghindar.

Jika hari sudah semakin gelap, segera siapkan Headlamp, dikarenakan menjelang Maghrib kabut akan turun dan membuat jalan semakin tidak terlihat.

Puncak 1
Alhamdulillah, setelah melewati 2,5 jam perjalanan, saya dan kawan-kawan pun tiba di Puncak 1. Oiya, harapa waspada, karena di Puncak 1 ini masih sering berkeliaran BABI HUTAN. Semalam itu pun kami bertemu seekor yang sedang mondar mandir tidak jauh dari tempat kami mendirikan tenda.

Setelah mendirikan tenda, kami pun segera memasak makanan dan segera menghangatkan badan dengan memasak air. Karena ya memang sudah memasuki jam makan malam juga. Udara di Guntur saat musim kemarau ini cukup dingin, jadi pastikan kalian mengganti pakaian yang basah saat tiba, memakai jaket, kaos kaki dan sarung tangan, serta tidur dengan Sleeping Bag demi menghindarkan dari kejadian yang tidak diinginkan.


26 Juli 2015
Di pagi hari yang cerah itu, saya pun terbangun dan langsung keluar tenda untuk melihat suasana sekitar. Dan ternyata benar kata kawan-kawan saya yang pernah kesini, memang indah pemandangannya .Bila diperhatikan, terlihat di kanan kiri saya sudah banyak kawan-kawan sesama pendaki yang mulai mengabadikan berbagai gaya mereka dengan fenomena Sunrise yang sebentar lagi akan terjadi.

Inilah hasil yang saya dapat di pagi itu...

My Silhoutte (captured by Agustin Bheyo)

Dimana-mana orang sibuk foto-foto

akhirnya sang mentari muncul

Kawah Gunung Guntur, bisa terlihat siluet di belakangnya adalah Gunung Cikuray















Dari Puncak 1 ini, kita bisa melihat dengan jelas Puncak 2 yang berdiri kokoh dibelakangnya. Untuk menuju kesana, ketika saya hitung diperlukan waktu sekitar 15-20 meni dengan melewati jalan menanjak, berbatu dan pastinya berpasir. Sembari berjalan, sering-seringlah menengok ke belakang jika tidak ingin menyesal, karena memang pemandangannya cukup memanjakan mata.

View pemandangan perjalanan menuju Puncak 2
Puncak 2
Sampai di Puncak 2, di sekeliling dapat kami lihat banyak juga orang yang camp, meskipun memang jika dibandingkan dengan Puncak 1, luas lahannya sangatlah kecil, dan bisa dipastikan jika siang akan terasa panas sekali karena memang tidak adanya pepohonan. Tapi, tampaknya saya paham kenapa mereka memilih untuk camp disini..

View dari Puncak 2 :

Lautan awan yang bercampur dengan kabut

Jalan menuju Puncak 3

Orang-orang bersantai sembari mengabadikan pemandangan

Berfoto sejenak di Puncak 2 (doc by Kamera Gemi Tasli)

Terlihat Gunung Cikuray di kejauhan
Bagi kawan-kawan yang ingin berfoto dengan plang "Top of Mt.Guntur 2.249 mdpl", pergilang ke Puncak 3 yang hanya berjarak sekitar 5-10 menit dengan menuruni dan kemudian menaiki lereng yang terlihat jelas dari Puncak 2. Namun saat itu entah kenapa saya cukup puas berada di Puncak 2, jadi tidak terlalu kepengen ke Puncak 3.

Setelah puas berfoto-foto, kami pun segera kembali turun ke tenda untuk menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh kawan-kawan kami . Makasi banget lho yaaa... semoga berkah.. kalian luar biasa !!

Suasana sarapan di pagi itu

Ketika hari sudah semakin panas, maka kami pun segera siap-siap packing untuk turun dimana jalur yang akan kami lewati untuk turun nanti akan sedikit berbeda dengan saat kami naik.

Perosotan Pasir Ala Guntur..
Turun dari Puncak 1, kami memilih jalan yang agak melipir ke kanan dimana akan ditemui track pasir yang curam. Pilihanya saat itu hanya 2, duduk merosot ala main perosotan dengan resiko celana robek atau setengah berdiri dengan posisi seperti Ski Salju.
Saya pun memilih opsi kedua dengan resiko sepatu bisa saja jebol sesampainya dibawah. hahahaha

Namun apapun opsi yang kalian pilih, bisa dipastikan muka, rambut dan segala apapun yang kalian kenakan akan penuh dengan debu.. :P

Sayangnya keseruan di track perosotan pasir ini tidak sempat saya abadikan dikarenakan memang sedang fokus dengan jalur yang ada di depan saya. Tapi enaknya, dengan melewati jalur ini, perjalanan yang harusnya 2,5 jam menuju Pos 3 bisa dipangkas menjadi 1,5 jam saja. :D

So, dengan berakhirnya jalur perosotan pasir ini sekaligus menutup petualangan seru kami di Gunung Guntur. Setelah selesai makan dan bersih-bersih di sumber mata air pos 3, kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Basecamp. Namun kali ini dengan jalur yang sedikit berbeda tapi bisa sampai dengan lebih cepat.

Jalur turun yang kami lewati

Sampai jumpa di petualangan berikutnya.. (doc by Kamera Septia Endang)

Rincian pengeluaran :

- Biaya acara Halal Bihalal  : Rp 100.000,-/orang
Included :
*Kaos Acara
*Sticker
*Slayer
*Tiket masuk Gn.Guntur
-Tiket Bus Jkt - Garut : Rp 55.000,-
-Logistik Kelompok : Rp 15.000,-
-Sewa Angkot PP : Rp 20.000,-/orang
-Sarapan pagi dibagi rata : Rp 5.000,-/orang
-Makan malam : Rp 25.000,- 
-Bus Pulang Garut - Jakarta : Rp 60.000,- 
-------------------------------------------------------------------------------------- +
Total : Rp 280.000,-

*Sisanya adalah biaya-biaya lain seperti jajan dan cemilan pribadi, serta ongkos dari rumah masing-masing menuju Terminal Kp.Rambutan dan sebaliknya yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Sampai jumpa lagi di petualangan berikutnya.. Semoga informasi yang ada dapat bermanfaat..
Terima kasih

Cheers,

RPR - Sang Petualang
(silahkan difollow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)


Senin, 29 Juni 2015

Mencari setitik "Surga" di Pulau Papatheo

13 Juni 2015
Terkadang, untuk menemukan tempat yang indah bak "surga" tidak perlu dengan pergi terlalu jauh. Masih di wilayah provinsi DKI Jakarta, tepatnya Kepulauan Seribu, terdapat sebuah pulau yang sangat recommended untuk dijadikan tujuan wisata sekaligus melepaskan penat di sela-sela rutinitas sehari-hari.

Tepatnya tanggal 13 Juni 2015 silam, saya beserta kawan-kawan lintas komunitas yang dimotori oleh Kak Tini dan kak Lady berangkat menuju Pulau Papatheo.
Pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB, kami yang sudah berkumpul di pelabuhan Muara Angke bersiap untuk berangkat. Dibutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk mencapai Pulau Harapan,dimana kami akan transit terlebih dahulu sebelum menuju Pulau Papatheo. 

Perairan sekitar Pulau Harapan
Berhubung hari sudah siang saat tiba di Pulau Harapan, kami pun menyempatkan diri untuk menyantap makan siang sekaligus berganti pakaian guna persiapan Snorkling. Ya, karena rencananya siang itu kami akan mengunjungi 2 Spot Snorkling yang terletak diantara Pulau Harapan dan Pulau Papatheo.

Spot Snorkling pertama

Bagian lainnya dimana kawan-kawan sedang berkumpul

Setelah puas bermain di Spot pertama (namanya saya lupa) kami pun bergegas untuk pindah ke spot kedua, dikarenakan hari sebentar lagi juga akan gelap, jadi kami pun harus mengejar waktu.

Spot Snorkling kedua terlihat jauh lebih bagus dari yang pertama, dikarenakan semakin banyaknya ikan "Nemo" yang berenang kesana kemari, terumbu karang yang lebih bervariasi, bahkan kami menemukan bintang laut berwarna biru dan saya pun sempat berfoto bersama.

Keindahan biota bawah laut di Spot kedua. (doc by Kamera Iman)

Horeeee Bintang Laut !! (doc by Kamera Iman)

Hanya bisa berkata "WOW" untuk pemandangan yang ada (doc by Kamera Iman)
Selesai bersenang-senang di Spot Kedua, kami bertolak menuju Pulau Papatheo, dimana kami akan mendirikan tenda, memasak makanan dan membuat cerita yang lain disana.. hehehe..

15 orang yang bergembira setelah Snorkling (doc by Kamera Gemi Tasli)
Perjalanan menuju Pulau Papatheo dicapai kurang lebih 15 menit dari Spot kedua, yang artinya sekitar 30 menit jika dihitung dari pelabuhan Pulau Harapan. Memasuki wilayah Pulau Papatheo, kami langsung disambut dengan pemandangan laut dangkal yang menampakkan segala isi yang berada di dalamnya. Di bagian depan pulau bisa dilihat terdapat dermaga berbentuk "Letter U", lengkap dengan ornamen-ornamen patung disekitarnya yang menambah kesan klasik pulau ini.

Tiba di Pulau, kami langsung mendirikan tenda dan membagi tugas untuk memasak. Tidak terasa perut sudah mulai lapar kembali.

Welcome to Papatheo Island !!!

Tempat kemah kami (doc by Kamera Gemi Tasli)
Bagi kalian yang (pastinya) ingin berbilas setelah bermain dengan air asin di laut, di Pulau Papatheo terdapat sumur yang memiliki air tawar. Cukup berjalan sekitar 500 meter lurus dari arah dermaga memasuki area hutan, dimana nanti kalian akan menemui bangunan di tengah hutan yang pintunya ditutup oleh kain. Hanya saja, harap bersabar yaa.. karena mandi di dalam sini harus antri. Kalau mau cepat, kalian bisa mandi sekaligus berenam.

Enaknya di Pulau ini, suasananya tidak terlalu ramai, karena memang masih termasuk pulau pribadi. Disini hanya terdapat dua cottage/villa yang kebetulan sedang kosong. Kami yang datang ke pulau ini pun total hanya ada 3 kelompok dengan jumlah keseluruhan tidak sampai 60 orang.

Suasana makan malam (doc by Kamera Iman)

Dilanjut dengan bermain kembang api
Malam itu, kami mengisinya dengan formasi duduk setengah lingkaran dan saling memperkenalkan diri satu sama lain yang dimulai dari ujung (kebetulan saya.. ahahha), karena memang belum semua dari kami sudah saling mengenal, meskipun memang banyak diantaranya yang sudah sering pergi bersama.

Sekitar pukul 22.00 WIB, karena memang sudah terlalu lelah, satu persatu dari kami pun mulai "berguguran" dan akhirnya meninggalkan suasana sunyi di bawah langit berbintang.. Tsaaaaaaaaaaah...


14 Juni 2015
Pagi hari, setelah selesai sarapan dengan aneka roti bakar, kami langsung berburu foto di berbagai tempat-tempat yang dirasa eksotik. Ya, seperti judul saya di atas, Pulau ini memang indah seperti setitik "Surga".

Bagi kalian yang hobby foto, disini banyak sekali spot-spot cantik yang sangat sayang untuk dilewatkan. Beberapa hasil jepretannya,

Oiya, di dekat dermaga ini kalian bisa berenang (jika masih merasa kurang puas..hahaha)*

Indah sekali pulau ini.... So Glad to be here !!

Serasa di kolam renang pribadi

Pemandangan siang itu sebelum kembali ke Jakarta
Pantai di pagi hari yang masih surut














*Note: Bagi kalian yang ingin berenang di seputaran dermaga, mohon berhati-hati karena banyak bulu babi yang "merapat"..

Akhir kata, setelah selesai packing dan beres-beres perlengkapan, kami pun bersiap untuk kembali menuju Jakarta. Inilah foto bersama sebelum kami kembali ke Jakarta :

Foto bersama sebelum kembali ke Jakarta (doc by Kamera Gemi Tasli)

Nb : Untuk sewa kapal dari Pulau Harapan menuju Pulau Papatheo, bisa menghubungi Bp.Bagge di 0877 7416 1955 dengan sewa kapal sekitar Rp 700.000,- (Harapan - Papatheo PP dan selama Snorkling)

Rincian pengeluaran :

- Sharecost : Rp 250.000,-/orang
Included :
*Tiket Kapal PP Muara Angke - Pulau Harapan
*Sewa kapal kecil PP Pulau Harapan - Pulau Papatheo
*Makan siang 1x
*Logistik kelompok selama  di Pulau
*Sewa alat Snorkling (untuk hari Sabtu)
*Perizinan Pulau
*Biaya tak terduga

Sisanya adalah biaya-biaya lain diluar Sharecost seperti jajan makanan, minuman dan cemilan pribadi, serta ongkos dari rumah masing-masing menuju Muara Angke dan sebaliknya yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.


Cheers,
RPR - Sang Petualang
(follow IG saya jika berkenan : @rezkirusian)

Kamis, 18 Juni 2015

Serang, "Surga" Kebudayaan Masa Lalu

24 Mei 2015 silam, saya beserta kawan-kawan dari komunitas Backpacker Jakarta berkesempatan jalan-jalanke kota Serang, pro vinsi Banten dalam rangka City Tour.

Seperti yang mungkin sudah kita ketahui, Serang yang terletak di bagian barat Pulau Jawa ini menyimpan berbagai peninggalan budaya masa lalu berupa artefak, bangunan, serta tradisi yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Ada apa saja di Serang ?

A. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama
Museum yang bersebelahan dengan Masjid Agung Banten Lama ini menjadi destinasi awal kami ketika tiba di Serang. Untuk masuk ke dalam Museum , tiap pengunjung dikenakan biaya Rp 1.000,- (sangat murah untuk sebuah pameran benda-benda kebudayaan zaman dulu) . Di dalam , dapat ditemui berbagai macam barang-barang kuno seperti guci, koin, lukisan, patung, peralatan dapur, serta berbagai macam artefak peninggalan purbakala, dan tak lupa catatan sejarah kota Serang (Banten Lama) yang terpampang memanjang di salah satu tembok Museum.


Papan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Tampak luar bangunan Museum

Bagian dalam :

Berfoto bersama di bagian dalam Museum

Berbagai koleksi piring, mangkuk dan cawan

Vas bunga yang hampir pecah

Duo vas bunga

Peluru Meriam
Di bagian luar, tepatnya di pekarangan museum,dapat ditemui sebuah meriam besar dan berbagai batu-batu bertuliskan sajak Jepang, serta beberapa pecahan tembikar. Lebih kurang sepert inilah penampakannya :


Meriam

Batu dengan tulisan sajak Jepang
Jika mendadak lapar atau haus, disekitar pekarangan Museum banyak terdapat pedagang yang menawarkan aneka makanan dan minuman seperti Batagor, Es Kelapa, Es Cendol dll nya yang bisa dinikmati sembari menyiasati cuaca yang (pastinya) semakin memanas.

B. Masjid Agung Banten Lama
Tidak jauh dari kawasan museum, jika mengikuti jalur dimana banyak pedagang di kanan dan kiri jalan, kita akan menemukan pintu masuk menuju Masjid Agung Banten Lama. Menurut catatan sejarahnya, Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang banyak menyimpan catatan sejarah. Pembangunannya diprakarsai oleh Sultan Maulana Hasanuddin (Sultan pertama Banten), sekitar tahun 1552 - 1570 dan merupakan anak dari Sunan Gunung Jati.  Berhubung saat itu sangat ramai dengan pengunjung, maka kami pun agak sulit untuk masuk ke bagian dalam masjid, sehingga kunjungan ke dalam Masjid pun harus kami relakan. Tapi tenang, berikut saya lampirkan foto-foto tentang Masjid Banten Lama dalam perjalanan saya sebelumnya.

Pekarangan Masjid Agung Banten Lama

Berfoto dengan menara Masjid Agung Banten Lama

Bagian dalam Masjid














C. Keraton Surosowan
Tidak jauh dari komplek Masjid dan Museum, di bagian depan terdapat bekas reruntuhan istana yang dinamakan Keraton Surosowan. Kami pun langsung tertarik masuk dan berniat berburu beberapa foto didalamnya.

Mengutip catatan sejarahnya, Keraton ini dibangun sekitar tahun 1522 - 1526 pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin. Dimana pada masa penguasa Banten berikutnya, bangunan keraton ini ditingkatkan, bahkan konon melibatkan arsitek asal Belanda, yaitu Hendrik Lucaz Cardeel, yang kemudian memeluk Islam dan bergelar Pangeran Wiraguna. Bisa dilihat,disekeliling Keraton terdapat dinding pembatas setinggi 2 meter yang mengitari area keraton sekitar kurang lebih 3 hektare. Sekilas, Keraton Surowowan mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan Bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya. Sehingga pada masa jayanya Banten disebut juga dengan Kota Intan. Saat ini bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan (Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Surosowan)

Menurut saya,waktu terbaik untuk mengunjungi Keraton ini adalah pada sore hari , dikarenakan siang hari akan terasa panas sekali disini. Pekarangannya cukup luas, dan rasa-rasanya akan memakan waktu lama jika kita ingin mengeksplore tiap sudut dari reruntuhan keraton ini. Oh iya, untuk masuk ke dalam kawasan Keraton Surosowan ini tidak dipungut biaya.

Reruntuhan Keraton Surosowan

Sepintas terlihat seperti sawah

Tampak lain















D. Danau Buatan Tasikardi
Menjelang makan siang, kami merapat ke sebuah Danau buatan yang bernama "Tasikardi". Terletak di desa Margasana, kecamatan Kramatwatu, Serang. Untuk masuk ke dalam kawasan ini, dikenakan biaya sekitar Rp 10.000,-/orang (jika rombongan akan lebih murah kenanya).

Disini, terdapat berbagai aneka jajanan tradisional, seperti pecel, cimol, aneka gorengan dll dengan harga yang relatif murah, sehingga tidak perlu khawatir akan masalah perut.. ^^. Bagi kalian yang ingin menunaikan Shalat, di bagian lain kawasan terdapat Musholla. Ada juga gazebo yang disewakan dengan harga Rp 20.000,-/tempat yang bisa digunakan untuk makan atau sekedar berkumpul bersama kawan sembari berisitrahat.

Menurut saya pribadi, sebenernya tidak ada yang terlalu istimewa dengan kawasan ini, selain dengan adanya Pulau Buatan yang berada di tengah- tengah kawasan yang bisa dibilang menjadi daya tarik dari Danau Buatan Tasikardi. Bagi kalian yang suka bermain perahu bebek mengitari danau, disinipun ada.

Pulau Buatan di tengah Danau Tasikardi
Satu hal yang harus menjadi perhatian pengurus, yakni sumber air yang digunakan untuk mengambil wudhu sangatlah kurang, sehingga kami pun harus rela mengantri lama-lama di toilet.


E. Pantai Karang Bolong, Anyer
Perjalanan kami menuju Pantai Karang Bolong ditempuh dalam waktu lebih kurang 3 jam perjalanan, "apes"nya, bus kami sempat beberapa kali mogok sehingga kami pun harus mendorong hingga bus bisa berjalan normal kembali. Anggap saja olah raga sore-sore deh. -,-

Tiba di Pantai Karang Bolong, kami dikenakan biaya sebesar Rp 15.000,-/ orang untuk memasuki kawasan.

Karang Bolong, mirisnya banyak sekali sampah bertebaran
Saran dari kawan kami yang sering kesini, biasakan untuk selalu bertanya dulu sebelum membeli makanan atau minuman. Dikarenakan bisa saja pedagang "menembak harga" setelah kita selesai menyantap makanan dan minumannya.

Untuk mendapatkan view terbaik dari kawasan ini, cobalah untuk naik ke atas Karang Bolong. Jalan keatas dapat dicapai dengan menaiki anak tangga yang sudah dibuat rapi oleh pengelola.

Menuju Puncak Karang Bolong
Di bagian atas Karang Bolong dapat ditemukan gazebo besar dimana terdapat beberapa pedagang yang menjajakkan dagangannya, kita pun bisa beristirahat sembari menikmati angin sepoi-sepoi di atas sana. Tapi, sebaiknya segera melanjut saja ke sisi lainnya dimana bisa kalian temukan tangga untuk turun, karena pemandangan yang disuguhkan tidak kalah seru !!

View dari atas Karang Bolong, dimana garis Cakrawala* terlihat jelas

View Pantai di bawah Karang Bolong

View ketika sampai di bawah

Bagian lain pantai yang bisa dipakai untuk bermain air

Akhirnya, menikmati Sunsets di Pantai Karang Bolong
*garis Cakrawala : garis khayal yang seakan-akan menjadi batas langit dan bumi.

Pantai Karang Bolong di Anyer ini, merupakan destinasi terakhir kami sebelum kembali pulang ke Jakarta, namun perlu diketahui, sebenarnya masih banyak beberapa destinasi wisata seru lainnya yang belum sempat dikunjungi. Yah, harap maklum memang dikarenakan oleh adanya keterbatasan waktu.


Wisata yang tidak sempat dikunjungi :
Berikut, saya jabarkan beberapa tempat seru yang pernah saya kunjungi dan mungkin bisa menjadi pilihan seru saat kunjungan berikutnya,

F. Istana (Keraton) Kaibon
Secara letak, sebenarnya kita pasti akan melewati bekas reruntuhan istana/ keraton ini sesaat sebelum masuk menuju Keraton Surosowan ataupun Masjid Agung Banten Lama. Karena memang letaknya yang berada tepat di pinggir jalan. Hanya saja, secara bangunan, masih lebih banyak yang tersisa dan terkesan "lebih mewah" jika dibandingkan dengan keraton Surosowan, karena disini kita bisa melihat beberapa struktur dari bangunan yang masih berdiri kokoh. Bagi kalian yang hobi hunting foto, disini  banyak terdapat spot-spot seru yang sayang untuk dilewatkan. Berikut penampakannya:

Tampak depan Istana Kaibon

Puing-puing peninggalan berupa gerbang

Gerbang yang masih berdiri kokoh

Banyak spot seru untuk dijadikan tempat berfoto

Sepertinya ini merupakan gerbag utama



















Ditinjau dari namanya (Kaibon = Keibuan), keraton ini dibangun untuk ibu Sultan Syafiudin, Ratu Aisyah mengingat pada waktu itu, sebagai sultan ke 21 dari kerajaan Banten, Sultan Syaifusin masih sangat muda (masih berumur 5 tahun) untuk memegang tampuk pemerintahan. 
Keraton Kaibon ini dihancurkan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1832, bersamaan dengan Keraton Surosowan. Asal muasal penghancurannya, adalah ketika Du Puy, utusan Gubernur Jenderal Daendels meminta kepada Sultan Syafiudin untuk meneruskan proyek pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan, juga pelabuhan armada Belanda di Teluk Lada (di Labuhan). Namun, Syafiuddin dengan tegas menolak. Dia bahkan memancung kepala Du Puy dan menyerahkannya kembali kepada Daen Dels yang kemudian marah besar dan menghancurkan Keraton Kaibon (Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Kaibon)

G. Kuliner Rabeg & Sate Bebek di Alun-Alun Serang
Bagi kalian pecinta kuliner, jangan lupa untuk berkunjung ke kawasan Alun-Alun Serang yang berada di jantung kota Serang. Kawasan ini akan terasa sangat ramai di malam minggu, dikarenakan banyak muda mudi yang menghabiskan waktu bersama untuk sekedar duduk-duduk atau wisata kuliner di sekitar alun-alun. Begitu pula dengan saya saat beberapa waktu lalu kemari.

Di perjalanan saya sebelumnya, saya berkesempatan untuk mencicipi Rabeg dan Sate Bebek khas kota Serang. Jika ada yang belum tahu, Rabeg dilihat sekilas mirip dengan Soto, dan Sate Bebek disini disediakan per porsi 10 tusuk dengan bumbu istimewa. Kawan-kawan bisa memilih ingin dengan nasi atau lontong. Rasanya ? Silahkan dicoba sendiri yaa jika kesana.. He he he..

Plang Nama Rabeg Khas Serang

Rabeg Khas Serang

Sate Bebek dengan bumbu istimewa















Sekian dulu tentang cerita perjalanan saya di Serang, terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya..

Cheers...

RPR - Sang Petualang
(Bisa difollow Instagram saya jika berkenan : @rezkirusian )